

NIKEL.CO.ID, JAKARTA — Industri pengolahan nikel merupakan sektor yang membutuhkan pasokan energi secara intensif dan berkelanjutan. Proses produksi harus berjalan tanpa henti untuk menjaga efisiensi operasional sekaligus menghindari tingginya biaya saat fasilitas produksi kembali dioperasikan.
Head of Sustainability of Nickel Industries Limited, Muchtazar, mengatakan, kondisi demikian mendorong pelaku industri untuk mencari kombinasi sumber energi yang mampu menjamin keandalan pasokan listrik sekaligus menekan intensitas karbon dalam proses produksi nikel.
“Proses nikel dan mining adalah proses yang membutuhkan banyak energi dan tidak bisa berhenti. Harus berjalan 24 jam sehari, tujuh hari seminggu, dan 12 bulan setahun,” kata Muchtazar pada Nickel Power Forum dalam acara MKI Electricity Connect 2026, di ICE BSD City, Serpong, Banten, Rabu (23/9/2026).

Penghentian proses produksi, menurut dia, dapat menimbulkan biaya yang tinggi ketika fasilitas harus kembali dioperasikan. Karena itu, aspek keandalan dan kontinuitas pasokan energi menjadi pertimbangan utama dalam pengembangan sistem kelistrikan industri.
“Kalau kita berhenti, biaya untuk memulai proses akan sangat mahal. Jadi, kita harus lanjutkan,” ujarnya.
Pada saat yang sama, industri nikel juga menghadapi tuntutan pasar terhadap produk dengan jejak karbon yang lebih rendah. Kondisi ini membuat perusahaan perlu mempertimbangkan penggunaan sumber energi terbarukan sebagai bagian dari sistem kelistrikan tanpa mengorbankan keandalan pasokan. Ia menilai, pengembangan bauran energi dapat menjadi salah satu pendekatan untuk mengurangi intensitas karbon produk nikel.

“Saya pikir masuk akal untuk memperkenalkan campuran sumber daya energi yang berkembang ke sistem power kita, sehingga kita bisa mengurangi intensitas karbon nikel,” tuturnya.
Kebutuhan tersebut juga perlu berjalan bersamaan dengan inovasi teknologi dalam proses produksi. Dengan demikian, upaya menekan emisi tidak hanya bergantung pada perubahan sumber energi, tetapi juga peningkatan efisiensi teknologi pengolahan.
Namun, penerapan energi terbarukan di sektor industri tetap perlu mempertimbangkan aspek keekonomian. Pasalnya, investasi dan pengembangan sistem energi harus mampu memberikan manfaat terhadap keberlanjutan operasional perusahaan.

Karena itu, tantangan utama penerapan energi surya di industri nikel menurutnya bukan semata-mata persoalan biaya. Tetapi, tantangan yang lebih besar adalah bagaimana meningkatkan skala sistem energi terbarukan dan memastikan kemampuannya mendukung kebutuhan operasional industri sepanjang tahun.
Pengembangan bauran energi tersebut diharapkan dapat menjadi bagian dari strategi industri nikel dalam menjaga kontinuitas produksi sekaligus merespons meningkatnya permintaan pasar terhadap produk nikel dengan intensitas karbon yang lebih rendah. (Fi Yun)










































