Menteri Investasi Bakal Dorong Hilirisasi Untuk Dongkrak Ekonomi

NIKEL.CO.ID – Menteri Investasi Bahlil Lahadalia mengatakan, untuk mendorong pertumbuhan ekonomi maka investasi berkualitas perlu digenjot. Salah satu caranya yakni dengan mendorong industri hilirisasi.

Oleh karena itu, kata Bahlil, empat sektor usaha akan menjadi fokus pemerintah untuk meningkatkan hilirisasi. Pertama, sektor kesehatan yakni dengan membangun pabrikan bahan baku obat-obatan guna menekan impor.

Kedua, infrastruktur melalui pemanfaatan sumber daya asli dalam negeri untuk bahan baku. Ketiga, otomotif mengingat komponen mobil mayoritas merupakan barang impor. Keempat, sektor pertambangan.

“Hilirisasi tambang dan mobil, kami mengatakan bahwa proses rencana desain dari ore nikel on the track, investor tidak boleh lagi ekspor ore-nya. Makanya, sebentar lagi Indonesia akan  pusat industri baterai dunia,” ujar Bahlil saat Rapat Koordinasi Pembangunan Pusat 2021, Kamis (29/4/2021).

Bahlil mencatat, setidaknya ada dua perusahaan asing yang akan mendukung ekonsistem baterai listrik di Indonesia. Pertama, Contemporary Amperex Technology Co. Limited atau CATL yang berencana membangun industri baterai terintegrasi dengan nilai foreign direct investment (FDI) mencapai US$ 5,2 miliar.

Kedua, LG Energy Solution Ltd dengan nilai investasi sebesar US$ 9,8 miliar untuk membangun industri baterai terintegrasi. “Untuk LG ini Juni-Juli sudah mulai,” ujar Bahlil.

Kata Bahlil, untuk memudahkan para investor menjalankan usahanya maka perizinan perlu dipermudah. Makanya melalui Undang-Undang (UU) Nomor 11 Tahun 2020 tentang Cipta Kerja, akan memberikan percepatan perizinan, efisiensi dana, kepastian, dan transparansi.

“Ini sangat panting karena menahan izin sama dengan menahan lapangan pekerjaaan dan pendapatan negara, dan pertumbuhan ekonomi,” kata Bahlil.

Bahlil menambahkan, untuk mendorong ekonomi investasi dalam hal hilirisasi akan didorong lebih merata tidak hanya di pulau Jawa, namun juga luar Jawa. Menurutnya, dengan sebaran investasi yang merata maka akan berdampak terhadap peningkatan pertumbuhan ekonomi yang berkualitas.

Adapun di akhir tahun ini, Kementerian Investasi menargetkan, nilai dana investor yang terkumpul sebanyak Rp 900 triliun. Perkembangannya, hingga kuartal I-2021realisasi investasi sebesar Rp 219,7 triliun, tumbuh 4,3% year on year (yoy).

Sumber: KONTAN

Read More

BYD Akan Gantikan Nikel dengan Lithium Untuk Baterai

NIKEL.CO.ID – BYD akan meninggalkan teknologi nikel, kobalt, dan mangan (NCM) sebagai bahan baku baterai mobil listrik. Produsen mobil listrik terbesar asal China tersebut lebih memilih lithium, baja, dan fosfat (LFP).

Dikutip dari Mining.com, Senin (12/4/2021), BYD merupakan perusahaan mobil listrik yang dibekingi oleh Warren Bufett. Investor legendaris asal AS itu memiliki 21 persen saham di perusahaan mobil listrik terbesar kedua di dunia setelah Tesla itu.

Chairman BYD, Wang Chuanfu mengatakan, teknologi FLP bukan hanya lebih murah bila dibandingkan NCM, melainkan juga lebih aman. Dia menilai, kombinasi nikel dan kobalt rawan memicu kebakaran pada mesin.

“Beberapa pelaku industri bertindak tak rasional mengejar baterai NCM untuk menjangkau jarak tempuh lebih tinggi namun mengorbankan stabilitas dan keamanan,” katanya.

Baterai mobil listrik berbasis lithium yang digunakan BYD memiliki kepadatan yang cukup tinggi. Sistem ini untuk mengatasi kelemahan lithium yang memiliki jarak tempuh lebih rendah dan pengisian lebih lama dibandingkan nikel.

Saat ini, mobil SUV Tang terbaru buatan BYD mengklaim mampu menempuh jarak 505 kilometer untuk satu kali pengisian dalam kondisi penuh (full charging). Selain itu, proses pengisian dari 30 persen menjadi 80 persen membutuhkan waktu 30 menit.

Laporan BMO Capital Markets menunjukkan pergeseran baterai dari nikel menjadi lithium tak mengejutkan. Namun, teknologi ini masih perlu penyempurnaan agar bisa digunakan industri mobil listrik dalam tahun-tahun mendatang. Jika sukses, maka ini menjadi kabar buruk bagi nikel yang selama ini menjadi komoditas utama yang diburu pabrikan.

