Volkswagen Mencari Mitra Pemasok Sel Baterai Kendaraan Listrik

NIKEL.CO.ID – Volkswagen sedang dalam pembicaraan dengan pemasok untuk mengamankan akses langsung ke bahan baku untuk baterai kendaraan listrik melalui kemitraan, Reuters, Selasa, 15 Juni 2021.

Produsen mobil terbesar kedua di dunia ini mencoba untuk mengontrol komponen-komponen utama dalam rantai pasokannya seperti semikonduktor dan lithium sehingga dapat mengatasi segala potensi kemacetan dan menjaga pabriknya tetap beroperasi pada kapasitas penuh.

Produsen mobil Jerman itu juga berusaha mengejar saingan seperti Tesla dan BMW yang telah mencapai kesepakatan pasokan dengan produsen lithium, salah satu komponen utama dalam baterai kendaraan listrik.

“Kita semua berlomba. Ini tentang membuat sel (baterai) yang paling terjangkau dan Anda perlu skala untuk melakukannya,” kata Thomas Schmall, anggota dewan yang bertanggung jawab atas teknologi Volkswagen.

“Selain manufaktur sel, yang merupakan bidang bisnis baru bagi kami, kami perlu bergerak ke integrasi vertikal lebih kuat, pengadaan dan pengamanan bahan baku. Ini bisa terjadi melalui berbagai bentuk kerja sama,” ujarnya.

Schmall menambahkan bahwa mendapatkan kontrol langsung atas pasokan bahan baku untuk baterai kendaraan listrik – yang juga mencakup grafit, kobalt, dan nikel – juga penting untuk menangani biaya dengan lebih baik.

“80 persen dari biaya sel ditentukan oleh bahan baku.”

Sementara Schmall tidak mengidentifikasi pemasok potensial, dia mengatakan tujuan Volkswagen adalah memiliki sejumlah kecil pemain yang lebih besar untuk menjaga kompleksitas tetap terkendali.

Pasar lithium dikendalikan oleh perusahaan pertambangan seperti perusahaan Amerika Serikat Albemarle, Tianqi Lithium Cina, dan Sociedad Quimica y Minera dari Cili.

Volkswagen sedang mencari hubungan yang lebih dekat dengan BASF Jerman, salah satu pemasok bahan baterai terbesar di dunia, menurut dua orang yang mengetahui masalah tersebut.

Kedua perusahaan memasuki kemitraan minggu lalu bersama dengan Daimler dan Fairphone untuk mencari cara untuk memproduksi lithium secara bertanggung jawab di Atacama (Cili), lokasi bagi seperempat dari pasokan lithium dunia saat ini.

Volkswagen bertujuan untuk menyalip Tesla sebagai pemimpin kendaraan listrik global pada pertengahan dekade ini dan telah memetakan rencana untuk membangun enam pabrik baterai di seluruh Eropa pada tahun 2030 bersama dengan mitra.

Schmall mengatakan Volkswagen sangat dekat untuk memilih mitra untuk pabrik baterai yang direncanakan di Salzgitter dan berharap untuk memberikan rincian lebih lanjut dalam beberapa bulan mendatang.

BMW telah mencapai kesepakatan dengan produsen lithium AS Livent dan Ganfeng Lithium Cina, salah satu produsen top dunia. Tesla, sementara itu, telah menyetujui kesepakatan pasokan lithium hidroksida lima tahun dengan Sichuan Yahua Industrial Group (Cina).

Volkswagen juga berusaha untuk lebih dekat dengan produsen chip dalam menghadapi kekurangan semikonduktor global, menyoroti berbagai bidang yang harus diatasi dengan rencana pengeluaran 150 miliar euro (US$ 182 miliar).

“Bagi produsen mobil, secara strategis penting untuk memperkuat kontrol atas rantai pasokan,” kata Ralf Blessmann, kepala divisi otomotif Capgemini di Jerman.

“Krisis chip saat ini telah memperlihatkan risiko yang berkaitan dengan kekurangan pasokan.”

Krisis chip semikonduktor yang terjadi dalam beberapa bulan terakhir juga mengganggu produksi Volkswagen dan produsen global. Beberapa di antaranya bahkan mengurangi produksi karena kekurangan pasokan semikonduktor.

Sumber: tempo.co

Read More

Mau Jadi Raja Baterai, Intip ‘Harta Karun’ Terbaru Nikel RI

NIKEL.CO.ID – Indonesia bercita-cita menjadi raja baterai dunia di masa depan. Dengan pembentukan Holding BUMN Industri Baterai atau yang dikenal Indonesia Battery Corporation (IBC), Indonesia akan memenuhi kebutuhan baterai untuk kendaraan listrik di dalam dan luar negeri.

