


NIKEL.CO.ID, JAKARTA — Perkembangan teknologi energi bersih semakin penting untuk mendukung kebutuhan listrik yang stabil dan terjangkau, terutama bagi sektor pertambangan dan industri yang membutuhkan pasokan energi secara berkelanjutan.
Director of Overseas Mining Microgrid Division of Huawei Digital Energy, Malek Zhang, mengungkapkan sejumlah faktor yang mendorong penggunaan teknologi energi bersih, di antaranya penerapan tarif karbon, mandat environment, social, and governance (ESG), serta perkembangan teknologi.

“Tarif karbon dan mandat ESG menjadikan kekuatan energi dari sesuatu yang opsional menjadi sebuah mandat,” kata Malek pada acara MKI Electricity Connect 2026, di ICE BSD, Serpong, Banten, Selasa (22/9/2026).
Perkembangan teknologi, menurut dia, juga memungkinkan sistem energi dibangun dengan tingkat stabilitas dan efisiensi yang lebih baik dan bermanfaat bagi sektor industri yang membutuhkan pasokan listrik secara berkelanjutan.

“Di Indonesia, kita memiliki lebih dari 3.200 perusahaan profesional dan delivery, dan kita memiliki lebih dari 1.000 proyek yang sudah berjalan,” ujarnya.
Ia menyebutkan, Huawei memiliki 84 pusat layanan, 14 kantor, dan 24 pusat layanan (service center) di Indonesia. Infrastruktur tersebut ditujukan untuk memastikan dukungan terhadap pelanggan dapat dilakukan di berbagai wilayah.

Sementara itu, sektor pertambangan menjadi salah satu bidang yang dinilai membutuhkan solusi energi bersih. Lokasi tambang yang umumnya berada jauh dari jaringan listrik utama membuat perusahaan harus mencari alternatif pasokan energi. Akibatnya, pembangkit berbahan bakar diesel masih digunakan di sejumlah lokasi tambang.
“Sisi mining selalu berada di luar. Semuanya tidak dapat diakses. Jadi, generator diesel juga terlalu banyak,” tuturnya.

Untuk menjawab tantangan itu, Huawei menawarkan pemanfaatan energi terbarukan yang dipadukan dengan teknologi penyimpanan energi. Kombinasi tersebut dilakukan agar operasional tambang tetap berjalan meski berada di wilayah yang belum terhubung dengan jaringan listrik.
“Kita menggunakan microwave dan memastikan operasi mining terus berjalan,” ucapnya.
Huawei, masih menurut Malek Zhang, memiliki pengalaman penerapan teknologi tersebut dan telah dilakukan di berbagai sektor di tingkat global, termasuk pertambangan dan industri. Secara global, Huawei mengklaim telah mengembangkan lebih dari 40 proyek terkait dengan total kapasitas lebih dari 3 gigawatt (GW) tenaga surya dan 6 gigawatt hour (GWh) penyimpanan energi.

“Pada akhirnya, Huawei menggunakan energi yang terjangkau dan memungkinkan enegri bersih yang terjangkau untuk semuanya,” pungkasnya.
Huawei menilai pengembangan teknologi energi bersih dan penyimpanan energi dapat menjadi bagian dari upaya mendorong efisiensi biaya sekaligus mendukung kebutuhan listrik yang lebih rendah emisi. (Fi Yun)








