Sumber: Inews.id

Read More

Xiaomi Gandeng Great Wall Buat Mobil Listrik

NIKEL.CO.ID – Salah satu produsen ponsel terbesar di dunia, Xiaomi, dikabarkan berencana membuat mobil listrik menggunakan fasilitas produksi Great Wall Motor. Model pertama proyek ini dikatakan bakal muncul pada 2023.

Informasi ini muncul dalam laporan Reuters yang mendapatkan keterangan dari tiga orang yang mengetahui rencana itu.

Dikatakan Xiaomi menargetkan produksi massal mobil listrik yang akan meningkatkan posisinya sebagai produsen produk teknologi. Sementara buat Great Wall yang belum pernah menawarkan layanan manufaktur ke perusahaan lain akan menyediakan konsultasi teknik untuk mempercepat rencana ini.

Kedua perusahaan berencana untuk mengumumkan kerjasama pengembangan mobil listrik secepatnya, dan diprediksi akan diumumkan minggu depan. Namun keduanya enggan berkomentar saat ini saat dikonfirmasi.

Proyek mobil listrik Xiaomi disebut dapat memperluas pendapatan yang selama ini didominasi dari bisnis ponsel dengan margin tipis. Mobil listrik dianggap akan berpotensi memberi Xiaomi sumber pendapatan lebih kokoh sepanjang tahun.

Selain Xiaomi, sederet perusahaan teknologi juga punya strategi mengembangkan mobil listrik. Sebelum pemberitaan Xiaomi muncul, Apple belakangan dikabarkan tengah menjajaki dunia mobil listrik.

Bukan cuma Apple, perusahaan mesin pencari asal China, Baidu, juga mengumumkan rencana pembuatan mobil listrik dengan berafiliasi bersama perusahaan otomotif Geely.

Fenomena pengembangan mobil listrik oleh sederet perusahaan teknologi menjadi hal baru belakangan ini. Namun pengembangan itu diprediksi menjadi fenomena lumrah dalam beberapa tahun ke depan.

Salah satu pendiri dan kepala eksekutif Xiaomi Lei Jun mengklaim keahlian perusahaan dalam hal produksi perangkat keras dapat membantu mempercepat desain dan produksi mobil listrik.

Tidak seperti beberapa perusahaan pesaingnya, Xiaomi juga memproduksi membuat sejumlah produk di luar ponsel seperti TV pintar, penanak nasi, pembersih udara hingga skuter.

Mobil listrik Xiaomi dikatakan bisa terhubung dengan berbagai perangkat lain dari perusahaan dalam ekosistem tertentu. Endadget melihat hal ini dinilai menarik untuk orang-orang yang sudah punya produk Xiaomi lainnya.

Sumber: CNN Indonesia

Read More

Kepala Daerah Penghasil Nikel Ini Akan Pakai Mobil Listrik Untuk Kendaraan Dinas

NIKEL.CO.ID – Bupati Konawe Utara, Provinsi Sulawesi Tenggara (Sultra), Ruksamin akan menjadi kepala daerah pertama yang akan menggunakan mobil listrik sebagai kendaraan dinasnya.

Mobil tanpa BBM itu akan digunakan sebagai kendaraan dinasnya (Randis) saat pemimpin Konawe Utara di periode kedua.

Saat ini dirinya telah memesan mobil listrik tersebut yang akan mulai dipergunakannya terhitung sejak dilantik pada bulan April 2021 mendatang.

“Saya sudah pesan, dan akan saya gunakan saat pelantikan nanti,” tuturnya saat memberikan sambutan di acara pengukuhan dan pelantikan Pengurus Daerah Jaringan Media Siber Indonesia (JMSI) Sultra, Rabu (24/3/2021).

Alasannya memesan mobil listrik, karena dirinya ingin menyampaikan pesan bahwa mobil listrik yang dipesannya tidak lagi menggunakan BBM, tapi menggunakan aki. Aki ini terbuat dari nikel. Sedangkan untuk mendapatkan nikel sumbernya ada di Kabupaten Konawe Utara.

“Jadi saya ingin sampaikan pesan kepada kita semua, bahwa Konawe Utara adalah daerah penghasil nikel terbesar di Indonesia. Jika mobil listrik telah digunakan, maka industri nikel di Kabupaten Konawe Utara juga akan berdiri. Dan Ini akan membawa daerah Konawe Utara menjadi daerah maju,” terangnya.

Saat ini, Pemda Kabupaten Konawe Utara telah mengusulkan ke pemerintah pusat untuk menjadi Kabupaten Konawe Utara menjadi kawasan industri pertambangan.

Sebab Konawe Utara memiliki deposit nikel yang sangat besar di Provinsi Sultra.  Daerah yang dipimpinnya memiliki cadangan nikel terbesar yakni 47 persen, dari seluruh cadangan nikel yang ada di Indonesia.

Pemerintah pusat melalui Presiden RI Joko Widodo juga telah merespon positif, dengan menetapkan Kabupaten Konawe Utara menjadi kawasan industri strategis, tepatnya di Kecamatan Motui dan Langgikima.

Karenanya, dirinya tak lupa berpesan, agar JMSI juga bisa membangun kerja sama dengan pemerintah daerah untuk bersama-sama membangun daerah.