Lalu, seberapa besar ‘harta karun’ nikel RI yang jadi bahan baku baterai?

Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) mencatat total sumber daya logam nikel pada 2020 mencapai 214 juta ton logam nikel, meningkat dari 2019 yang tercatat sebesar 170 juta ton logam nikel.

Sementara jumlah cadangan logam nikel pada 2020 mencapai 41 juta ton logam nikel, lebih rendah dari 2019 yang mencapai 72 juta ton logam nikel.

Sementara untuk bijih nikel, berdasarkan data Kementerian ESDM tahun 2020, total sumber daya bijih nikel mencapai 8,26 miliar ton dengan kadar 1%-2,5%, di mana kadar kurang dari 1,7% sebesar 4,33 miliar ton, dan kadar lebih dari 1,7% sebesar 3,93 miliar ton.

Adapun cadangan bijih nikel mencapai 3,65 miliar ton untuk kadar 1%-2,5%, di mana cadangan bijih nikel dengan kadar kurang dari 1,7% sebanyak 1,89 miliar ton dan bijih nikel dengan kadar di atas 1,7% sebesar 1,76 miliar ton.

Untuk rinciannya, cadangan bijih nikel kadar di atas 1,7% tereka sebesar 1,72 miliar ton, tertunjuk sebesar 1,26 miliar ton, terukur sebesar 954 juta ton, terkira sebesar 990 juta ton dan terbukti sebesar 772 juta ton.

Sementara untuk cadangan bijih nikel dengan kurang dari 1,7% tereka sebesar 2 miliar ton, tertunjuk 1,52 miliar ton, terukur sebesar 805 juta ton, terkira sebesar 1,30 miliar ton dan terbukti sebesar 589 juta ton.

Adapun nikel yang diperlukan untuk bahan baku baterai biasanya dengan kadar rendah di bawah 1,7%.

Sebelumnya, Ketua Tim Percepatan Baterai Kendaraan Listrik, Agus Tjahajana Wirakusumah, mengatakan bahwa pasar luar negeri menginginkan produk baterai kendaraan listrik berkualitas tinggi, sehingga ini akan menjadi perhatian bagi IBC untuk memproduksi baterai.

Untuk itu, menurutnya dibutuhkan penguasaan teknologi yang tinggi dan juga riset dan pengembangan baterai yang berkelanjutan.

Dia mengakui bahwa teknologi dalam negeri belum bisa secara mandiri untuk memproduksi baterai mobil listrik. Oleh karena itu, dibutuhkan mitra strategis yang menjadi anggota konsorsium untuk mengadaptasi teknologinya.

“Teknologi dalam negeri belum bisa, kita harus cari partner. Ada 11 perusahaan yang kita dekati, paling tidak ada dua perusahaan yang intens berbicara dengan kita. Teknologi itu nanti berasal dari partner kita, di mana dalam perjanjian kerja sama ada transfer teknologi yang dilakukan,” kata Agus dalam program Energy Corner CNBC Indonesia, Senin (24/5/2021).

Sumber: CNBC Indonesia

Read More

Apple Mulai Cari Pemasok Baterai Untuk Mobil Listrik Buatannya

NIKEL.CO.ID – Proyek Apple untuk membuat mobil listrik akan segera terlaksana. Saat ini, Apple kabarnya sedang dalam pembicaraan tahap awal dengan CATL dan BYD agar bersedia memasok komponen baterai.

CATL dikenal karena memasok baterai untuk mobil listrik buatan Tesla. Sayangnya, perusahaan asal China itu enggan membangun pabrik di Amerika Serikat (AS) karena ketegangan politik antara Washington dan Beijing.

Reuters yang mengutip sumber anonim mengungkapkan, proses diskusi bisa berubah dengan cepat, sehingga kesepakatan Apple dengan CATL atau BYD juga belum bisa dipastikan akan tercapai.

Apple juga kabarnya lebih memilih menggunakan baterai lithium besi fosfat yang lebih murah untuk diproduksi, karena menggunakan besi dibanding nikel dan kobalt yang lebih mahal.

Teknologi self-driving untuk produk mobil otonom sudah lama dikerjakan oleh Apple, dan diproyeksikan masuk tahap produksi pada 2024.

