Beranda Berita Nasional ISF 2026: Ketahanan Air Jadi Risiko Baru Industri Tambang

ISF 2026: Ketahanan Air Jadi Risiko Baru Industri Tambang

126
0
Diskusi panel soal ketahanan air, pada Indonesia International Sustainability Forum (ISF) 2026 (Foto: Dok. ISF 2026)

Tekanan terhadap ketersediaan air berpotensi menjadi risiko baru bagi keberlanjutan industri pertambangan di Indonesia.

NIKEL.CO.ID, JAKARTA — Di tengah perubahan iklim dan meningkatnya tekanan terhadap daerah aliran sungai (DAS), perusahaan tambang dituntut memperkuat efisiensi dan pengelolaan air sebagai bagian dari strategi operasional serta investasi jangka panjang.

Isu tersebut menyeruak dalam Indonesia International Sustainability Forum (ISF) 2026 bertajuk “Water Security as a Foundation for Growth” di Jakarta, Rabu (7/10/2026).

Menteri Koordinator (Menko) Bidang Infrastruktur dan Pembangunan Kewilayahan, Agus Harimurti Yudhoyono, mengatakan, ketahanan air kini tidak dapat dipisahkan dari ketahanan ekonomi.

“Hari ini, ketahanan air adalah ketahanan ekonomi. Air mendukung ketahanan pangan, kesehatan masyarakat, ketahanan iklim, dan yang kian meningkat, ketahanan energi,” ujar Agus.

Menurutnya, persoalan air harus ditangani secara terintegrasi karena pencemaran sungai, sedimentasi, banjir, penurunan muka tanah, hingga kenaikan permukaan air laut merupakan persoalan yang saling berkaitan.

“Ketahanan air tidak terjadi secara kebetulan. Ketahanan air harus direncanakan, dibangun, dan pada akhirnya diinvestasikan,” tegasnya.

Bagi sektor pertambangan, isu tersebut menjadi relevan karena kegiatan operasional berlangsung di berbagai wilayah dengan kondisi hidrologi dan tingkat tekanan air yang berbeda. Pengelolaan air yang tidak memadai dapat meningkatkan risiko lingkungan sekaligus menjadi tantangan bagi keberlanjutan kegiatan usaha.

Regional Coordinator of Global Water Partnership-Southeast Asia (GWP-SEA), Raymond Valiant, mengatakan, risiko air memiliki dampak langsung terhadap perekonomian Indonesia. Dia menyebut, sekitar separuh produk domestik bruto (PDB) Indonesia dihasilkan di wilayah DAS yang telah menghadapi tekanan air (water stress).

“Risiko air memiliki implikasi langsung terhadap pencapaian target pertumbuhan ekonomi Indonesia,” kata Raymond.

Pendekatan business as usual di sektor air, lanjutnya, berpotensi membuat Indonesia kehilangan peluang untuk mencapai target pertumbuhan PDB sebesar 7,3% pada 2045.

Menurut dia, investasi di sektor air juga tidak cukup hanya dinilai dari aspek bankability. Air merupakan kebutuhan dasar sehingga pembangunan infrastruktur dan investasi di sektor tersebut perlu mempertimbangkan aspek pemerataan.

Kebutuhan investasi tersebut juga besar. Pemerintah diperkirakan membutuhkan sekitar Rp6.500 triliun untuk berbagai pembangunan infrastruktur, sementara kemampuan fiskal nasional hanya mampu mencakup sekitar 37%. Kondisi tersebut mendorong perlunya sumber pembiayaan alternatif, termasuk melalui skema blended finance dan pembiayaan kreatif.

Sementara itu, Presiden KSI Strategic Institute for Asia Pacific, Michael Yeoh, menilai, sektor air membutuhkan penguatan teknologi, pengolahan, dan transformasi.

“Sektor air menghadapi berbagai tantangan, mulai dari aset yang menua, nonrevenue water, kehilangan air, hingga kurangnya investasi dari sektor swasta. Karena itu, ketahanan air membutuhkan fokus pada 3T, yaitu technology, treatment, dan transformation,” ujar Michael.

Dia juga menilai, kecerdasan buatan (artificial intelligence/AI) dapat dimanfaatkan untuk mengubah pengelolaan air dari pola reaktif menjadi prediktif. Teknologi tersebut dapat digunakan untuk menganalisis pola konsumsi, mendeteksi kebocoran, mengidentifikasi anomali, serta memberikan rekomendasi tindakan.

Bagi industri pertambangan, pemanfaatan teknologi pengelolaan air dapat menjadi bagian dari upaya meningkatkan efisiensi penggunaan air sekaligus memperkuat penerapan prinsip lingkungan, sosial, dan tata kelola (environmental, social, and governance/ESG).

Dari sisi dunia usaha, Deputy CEO and Chief R&D Officer of Paragon Corp, Sari Chairunnisa, mengatakan, perusahaan telah mendaur ulang sekitar 11.500 meter kubik air di fasilitas manufaktur. Perusahaan juga mengeksplorasi teknologi penampungan air hujan serta upaya mengembalikan air yang telah diolah ke dalam tanah.

Sementara itu, Project Manager of Witteveen+Bos, Victor Coenen, menilai, solusi ketahanan air tidak selalu membutuhkan teknologi dengan biaya tinggi. Penampungan air hujan, pengelolaan air di area parkir, serta tata lahan yang memungkinkan air ditahan dan meresap ke tanah dapat menjadi langkah sederhana untuk meningkatkan ketahanan air.

Diskusi ISF 2026 menempatkan ketahanan air sebagai bagian dari agenda pertumbuhan ekonomi dan investasi. Bagi industri pertambangan, penguatan tata kelola air menjadi semakin penting untuk mengantisipasi risiko lingkungan, memenuhi tuntutan keberlanjutan, serta menjaga keberlangsungan investasi dalam jangka panjang. (Shiddiq)