Sumber: telisik.id

Read More

April 2021, Produsen Mobil Listrik Akan Mulai Bangun Pabriknya di Indonesia

NIKEL.CO.ID – Pemerintah tengah mengembangkan industri kendaraan listrik di Tanah Air, bukan hanya baterai tapi juga mobil. Bahkan pada April 2021 akan ada groundbreaking pabrik mobil listrik di Indonesia.

Hal ini diungkapkan oleh Direktur Mega Proyek dan Energi Baru Terbarukan PT PLN (Persero), Muhammad Ikhsan Asaad. Namun, ia tidak merinci nama perusahaan yang akan membangun pabrik tersebut.

“Akan mulai ada groundbreaking pabrik mobil listrik di Indonesia. Sekarang dalam rangka finalisasi, sehingga kita harapkan pada awal April atau pertengahan April 2020 sudah ada salah satu produsen yang akan membuat pabrik mobil listrik di Indonesia,” kata Ikhsan dalam Inspirato Sharing Session Liputan6.com pada Selasa (23/3/2021).

Selain pabrik mobil listrik, pemerintah saat ini tengah mengembangkan ekosistem kendaraan listrik secara terintegrasi dari hulu sampai hilir. Salah satu modal utama RI yaitu pasokan sumber daya alam yang melimpah yaitu nikel dan kobalt.

Dijelaskan Ikhsan, sekitar 40 – 50 persen komponen mobil listrik ada pada baterai. Hal tersebut membuat harga jual baterai mahal, sehingga Indonesia bisa memanfaat pasokan nikel yang melimpah sebagai salah satu bahan baku pembuatan baterai tersebut.

Holding Badan Usaha Milik Negara (BUMN) baterai yaitu Indonesia Battery Corporation juga telah bekerja sama dengan dua hingga tiga perusahaan besar dunia untuk produksi baterai. Dua diantaranya sedang dalam tahap finalisasi.

“Kita akan bikin pabrik baterai di Indonesia. Kita bikin dulu pabrik baterainya, karena 40 persen komponen mobil listrik itu adalah baterai. Nanti dengan mudah kita bangun industrinya di Indonesia,” jelasnya.

Holding BUMN Baterai Listrik Butuh Investasi hingga USD 17 Miliar

Ketua Tim Kerja Percepatan Pengembangan EV Battery BUMN dan Komisaris Utama PT MIND ID Agus Tjahajana membeberkan proyeksi investasi yang dibutuhkan BUMN dalam mengembangkan ekosistem produksi baterai listrik dalam negeri.

Hingga 2026-2027, investasi yang diperlukan bisa mencapai USD 13 miliar untuk kapasitas produksi hingga 30 Giga Watt per hour (GWh). Adapun, kapasitas tertinggi produksi baterai listrik ini bisa mencapai 140 GWh.

“Tahap pertama kita menghendaki di 30 GWh, sekitar tahun 2026-2027. Untuk 30 GWh, kira-kira USD 13 miliar,” ujar Agus dalam siaran langsung di televisi swasta, Kamis (4/3/2021).

Ketika tahap pertama sudah terlaksana, maka secara berangsur kapasitasnya akan naik hingga 140 GWh di tahun 2030 dengan nilai investasi mencapai USD 17 miliar.

Investasi ini, lanjut Agus, tentunya akan menggandeng mitra dari luar negeri. Pihaknya masih membicarakan rinciannya dengan mitra kerja.

Adapun, holding BUMN baterai listrik yang akan mengelola ekosistem ini akan segera rampung.

“Target dari Pak Wakil Menteri paling tidak Juni ini paling tidak sudah lahir. Itu paling telat, tapi kalau lihat dari progres mungkin bisa lebih cepat karena sudah dilakukan, kemarin kita rapat dan itu sudah sepakat,” ujar Agus.

Sumber: liputan6.com

Read More

Insentif PPnBM untuk Kendaraan Listrik, Berkah atau Musibah?

Pemerintah berniat mengubah PP No. 73/2019 tentang Barang Kena Pajak yang tergolong Mewah Berupa Kendaraan Bermotor yang dikenai PPnBM, khususnya untuk kedaraan listrik.

NIKEL.CO.ID – Menteri Keuangan Sri Mulyani Indrawati menjawab kritik publik saat pemerintah memberlakukan stimulus pajak penjualan atas barang mewah (PPnBM) untuk kendaraan roda empat. Dia meyakinkan masyarakat tidak perlu khawatir karena pemerintah juga tengah menyusun untuk mobil listrik.

Tanggapan sinis terlontar karena insentif yang berlandaskan pada Peraturan Menteri Keuangan (PMK) No. 20/PMK.010/2021 tentang PPnBM Atas Penyerahan BKP Kendaraan Bermotor Tertentu yang Ditanggung Pemerintah ini dianggap hanya menambah jumlah kendaraan dan meningkatkan polusi.

Padahal, saat menjadi Gubernur DKI Jakarta dulu, Presiden Joko Widodo menolak kebijakan mobil murah ramah lingkungan atau low cost green car (LCGC). Kala itu, Jokowi mengatakan bahwa yang dibutuhkan pada kondisi sekarang adalah transportasi murah. Kini, Kepala Negara malah mengimplementasikan apa yang dia kritisi.

