Kementerian ESDM Sebut Pertambangan Masih Bisa Terlibat Dalam Transisi Energi

NIKEL.CO.ID – Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) menyebutkan investasi di sektor mineral dan batu bara alias minerba masih cukup menjanjikan, di tengah tren transisi energi.

Pemerintah menilai sektor tambang masih mempunyai peranan yang cukup penting, terutama dalam mendukung pengembangan komponen pembangkit energi terbarukan.

“EBT ini masih butuh dukungan dari bahan bahan tambang,” kata Kepala Pusat Data dan Informasi (Pusdatin) Kementerian ESDM Agus Cahyono Adi dalam diskusi secara virtual, Selasa (6/7/2021).

Sehingga, dia meminta para pekerja sektor tambang tak perlu khawatir kehilangan pekerjaan di tengah tren ekonomi hijau. Saat ini pemerintah tengah mempelajari mitigasi atas dampak dari transisi energi ini bagi para pekerja di sektor pertambangan.

“Jadi di sini untuk teman-teman yang bergerak di perusahaan tambang jangan khawatir,” ujarnya.

Namun, penambangan secara berkelanjutan merupakan syarat mutlak bila ingin berperan dalam pengembangan EBT di Indonesia. Saat ini, penambangan nikel di Indonesia memiliki rekam jejak kotor sudah mulai menyebar di pasar internasional.

Konsultan Independen di sektor pertambangan Steven Brown sebelumnya mengatakan bahwa saat ini konsumen sangat memperhatikan isu lingkungan pada proses penambangan nikel yang merupakan salah satu bahan baku utama pembuatan baterai lithium-ion untuk kendaraan listrik (EV).

Oleh karena itu ia berharap agar Industri nikel di Indonesia dapat menerapkan kegiatan penambangan yang berkelanjutan.

“Sudah mulai dibisikan di pasar kalau nikel Indonesian adalah nikel kotor. Ini terutama dibesar-besarkan oleh produsen nikel di luar Indonesia yang menjadi kompetitor,” ujarnya.

Adapun Direktur Jenderal Minerba Kementerian ESDM Ridwan Djamaluddin menegaskan bahwa pemerintah sudah mengatur agar kegiatan pertambangan di Indonesia menerapkan konsep berkelanjutan. Dia menyebut tekanan dari dunia internasional terhadap komoditas nikel Indonesia terus berdatangan.

“Pertambangan kita sudah diatur agar menerapkan kaidah pertambangan yang baik. Memang ada tekanan dunia internasional,” ujarnya.

Berdasarkan data lembaga United States Geological Survey, Indonesia menduduki produsen nikel pertama. Produksi ini mengalami perlambatan produksi nikel dengan perkiraan sekitar 10,9% pada 2020. Indonesia sanggup memproduksi 853 ribu metrik ton nikel pada 2019. Jumlahnya menyusut menjadi sekitar 760 ribu metrik ton pada 2020.

Sumber: katadata.co.id

 

Read More

Ingin Jadi Raja Baterai, RI Bisa Jadi Ancaman Dunia!

NIKEL.CO.ID – Indonesia punya cita-cita menjadi raja baterai dunia. Cita-cita ini ditandai dengan pembentukan Holding Badan Usaha Milik Negara (BUMN) industri baterai terintegrasi dari hulu hingga hilir bernama Indonesia Battery Corporation (IBC).

Cita-cita besar RI ini ternyata menjadi ancaman bagi konsumen nikel di dunia.

Hal tersebut diungkapkan Steven Brown, praktisi industri nikel, dalam diskusi secara daring, Selasa (29/06/2021).

Steven menjelaskan, untuk bisa melakukan transisi energi, diperlukan tambahan sekitar 1 juta ton logam nikel pada 2030.

“Untuk bisa sukses transisi energi, kita perlu kurang lebih 1 juta ton nikel tambahan, sebelum tahun 2030 perlu tambahan kapasitas 1 juta ton,” ungkapnya.

