

Hilirisasi jangan dihitung dari banyak pabrik yang dibangun. Kita harus melihat apakah proyek tersebut menghasilkan nilai tambah serta dapat bertahan menghadapi perubahan harga komoditas.
NIKEL.CO.ID, JAKARTA — Capaian kinerja Mind Id pada semester I 2026 yang melampaui sejumlah target perlu diikuti dengan langkah penguatan hilirisasi.
Anggota Komisi XII DPR RI, Ateng Sutisna, mengatakan hal tersebut sebagaimana tercantum dalam keterangan resmi yang dikutip redaksi, Senin (5/10/2026). Ia menegaskan, keberhasilan Mind Id hendaklah jangan hanya dilihat dari pencapaian laba, tetapi juga dari kemampuan menciptakan nilai tambah, menjaga keselamatan kerja, memberikan manfaat bagi negara dan masyarakat, serta memastikan pengelolaan lingkungan berjalan secara terukur.
“Capaian keuangan ini patut diapresiasi. Tetapi, kita perlu melihatnya secara utuh. Kinerja perusahaan tidak cukup diukur dari laba, melainkan bagaimana cadangan dijaga, nilai tambah diciptakan, pekerja dilindungi, dan manfaatnya dirasakan negara serta masyarakat,” ujar Ateng.

Berdasarkan data Mind Id, pendapatan konsolidasi hingga Juni 2026 tercatat sebesar Rp106,7 triliun, atau sekitar 20% lebih tinggi dibandingkan rencana kerja dan anggaran perusahaan (RKAP) periode yang sama sebesar Rp89,1 triliun. Sementara itu, laba bersih mencapai Rp20 triliun atau sekitar 124% di atas target RKAP sebesar Rp8,9 triliun, dengan margin laba bersih mencapai 19 persen, dibandingkan target 10%. Adapun total aset mencapai Rp343,7 triliun dan ekuitas sebesar Rp192,6 triliun.
Ateng mengatakan, capaian tersebut perlu dilihat bersamaan dengan perkembangan produksi sejumlah komoditas. Pada semester I 2026, produksi bijih nikel tercatat 7,78 juta wet metric ton (wmt) dari target 7,82 juta. Produksi batu bara mencapai 19,5 juta ton dari target 21,3 juta ton, sedangkan produksi logam timah berada di 10,9 ribu ton dibandingkan target 12,4 ribu ton.
Di sisi lain, produksi aluminium mencapai 143 ribu ton, melampaui target 137 ribu ton. Penjualan batu bara bahkan mencapai 21,1 juta ton dibandingkan target 19,8 juta ton, antara lain melalui pemenuhan kebutuhan domestik, ekspor, dan pemanfaatan persediaan. Karena itu, ia meminta, perbedaan antara produksi dan penjualan dijelaskan secara konsisten agar dapat diketahui sumber pertumbuhan kinerja dan keberlanjutannya.

Politikus PKS itu juga menjelaskan adanya hambatan peralatan dan tenaga kerja kontraktor pada produksi nikel, keterlambatan rencana kerja dan anggaran biaya (RKAB) pada operasi batu bara, serta kebutuhan pemeliharaan smelter timah. Setiap anak perusahaan perlu memiliki matriks tindak lanjut yang memuat penyebab selisih target, tenggat pemulihan, kebutuhan investasi, dan penanggung jawab.
“Hilirisasi jangan dihitung dari banyak pabrik yang dibangun. Kita harus melihat apakah proyek tersebut menghasilkan nilai tambah serta dapat bertahan menghadapi perubahan harga komoditas,” tegasnya.
Untuk memastikan proyek hilirisasi memberikan hasil yang terukur, dia meminta setiap proyek memperjelas kebutuhan modal, biaya energi dan air, proyeksi margin dalam berbagai kondisi harga, kandungan dan serapan industri dalam negeri, hingga pasar pembeli dan jadwal operasional. Aspek pengelolaan limbah dan emisi juga perlu masuk dalam perencanaan proyek. Keputusan investasi dapat dilakukan secara bertahap dengan mengevaluasi kembali asumsi teknis dan komersial yang digunakan.

Menurutnya, penguatan hilirisasi juga perlu berjalan beriringan dengan peningkatan keselamatan kerja di lingkungan Mind Id. Target zero fatality perlu didukung dengan keterbukaan dalam pelaporan insiden serta pembelajaran bersama antarperusahaan agar setiap kejadian dapat menjadi bahan evaluasi untuk mencegah kecelakaan serupa.
Ia juga meminta evaluasi terhadap kinerja Mind Id dilakukan secara berkelanjutan. Hal tersebut mencakup perkembangan produksi dan penjualan setiap komoditas, kontribusi terhadap penerimaan negara, intensitas emisi maupun penggunaan air, kepatuhan terhadap ketentuan lingkungan, pemulihan lahan, hingga data kecelakaan kerja beserta tindak lanjutnya.
“Kami perlu memperoleh peta jalan yang dapat diuji per tahun dan per proyek. Dengan begitu, dukungan terhadap Mind Id dapat berjalan seiring dengan pengawasan terhadap biaya, manfaat, keselamatan, dan risiko yang ditanggung negara,” pungkasnya. (Tubagus)











