Beberapa sumber yang dekat dengan kabar ini sebelumnya mengatakan, mobil listrik besutan Apple nantinya akan menggunakan baterai produksi sendiri. Diskusi dengan CATL dan BYD bisa saja mamasukkan teknologi atau desain dari Apple.

Proyek mobil listrik Apple mulai bergerak bersamaan dengan rencana Pemerintahan Joe Biden untuk meningkatkan pasar mobil listrik domestik. Biden mengusulkan anggaran sebesar US$ 1,7 triliun, mencakup US$ 174 miliar untuk keperluan kendaraan listrik.

Pemanfaatan mobil listrik juga semakin marak di tengah agenda nol emisi karbon yang disuarakan banyak negara, termasuk AS. Produsen baterai kini mulai meningkatkan produksi untuk memenuhi permintaan yang melonjak di seluruh dunia.

Laporan SNE Research yang rilis Juni memprediksikan, produsen baterai asal China akan jadi yang tersibuk dan tumbuh lebih cepat dibanding pesaingnya, kerena telah lebih dulu berekspansi ke pasar kendaraan listrik.

Bahkan, CATL yang kini sedang didekati Apple, dikabarkan sedang merencanakan pembangunan pabrik baterai otomotif baru yang besar di Shanghai, memperkuat posisinya sebagai pemasok baterai kendaraan listrik nomor satu di dunia.

Sumber: KONTAN

Read More

Usai Pandemi, Indonesia Diprediksi Jadi Incaran Investor Asing

NIKEL.CO.ID – Morgan Stanley memprediksi Indonesia akan jadi salah satu negara yang jadi tujuan penanaman modal asing (foreign direct investment/FDI) dalam jangka menengah setelah pandemi covid-19.

Selain Indonesia, negara Asia lainnya yang akan mendapatkan berkah serupa adalah India dan Filipina. Pasalnya, negara tersebut dinilai telah mengeluarkan langkah-langkah struktural untuk memanfaatkan relokasi FDI dari China saat banyak perusahaan di negara tersebut ingin mendiversifikasi risiko manufaktur.

India, misalnya, telah melakukan perubahan skema insentif terkait produksi. Sementara Indonesia telah menebar berbagai insentif pajak, mengesahkan omnibus law, serta langkah lainnya seperti memanfaatkan pasokan bijih nikel untuk produksi baterai kendaraan listrik (electric vehicle/EV).

“Kami percaya arbitrase biaya tenaga kerja, angkatan kerja yang cukup besar, dan pasar permintaan domestik yang cukup besar berarti bahwa ekonomi seperti India, Indonesia, dan Filipina kemungkinan akan mendapat manfaat dari relokasi FDI dalam jangka menengah setelah pandemi covid-19 berlalu,” tulis Morgan Stanley dalam laporannya dikutip Selasa (18/5).

Lembaga keuangan asal AS tersebut juga melihat faktor deglobalisasi sebagai akibat dari ketegangan AS-China yang telah menyebabkan adanya peningkatan belanja modal teknologi selama perlambatan ekonomi.

“Biasanya, belanja modal menghadapi tekanan paling besar selama perlambatan ekonomi, tetapi yang menarik, belanja modal bertahan dengan baik terutama di Korea dan Taiwan selama pandemi covid-19,” lanjut laporan tersebut.

Hal ini terlihat dari perusahaan Korea dan Taiwan yang mengumumkan rencana belanja modal untuk meningkatkan pasokan produksi chip selama beberapa tahun ke depan.

Taiwan Semi Conductor Manufacturing Company (TSMC), misalnya, pada awal April lalu mengumumkan rencana belanja modal US$100 miliar selama 2021-2023. Analis Morgan Stanley Charlie Chan memprediksi sekitar US$30 miliar di antaranya bakal digelontorkan tahun ini.

Sementara di Korea, pada 13 Mei lalu, pemerintah mengumumkan rencana untuk memperkuat industri semi konduktor melalui perluasan kredit pajak atas belanja modal, penyediaan likuiditas, peningkatan infrastruktur air/listrik, peningkatan kualitas sumber daya manusia, dan dukungan legislatif.

“Pemerintah membayangkan menarik lebih dari KRW510 triliun atau sekitar US$450 miliar dalam belanja modal semikonduktor pada tahun 2030, termasuk KRW41,8 triliun (US$37 miliar) yang saat ini direncanakan oleh industri untuk 2021 dibandingkan KRW39.7 triliun (US$ 35 miliar) pada 2020,” terang laporan tersebut.