Pemerintah dalam menerapkan PMK 20 beralasan sektor otomotif tahun lalu turun tajam hampir 50 persen. Industri mesin beserta perlengkapannya dari 80,5 persen jadi 40 persen dan kendaraan bermotor dari 80,8 persen jadi 40 persen. Penjualannya pun mengalami kontraksi. Motor turun sebesar 43,57 persen, mobil turun 48,35 persen, dan suku cadang minus 23 persen.

Industri manufaktur sendiri berkontribusi 19,88 persen terhadap produk domestik bruto (PDB). Berdasarkan data tersebut diperlukan pemberian stimulus bagi kendaraan bermotor berupa PPnBM.

Secara khusus, pangsa industri alat angkutan menyumbang 1,35 persen untuk perekonomian. Namun, pertumbuhannya terkontraksi paling dalam, yaitu 19,86 persen.

Pemerintah memberikan insentif untuk kategori kendaraan sedan tipe kapasitas silinder maksimal 1.500 cc. Lalu 4×2 tipe dengan kapasitas silinder maksimal 1.500 cc.

Pertimbangan pemerintah memberikan diskon PPnBM karena bagian tersebut mengandung tingkat komponen dalam negeri (TKDN) lebih dari 70 persen. Selain itu, pembelinya adalah masyarakat kelas menengah dengan tingkat pasar yang tinggi.

Besaran PPnBN adalah penurunan 100 persen dari tarif untuk tiga bulan pertama yang terhitung dari Maret. Tiga bulan kedua turun jadi 50 persen dan selanjutnya hingga akhir tahun 25 persen.

PP No. 73/2019

Sri Mulyani mengatakan stimulus kendaraan listrik sudah memiliki regulasi sendiri yang tertuang dalam peraturan pemerintah (PP). Kebijakan ini juga untuk memulihkan ekonomi, khususnya meningkatkan permintaan untuk kelompok kelas menengah dan menengah atas.

Saat rapat kerja dengan Dewan Perwakilan Rakyat (DPR) pada Senin (15/3/2021), Menkeu berkonsultasi soal insentif tersebut. Pemerintah berniat mengubah PP No. 73/2019 tentang Barang Kena Pajak yang tergolong Mewah Berupa Kendaraan Bermotor yang dikenai PPnBM khususnya untuk kedaraan listrik meski regulasi tersebut baru akan berlaku pada Oktober mendatang.

Rencana perubahan terjadi saat rapat kabinet dengan Menteri Koordinator Bidang Perekonomian, Menteri Koordinator Bidang Kemaritiman dan Investasi (Menko Marinves), Badan Koordinasi Penanaman Modal (BKPM), serta Badan Pengkajian dan Penerapan Teknologi.

Pertemuan tersebut membahas strategi pengembangan kendaraan listrik agar bisa menarik investor. Penanam modal merasa PPnBM mobil listrik pada PP 73/2019 tidak menguntungkan. Besaran tarif yang hampir sama jadi penyebab. Oleh karena itu, perubahan signifikan terjadi pada pengenaan PPnBM atas mobil yang menggunakan baterai dan tidak.

Pada pasal 36 tertulis mobil listrik dan mobil listrik tidak baterai penuh/full battery (plug in hybrid electric vehicle/PHEV) bebas PPnBN. Dalam perubahan skema pertama, PHEV dikenakan PPnBM 5 persen, sedangkan skema kedua 8 persen.

Pasal 26 tertera mobil full hybrid dikenakan 2 persen. Skema pertama perubahan yang diusulkan pemerintah sebesar 6 persen dan yang kedua 10 persen.

Lalu pada pasal 27 mobil full hybrid dikenakan 5 persen. Perubahan skema pertama 7 persen dan yang kedua 11 persen.

Skema pertama pada mobil full hybrid (pasal 28), mild hybrid (pasal 29), mild hybrid (pasal 30), dan mild hybrid (pasal 31) tidak ada perubahan, yaitu masing-masing 8 persen, 8 persen, 10 persen, dan 12 persen. Namun, besaran pajak pada skema kedua terus nai secara berturut-turun yaitu 12 persen, 12 persen, 13 persen, dan 14 persen.

Saat rapat kabinet, Sri Mulyani mnegatakan Menko Maritim dan Investasi Luhut Binsar Pandjaitan dan Kepala BKPM Bahlil Lahadalia meyakinkan investor akan datang jika hanya mobil listrik yang bebas PPnBM. Pertemuan tersebut menyepakati terjadi perubahan besaran insentif.

Pemerintah akan menggunakan skema kedua asalkan para investor benar-benar merealisasikan kucuran modal dan tak hanya berjanji investasi. Pemerintah mensyaratkan dana yang masuk harus di atas Rp5 triliun.

“Jadi untuk menciptakan level playing field [kesetaraan dalam berbisnis], Oke [disetujui] tapi betul-betul capai Rp5 triliun. Nanti BKPM yang enforce mengenai verifikasi. Tentu Dirjen Pajak juga lihat untuk mendapat insentif,” jelasnya.

Anggota Komisi Keuangan DPR Muhammad Misbakhun mejelaskan pemerintah perlu mengkaji ulang rencana tersebut. Berdasarkan pembahasan PP 73/2019, perbedaan tarif PPnBM bukan mempermasalahkan emisi karbon, tapi dampak lingkungan yang diakibatkan baterai bebas sisa mobil listrik.

