
NIKEL.CO.ID, JAKARTA — Dalam penerapan mandatori B50 yang ditetapkan pemerintah pada Juli 2026, industri pertambangan perlu memperhatikan kualitas bahan bakar untuk menjaga performa mesin dan kelancaran operasional alat berat. Salah satu aspek yang menjadi perhatian adalah potensi terbentuknya endapan lumpur (sludge) dan partikulat dalam bahan bakar yang berkaitan dengan sifat higroskopis fatty acid methyl ester (FAME) yang terkandung dalam biodiesel.
Chief Technology Officer (CTO) PT Aromatik Teknologi Indonesia, Dona Sulistia Kusuma, mengatakan minyak sereh wangi berpotensi digunakan sebagai bahan baku bioaditif untuk meningkatkan fuel cleanliness atau kebersihan bahan bakar B50.
“Dari hasil riset pemanfaatan minyak atsiri yang merupakan minyak terbang yang menghasilkan aroma dari berbagai tumbuhan, ternyata minyak atsiri, seperti minyak sereh wangi, berpotensi digunakan sebagai bioaditif untuk meningkatkan fuel cleanliness bahan bakar karena karakteristiknya yang bisa melepaskan air dan partikulat dalam bahan bakar,” paparnya dalam acara Gelar Teknologi Reklamasi IPB University, Jumat (9/10/2026).
Dona menjelaskan, minyak atsiri tersebut berpotensi membantu melepaskan air dan partikulat yang terikat dalam bahan bakar. Setelah terlepas, air dan partikulat dapat mengendap sehingga memungkinkan untuk dipisahkan dari bahan bakar.
Pemanfaatan minyak sereh wangi juga membuka peluang ekonomi sirkular bagi industri pertambangan. Tanaman ini telah digunakan sebagai cover crop di sejumlah perusahaan tambang dan berpotensi diolah menjadi bahan baku bioaditif melalui proses distilasi untuk menghasilkan minyak atsiri.
Dona menjelaskan, tanaman sereh wangi yang ditanam di lahan reklamasi dapat diolah melalui proses distilasi untuk menghasilkan minyak sereh wangi. Minyak tersebut mengandung rhodinol, yang terdiri atas geraniol dan citronellol, sebagai bahan aktif bioaditif. Rhodinol kemudian dipisahkan menggunakan distilasi fraksinasi dan diformulasikan dengan bahan aktif dari minyak atsiri lainnya, termasuk minyak kayu putih, untuk menghasilkan aditif bahan bakar.
“Minyak sereh wangi (Cittronella Oil) dari hasil distilasi tanaman atsiri telah banyak digunakan sebagai cover crop perusahaan tambang. Pemanfaatan sebagai aditif akan menjadi peluang circular economy dimana pemanfaatan minyak sereh wanginya bisa menjadi bahan baku aditif,” katanya.
Lebih lanjut, Dona memperkenalkan Grinzest, bioaditif berbasis minyak atsiri yang diformulasikan untuk bahan bakar diesel B50. Produk ini dikembangkan untuk meningkatkan kebersihan bahan bakar dengan memperhatikan parameter kandungan air (water content) dan jumlah partikulat (particulate count) yang mengacu pada ISO 4406.
Ia menyebutkan, Grinzest digunakan dengan perbandingan 1:1.000, yakni satu liter bioaditif untuk 1.000 liter bahan bakar diesel. Berdasarkan materi yang disampaikan, penggunaan produk tersebut diklaim dapat menurunkan kadar air hingga 38% dan jumlah partikulat hingga 99%. Penambahan melalui tangki bahan bakar dinilai lebih optimal karena memberikan waktu lebih lama bagi proses pemisahan, meskipun produk juga dapat ditambahkan langsung ke tangki kendaraan.
Pengujian yang dicantumkan dalam materi menunjukkan penggunaan Grinzest pada excavator Komatsu di PT Arutmin Plant Kintap selama empat hari menghasilkan penghematan konsumsi bahan bakar sebesar 7,4%. Sementara itu, pengujian genset di Pertamina Geothermal selama sepuluh hari menunjukkan kadar COx turun dari 1.947 ppm menjadi 523 ppm dan efisiensi pembakaran meningkat dari 63% menjadi 81%, berdasarkan pengukuran menggunakan combustion analyzer.
“Hasil pada implementasi di kendaraan operasional tambang, misalnya di uji lapang PT Arutmin Plant Kintap, pengujian pada excavator Komatsu selama 4 hari pengamatan, terlihat adanya penghematan konsumsi bahan bakar sebesar 7,4%,” ucapnya. Pemanfaatan sereh wangi dari lahan reklamasi sebagai bahan baku bioaditif berpotensi menghubungkan kegiatan reklamasi dengan pengembangan produk bernilai tambah. Pendekatan ini sekaligus membuka peluang ekonomi hijau melalui pemanfaatan tanaman yang tersedia di lingkungan pertambangan untuk mendukung kebersihan bahan bakar dan kelancaran operasional alat berat. (Tubagus)









































