
NIKEL.CO.ID, JAKARTA – Pengembangan material inovatif dan teknologi kimia berkelanjutan menjadi salah satu faktor penting dalam meningkatkan daya saing industri sekaligus menjawab tantangan lingkungan. Kolaborasi antara perguruan tinggi, lembaga penelitian, dan industri diperlukan untuk mendorong hasil riset menjadi solusi yang dapat diterapkan dalam kegiatan industri.
Hal tersebut disampaikan oleh Head of Lembaga Penelitian dan Pengabdian kepada Masyarakat (LPPM) Universitas Diponegoro (Undip), Prof. Dr. Ing. Ir. Suherman, S.T., M.T., dalam sambutannya pada hari pertama konferensi internasional ISAC-ICCME 2026, Rabu (14/10/2026).
ISAC-ICCME 2026 merupakan gabungan The 12th International Symposium on Applied Chemistry (ISAC) dan The 7th International Conference on Chemical and Material Engineering (ICCME). Konferensi yang mengusung tema “Sustainable Materials Chemistry: Bridging Innovation, Industry, and Environment” tersebut diselenggarakan melalui kerja sama Pusat Riset Kimia Molekuler Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) dan Departemen Teknik Kimia Undip.
Dalam sambutannya, Suherman menyampaikan apresiasi kepada BRIN dan pihak-pihak yang terlibat dalam penyelenggaraan forum ilmiah internasional tersebut. Ia berharap konferensi ini dapat menjadi ruang pertukaran pengetahuan, pengembangan gagasan baru, serta penguatan kolaborasi penelitian antarnegara dan antarlembaga.
Menurut Suherman, pengembangan ilmu kimia dan material tidak cukup hanya menghasilkan pengetahuan ilmiah, tetapi juga harus mampu memberikan manfaat bagi peningkatan daya saing industri, perlindungan lingkungan, dan pembangunan berkelanjutan.
“Kita membutuhkan material inovatif dan teknologi kimia yang tidak hanya mengembangkan pengetahuan ilmiah, tetapi juga mendukung daya saing industri, perlindungan lingkungan, dan pembangunan berkelanjutan,” ujarnya.
Ia juga menekankan pentingnya menerjemahkan hasil penelitian menjadi solusi praktis yang dapat dimanfaatkan masyarakat dan dunia usaha. Karena itu, kolaborasi antara peneliti, perguruan tinggi, pusat penelitian, dan pelaku industri perlu diperkuat agar inovasi yang dihasilkan dapat menjawab kebutuhan nyata.
Selain pengembangan teknologi, Suherman menyoroti pentingnya kerja sama penelitian yang disertai perlindungan kekayaan intelektual. Menurutnya, kemitraan antarlembaga menjadi langkah strategis untuk mendorong pengembangan teknologi inovatif dan memperluas dampak penelitian.
Suherman menegaskan komitmen Undip dalam mengembangkan penelitian yang berdampak, memperkuat kolaborasi dengan institusi nasional dan internasional, serta berkontribusi terhadap pembangunan berkelanjutan melalui sains, teknologi, dan inovasi.
Tema ISAC-ICCME 2026 juga relevan dengan perkembangan industri nikel Indonesia, terutama dalam upaya meningkatkan nilai tambah mineral melalui hilirisasi sekaligus memperhatikan efisiensi proses produksi dan dampak lingkungan.
Dalam industri nikel, penguasaan teknologi kimia dan rekayasa material berperan penting dalam proses pengolahan dan pemurnian bijih, pengembangan produk antara, hingga penyediaan bahan baku bagi industri baterai. Salah satu teknologi yang digunakan untuk mengolah bijih nikel limonit adalah High Pressure Acid Leaching (HPAL), yang menghasilkan produk antara berupa mixed hydroxide precipitate (MHP).
MHP dapat diproses lebih lanjut menjadi bahan kimia nikel, termasuk nikel sulfat, yang digunakan dalam rantai produksi material baterai. Pengembangan teknologi pengolahan tersebut membutuhkan dukungan penelitian di bidang kimia proses, pemisahan logam, karakterisasi material, serta optimalisasi kondisi operasi untuk meningkatkan efisiensi dan kualitas produk.
Di sisi lain, pertumbuhan industri pengolahan nikel juga menghadirkan tantangan dalam penggunaan energi, pengendalian emisi, dan pengelolaan limbah. Oleh sebab itu, inovasi teknologi perlu diarahkan tidak hanya untuk meningkatkan kapasitas produksi dan nilai tambah, tetapi juga untuk memperbaiki kinerja lingkungan di sepanjang rantai pengolahan.
Penelitian mengenai katalisis, optimasi proses kimia, dan pengembangan material berpotensi mendukung upaya tersebut. Kolaborasi antara perguruan tinggi, lembaga penelitian, dan industri dapat membantu mengidentifikasi teknologi yang sesuai dengan kebutuhan operasional, sekaligus mendorong penerapan hasil riset dalam skala industri.
Dalam konteks ini, forum ilmiah seperti ISAC-ICCME 2026 dapat menjadi sarana untuk mempertemukan perspektif akademik dan kebutuhan industri. Namun, penerapan hasil penelitian tetap memerlukan pengujian teknis, evaluasi ekonomi, serta kajian dampak lingkungan agar teknologi yang dikembangkan dapat diterapkan secara efektif.
Melalui konferensi ini, penguatan kolaborasi penelitian di bidang kimia dan material diharapkan dapat membuka peluang pengembangan inovasi yang lebih aplikatif, termasuk bagi industri pengolahan mineral dan pengembangan material baterai di Indonesia. Pada akhir sambutannya, Suherman berharap ISAC-ICCME 2026 berlangsung produktif dan inspiratif, menghasilkan gagasan baru, memperluas peluang kerja sama, serta memberikan kontribusi nyata bagi pembangunan berkelanjutan. (Shiddiq)









