Lalu ambang batas investasi Rp5 triliun juga belum rinci. Pemerintah perlu memastikan modal masuk benar-benar dari asing atau foreign direct investment, bukan mitra investor asing yang ada di dalam negeri.

Terakhir, bahan baku industri mobil listrik telah berubah, Berdasarkan kabar terbaru yang Misbakhun dapat, Tesla Inc. sebagai produsen otomotif ternama di dunia telah mengonversi teknologi komponen listrik dari besi, bukan nikel yang kini dibanggakan pemerintah Indonesia.

“Sering sekali saya lihat bahwa kita ini selalu ingin memberi sustain [keberlanjutan] kepada program untuk mendorong investasi tadi. Apakah pengorbanan pemerintah sebesar ini sebanding dengan imbal baliknya? Karena bagaimanapun, insentif yang berlebihan akan menjadi disinsentif bagi sektor yang lain,” jelasnya.

Sementara itu, Ketua Institut Studi Transportasi Jakarta Darmaningtyas mengatakan bahwa pemerintah memang perlu fokus mengembangkan kendaraan listrik.

“Pemerintah bertekad jadi raja kendaraan listrik. Seharusnya yang dikembangkan kendaraan listrik. Dan seharusnya industri nonmotor transport seperti sepeda dan becak listrik dikembangkan sehingga pergerakan didominasi kendaraan tak bermotor,” ucapnya.

Sumber: bisnis.com

Read More

Antara Baterai Listrik, Kaledonia Baru dan Tesla

Adakah hubungan antara baterai listrik, Kaledonia Baru dan Tesla? Mengapa Tesla pada akhirnya memilih untuk bekerja sama dengan tambang di negara tersebut?

Apakah maksud dari hubungan antara Kaledonia Baru dan Tesla?

NIKEL.CO.ID –

Jika sebelumnya perusahaan otomotif ternama Tesla Inc. memilih India sebagai destinasi untuk membuat pabrik mobil listrik atau electric vehicle (EV),  dilaporkan dari Reuters tepatnya pada hari Kamis, 4 Maret 2021 lalu perusahaan yang didirikan oleh Elon Musk tersebut setuju untuk bermitra dengan tambang nikel di Kaledonia Baru. Bentuk kerja sama antara Tesla dan Kaledonia Baru tersebut sebagai upaya Tesla dalam mengamankan sumber daya nikel dengan jumlah yang lebih banyak.

Indonesia menjadi produsen nikel terbesar kedua di dunia, sedangkan Kaledonia Baru menduduki peringkat keempat. Perlu diketahui bahwa selain Indonesia dan Kaledonia Baru, beberapa negara lain yang menjadi produsen dari kunci bahan baku pembuat baterai kendaraan listrik yaitu ada di Kanada dan Rusia.

Tentunya untuk mendapatkan nikel Kaledonia Baru, Tesla telah membuat perjanjian dengan pemerintah di negara tersebut. Mereka turut membantu dengan produk dan standar keberlanjutan dan membeli nikel untuk produksi baterai.

Lewat cuitan di akun Twitter sang CEO Tesla pada 25 Februari lalu, dirinya menuliskan bahwa perhatian utama perusahaan tersebut adalah untuk meningkatkan produksi sel lithium-ion. Sebelumnya, di bulan Juli Elon Musk juga mengungkapkan bahwa nikel menjadi tantangan terbesar untuk baterai jarak jauh volume tinggi.

Permintaan nikel terus meningkatkan, hal tersebut dikarenakan adanya produksi kendaraan listrik saat ini mengalami percepatan. Adanya percepatan produksi tersebut mengakibatkan pasokan menjadi rendah. 

Elon Musk mengakui produksi nikel di Indonesia, Kanada, dan Australia berjalan dengan baik. Sementara di Amerika Serikat justru berat sebelah. Mengapa demikian? Apakah yang akhirnya membuat Tesla dan Kaledonia Baru bergandengan tangan?

Tesla dikabarkan akan menjadi penasihat industri di tambang Goro, Pulau Pasifik. Dimana tambang tersebut dipegang oleh Vale (Brazil) dan merupakan wilayah luar negara Prancis. Di Amerika Serikat mengalami kerusuhan sejak Vale dan negara Prancis memutuskan untuk menjual tambang nikel ke pedagang komoditas Swiss Trafigura pada awal Desember.

Berbagai protes dari kelompok pro-kemerdekaan pun terjadi. Mereka memaksa Vale untuk menutup situs di bulan Desember. Dilansir dari Routers, perjanjian tersebut berisi 51 persen saham dalam operasi Vale dapat dipegang oleh otoritas provinsi Kaledonia Baru dan kepentingan lokal, sedangkan Trafigura memiliki 19 persen saham kurang dari 25 persen yang telah direncanakan dalam perjanjian penjualan awal bersama Vale.

Pihak Vale menjelaskan bahwa tugasnya kini menyelesaikan setiap dan semua item yang belum terselesaikan untuk memungkinkan transaksi secara resmi diselesaikan. Dalam hal ini, Tesla disebutkan tidak memiliki saham namun perannya hanya sebagai mitra yang bertugas mengamankan rantai pasokan baterai listrik saat meningkatkan produksi.

