Beranda Berita Nasional Periklindo Soroti Skema Insentif Kendaraan Listrik, Teknologi Baterai Perlu Jadi Pertimbangan

Periklindo Soroti Skema Insentif Kendaraan Listrik, Teknologi Baterai Perlu Jadi Pertimbangan

Ketua Perkumpulan Industri Kendaraan Listrik Indonesia (Periklindo), Moeldoko saat Opening Ceremony PEVS 2026. (Dok. Periklindo)

NIKEL.CO.ID, Jakarta – Kebijakan pemberian insentif untuk kendaraan listrik di Indonesia dinilai perlu mempertimbangkan perkembangan teknologi baterai yang semakin beragam. Penentuan insentif yang hanya mengutamakan material tertentu berpotensi membatasi pilihan produsen sekaligus memengaruhi harga kendaraan yang dipasarkan kepada masyarakat.

Ketua Perkumpulan Industri Kendaraan Listrik Indonesia (Periklindo), Moeldoko, menilai pemerintah perlu merumuskan kebijakan secara cermat agar dukungan terhadap industri nasional tidak mengesampingkan perkembangan teknologi baterai alternatif.

“Apakah materialnya itu harus dari nikel? Menurut saya tidak bisa dipaksakan seperti itu,” kata Moeldoko kutip Antara dalam acara PERIKLINDO Electric Vehicle Conference 2026, Kamis (29/10/2026).

Menurutnya, industri kendaraan listrik saat ini tidak hanya mengandalkan baterai berbasis nikel. Salah satu teknologi alternatif yang telah berkembang adalah lithium iron phosphate (LFP), yang menggunakan besi dan fosfat sebagai material utama katodanya.

Baterai LFP menjadi pilihan bagi produsen kendaraan listrik karena struktur biaya produksinya kompetitif. Teknologi tersebut juga banyak dimanfaatkan pada kendaraan yang mengutamakan efisiensi biaya.

Selain LFP, baterai berbasis natrium atau sodium-ion turut dikembangkan untuk mendukung kebutuhan industri otomotif. Beragamnya teknologi tersebut menunjukkan bahwa pengembangan kendaraan listrik tidak bergantung pada satu jenis bahan baku saja.

Meski demikian, pemanfaatan nikel tetap menjadi bagian penting dalam pengembangan industri baterai nasional. Material ini memiliki karakteristik kepadatan energi yang sesuai untuk sejumlah kebutuhan kendaraan listrik.

“Meskipun banyak alternatif pengembangan bahan baterai, namun industri dalam negeri tetap diharapkan dapat memaksimalkan bahan nekel,” ujar Moeldoko.

Keberadaan berbagai pilihan teknologi tersebut menjadi pertimbangan bagi pemerintah dalam merancang kebijakan insentif. Dukungan yang diberikan diharapkan mampu mengakomodasi kebutuhan industri sekaligus memperkuat pemanfaatan sumber daya mineral di dalam negeri.

Harga dan Daya Saing Kendaraan Listrik Perlu Diperhatikan

Biaya pembuatan baterai menjadi salah satu faktor yang memengaruhi harga akhir kendaraan listrik. Oleh sebab itu, skema insentif perlu mempertimbangkan kemampuan produsen menawarkan produk dengan harga yang dapat dijangkau konsumen.

Jika dukungan pemerintah terlalu terpusat pada satu teknologi baterai, fleksibilitas produsen dalam memilih material sesuai kebutuhan pasar dapat berkurang. Kondisi tersebut berpotensi memengaruhi strategi produksi dan daya saing kendaraan listrik.

Aspek harga menjadi semakin penting pada segmen sepeda motor listrik dan mobil listrik yang menyasar konsumen dengan anggaran terbatas. Perubahan biaya produksi dapat berpengaruh terhadap harga jual dan kemampuan produk bersaing di pasar.

Pada saat yang sama, Indonesia memiliki kepentingan untuk memperbesar nilai tambah sumber daya mineral melalui pembangunan industri baterai domestik. Penguatan industri berbasis nikel perlu berjalan seiring dengan upaya menjaga agar kendaraan listrik tetap kompetitif dari sisi harga.

Dengan demikian, perumusan insentif membutuhkan keseimbangan antara kepentingan industri bahan baku nasional, kebutuhan produsen kendaraan, dan keterjangkauan produk bagi konsumen.

Teknologi Baterai Generasi Baru Membuka Kesempatan bagi Indonesia

Peluang pengembangan industri baterai nasional juga terbuka melalui riset terhadap teknologi generasi berikutnya. Salah satu yang menjadi perhatian adalah baterai solid-state, yang berpotensi memiliki kepadatan energi lebih tinggi dibandingkan sejumlah teknologi baterai konvensional.

Namun, teknologi tersebut masih menghadapi sejumlah kendala, terutama terkait aspek teknis dan biaya produksi sebelum dapat diterapkan secara komersial secara lebih luas.

Untuk memanfaatkan peluang tersebut, Indonesia perlu memperkuat kemampuan penelitian, proses manufaktur, serta penguasaan teknologi baterai. Langkah ini diperlukan agar pengembangan industri kendaraan listrik tidak hanya bertumpu pada ketersediaan bahan baku, tetapi juga pada kemampuan menghasilkan produk bernilai tambah. Oleh karena itu, kebijakan insentif kendaraan listrik perlu memiliki cakupan yang mempertimbangkan perkembangan teknologi dan keberlanjutan industri. Selain mendorong pertumbuhan penjualan, kebijakan tersebut diharapkan dapat memperkuat daya saing industri nasional dalam jangka panjang. (Lili Handayani)