Sumber: CNN Indonesia

Read More

Menteri Investasi Bakal Dorong Hilirisasi Untuk Dongkrak Ekonomi

NIKEL.CO.ID – Menteri Investasi Bahlil Lahadalia mengatakan, untuk mendorong pertumbuhan ekonomi maka investasi berkualitas perlu digenjot. Salah satu caranya yakni dengan mendorong industri hilirisasi.

Oleh karena itu, kata Bahlil, empat sektor usaha akan menjadi fokus pemerintah untuk meningkatkan hilirisasi. Pertama, sektor kesehatan yakni dengan membangun pabrikan bahan baku obat-obatan guna menekan impor.

Kedua, infrastruktur melalui pemanfaatan sumber daya asli dalam negeri untuk bahan baku. Ketiga, otomotif mengingat komponen mobil mayoritas merupakan barang impor. Keempat, sektor pertambangan.

“Hilirisasi tambang dan mobil, kami mengatakan bahwa proses rencana desain dari ore nikel on the track, investor tidak boleh lagi ekspor ore-nya. Makanya, sebentar lagi Indonesia akan  pusat industri baterai dunia,” ujar Bahlil saat Rapat Koordinasi Pembangunan Pusat 2021, Kamis (29/4/2021).

Bahlil mencatat, setidaknya ada dua perusahaan asing yang akan mendukung ekonsistem baterai listrik di Indonesia. Pertama, Contemporary Amperex Technology Co. Limited atau CATL yang berencana membangun industri baterai terintegrasi dengan nilai foreign direct investment (FDI) mencapai US$ 5,2 miliar.

Kedua, LG Energy Solution Ltd dengan nilai investasi sebesar US$ 9,8 miliar untuk membangun industri baterai terintegrasi. “Untuk LG ini Juni-Juli sudah mulai,” ujar Bahlil.

Kata Bahlil, untuk memudahkan para investor menjalankan usahanya maka perizinan perlu dipermudah. Makanya melalui Undang-Undang (UU) Nomor 11 Tahun 2020 tentang Cipta Kerja, akan memberikan percepatan perizinan, efisiensi dana, kepastian, dan transparansi.

“Ini sangat panting karena menahan izin sama dengan menahan lapangan pekerjaaan dan pendapatan negara, dan pertumbuhan ekonomi,” kata Bahlil.

Bahlil menambahkan, untuk mendorong ekonomi investasi dalam hal hilirisasi akan didorong lebih merata tidak hanya di pulau Jawa, namun juga luar Jawa. Menurutnya, dengan sebaran investasi yang merata maka akan berdampak terhadap peningkatan pertumbuhan ekonomi yang berkualitas.

Adapun di akhir tahun ini, Kementerian Investasi menargetkan, nilai dana investor yang terkumpul sebanyak Rp 900 triliun. Perkembangannya, hingga kuartal I-2021realisasi investasi sebesar Rp 219,7 triliun, tumbuh 4,3% year on year (yoy).

Sumber: KONTAN

Read More

BYD Akan Gantikan Nikel dengan Lithium Untuk Baterai

NIKEL.CO.ID – BYD akan meninggalkan teknologi nikel, kobalt, dan mangan (NCM) sebagai bahan baku baterai mobil listrik. Produsen mobil listrik terbesar asal China tersebut lebih memilih lithium, baja, dan fosfat (LFP).

Dikutip dari Mining.com, Senin (12/4/2021), BYD merupakan perusahaan mobil listrik yang dibekingi oleh Warren Bufett. Investor legendaris asal AS itu memiliki 21 persen saham di perusahaan mobil listrik terbesar kedua di dunia setelah Tesla itu.

Chairman BYD, Wang Chuanfu mengatakan, teknologi FLP bukan hanya lebih murah bila dibandingkan NCM, melainkan juga lebih aman. Dia menilai, kombinasi nikel dan kobalt rawan memicu kebakaran pada mesin.

“Beberapa pelaku industri bertindak tak rasional mengejar baterai NCM untuk menjangkau jarak tempuh lebih tinggi namun mengorbankan stabilitas dan keamanan,” katanya.

Baterai mobil listrik berbasis lithium yang digunakan BYD memiliki kepadatan yang cukup tinggi. Sistem ini untuk mengatasi kelemahan lithium yang memiliki jarak tempuh lebih rendah dan pengisian lebih lama dibandingkan nikel.

