Beranda Daerah Bahodopi Tumbuh, IMIP Hadirkan Peluang

Bahodopi Tumbuh, IMIP Hadirkan Peluang

105
0
Laundry “BlueSea” di Desa Fatufia, kejelian Ayu Lestari Rahman melihat peluang, berkah hadirnya kawasan industri IMIP (Foto: Dok. IMIP)

NIKEL.CO.ID, MOROWALI — Bagi Fitra, raungan ribuan sepeda motor yang memadati jalan Bahodopi setiap pergantian sif bukan sekadar suara bising. Itu adalah tanda peluang usaha.

Pada 2017, Fitra membuka bengkel motor pertamanya di Desa Siumbatu. Saat itu, istrinya yang menjaga bengkel, sedangkan dia masih bekerja di tambang di Kalimantan. Setahun kemudian, bengkel dipindahkan ke Bahodopi, ketika jalan di kawasan tersebut belum sepenuhnya beraspal.

Setelah 14 tahun bekerja di tambang Kalimantan dan terdampak pandemi Covid-19, ia memutuskan berhenti dan fokus mengembangkan usahanya. Keputusan itu diambil setelah melihat mayoritas pekerja di kawasan industri Indonesia Morowali Industrial Park (IMIP) menggunakan sepeda motor.

Perkembangan pesat Bahodopi menjadi peluang bagi Fitra membuka bengkel sepeda motor “Segar Jaya Berkah”. Kini berkembang menjadi 6 cabang (Foto: Dok. IMIP)

“Perubahannya cepat sekali. Tahun 2018 jalan belum beraspal. Dua tahun kemudian pembangunan mulai masif. Tahun 2020 terus berkembang, dan sekarang sangat pesat,” ujarnya.

Kini, sekitar 90% pelanggan bengkel “Segar Jaya Berkah” adalah karyawan IMIP. Usahanya telah berkembang menjadi enam cabang dengan lebih dari 50 karyawan, mulai dari admin hingga mekanik. Upah mekanik mencapai sekitar Rp8 juta per bulan.

Perubahan serupa terjadi di Bahodopi, Kecamatan di Kabupaten Morowali, Sulawesi Tengah, yang berada di tepi Teluk Tolo. Selama puluhan tahun, wilayah ini relatif sepi dari aktivitas ekonomi berskala besar.

Perubahan mulai terasa setelah pemerintah mendorong hilirisasi mineral pada 2013 dan melarang ekspor bijih mentah nikel (nickel ore). Morowali dipilih sebagai salah satu pusat industri karena memiliki cadangan nikel dan akses ke Teluk Tolo untuk pembangunan fasilitas pelabuhan. Dari sinilah kawasan IMIP berkembang.

Lebih dari satu dekade kemudian, IMIP telah menjadi pusat industri yang menarik puluhan ribu pekerja. Data Human Resurce Department PT IMIP menunjukkan jumlah tenaga kerja meningkat dari 35.592 orang pada 2020 menjadi 86.804 orang pada 2025. Hingga September 2026, jumlahnya mencapai 100.310 orang.

Besarnya populasi pekerja ikut mendorong perputaran ekonomi di sekitar kawasan. Pada 2025, ketika jumlah pekerja mencapai 86.804 orang, perputaran uang di Bahodopi diperkirakan mencapai Rp499,1 miliar per bulan atau sekitar Rp6 triliun per tahun.

Head of Media Department PT IMIP, Dedy Kurniawan, mengatakan, pertumbuhan kawasan industri turut mendorong usaha masyarakat.

Riset Secretariat and General Affair (SGA) Department of IMIP mencatat, ribuan UMKM tumbuh di Bahodopi. Lima jenis usaha terbanyak adalah kios Pertamini, stan minuman, stan makanan non-bangunan, kios umum, dan warung makan. Sebagian besar masih berskala mikro dengan omzet hingga Rp300 juta per tahun.

Geliat ekonomi juga dirasakan, salah satunya, oleh Ayu Lestari Rahman di Desa Fatufia. Bersama suaminya, ia membuka usaha laundry “BlueSea” pada 2022 dengan modal Rp20 juta dan satu mesin cuci.

Ia melihat kesibukan pekerja pabrik sebagai peluang. “Di sini banyak orang sibuk bekerja, sehingga tidak sempat mencuci,” katanya.

Kini BlueSea menangani sekitar 200 kilogram pakaian per hari milik pekerja, kontraktor, pedagang, dan warga. Tarifnya Rp7.000 per kilogram untuk layanan reguler dan Rp15.000 untuk layanan kilat, dengan fasilitas antar gratis dalam radius tiga kilometer. Omzet usaha mencapai sekitar Rp35 juta per bulan.

Pertumbuhan Bahodopi memperlihatkan bahwa dampak industri tidak berhenti di dalam pagar kawasan. Ketika ribuan pekerja datang, kebutuhan baru ikut tumbuh. Bengkel, laundry, warung makan, kios, dan berbagai usaha jasa menjadi bagian dari ekosistem ekonomi baru.

Bahodopi pun berubah. Dari wilayah yang dulu sunyi, kini menjadi kawasan dengan aktivitas ekonomi yang bergerak hampir sepanjang hari. (Li Han)