

NIKEL.CO.ID, JAKARTA — Harga komoditas nikel Indonesia pada awal Oktober 2026 kembali menunjukkan pergerakan yang beragam. Harga bijih nikel melemah dibandingkan posisi 28 September, sementara nickel pig iron (NPI) naik tipis. Di sisi lain, harga high-grade nickel matte (HGNM) dan mixed hydroxide precipitate (MHP) kembali terkoreksi.
Berdasarkan data Indonesia Nickel Price Index (INPI) yang dirilis Asosiasi Penambang Nikel Indonesia (APNI) bersama Shanghai Metals Market (SMM), harga rata-rata bijih nikel kadar 1,2% CIF pada 5 Oktober 2026 berada di US$25,5/metrik ton (mt). Angka tersebut turun US$1 per mt dibandingkan INPI 28 September yang berada di US$26,5/mt.
Sementara itu, harga bijih nikel kadar 1,6% CIF tercatat US$59 per mt. Harga tersebut turun US$4,4/mt dari US$63,4/mt pada 28 September 2026.
Penurunan harga bijih menjadi perubahan paling mencolok pada INPI awal Oktober, setelah kedua jenis bijih nikel sebelumnya sempat bertahan stabil pada akhir September.

Bijih Nikel Kembali Tertekan
Pergerakan harga bijih nikel pada awal Oktober berbalik setelah pada 28 September kedua produknya tidak mengalami perubahan. Bijih nikel kadar 1,2% CIF turun dari US$26,5/mt menjadi US$25,5/mt. Dengan demikian, harga kembali berada di bawah level US$26/mt.
Tekanan yang lebih besar terlihat pada bijih nikel kadar 1,6% CIF. Harganya merosot dari US$63,4/mt menjadi US$59/mt atau berkurang US$4,4/mt.
Jika melihat pola tersebut, harga bijih nikel memasuki Oktober dengan tekanan yang lebih kuat dibandingkan posisi akhir September. Pelemahan terjadi pada kedua kategori kadar bijih yang tercatat dalam INPI.

NPI Berbalik Naik Tipis
Berbeda dengan bijih nikel, harga NPI FOB justru mencatat kenaikan meskipun sangat terbatas. Harga rata-rata NPI pada rilis terbaru mencapai US$134,65/mt, naik US$0,09/mt dari US$134,56 per mt pada 28 September.
Kenaikan tersebut relatif kecil sehingga belum menunjukkan perubahan signifikan terhadap tren harga NPI. Namun, pergerakan ini menjadi pembeda dibandingkan periode sebelumnya ketika NPI mengalami penurunan US$0,49/mt dari US$135,05/mt menjadi US$134,56/mt.
Dengan demikian, memasuki Oktober harga NPI relatif bergerak mendatar dengan kecenderungan menguat tipis.

HGNM dan MHP Kembali Terkoreksi
Sementara itu, harga HGNM FOB kembali mengalami penurunan setelah sempat menguat pada akhir September. Harga rata-rata HGNM tercatat US$15.055/mt pada rilis terbaru. Angka ini turun US$50/mt dibandingkan posisi 28 September sebesar US$15.105/mt.
Meski terkoreksi, harga HGNM masih bertahan di atas US$15.000/mt. Level tersebut sebelumnya berhasil ditembus ketika harga HGNM naik dari US$14.977/mt menjadi US$15.105/mt pada 28 September.
Tekanan juga kembali terjadi pada MHP FOB. Harga rata-ratanya turun dari US$13.678/mt menjadi US$13.632/mt atau berkurang US$46/mt.
Penurunan MHP kali ini lebih kecil dibandingkan koreksi sebesar US$206/mt pada periode 21–28 September. Namun, arah pergerakannya masih menunjukkan tekanan terhadap produk tersebut.

Awal Oktober, Pergerakan Harga Semakin Beragam
Data INPI terbaru memperlihatkan pasar nikel Indonesia memasuki Oktober dengan pola yang tidak seragam.Pada kelompok bahan baku, kedua harga bijih nikel mengalami penurunan. Bijih kadar 1,2% turun US$1/mt, sedangkan kadar 1,6% turun US$4,4/mt.
Di kelompok produk olahan, NPI justru mencatat kenaikan tipis sebesar US$0,09/mt. Sebaliknya, HGNM dan MHP kembali melemah masing-masing US$50/mt dan US$46/mt.
Kondisi tersebut menunjukkan bahwa perubahan harga tidak terjadi secara bersamaan pada seluruh rantai produk nikel. Pergerakan bahan baku dan produk olahan kembali memperlihatkan arah yang berbeda pada awal Oktober.
Jika dibandingkan dengan INPI 28 September, komposisi harga terbaru juga menunjukkan perubahan setelah pada pekan terakhir September harga bijih nikel cenderung stabil, HGNM menguat, sedangkan NPI dan MHP melemah.
Memasuki Oktober, kondisi tersebut berubah. Bijih nikel kembali terkoreksi, NPI berbalik naik tipis, sementara HGNM dan MHP melanjutkan pelemahan. Perkembangan harga tersebut menjadi perhatian bagi pelaku pertambangan dan industri pengolahan nikel karena perubahan harga bijih maupun produk turunannya dapat memengaruhi keekonomian rantai pasok nikel domestik.
Dengan demikian, INPI awal Oktober 2026 memberikan gambaran bahwa pasar nikel Indonesia masih bergerak dinamis. Perubahan harga bijih nikel menjadi faktor utama dalam rilis terbaru, sementara pergerakan produk olahan menunjukkan bahwa tekanan harga belum mereda secara merata di seluruh segmen. (Li Han)











