Saat ini, mobil SUV Tang terbaru buatan BYD mengklaim mampu menempuh jarak 505 kilometer untuk satu kali pengisian dalam kondisi penuh (full charging). Selain itu, proses pengisian dari 30 persen menjadi 80 persen membutuhkan waktu 30 menit.

Laporan BMO Capital Markets menunjukkan pergeseran baterai dari nikel menjadi lithium tak mengejutkan. Namun, teknologi ini masih perlu penyempurnaan agar bisa digunakan industri mobil listrik dalam tahun-tahun mendatang. Jika sukses, maka ini menjadi kabar buruk bagi nikel yang selama ini menjadi komoditas utama yang diburu pabrikan.

Sumber: Inews.id

Read More

Xiaomi Gandeng Great Wall Buat Mobil Listrik

NIKEL.CO.ID – Salah satu produsen ponsel terbesar di dunia, Xiaomi, dikabarkan berencana membuat mobil listrik menggunakan fasilitas produksi Great Wall Motor. Model pertama proyek ini dikatakan bakal muncul pada 2023.

Informasi ini muncul dalam laporan Reuters yang mendapatkan keterangan dari tiga orang yang mengetahui rencana itu.

Dikatakan Xiaomi menargetkan produksi massal mobil listrik yang akan meningkatkan posisinya sebagai produsen produk teknologi. Sementara buat Great Wall yang belum pernah menawarkan layanan manufaktur ke perusahaan lain akan menyediakan konsultasi teknik untuk mempercepat rencana ini.

Kedua perusahaan berencana untuk mengumumkan kerjasama pengembangan mobil listrik secepatnya, dan diprediksi akan diumumkan minggu depan. Namun keduanya enggan berkomentar saat ini saat dikonfirmasi.

Proyek mobil listrik Xiaomi disebut dapat memperluas pendapatan yang selama ini didominasi dari bisnis ponsel dengan margin tipis. Mobil listrik dianggap akan berpotensi memberi Xiaomi sumber pendapatan lebih kokoh sepanjang tahun.

Selain Xiaomi, sederet perusahaan teknologi juga punya strategi mengembangkan mobil listrik. Sebelum pemberitaan Xiaomi muncul, Apple belakangan dikabarkan tengah menjajaki dunia mobil listrik.

Bukan cuma Apple, perusahaan mesin pencari asal China, Baidu, juga mengumumkan rencana pembuatan mobil listrik dengan berafiliasi bersama perusahaan otomotif Geely.

Fenomena pengembangan mobil listrik oleh sederet perusahaan teknologi menjadi hal baru belakangan ini. Namun pengembangan itu diprediksi menjadi fenomena lumrah dalam beberapa tahun ke depan.

Salah satu pendiri dan kepala eksekutif Xiaomi Lei Jun mengklaim keahlian perusahaan dalam hal produksi perangkat keras dapat membantu mempercepat desain dan produksi mobil listrik.

Tidak seperti beberapa perusahaan pesaingnya, Xiaomi juga memproduksi membuat sejumlah produk di luar ponsel seperti TV pintar, penanak nasi, pembersih udara hingga skuter.

Mobil listrik Xiaomi dikatakan bisa terhubung dengan berbagai perangkat lain dari perusahaan dalam ekosistem tertentu. Endadget melihat hal ini dinilai menarik untuk orang-orang yang sudah punya produk Xiaomi lainnya.

Sumber: CNN Indonesia

Read More

Kepala Daerah Penghasil Nikel Ini Akan Pakai Mobil Listrik Untuk Kendaraan Dinas

NIKEL.CO.ID – Bupati Konawe Utara, Provinsi Sulawesi Tenggara (Sultra), Ruksamin akan menjadi kepala daerah pertama yang akan menggunakan mobil listrik sebagai kendaraan dinasnya.

Mobil tanpa BBM itu akan digunakan sebagai kendaraan dinasnya (Randis) saat pemimpin Konawe Utara di periode kedua.

Saat ini dirinya telah memesan mobil listrik tersebut yang akan mulai dipergunakannya terhitung sejak dilantik pada bulan April 2021 mendatang.

“Saya sudah pesan, dan akan saya gunakan saat pelantikan nanti,” tuturnya saat memberikan sambutan di acara pengukuhan dan pelantikan Pengurus Daerah Jaringan Media Siber Indonesia (JMSI) Sultra, Rabu (24/3/2021).

Alasannya memesan mobil listrik, karena dirinya ingin menyampaikan pesan bahwa mobil listrik yang dipesannya tidak lagi menggunakan BBM, tapi menggunakan aki. Aki ini terbuat dari nikel. Sedangkan untuk mendapatkan nikel sumbernya ada di Kabupaten Konawe Utara.