Produksi nikel selama ini menurutnya terus bertambah dalam beberapa tahun terakhir, sesuai dengan pertumbuhan permintaan. Alhasil, sampai saat ini tidak terjadi kekurangan pasokan nikel.

“Gak ada kekurangan nikel saat ini, malah masih surplus, sedikit kelebihan produksi dari demand,” ujarnya.

Penambahan produksi nikel, imbuhnya, hanya terjadi di Indonesia. Sementara produksi di luar negeri malah mengalami penurunan. Kondisi ini merupakan hal baik bagi Indonesia, namun menjadi ancaman bagi luar.

“Tapi pertumbuhan dalam nikel hanya terjadi di Indonesia, di luar malah turun, dan ini baik untuk Indonesia, tapi untuk pengguna nikel di luar, ini menjadi ancaman,” ucapnya.

Menurutnya, peningkatan produksi terjadi untuk nikel kelas dua seperti feronikel dan nickel pig iron (NPI), sementara nikel kelas satu tidak ada pertumbuhan. Nikel yang digunakan untuk baterai adalah nikel kelas satu seperti nikel sulfat, sementara nikel kelas dua untuk stainless steel.

“Pertumbuhan yang terjadi belum ada sama sekali untuk smelter kelas satu yang digunakan untuk baterai,” imbuhnya.

Dia mengatakan, beberapa proyek smelter nikel kelas satu untuk baterai sudah diumumkan dan semuanya berada di Indonesia. Diperkirakan dua pertiganya akan berada di Indonesia dan terbangun lebih dahulu.

“Beberapa proyek di-announced, hampir semua ada di Indonesia. Proyek pipeline mungkin dua pertiga ada di Indonesia, yang akan terbangun dulu di Indonesia, yang non Indonesia masih jauh sekali dari tahap konstruksi,” jelasnya.

Lebih lanjut dia mengatakan, proyek yang diumumkan di Indonesia jauh lebih baik karena biaya modal lebih rendah dan jadwal konstruksi bisa lebih singkat.

“Namun ada isu sedikit, adalah environmental dan social government. Kalau dilihat dari standar yang ada, Indonesia punya risiko lebih tinggi pada environmental dan social government daripada proyek di luar Indonesia,” paparnya.

Sumber: CNBC Indonesia

Read More

Tanpa Nikel, Transisi ke Energi Terbarukan Bakal Delay

NIKEL.CO.ID – Dunia tengah bertransisi dari pemakaian energi fosil ke energi baru terbarukan (EBT). Untuk melakukan transisi, maka dibutuhkan komoditas mineral berupa nikel. Jika tidak, maka transisi energi bisa saja tertunda.

Hal tersebut disampaikan oleh Steven Brown, praktisi industri nikel dalam diskusi terkait hilirisasi nikel secara daring, Selasa (29/06/2021).

Dia mengatakan, banyak opsi di sektor EBT yang bisa dimanfaatkan, mulai dari energi surya, angin, dan lainnya. Namun, sifat dari energi ini adalah intermittent atau tidak selalu ada, sehingga ini menjadi masalah yang dihadapi di sektor energi baru terbarukan. Oleh karena itu, salah satu solusi dari masalah ini adalah dengan pemanfaatan baterai.

“Renewable ini intermittent, matahari ada malam, wind tidak selalu ada, jadi renewable ada sedikit masalah. Solusinya adalah baterai, baterai ini sangat penting dalam transisi dunia ke EBT,” jelasnya.

Bahkan dia menyebut, tanpa adanya baterai, maka transisi energi tidak akan terjadi. Teknologi baterai menurutnya berkembang dengan cepat, baik menggunakan nikel atau bukan.

Meski nikel bisa digantikan dengan komoditas mineral lain, namun menurutnya komoditas yang bisa membuat baterai optimum adalah nikel.

“Yang jelas nikel ini optimum. Baterai yang optimum punya nikel karena dia high energy, namun downside high cost,” jelasnya.