Sumber: wiracarita.com

Read More

Baterai Sumber Tenaga Mobil Listrik Telah Ditemukan Sejak 120 Tahun Lalu

Pada awal abad ke-20, Thomas Edison menemukan sebuah baterai dengan kemampuan unik: menghasilkan hidrogen. Sekarang, 120 tahun kemudian, baterai itu baru menjadi populer.

NIKEL.CO.ID – Para pejalan kaki di jalanan West Orange, New Jersey, terkaget-kaget saat sebuah mobil listrik melesat melewati mereka.

Mobil itu menderu di atas jalanan berkerikil. Dari luar, tampak ruang interiornya lapang, yang cukup mengejutkan bagi sebagian orang.

Ia melaju dua kali lebih cepat dari mobil-mobil konvensional yang disalipnya, meninggalkan debu-debu beterbangan di permukaan jalan.

Kuda-kuda yang menarik kereta di jalanan itu mungkin merasa terganggu dengan kepulan debu tadi.

Adegan ini terjadi di awal tahun 1900-an, dan sang pengendara mobil adalah Thomas Edison. Mobil listrik bukan hal baru di wilayah itu, tapi sebagian besar masih mengandalkan baterai timbal-asam yang berat dan tidak praktis.

Edison melengkapi mobilnya dengan sejenis baterai baru yang, ia harap, suatu saat nanti bisa dipakai sebagai bahan bakar kendaraan di seluruh negeri: baterai nikel-besi.

Ia membangun temuannya dari hasil kerja penemu Swedia, Ernst Waldemar Jungner, yang pertama kali mematenkan baterai nikel-besi pada 1899. Edison menyempurnakan baterai itu untuk digunakan di mobil.

Edison mengklaim baterai nikel-besi sangat tangguh, dan bisa diisi dua kali lebih cepat daripada baterai timbal-asam.

Dia bahkan membuat kesepakatan dengan Ford Motors untuk memproduksi kendaraan listrik yang diyakini akan lebih efisien ini.

Memang, masih ada beberapa masalah dengan penggunaan baterai nikel-besi. Ukurannya lebih besar dari baterai timbal-asam yang lebih umum digunakan, dan harganya lebih mahal.

Juga, ketika diisi, baterai ini akan melepaskan hidrogen, yang dianggap mengganggu dan bisa berbahaya.

Sayang, pada saat Edison berhasil membuat prototipe yang lebih baik, mobil-mobil listrik mulai tergantikan oleh mobil berbahan bakar fosil yang dapat menempuh jarak lebih jauh sebelum harus diisi ulang.

Kesepakatan yang dibuatnya dengan Ford Motors berantakan, meski baterai Edison terus digunakan di beberapa hal khusus, seperti untuk sistem persinyalan kereta api, yang tak masalah dengan ukuran besarnya.

Lebih dari seabad kemudian, para insinyur menemukan kembali nilai baterai nikel-besi, yang mereka sebut sebagai berlian yang masih kasar.

Sekarang, baterai ini diteliti sebagai jawaban dari tantangan panjang pencarian sumber energi terbarukan: sebuah alternatif dari sumber energi alami yang sifatnya terputus-putus seperti angin dan matahari.

Hidrogen, produk sampingan yang dulu dianggap membahayakan, justru bisa menjadi salah satu hal paling berguna tentang baterai ini.

Mari kita percepat kisah ini ke 2010. Sebuah tim riset dari Delft University of Technology di Belanda menemukan penggunaan baterai nikel-besi berdasarkan hidrogen yang diproduksinya.

Saat listrik melewati baterai kala diisi ulang, ia mengalami reaksi kimia yang melepaskan hidrogen dan oksigen. Tim tersebut menemukan bahwa reaksi ini mirip dengan proses yang dipakai untuk memisahkan hidrogen dari air, yang dikenal sebagai elektrolisis.

“Bagi saya, proses kimianya sama,” kata Fokko Mulder, pemimpin tim riset Delft University.

Reaksi pemisahan air ini merupakan salah satu cara memproduksi hidrogen menjadi bahan bakar — bahan bakar yang sepenuhnya bersih, bila energi yang dipakai untuk menciptakan reaksi kimia tersebut juga energi bersih.

Mulder dan timnya tahu bahwa elektrode dalam baterai nikel-besi mampu memisahkan diri dari air, namun mereka terkejut saat mendapati elektroda tersebut memiliki energi lebih tinggi daripada sebelum hidrogen diproduksi.

Dengan kata lain, baterai ini akan bekerja dengan lebih baik bila digunakan sebagai elektrolisis juga.

Mereka juga terkejut melihat seberapa baik elektrode di baterai ini menahan elektrolisis, yang dapat membebani dan merusak baterai tradisional pada umumnya.

“Dan, tentu saja, kami cukup puas karena efisiensi energinya tampak bagus,” ujar Mulder, mengacu pada level 80-90%.

Mulder menyebut penemuan ini “battolyser”, dan mereka berharap temuan mereka bisa memecahkan dua tantangan utama energi terbarukan: penyimpanan energi dan produksi bahan bakar bersih.