“Jadi saya ingin sampaikan pesan kepada kita semua, bahwa Konawe Utara adalah daerah penghasil nikel terbesar di Indonesia. Jika mobil listrik telah digunakan, maka industri nikel di Kabupaten Konawe Utara juga akan berdiri. Dan Ini akan membawa daerah Konawe Utara menjadi daerah maju,” terangnya.

Saat ini, Pemda Kabupaten Konawe Utara telah mengusulkan ke pemerintah pusat untuk menjadi Kabupaten Konawe Utara menjadi kawasan industri pertambangan.

Sebab Konawe Utara memiliki deposit nikel yang sangat besar di Provinsi Sultra.  Daerah yang dipimpinnya memiliki cadangan nikel terbesar yakni 47 persen, dari seluruh cadangan nikel yang ada di Indonesia.

Pemerintah pusat melalui Presiden RI Joko Widodo juga telah merespon positif, dengan menetapkan Kabupaten Konawe Utara menjadi kawasan industri strategis, tepatnya di Kecamatan Motui dan Langgikima.

Karenanya, dirinya tak lupa berpesan, agar JMSI juga bisa membangun kerja sama dengan pemerintah daerah untuk bersama-sama membangun daerah.

Sumber: telisik.id

Read More

April 2021, Produsen Mobil Listrik Akan Mulai Bangun Pabriknya di Indonesia

NIKEL.CO.ID – Pemerintah tengah mengembangkan industri kendaraan listrik di Tanah Air, bukan hanya baterai tapi juga mobil. Bahkan pada April 2021 akan ada groundbreaking pabrik mobil listrik di Indonesia.

Hal ini diungkapkan oleh Direktur Mega Proyek dan Energi Baru Terbarukan PT PLN (Persero), Muhammad Ikhsan Asaad. Namun, ia tidak merinci nama perusahaan yang akan membangun pabrik tersebut.

“Akan mulai ada groundbreaking pabrik mobil listrik di Indonesia. Sekarang dalam rangka finalisasi, sehingga kita harapkan pada awal April atau pertengahan April 2020 sudah ada salah satu produsen yang akan membuat pabrik mobil listrik di Indonesia,” kata Ikhsan dalam Inspirato Sharing Session Liputan6.com pada Selasa (23/3/2021).

Selain pabrik mobil listrik, pemerintah saat ini tengah mengembangkan ekosistem kendaraan listrik secara terintegrasi dari hulu sampai hilir. Salah satu modal utama RI yaitu pasokan sumber daya alam yang melimpah yaitu nikel dan kobalt.

Dijelaskan Ikhsan, sekitar 40 – 50 persen komponen mobil listrik ada pada baterai. Hal tersebut membuat harga jual baterai mahal, sehingga Indonesia bisa memanfaat pasokan nikel yang melimpah sebagai salah satu bahan baku pembuatan baterai tersebut.

Holding Badan Usaha Milik Negara (BUMN) baterai yaitu Indonesia Battery Corporation juga telah bekerja sama dengan dua hingga tiga perusahaan besar dunia untuk produksi baterai. Dua diantaranya sedang dalam tahap finalisasi.

“Kita akan bikin pabrik baterai di Indonesia. Kita bikin dulu pabrik baterainya, karena 40 persen komponen mobil listrik itu adalah baterai. Nanti dengan mudah kita bangun industrinya di Indonesia,” jelasnya.

Holding BUMN Baterai Listrik Butuh Investasi hingga USD 17 Miliar

Ketua Tim Kerja Percepatan Pengembangan EV Battery BUMN dan Komisaris Utama PT MIND ID Agus Tjahajana membeberkan proyeksi investasi yang dibutuhkan BUMN dalam mengembangkan ekosistem produksi baterai listrik dalam negeri.

Hingga 2026-2027, investasi yang diperlukan bisa mencapai USD 13 miliar untuk kapasitas produksi hingga 30 Giga Watt per hour (GWh). Adapun, kapasitas tertinggi produksi baterai listrik ini bisa mencapai 140 GWh.

“Tahap pertama kita menghendaki di 30 GWh, sekitar tahun 2026-2027. Untuk 30 GWh, kira-kira USD 13 miliar,” ujar Agus dalam siaran langsung di televisi swasta, Kamis (4/3/2021).

