Beranda Berita Nasional BRIN Kembangkan Teknologi Pengolahan Nikel Minim Limbah, Maksimalkan Pemanfaatan Material hingga 98%

BRIN Kembangkan Teknologi Pengolahan Nikel Minim Limbah, Maksimalkan Pemanfaatan Material hingga 98%

85
0
BRIN kembangkan teknologi pengolahan bijih nikel yang mampu mengoptimalkan pemanfaatan hingga 98% material dalam bijih nikel (Foto: Dok. BRIN)

NIKEL.CO.ID, JAKARTA – Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) mengembangkan teknologi pengolahan bijih nikel yang lebih efisien, fleksibel, dan minim limbah. Inovasi tersebut diklaim mampu mengoptimalkan pemanfaatan hingga 98% material dalam bijih nikel sehingga dapat meningkatkan nilai tambah sumber daya mineral nasional.

Peneliti Pusat Riset Metalurgi BRIN, Iwan Setiawan, mengatakan, teknologi tersebut dirancang untuk mengatasi keterbatasan proses pengolahan nikel yang selama ini diterapkan di Indonesia. Berbeda dengan teknologi konvensional, metode yang dikembangkan mampu mengolah dua jenis bijih nikel, yakni saprolit dan limonit, secara terpadu dalam satu rangkaian proses.

“Bijih nikel pada umumnya hanya mengandung sekitar 1–2% nikel. Artinya, lebih dari 98% material lainnya berpotensi menjadi limbah apabila tidak dimanfaatkan. Karena itu, teknologi pengolahan harus mampu mengoptimalkan pemanfaatan seluruh komponen yang terkandung di dalam bijih,” ujar Iwan, seperti dikutip dari laman BRIN, Selasa (7/7/2026).

Teknologi tersebut, katanya menjelaskan, merupakan hasil modifikasi proses Caron yang disesuaikan dengan karakteristik cadangan nikel Indonesia. Seiring menurunnya kualitas bijih dan semakin beragamnya karakteristik bahan baku, diperlukan teknologi yang lebih adaptif sekaligus hemat energi dibandingkan proses pirometalurgi konvensional.

Keunggulan lain dari teknologi ini adalah penerapan prinsip ekonomi sirkular. Selain mengekstraksi nikel, proses yang dikembangkan juga memisahkan besi dan magnesium untuk diolah menjadi produk bernilai tambah.

“Besi dapat diolah menjadi Fe₂O₃ sebagai bahan pigmen atau menjadi besi oksalat untuk bahan baku baterai. Magnesium juga diproses menjadi berbagai senyawa yang dapat dimanfaatkan untuk kebutuhan industri. Prinsipnya, tidak ada sumber daya yang terbuang,” katanya.

Gambar ini memiliki atribut alt yang kosong; nama berkasnya adalah IKLAN-online-DTI-1024x341.jpg

Pengembangan teknologi tersebut kini telah mencapai tahap uji coba skala laboratorium dan semi-pilot dengan kapasitas pengolahan puluhan hingga ratusan kilogram. Hasil pengujian menunjukkan performa yang menjanjikan, meski masih diperlukan peningkatan skala melalui pembangunan pilot plant sebelum memasuki tahap komersialisasi.

“Tahap berikutnya adalah meningkatkan skala proses melalui pilot plant untuk membuktikan kelayakan teknis dan keekonomiannya. Setelah itu, teknologi ini dapat dipersiapkan untuk implementasi pada skala industri,” ujarnya.

Ia menilai, riset tersebut memiliki arti penting bagi penguatan industri berbasis sumber daya alam. Indonesia tidak cukup hanya menjadi pemasok bahan mentah, tetapi juga harus menguasai teknologi pengolahan agar mampu menghasilkan produk bernilai tambah tinggi.

Gambar ini memiliki atribut alt yang kosong; nama berkasnya adalah IKLAN-OK-Indomachinary-11-13-Agustus-1024x341.jpg

“Tantangannya adalah mengembangkan teknologi yang mampu memanfaatkan sumber daya secara optimal dan memberikan nilai tambah sebesar-besarnya bagi industri nasional. Pendekatan ini tidak hanya berlaku untuk nikel, tetapi juga untuk komoditas strategis lain, seperti titanium, logam tanah jarang, dan kelompok logam platina,” tuturnya.

Pengembangan teknologi ini diharapkan dapat memperkuat program hilirisasi mineral nasional sekaligus mendorong terciptanya industri pengolahan yang lebih efisien, berdaya saing, dan ramah lingkungan melalui pemanfaatan sumber daya mineral secara optimal. (Shiddiq)