“Anda akan mendengar diskusi tentang baterai di satu sisi, dan hidrogen di sisi lain,” ujar Mulder. “Selalu ada semacam persaingan di antara keduanya, tapi pada dasarnya Anda membutuhkan keduanya.”

Nilai Terbarukan

Salah satu tantangan terbesar sumber energi terbarukan seperti angin dan matahari adalah tak dapat diprediksi dan terbatas waktu.

Dengan tenaga surya, misalnya, Anda harus memiliki simpanan daya yang diproduksi selama siang hari dan musim panas, tapi pada malam hari dan musim dingin, pasokannya menyusut.

Baterai konvensional, seperti yang berbahan litium, dapat menyimpan energi dalam jangka pendek. Tapi saat mereka terisi penuh, mereka harus melepaskan kelebihannya atau mereka menjadi terlalu panas dan rusak.

Battolyser nikel-besi, di sisi lain, akan tetap stabil saat terisi penuh, dan di titik itu ia beralih membuat hidrogen.

“Baterai nikel-besi tangguh, mampu bertahan dari pengisian yang kurang atau berlebihan lebih baik dari baterai lain,” kata John Barton, rekan peneliti di Sekolah Teknik Mesin, Listrik dan Manufaktur, Universitas Loughborough di Inggris, yang juga meneliti battolyser.

“Dengan produksi hidrogen, battolyser mampu menambah simpanan daya selama berhari-hari bahkan saat pergantian musim.”

Selain memproduksi hidrogen, baterai nikel-besi juga mempunyai sifat berguna lainnya. Yang utama, ia sangat mudah dirawat. Baterai ini juga awet, seperti yang telah dibuktikan oleh Edison dengan mobil listriknya. Beberapa bahkan bisa bertahan hingga 40 tahun.

Logam yang dibutuhkan untuk membuat baterai — nikel dan besi — juga lebih umum dari, katakanlah, kobalt yang digunakan untuk membuat baterai konvensional.

Ini berarti, battolyser dapat membantu membuat energi terbarukan lebih menguntungkan.

Seperti industri lainnya, harga energi terbarukan berfluktuasi berdasarkan penawaran dan permintaan. Pada hari-hari yang cerah, bisa jadi ada banyak energi surya yang menyebabkan surplus dan penurunan harga jual. Battolyser dapat membuat kurva lebih simbang.

“Saat harga listrik naik, Anda bisa melepaskan baterai. Namun saat harga listrik rendah, Anda bisa mengisi daya baterai dan membuat hidrogen,” ujar Mulder.

Dalam hal ini, battolyser tidak sendiri. Elektrolisis alkali tradisional yang digabungkan dengan baterai juga bisa melakukan fungsi yang sama, dan jamak digunakan di industri penghasil hidrogen.

Dan meski hidrogen adalah produk langsung dari battolyser, sejumlah zat berguna lainnya dapat dihasilkan dari baterai tersebut, seperti amonia atau metanol, yang lebih mudah disimpan dan dipindahkan.

Meningkatkan Skala

Saat ini battolyser terbesar yang ada memiliki daya 15kW/15kWh, memiliki kapasitas baterai yang cukup besar dan simpanan hidrogen untuk memberi daya pada 1,5 rumah tangga.

Battolyser yang lebih besar dengan daya 30kW/30kWh terdapat di pembangkit listrik Magnum di Eemshaven, Belanda, yang menyediakan daya cukup untuk memenuhi kebutuhan pembangkit listrik tersebut.

Setelah menjalani pengujian ketat di sana, battolyser akan diproduksi lebih banyak dan didistribusikan pada produsen energi terbarukan, seperti pembangkit tenaga surya dan angin.

Pada akhirnya, battolyser diharapkan mampu mencapai daya skala gigawatt — atau setara dengan daya yang dihasilkan sekitar 400 turbin angin.

Barton juga melihat peranan battolyser yang lebih kecil, yang bisa dipakai untuk menyediakan energi bagi komunitas yang hidup di wilayah terpencil dan tak punya jaringan listrik utama.

Fakta bahwa elektroda battolyser terbuat dari logam yang cukup umum dan murah membuat semuanya mungkin lebih mudah. Tak seperti litium, nikel dan besi tak membutuhkan banyak air saat ditambang. Kedua logam ini juga tak dihubung-hubungkan dengan kerusakan lingkungan.

Tetap saja, Mulder dan Barton melihat akan ada kesulitan dalam hal efisiensi dan kapasitas.

“Battolyser sangat butuh peningkatan kapasitas daya sebagai baterai, atau pengurangan resistensi internal,” kata Barton. Semakin tinggi resistansi internal, maka semakin rendah efisiensi sebuah baterai.

Meningkatkan kedua hal itu adalah sesuatu yang sedang dikerjakan oleh tim Mulder.

Sebagian besar potensi battolyser sesungguhnya tersembunyi di depan mata selama ini, sejak Thomas Edison pertama kali bereksperimen dengan baterai nikel-besi pada pergantian abad ke-20.

