Beranda Asosiasi Pertambangan APNI Bertemu VDM Metals, Bahas Kebutuhan Industri Nikel Eropa

APNI Bertemu VDM Metals, Bahas Kebutuhan Industri Nikel Eropa

76
0
Sekum APNI, Meidy Katrin Lengkey (tengah) bertemu Tim Perdagangan VDM Metals untuk memahami standar, spesifikasi, serta persyaratan yang harus dipenuhi oleh industri nikel Indonesia (Foto: Dok. APNI)

NIKEL.CO.ID, JAKARTA — Asosiasi Penambang Nikel Indonesia (APNI) bertemu dengan VDM Metals untuk memperoleh pemahaman mengenai kebutuhan industri pengguna nikel di Eropa, khususnya produsen paduan logam berkinerja tinggi atau high-performance alloys.

Pertemuan tersebut menjadi bagian dari upaya APNI memperluas hubungan dengan pengguna akhir (end user) nikel sekaligus membuka peluang diversifikasi pasar bagi produk nikel Indonesia. Selain membahas kebutuhan bahan baku, diskusi turut menyoroti perkembangan regulasi Uni Eropa, termasuk EU Battery Passport dan Carbon Border Adjustment Mechanism (CBAM), yang berkaitan dengan persyaratan keberlanjutan dan ketertelusuran dalam rantai pasok.

Pertemuan APNI dengan VDM Metals dilakukan pada Jumat, 25 September 2026, di fasilitas produksi VDM Metals, Unna, Jerman. Pertemuan dihadiri oleh Sekretaris Umum APNI, Meidy Katrin Lengkey, Tim Perdagangan dan Pengadaan Logam serta Teknik Produksi VDM Metals, dan perwakilan Bundesanstalt für Geowissenschaften und Rohstoffe (BGR) Jerman, yakni sebuah institut federal untuk ilmu geologi dan sumber daya alam di Jerman BGR, Jerman.

APNI menilai, masukan langsung dari industri pengguna akhir di Eropa penting untuk memahami standar, spesifikasi, serta persyaratan yang harus dipenuhi oleh industri nikel Indonesia agar dapat semakin terhubung dengan pasar global.

“Keberhasilan hilirisasi tidak cukup hanya dengan membangun kapasitas pengolahan. Kita juga harus mampu memasok produk yang sesuai dengan kebutuhan industri pengguna, membangun kepercayaan pembeli, dan memastikan manfaat ekonominya berkelanjutan bagi Indonesia,” ungkap Mediy Katrin Lengkey, Selasa (29/9/2026).

Menurut APNI, kanta menambahkan, kebutuhan industri high-performance alloys juga menjadi salah satu peluang untuk memperluas pemanfaatan dan pasar nikel Indonesia di luar segmen yang selama ini menjadi tujuan utama. Karena itu, komunikasi dengan pengguna akhir dinilai penting untuk memperoleh gambaran mengenai perkembangan kebutuhan industri, standar produk, serta arah regulasi di pasar tujuan.

Ia juga mengatakan, APNI menekankan pentingnya peningkatan mutu dan keberlanjutan industri nikel nasional sebagai bagian dari penguatan daya saing di pasar internasional.

Pembahasan mengenai EU Battery Passport dan CBAM menjadi relevan seiring meningkatnya tuntutan terhadap transparansi rantai pasok, ketertelusuran produk, serta aspek lingkungan dalam perdagangan komoditas dan produk industri.

Melalui pertemuan dengan VDM Metals, APNI berharap dapat menghimpun masukan dari industri pengguna di Eropa yang selanjutnya dapat menjadi bahan bagi penguatan industri nikel Indonesia, baik dari sisi kualitas produk, keberlanjutan maupun kesiapan menghadapi persyaratan pasar global. (Fi Yun)