
NIKEL.CO.ID, JAKARTA — Hilirisasi Nikel di Indonesia mulai menunjukkan terbentuknya rantai ekosistem industri kendaraan listrik yang saling terhubung dari sektor hulu hingga industri pengolahan mineral. Meski demikian, kemajuan tersebut perlu dibarengi dengan peningkatan partisipasi ekonomi lokal agar dampak positifnya dapat dirasakan secara lebih merata oleh masyarakat di wilayah penghasil sumber daya alam.
Ekonom Center of Reform on Economics (CORE) Indonesia, Mohammad Faisal, menilai sektor hulu memiliki tingkat kematangan industri yang relatif lebih tinggi dibandingkan sektor pengolahan dan hilir. Kedua sektor tersebut dinilai masih memiliki peluang untuk terus dikembangkan.
“Kalau di upstream kita sudah high maturity (tingkat kematangan tinggi), sementara di midstream dan downstream masih berkembang. Tapi ke depan ini bisa meningkat cepat, dan dampaknya terhadap perekonomian daerah juga akan semakin besar,” kata Faisal dalam keterangannya, dikutip Selasa (13/10/2026).
Pengembangan fasilitas berbasis teknologi High Pressure Acid Leach (HPAL) yang dirancang untuk menghasilkan Mixed Hydroxide Precipitate (MHP), produk antara yang dapat digunakan lebih lanjut dalam rantai pasok material baterai. Informasi perusahaan menunjukkan pengembangan HPAL terkait proyek Pomalaa, Bahodopi, dan Sorowako Limonite ada pada sejumlah kawasan industri di Sulawesi.
Menurutnya, hilirisasi nikel di Sulawesi semakin membentuk ekosistem yang melibatkan perusahaan pertambangan, pengolahan mineral, penyedia teknologi, tenaga kerja, serta berbagai kegiatan ekonomi pendukung. Tantangan selanjutnya pada daerah sumber daya yakni memastikan industri yang terdapat pada wilayah tersebut dapat menghasilkan manfaat ekonomi.
Bagi daerah penghasil sumber daya, tantangan berikutnya adalah memastikan ekspansi industri tersebut menghasilkan manfaat ekonomi yang semakin luas. Peningkatan nilai tambah dianggap perlu berjalan bersama pengembangan kapasitas tenaga kerja lokal, keterlibatan usaha daerah, pengelolaan dampak lingkungan, serta penciptaan kegiatan ekonomi yang mampu bertahan dalam jangka panjang.
“Dengan cadangan mineral dan berkembangnya kapasitas industri pengolahan, Sulawesi memiliki posisi penting dalam rantai nilai mineral Indonesia. Keberlanjutan transformasi tersebut akan ditentukan tidak hanya oleh besarnya investasi dan produksi, tetapi juga oleh sejauh mana industrialisasi mampu menghasilkan nilai tambah yang terhubung dengan pembangunan ekonomi daerah dan kesejahteraan masyarakat,” jelasnya.
Transformasi ekonomi secara massive terjadi di Kabupaten Morowali dan Morowali Utara, Sulawesi Tengah, yang mengalami pertumbuhan aktivitas industri berbasis pengolahan mineral dalam satu dekade terakhir.
Struktur ekonomi Morowali yang sebelumnya bertumpu pada sektor pertambangan dan pertanian kini telah bergeser. Saat ini, sektor industri menyumbang lebih dari 75% terhadap perekonomian daerah tersebut.
Pergeseran struktur ekonomi ini memperlihatkan peran industri pengolahan dalam memperluas kegiatan ekonomi di wilayah yang sebelumnya didominasi sektor primer. Meski demikian, keberhasilan hilirisasi tidak cukup diukur dari peningkatan kapasitas produksi. Manfaatnya juga bergantung pada kemampuan industri dalam membangun keterkaitan dengan ekonomi lokal, meningkatkan kualitas dan kapasitas tenaga kerja, serta menerapkan tata kelola industri yang berkelanjutan. Sejalan dengan perkembangan tersebut, sejumlah pelaku industri terus memperluas investasi pengolahan nikel di Sulawesi. Salah satunya adalah PT Vale Indonesia Tbk, bagian dari Grup MIND ID, yang mengembangkan proyek pertumbuhan di Pomalaa, Kolaka, Sulawesi Tenggara; Morowali, Sulawesi Tengah; serta Sorowako, Luwu Timur, Sulawesi Selatan. Pengembangan proyek-proyek tersebut merupakan bagian dari upaya perusahaan memperluas rantai nilai industri nikel. (Fi Yun)









