Lebih lanjut dia mengatakan, dengan kelebihan yang dimiliki nikel, maka transisi energi akan bergantung pada nikel. Tanpa adanya nikel, menurutnya transisi energi bisa saja tertunda.

“Jadi bisa lihat transisi energi tergantung pada nikel, tanpa ada nikel, kita mungkin akan ada transisi ke EBT, tapi akan delay,” ungkapnya.

Sumber: CNBC Indonesia

Read More

Intip ‘Harta Karun’ Energi RI, Ada yang Terbesar Kedua Dunia

NIKEL.CO.ID – Indonesia dianugerahi ‘harta karun’ di sektor energi yang melimpah, mulai dari minyak dan gas bumi (migas), pertambangan, hingga Energi Baru Terbarukan (EBT).

Di sektor migas, walau cadangan dan produksi migas konvensional terus merosot, namun patut disyukuri ternyata Indonesia dianugerahi sumber daya migas non konvensional. Belum lama ini Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) menyampaikan bahwa Indonesia dianugerahi sumber daya migas non konvensional bernama metana hidrat atau gas hidrat, yang sampai saat ini belum tersentuh.

Metana hidrat merupakan senyawa hidrokarbon yang unik, karena tidak seperti energi fosil lain yang berbentuk padat (batu bara), cair (minyak bumi), dan gas (gas alam), ia berbentuk kristal es.

Ia mudah terbakar karena di dalamnya terperangkap gas metana dalam jumlah besar. Julukan barunya adalah ‘Fire Ice’ atau si ‘Es Api’.

Bahkan, Menteri ESDM Arifin Tasrif menyebut sumber daya baru ini bisa diproduksi hingga 800 tahun lamanya.

“Kita harap ini bisa jadi sumber energi alternatif baru, ini mendukung ketahanan energi 800 tahun ke depan,” ungkapnya dalam webinar, Selasa (08/06/2021).

Direktur Jenderal Migas Kementerian ESDM Tutuka Ariadji mengatakan, potensi gas hidrat ada di pinggir-pinggir benua, baik di Eropa, Afrika, Amerika Utara dan Selatan.

Berdasarkan data Badan Litbang Kementerian ESDM, dua area diketahui menjadi tempat akumulasi gas hidrat itu yaitu area permafrost di sekitar Kutub Utara dan sea beds di laut dalam. Namun, Indonesia pun juga punya potensi gas hidrat ini.

Berdasarkan survei di awal tahun 2004, Indonesia berhasil menemukan sumber daya metana hidrat sebesar 850 triliun kaki kubik (TCF) yang berada di dua lokasi utama yaitu perairan Selatan Sumatera sampai ke arah Barat Laut Jawa (625 TCF) dan di Selat Makassar Sulawesi (233,2 TCF).

Guru Besar Fakultas Teknik Pertambangan dan Perminyakan ITB Doddy Abdassah menjabarkan besaran potensi metana hidrat ini.

Dia mengatakan sebagai perbandingan, deposit gas alam mencapai 13.000 triliun kaki kubik (TCF). Sementara deposit gas hidrat di darat saja mencapai 5.000 – 12.000.000 TCF dan di bawah laut 30.000-49.000.000 TCF.

Lebih lanjut dia menjelaskan gas hidrat adalah sumber daya hidrokarbon non konvensional terbesar di bumi dan diperkirakan 50% deposit hidrokarbon tersimpan dalam bentuk gas hidrat.

Nikel

Di sektor pertambangan, Indonesia juga memiliki ‘harta karun’ yang tak bisa diabaikan. Di sektor pertambangan mineral, salah satu komoditas yang memiliki sumber daya besar, bahkan hingga miliaran yaitu nikel.

Kementerian ESDM mencatat pada 2020 sumber daya bijih nikel RI mencapai 8,26 miliar ton dengan kadar 1%-2,5%, di mana kadar kurang dari 1,7% sebesar 4,33 miliar ton, dan kadar lebih dari 1,7% sebesar 3,93 miliar ton.

