Beranda Asosiasi Pertambangan APNI Hadiri Boosting India-Indonesia Collaboration, Bahas Peluang Kerja Sama Mineral dan Nikel

APNI Hadiri Boosting India-Indonesia Collaboration, Bahas Peluang Kerja Sama Mineral dan Nikel

254
0
Sekum APNI, Meidy Katrin Lengkey, dan wakilnya, Rudi Rusmadi, hadir bersama Direktur Pembinaan Pengusahaan Batu Bara Ditjen KESDM RI, Asep Kurnia Permana, Ketuum FINI, Arif Perdana Kusumah, serta Duta Besar India untuk Indonesia, H.E. Shri Sandeep Chakravorty, hadir dalam acara Boosting India-Indonesia Collaboration in Mining and Coal Sectors, di Kedutaan Besar India, Jakarta (Foto: MNI/Fi Yun)

NIKEL.CO.ID, JAKARTA — Asosiasi Penambang Nikel Indonesia (APNI) mendorong penguatan kerja sama Indonesia dan India di sektor pertambangan dan mineral, khususnya melalui pengembangan mineral kritis, hilirisasi nikel, investasi, teknologi, serta penguatan rantai pasok.

Hal tersebut dibahas dalam pertemuan bertajuk Boosting India-Indonesia Collaboration in Mining and Coal Sectors yang berlangsung di Kedutaan Besar India, Jakarta, Jumat (11/9/2026). Pertemuan dihadiri Sekretaris Umum APNI, Meidy Katrin Lengkey, dan Wakil Sekretaris Umum APNI, Rudi Rusmadi. Turut hadir juga Direktur Pembinaan Pengusahaan Batu Bara Direktorat Jenderal (Ditjen) Mineral dan batu Bara (Minerba) Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) RI, Asep Kurnia Permana, Ketua Umum Forum Industri Nikel Indonesia (FINI), Arif Perdana Kusumah, serta Duta Besar India untuk Indonesia, H.E. Shri Sandeep Chakravorty, dan sejumlah perwakilan perusahaan India.

Di forum tersebut dibahas peluang untuk memperluas hubungan ekonomi Indonesia-India dari kerja sama perdagangan dan batu bara menuju sektor mineral kritis dan komoditas strategis lainnya. India memandang Indonesia memiliki sumber daya mineral yang besar dan menyatakan minat untuk meningkatkan kehadiran perusahaan India di sektor mineral Indonesia. Kerja sama diharapkan tidak berhenti pada pengambilan bahan mentah, tetapi diarahkan pada pembangunan industri pengolahan dan manufaktur yang menghasilkan nilai tambah di Indonesia.

Dalam forum tersebut dibahas juga terkait perkembangan hilirisasi Indonesia yang terus meningkatkan kapasitas pengolahan, termasuk produk baja nirkarat (stainless steel) dan material baterai. Selain sektor nikel, pembahasan juga mencakup peluang kerja sama mineral kritis lainnya, seperti bauksit, krom, logam tanah jarang (rare earth), dan komoditas strategis lainnya.

Bentuk kerja sama yang dapat dilakukan mulai dari eksplorasi, pertambangan, pengolahan, teknologi, peralatan, engineering, procurement and construction (EPC), hingga akses pasar. Pengembangan proyek percontohan dinilai dapat menjadi tahap awal untuk membangun kepercayaan sebelum dikembangkan menjadi investasi komersial berskala lebih besar.

Kerja sama antara Indonesia-India juga berpotensi dikembangkan melalui pertukaran teknologi dan keahlian. India memiliki pengalaman dalam bidang geologi, eksplorasi, pertambangan, dan sejumlah teknologi pertambangan, sementara Indonesia memiliki pengalaman dalam mekanisasi, otomatisasi, dan pengoperasian tambang berskala besar. Kolaborasi tersebut dapat dilakukan melalui proyek bersama, penelitian, pertukaran tenaga ahli, hingga penyediaan teknologi dan peralatan pertambangan.

Dalam pertemuan tersebut disepakati pentingnya melanjutkan komunikasi antara pelaku usaha kedua negara melalui proyek konkret, proyek percontohan, serta forum bisnis dan pertambangan serta kerja sama Indonesia-India ke depan diarahkan pada penciptaan nilai tambah, kepastian pasokan, transfer teknologi, investasi jangka panjang, serta pengembangan industri pertambangan yang berkelanjutan. (Fi Yun)