

NIKEL.CO.ID, JAKARTA — Wartsila mendorong penerapan hibridisasi pada sistem kelistrikan mandiri (off-grid) untuk meningkatkan stabilitas, fleksibilitas, efisiensi, sekaligus mendukung upaya dekarbonisasi pada sektor industri dan pertambangan.
Director of Decarbonisation Services of Wartsila Energy, Christoffer Ek, mengatakan, penerapan sistem manajemen energi menjadi salah satu kunci dalam mengelola sistem kelistrikan yang semakin kompleks, khususnya pada jaringan yang memiliki tingkat penetrasi energi terbarukan tinggi.
Salah satu pelanggan Wartsila, dikatakan, memiliki empat pembangkit listrik, empat fasilitas pembangkit energi terbarukan, serta sistem penyimpanan energi berbasis baterai. Sistem tersebut bahkan mampu mencapai penetrasi energi terbarukan hingga 72%.

“Kondisi ini membuat sistem pelanggan menjadi lebih kompleks. Karena itu, kami mengintegrasikan sistem pengendalian energi untuk mencapai tiga hal, yaitu stabilitas, fleksibilitas, dan ketahanan,” kata Christoffer pada acara MKI Electricity Connect 2026, di ICE BSD City, Serpong, Tangerang, Banten, Rabu (23/9/2026).
Ia menjelaskan, integrasi sistem manajemen energi memungkinkan pengendalian terhadap seluruh aset pembangkitan, termasuk baterai. Sistem tersebut dapat memberikan set point kepada masing-masing pembangkit sehingga frekuensi dan tegangan jaringan dapat tetap terjaga.
“Dengan sistem pengendalian energi, kami melakukan pengendalian terhadap seluruh pembangkit. Kami memberikan set point kepada setiap pembangkit, termasuk baterai. Ini memberikan stabilitas dan memungkinkan kami mengelola frekuensi serta tegangan,” ujarnya.

Sistem tersebut juga memberikan fleksibilitas ketika terjadi perubahan pada sumber energi terbarukan. Pengendalian terintegrasi memungkinkan distribusi set point di antara berbagai aset pembangkitan sehingga sistem tetap stabil meskipun terjadi perubahan pada sisi pembangkitan energi terbarukan.
Selain itu, stabilitas tersebut, menurutnya, menjadi fondasi penting sebelum melakukan optimalisasi lebih lanjut terhadap sistem energi.
“Stabilitas adalah langkah pertama. Tanpa stabilitas, kita tidak dapat melakukan banyak hal. Setelah memiliki stabilitas dan dapat memaksimalkan setiap aset dalam jaringan, kami kemudian dapat mulai melakukan optimalisasi,” jelasnya.

Adapun, ia menyebutkan optimalisasi sistem juga memberikan dampak terhadap biaya operasional. Penerapan sistem pengendalian energi berhasil menurunkan biaya sistem sebesar 9%. Penurunan biaya tersebut menjadi semakin penting di tengah tingginya biaya energi dan kebutuhan industri untuk meningkatkan efisiensi operasional.
“Dalam periode yang sama, kami dapat mengurangi biaya sistem sebesar 9%. Hal ini memberikan dampak yang signifikan bagi pelanggan,” tuturnya.
Efisiensi yang diperoleh juga membuka ruang bagi pelanggan untuk melanjutkan investasi, termasuk pengembangan fasilitas energi terbarukan dan peningkatan kapasitas sistem.
Sementara itu, katanya, hibridisasi sistem off-grid juga memberikan kontribusi terhadap pengurangan emisi. Dalam periode yang sama, penerapan sistem tersebut disebut mampu menurunkan emisi karbon hingga 36.000 ton. Hibridisasi sistem off-grid dinilai dapat menjadi salah satu pendekatan untuk menghadapi kebutuhan sistem energi yang semakin kompleks, terutama ketika porsi energi terbarukan terus meningkat. (Fi Yun)










































