Beranda Juni 2024 BASF dan Eramet Hengkang dari Proyek Sonic Bay, Begini Tanggapan BKPM

BASF dan Eramet Hengkang dari Proyek Sonic Bay, Begini Tanggapan BKPM

Ilustrasi kompleks pemurnian nikel-kobalt. (Freepik.com)
Ilustrasi kompleks pemurnian nikel-kobalt. (Freepik.com)
Oleh Lili Handayani

NIKEL.CO.ID, JAKARTA- Kementerian Investasi/Badan Koordinasi Penanaman Modal (BKPM) buka suara terkait hengkangnya BASF dan Eramet dari proyek Sonic Bay di Teluk Weda, Maluku Utara.

Dalam pernyataan resmi yang dirilis Kementerian Investasi/BKPM, Kamis (27/6/2024), menjelaskan bahwa keputusan tersebut telah diketahui oleh Pemerintah Indonesia dan tidak menurunkan minat investor asing untuk menanamkan modalnya pada sektor hilirisasi di Indonesia.

Iklan
4Th Li On Battery Europe 2026
online petromindo
ASEAN Solar Storage Summit
11 12 Nov EV Charge Live ICE BSD
OK IKLAN 12 Nov 26 2026 SMM Annual Nickel Conf Shanghai China
Asia Intl Recycled Conference

BASF dan Eramet yang telah memiliki legalitas usaha atas nama PT Eramet Halmahera Nikel (PT EHN) untuk mengembangkan proyek Sonic Bay senilai USD2,6 miliar.

Proyek ini berupa pembangunan pabrik pemurnian nikel dengan teknologi High Pressure Acid Leach (HPAL) yang menghasilkan Mixed Hydroxide Precipitates (MHP). 

Deputi Bidang Promosi Penanaman Modal Kementerian Investasi/BKPM Nurul Ichwan menyampaikan bahwa keputusan BASF dan Eramet untuk membatalkan investasinya adalah keputusan bisnis yang diperoleh setelah melakukan berbagai evaluasi. 

Iklan
4Th Li On Battery Europe 2026
online petromindo
ASEAN Solar Storage Summit
11 12 Nov EV Charge Live ICE BSD
OK IKLAN 12 Nov 26 2026 SMM Annual Nickel Conf Shanghai China
Asia Intl Recycled Conference

”Kami dari awal terus mengawal rencana investasi ini. Namun pada perjalanannya, perusahaan beralih fokus, sehingga pada akhirnya mengeluarkan keputusan bisnis membatalkan rencana investasi proyek Sonic Bay ini,” ujar Nurul. 

Berdasarkan rilis perusahaan, keputusan BASF dan Eramet untuk tidak meneruskan rencana investasi didasarkan pada pertimbangan akan perubahan kondisi pasar nikel yang signifikan, khususnya pada pilihan nikel yang menjadi suplai bahan baku baterai kendaraan listrik. Sehingga, BASF memutuskan bahwa tidak ada lagi kebutuhan untuk melakukan investasi suplai material baterai kendaraan listrik. 

”Kami melihat hilirisasi untuk ekosistem baterai kendaraan listrik masih sangat potensial untuk dikembangkan di Indonesia. Apalagi, baru-baru saja Indonesia mendapat peringkat 27 pada World Competitiveness Ranking (WCR) 2024. Top 3 terbaik di wilayah ASEAN,” imbuh Nurul. 

Iklan
4Th Li On Battery Europe 2026
online petromindo
ASEAN Solar Storage Summit
11 12 Nov EV Charge Live ICE BSD
OK IKLAN 12 Nov 26 2026 SMM Annual Nickel Conf Shanghai China
Asia Intl Recycled Conference

Minat investor asing di sektor hilirisasi tetap tinggi dan bahkan beberapa proyek investasi di sektor tersebut telah mencapai tahap realisasi. 

Sebagai contoh, proyek smelter tembaga terbesar di dunia milik PT Freeport Indonesia di Gresik, Jawa Timur resmi beroperasi mulai 27 Juni 2024. 

Bukti nyata lainnya, produksi massal baterai kendaraan listrik pertama di Indonesia akan dimulai oleh PT Hyundai LG Indonesia (HLI) Green Power di Karawang, Jawa Barat pada Juli 2024 dan akan diresmikan oleh Presiden Joko Widodo. (Lili Handayani) 

Artikel ini berguna?

Perkembangan cerita ini

Topik BASF →

  1. Indonesia Kembali Bujuk BASF Sebagai Salah Satu Investor Eropa untuk Hilirisasi Nikel
  2. Stafsus ESDM: Investasi Eramet dan BASF Ditunda, Bukan Mundur 
  3. Eramet dan BASF Mundur, Masih Banyak yang Lain
  4. BASF dan Eramet Hengkang dari Proyek Sonic Bay, Begini Tanggapan BKPM sedang Anda baca
  5. Eramet dan BASF Batalkan Investasi US$2,6 Miliar di Indonesia
  6. BASF Hentikan Investasi di Kompleks Penyulingan Nikel dan Kobalt di Indonesia

Istilah di artikel ini

HPAL
High Pressure Acid Leaching
MHP
Mixed Hydroxide Precipitate
Kamus istilah lengkap →

Agenda industri terdekat

Semua agenda →