Adapun cadangan bijih nikel mencapai 3,65 miliar ton untuk kadar 1%-2,5%, di mana cadangan bijih nikel dengan kadar kurang dari 1,7% sebanyak 1,89 miliar ton dan bijih nikel dengan kadar di atas 1,7% sebesar 1,76 miliar ton.

Untuk rinciannya, cadangan bijih nikel kadar di atas 1,7% tereka sebesar 1,72 miliar ton, tertunjuk sebesar 1,26 miliar ton, terukur sebesar 954 juta ton, terkira sebesar 990 juta ton dan terbukti sebesar 772 juta ton.

Sementara untuk cadangan bijih nikel dengan kurang dari 1,7% tereka sebesar 2 miliar ton, tertunjuk 1,52 miliar ton, terukur sebesar 805 juta ton, terkira sebesar 1,30 miliar ton dan terbukti sebesar 589 juta ton.

Adapun nikel yang diperlukan untuk bahan baku baterai biasanya dengan kadar rendah di bawah 1,7%. Dengan potensi sumber daya nikel yang besar ini Indonesia pun bercita-cita menjadi raja baterai dunia di masa depan.

Sedangkan untuk total sumber daya logam nikel pada 2020 mencapai 214 juta ton logam nikel, meningkat dari 2019 yang tercatat sebesar 170 juta ton logam nikel.

Sementara jumlah cadangan logam nikel pada 2020 mencapai 41 juta ton logam nikel, lebih rendah dari 2019 yang mencapai 72 juta ton logam nikel.

Batu Bara

Tidak hanya nikel yang sumber dayanya mencapai miliaran ton, komoditas tambang batu bara juga demikian. Menteri ESDM Arifin Tasrif menyebut Indonesia dikaruniai sumber daya batu bara melimpah, yakni mencapai sebesar 149 miliar ton dan cadangan 38 miliar ton.

Dengan potensi sumber daya hingga ratusan miliar ton, menurutnya pemerintah akan membangun industri hilir batu bara agar nilai tambah yang dirasakan negara ini lebih besar.

Salah satu caranya yaitu dengan membangun proyek Dimethyl Ether (DME). Proyek gasifikasi batu bara menjadi DME ini bisa bermanfaat untuk mengurangi impor LPG yang kian melonjak tiap tahunnya.

“Beberapa perusahaan tengah mengembangkan proyek gasifikasi batu bara menjadi DME dalam rangka mengurangi impor LPG,” jelasnya dalam webinar teknologi mineral dan batu bara, hari ini, Rabu (23/06/2021).

Energi Surya

Selain energi fosil, Indonesia juga dikaruniai ‘harta karun’ di sektor energi baru terbarukan (EBT), mulai dari potensi energi surya hingga panas bumi atau geothermal.

Untuk potensi energi surya, Indonesia dianugerahi potensi yang tak main-main, yakni mencapai sebesar 207,8 Giga Watt (GW).

Namun sayangnya, pemanfaatannya sebagai Pembangkit Listrik Tenaga Surya (PLTS) baru 153,8 Megawatt (MW) atau hanya 0,07% alias kurang 1% dari potensi yang ada.

Chrisnawan Anditya, Direktur Aneka Energi Baru dan Energi Terbarukan Direktorat Jenderal EBTKE Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) dalam wawancara bersama CNBC Indonesia, Kamis (25/06/2021) mengatakan meski pemanfaatan belum maksimal tapi mengalami kenaikan dari tahun ke tahun.

Pada 2015 pemanfaatan baru 33,4 MW dan sampai akhir tahun 2020 sudah mencapai 153,8 MW.

“Dari potensi sebesar 207,8 GW ini, kapasitas terpasang yang dimanfaatkan baru 153,8 MW, jadi baru 0,07%, kurang 1% dari potensi yang dimiliki,” ungkapnya.