Ketika tahap pertama sudah terlaksana, maka secara berangsur kapasitasnya akan naik hingga 140 GWh di tahun 2030 dengan nilai investasi mencapai USD 17 miliar.

Investasi ini, lanjut Agus, tentunya akan menggandeng mitra dari luar negeri. Pihaknya masih membicarakan rinciannya dengan mitra kerja.

Adapun, holding BUMN baterai listrik yang akan mengelola ekosistem ini akan segera rampung.

“Target dari Pak Wakil Menteri paling tidak Juni ini paling tidak sudah lahir. Itu paling telat, tapi kalau lihat dari progres mungkin bisa lebih cepat karena sudah dilakukan, kemarin kita rapat dan itu sudah sepakat,” ujar Agus.

Sumber: liputan6.com

Read More

Insentif PPnBM untuk Kendaraan Listrik, Berkah atau Musibah?

Pemerintah berniat mengubah PP No. 73/2019 tentang Barang Kena Pajak yang tergolong Mewah Berupa Kendaraan Bermotor yang dikenai PPnBM, khususnya untuk kedaraan listrik.

NIKEL.CO.ID – Menteri Keuangan Sri Mulyani Indrawati menjawab kritik publik saat pemerintah memberlakukan stimulus pajak penjualan atas barang mewah (PPnBM) untuk kendaraan roda empat. Dia meyakinkan masyarakat tidak perlu khawatir karena pemerintah juga tengah menyusun untuk mobil listrik.

Tanggapan sinis terlontar karena insentif yang berlandaskan pada Peraturan Menteri Keuangan (PMK) No. 20/PMK.010/2021 tentang PPnBM Atas Penyerahan BKP Kendaraan Bermotor Tertentu yang Ditanggung Pemerintah ini dianggap hanya menambah jumlah kendaraan dan meningkatkan polusi.

Padahal, saat menjadi Gubernur DKI Jakarta dulu, Presiden Joko Widodo menolak kebijakan mobil murah ramah lingkungan atau low cost green car (LCGC). Kala itu, Jokowi mengatakan bahwa yang dibutuhkan pada kondisi sekarang adalah transportasi murah. Kini, Kepala Negara malah mengimplementasikan apa yang dia kritisi.

Pemerintah dalam menerapkan PMK 20 beralasan sektor otomotif tahun lalu turun tajam hampir 50 persen. Industri mesin beserta perlengkapannya dari 80,5 persen jadi 40 persen dan kendaraan bermotor dari 80,8 persen jadi 40 persen. Penjualannya pun mengalami kontraksi. Motor turun sebesar 43,57 persen, mobil turun 48,35 persen, dan suku cadang minus 23 persen.

Industri manufaktur sendiri berkontribusi 19,88 persen terhadap produk domestik bruto (PDB). Berdasarkan data tersebut diperlukan pemberian stimulus bagi kendaraan bermotor berupa PPnBM.

Secara khusus, pangsa industri alat angkutan menyumbang 1,35 persen untuk perekonomian. Namun, pertumbuhannya terkontraksi paling dalam, yaitu 19,86 persen.

Pemerintah memberikan insentif untuk kategori kendaraan sedan tipe kapasitas silinder maksimal 1.500 cc. Lalu 4×2 tipe dengan kapasitas silinder maksimal 1.500 cc.

Pertimbangan pemerintah memberikan diskon PPnBM karena bagian tersebut mengandung tingkat komponen dalam negeri (TKDN) lebih dari 70 persen. Selain itu, pembelinya adalah masyarakat kelas menengah dengan tingkat pasar yang tinggi.

Besaran PPnBN adalah penurunan 100 persen dari tarif untuk tiga bulan pertama yang terhitung dari Maret. Tiga bulan kedua turun jadi 50 persen dan selanjutnya hingga akhir tahun 25 persen.

PP No. 73/2019

Sri Mulyani mengatakan stimulus kendaraan listrik sudah memiliki regulasi sendiri yang tertuang dalam peraturan pemerintah (PP). Kebijakan ini juga untuk memulihkan ekonomi, khususnya meningkatkan permintaan untuk kelompok kelas menengah dan menengah atas.

Saat rapat kerja dengan Dewan Perwakilan Rakyat (DPR) pada Senin (15/3/2021), Menkeu berkonsultasi soal insentif tersebut. Pemerintah berniat mengubah PP No. 73/2019 tentang Barang Kena Pajak yang tergolong Mewah Berupa Kendaraan Bermotor yang dikenai PPnBM khususnya untuk kedaraan listrik meski regulasi tersebut baru akan berlaku pada Oktober mendatang.