Edison mungkin salah karena meyakini baterainya akan mampu menggantikan kendaraan lain di jalanan. Tapi baterai nikel-besi mungkin memiliki peran besar dalam menggantikan bahan bakar fosil, dengan membantu mempercepat transisi menuju energi terbarukan.

Anda dapat membaca artikel ini dalam bahasa Inggris dengan judul The battery invented 120 years before its time pada laman BBC Future.

Sumber: BBC.com

Read More

Roadmap Industri Baterai Kendaraan Listrik Indonesia

NIKEL.CO.ID –Pemerintah tengah menggenjot pengembangan industri baterai kendaraan listrik dan Energy Storage System (ESS) yang ditopang pasokan 15 juta ton nikel per tahun.

Ketua Tim Percepatan Proyek Baterai Kendaraan Listrik Kementerian BUMN Agus Tjahajana menjelaskan roadmap alias peta jalan industri baterai kendaraan listrik.

“Pada 2022, kita akan mulai mencoba membuat baterai kendaraan listrik dalam skala kecil, misalnya untuk sepeda motor listrik,” kata Agus dalam diskusi yang digelar Kementerian BUMN pada Selasa, 2 Februari 2021.

Agus yang juga menjabat Komisaris Utama BUMN Mining Industry Indonesia (Mind ID).

Dia menjelaskan bahwa sebelum memproduksi baterai motor listrik, yakni pada 2021 diharapkan sudah ada penyelesaian kerjasama pengembangan investasi produksi baterai kendaraan listrik dan penerapan ESS di PLN.

Selanjutnya, menurut Agus, fasilitas kilang (refinery) direncanakan bisa mulai beroperasi pada 2024, demikian pula pabrik prekursor dan katoda.

Kemudian pada 2025, pembangunan pabrik “to cell to battery pack” (sel baterai ke baterai) ditargetkan rampung dan bisa mulai beroperasi.

“Kira-kira 2026 selesai semuanya (pembangunan pabrik), ini tahap pertama. Tahap keduanya mulai 2027 yaitu untuk perluasan kapasitas,” kata Agus.

Adapun PT Pertamina (Persero) akan terlibat pengembangan baterai kendaraan listrik pada tataran intermediate, yakni memproduksisi prekursor, katode, battery cell, hingga battery pack. Perseroan menyatakan telah menyiapkan investasi untuk pembangunan pabrik.

Sumber: tempo.co

Read More

Ini Dia Faktor Pendongkrak Harga Nikel

NIKEL.CO.ID – Beberapa tahun terakhir nikel menjadi salah satu komoditas tambang yang banyak diperbincangkan banyak pihak. Bahkan harga nikel di London Metal Exchange (LME) mampu mencapai rekor harga tertinggi untuk tahun ini, dengan berada di level USD18.109. Sejumlah harga saham emiten nikel pun mendapatkan dampak positif atas moncernya harga nikel tersebut.

Seperti yang terjadi pada saham milik PT Aneka Tambang Tbk (ANTM) yang dalam setahun mampu menguat sebanyak 376,34 persen menjadi Rp3.120 per lembar saham. Kemudian juga saham PT Vale Indonesia Tbk (INCO) yang mengalami peningkatan sebanyak 129,24 persen menjadi Rp6.625.

Para analis menilai bahwa pergerakan harga yang dialami oleh komoditas nikel ini, utamanya karena ada perbaikan ekonomi di negara Cina, di mana negeri Tirai Bambu itu memiliki rencana ke depan untuk menggenjot konsumsi nikel yang digunakan untuk kendaraan listrik dan juga baja anti-karat.

Sementara dari kebijakan pemerintah Indonesia sendiri, lebih dipengaruhi oleh adanya pembatasan ekspor bijih nikel. Hal ini mampu menjadi katalis positif terhadap harga nikel secara keseluruhan.

Keberadaan kendaraan listrik tentu juga tidak bisa dilepaskan sebagai faktor penting yang mampu mendorong naiknya harga nikel. Sejumlah negara pun mencetuskan program pemberian stimulus, untuk mendukung hadirnya kendaraan listrik guna memberikan balance dari dampak ekonomi akibat wabah pandemi.

Seperti yang dilakukan oleh pemerintah Cina yang akan memperpanjang pemberian subsidi hingga tahun 2022 mendatang, serta sejumlah negara Uni Eropa yang juga memutuskan untuk memberikan tambahan subsidi terhadap kendaraan listrik, untuk menekan target emisi yang jauh lebih ketat lagi.

Sementara itu pengembangan kendaraan listrik di dalam negeri sendiri, saat ini hanya mampu memberikan dampak terhadap pasar domestik saja, dan belum bisa untuk memberikan pengaruh besar terhadap harga nikel global. Pasalnya, proyek tersebut saat ini juga masih dalam tahap MoU dan rencana, belum ada jadwal pasti untuk mulai dilaksanakan.

Lebih lanjut, pengaruh lainnya juga datang dari antusiasme akan rencana pemerintah Indonesia yang segera membentuk holding baterai listrik. Diketahui, besaran nilai investasi secara keseluruhan untuk proyek itu bisa mencapai USD12 miliar. Meskipun masih dalam tahap awal, pemerintah telah memastikan bahwa MIND ID yang akan membentuk holding tersebut.

Sumber: duniatambang.co.id

Read More