

NIKEL.CO.ID, JAKARTA – Pergerakan harga nikel Indonesia pada pertengahan September 2026 mulai menunjukkan pola yang lebih beragam. Setelah seluruh komoditas dalam Indonesia Nickel Price Index (INPI) melemah pada rilis 7 September, pekan ini harga bijih nikel cenderung bertahan, sementara produk olahan bergerak dalam arah berbeda.
Berdasarkan data INPI yang dirilis Asosiasi Penambang Nikel Indonesia (APNI) bersama Shanghai Metals Market (SMM) pada 14 September 2026, harga rata-rata bijih nikel kadar 1,2% (CIF) tetap berada pada US$27/mt. Begitu pula bijih nikel kadar 1,6% (CIF) yang bertahan pada US$64,1/mt.
Pergerakan berbeda terlihat pada produk olahan. Nickel pig iron (NPI) FOB turun dari rata-rata US$142,73/mt menjadi US$139,28/mt, sedangkan mixed hydroxide precipitate (MHP) FOB terkoreksi dari US$14.659/mt menjadi US$14.597/mt.
Di tengah pelemahan tersebut, high-grade nickel matte (HGNM) FOB justru naik. Harga rata-ratanya dari US$15.365/mt pada 7 September menjadi US$15.387/mt pada 14 September 2026 atau bertambah naik US$22/mt.

Bijih Nikel Bertahan
Stabilitas harga terlihat jelas pada dua jenis bijih nikel yang tercantum dalam INPI. Harga bijih kadar 1,2% (CIF) tetap berada pada kisaran US$25–29/mt, dengan harga rata-rata US$27/mt. Posisi ini sama dengan rilis 7 September 2026. Pada pekan sebelumnya, harga bijih nikel 1,2% memang sempat terkoreksi US$1/mt dari rata-rata US$28/mt menjadi US$27/mt.
Sementara itu, bijih nikel kadar 1,6% (CIF) juga tidak mengalami perubahan. Harga masih berada pada rentang US$63,6–64,6/mt, dengan rata-rata US$64,1/mt. Dengan demikian, setelah mengalami tekanan pada awal September, pasar bijih nikel memasuki pekan kedua dengan pergerakan yang lebih stabil.

NPI Turun, MHP Masih Tertekan
Tekanan masih terlihat pada sejumlah produk olahan nikel. Harga rata-rata NPI FOB pada 14 September tercatat US$139,28/mt, turun US$3,45/mt dibandingkan posisi 7 September yang sebesar US$142,73/mt. Jika dilihat dari rentang harga, NPI pada rilis terbaru berada di US$139,28–139,28/mt.
Penurunan juga terjadi pada MHP FOB. Harga rata-ratanya turun menjadi US$14.597/mt dari sebelumnya US$14.659/mt. Artinya, dalam sepekan harga MHP terkoreksi US$62/mt. MHP menjadi salah satu produk yang masih menghadapi tekanan setelah pada rilis sebelumnya juga mengalami penurunan cukup besar. Pada 7 September, harga MHP telah merosot US$334/mt dibandingkan pekan sebelumnya.

HGNM Berbalik Menguat
Berbeda dengan NPI dan MHP, HGNM menunjukkan pemulihan tipis. Harga rata-rata produk tersebut naik dari US$15.365/mt menjadi US$15.387/mt. Kenaikan sebesar US$22/mt ini menjadi satu-satunya penguatan secara mingguan di antara tiga produk olahan yang tercantum dalam INPI.
Perbandingan Harga INPI 31 Agustus 2026 dan 7 September 2026
| PRODUK | 7 SEPTEMBER 2026 | 14 SEPTEMBER 2026 | KETERANGAN |
| Bijih Nikel 1,2% (CIF) | US$27/mt | US$27/mt | Stabil |
| Bijih Nikel 1,6% (CIF) | US$64,1/mt | US$64,1/mt | Stabil |
| NPI (FOB) | US$142,73/mt | US$139,28/mt | Turun US$3,45/mt |
| HGNM (FOB) | US$15.365/mt | US$15.387/mt | Naik US$22/mt |
| MHP (FOB) | US$14.659/mt | US$14.597/mt | Turun US$62/mt |

Arah Pasar Mulai Terfragmentasi
Rilis INPI 14 September memperlihatkan perubahan pola dibandingkan pekan sebelumnya. Jika pada 7 September seluruh komoditas mengalami penurunan, kali ini harga tidak lagi bergerak seragam. Dua indikator bijih nikel bertahan di level yang sama, HGNM mulai menguat, sedangkan NPI dan MHP kembali terkoreksi. Kondisi tersebut mengindikasikan tekanan harga pada pasar nikel Indonesia mulai tersegmentasi berdasarkan jenis produk.
Bagi sektor pertambangan dan pengolahan, stabilnya harga bijih menjadi sinyal relatif positif karena bahan baku tidak kembali mengalami penurunan. Namun, pelemahan pada NPI dan MHP tetap menjadi perhatian karena kedua produk tersebut merepresentasikan bagian penting dari rantai hilirisasi nikel.
Secara mingguan, HGNM menjadi satu-satunya produk yang mencatat kenaikan harga rata-rata, sedangkan koreksi terbesar terjadi pada MHP dengan penurunan US$62/mt. Adapun NPI turun lebih moderat sebesar US$3,45/mt.
Dengan perkembangan tersebut, INPI 14 September 2026 menunjukkan pasar nikel Indonesia mulai memasuki fase pergerakan yang lebih beragam. Harga bijih telah menemukan titik stabil sementara sebagian produk olahan masih berada dalam tekanan. Pergerakan HGNM yang mulai berbalik naik juga menjadi indikasi awal bahwa tekanan pada produk hilir tidak berlangsung seragam. (Li Han)









