Rencana perubahan terjadi saat rapat kabinet dengan Menteri Koordinator Bidang Perekonomian, Menteri Koordinator Bidang Kemaritiman dan Investasi (Menko Marinves), Badan Koordinasi Penanaman Modal (BKPM), serta Badan Pengkajian dan Penerapan Teknologi.

Pertemuan tersebut membahas strategi pengembangan kendaraan listrik agar bisa menarik investor. Penanam modal merasa PPnBM mobil listrik pada PP 73/2019 tidak menguntungkan. Besaran tarif yang hampir sama jadi penyebab. Oleh karena itu, perubahan signifikan terjadi pada pengenaan PPnBM atas mobil yang menggunakan baterai dan tidak.

Pada pasal 36 tertulis mobil listrik dan mobil listrik tidak baterai penuh/full battery (plug in hybrid electric vehicle/PHEV) bebas PPnBN. Dalam perubahan skema pertama, PHEV dikenakan PPnBM 5 persen, sedangkan skema kedua 8 persen.

Pasal 26 tertera mobil full hybrid dikenakan 2 persen. Skema pertama perubahan yang diusulkan pemerintah sebesar 6 persen dan yang kedua 10 persen.

Lalu pada pasal 27 mobil full hybrid dikenakan 5 persen. Perubahan skema pertama 7 persen dan yang kedua 11 persen.

Skema pertama pada mobil full hybrid (pasal 28), mild hybrid (pasal 29), mild hybrid (pasal 30), dan mild hybrid (pasal 31) tidak ada perubahan, yaitu masing-masing 8 persen, 8 persen, 10 persen, dan 12 persen. Namun, besaran pajak pada skema kedua terus nai secara berturut-turun yaitu 12 persen, 12 persen, 13 persen, dan 14 persen.

Saat rapat kabinet, Sri Mulyani mnegatakan Menko Maritim dan Investasi Luhut Binsar Pandjaitan dan Kepala BKPM Bahlil Lahadalia meyakinkan investor akan datang jika hanya mobil listrik yang bebas PPnBM. Pertemuan tersebut menyepakati terjadi perubahan besaran insentif.

Pemerintah akan menggunakan skema kedua asalkan para investor benar-benar merealisasikan kucuran modal dan tak hanya berjanji investasi. Pemerintah mensyaratkan dana yang masuk harus di atas Rp5 triliun.

“Jadi untuk menciptakan level playing field [kesetaraan dalam berbisnis], Oke [disetujui] tapi betul-betul capai Rp5 triliun. Nanti BKPM yang enforce mengenai verifikasi. Tentu Dirjen Pajak juga lihat untuk mendapat insentif,” jelasnya.

Anggota Komisi Keuangan DPR Muhammad Misbakhun mejelaskan pemerintah perlu mengkaji ulang rencana tersebut. Berdasarkan pembahasan PP 73/2019, perbedaan tarif PPnBM bukan mempermasalahkan emisi karbon, tapi dampak lingkungan yang diakibatkan baterai bebas sisa mobil listrik.

Lalu ambang batas investasi Rp5 triliun juga belum rinci. Pemerintah perlu memastikan modal masuk benar-benar dari asing atau foreign direct investment, bukan mitra investor asing yang ada di dalam negeri.

Terakhir, bahan baku industri mobil listrik telah berubah, Berdasarkan kabar terbaru yang Misbakhun dapat, Tesla Inc. sebagai produsen otomotif ternama di dunia telah mengonversi teknologi komponen listrik dari besi, bukan nikel yang kini dibanggakan pemerintah Indonesia.

“Sering sekali saya lihat bahwa kita ini selalu ingin memberi sustain [keberlanjutan] kepada program untuk mendorong investasi tadi. Apakah pengorbanan pemerintah sebesar ini sebanding dengan imbal baliknya? Karena bagaimanapun, insentif yang berlebihan akan menjadi disinsentif bagi sektor yang lain,” jelasnya.

Sementara itu, Ketua Institut Studi Transportasi Jakarta Darmaningtyas mengatakan bahwa pemerintah memang perlu fokus mengembangkan kendaraan listrik.

“Pemerintah bertekad jadi raja kendaraan listrik. Seharusnya yang dikembangkan kendaraan listrik. Dan seharusnya industri nonmotor transport seperti sepeda dan becak listrik dikembangkan sehingga pergerakan didominasi kendaraan tak bermotor,” ucapnya.

Sumber: bisnis.com

Read More