Panas Bumi

Sementara untuk sumber daya panas bumi atau geothermal, Indonesia bahkan menduduki posisi kedua di dunia setelah Amerika Serikat (AS). Namun, sama seperti tenaga surya, pemanfaatan panas bumi juga belum optimal.

Dari sumber daya panas bumi sebesar 23.965,5 Mega Watt (MW), pemanfaatannya untuk Pembangkit Listrik Panas Bumi (PLTP) hingga 2020 baru mencapai 2.130,7 MW atau 8,9% dari total sumber daya yang ada.

Direktur Panas Bumi Direktorat Jenderal Energi Baru Terbarukan dan Konservasi Energi (EBTKE) Kementerian ESDM Harris mengatakan, demi menekan harga listrik panas bumi yang masih mahal, pemerintah akan turut ambil peran dalam mengebor sumur eksplorasi panas bumi.

Dia mengatakan, harga listrik panas bumi saat ini masih berada di posisi belasan sen dolar per kWh, jauh lebih mahal jika dibandingkan pembangkit EBT lainnya seperti Pembangkit Listrik Tenaga Surya (PLTS) yang saat ini berkisar 3,6-3,7 sen dolar per kWh.

“Panas bumi belum bisa ke situ (3-4 sen dolar per kWh), target kita di bawah 10 sen dolar, yakni 7-8 sen dolar per kWh,” ungkapnya dalam diskusi Indonesian Geothermal Power Forum, Jumat (21/05/2021).

Sumber: CNBC Indonesia

Read More

Indonesia Berpeluang Memimpin Masa Depan Hijau

Indonesia berpeluang besar dalam pembangunan masa depan hijau karena memiliki cadangan hutan tropis yang bisa berkontribusi dalam menjaga atmosfer dunia dan menyediakan mata pencaharian bagi jutaan orang.

NIKEL.CO.ID – Indonesia dinilai memiliki peluang besar untuk memimpin pembangunan yang lebih hijau dan berperspektif iklim. Selain keberadaan hutannya, Indonesia memiliki salah satu potensi energi baru terbarukan terbesar di dunia dan beberapa deposit nikel serta mineral lain terbesar yang dibutuhkan untuk pengembangan teknologi energi baru terbarukan.

Hal ini dikemukakan Duta Besar Inggris untuk Indonesia dan Timor Leste Owen Jenkins dalam keterangan tertulis, Selasa (18/5/2021) malam. ”Kami berharap Indonesia, sebagai Presiden G20 mendatang, akan berdiri dan memimpin dunia dengan teladannya dalam membuat komitmen yang kuat untuk Net Zero dan menyelaraskan NDC-nya untuk diletakkan di jalur yang benar agar dapat dilaksanakan sehingga bisa memberi manfaat bagi Indonesia dan menyelamatkan planet kita,” kata Owen.

Menurut Owen, Indonesia berpeluang besar dalam pembangunan masa depan hijau karena sejumlah alasan, di antaranya memiliki cadangan hutan tropis yang bisa berkontribusi dalam menjaga atmosfer dunia dan menyediakan mata pencaharian berkelanjutan bagi jutaan orang Indonesia. Selain itu, Indonesia juga memiliki potensi energi baru terbarukan terbesar di dunia, serta beberapa deposit nikel dan mineral lain terbesar yang dibutuhkan untuk mendukung teknologi energi baru terbarukan.

Owen mengatakan, Inggris meminta semua negara untuk berkomitmen mencapai emisi nol bersih pada tahun 2050 dan maju dengan target ambisius 2030 yang sejalan dengan tujuan ini.  ”Melakukan lebih sedikit berarti kita berisiko gagal membatasi pemanasan hingga 1,5 derajat, dan jutaan orang akan menderita,” ujarnya.

Menurut Owen, semua negara, termasuk Indonesia, dapat mempercepat transisi emisi nol bersih sejak sekarang sambil menumbuhkan ekonomi mereka lebih cepat, menciptakan lebih banyak lapangan kerja, serta mendukung pengentasan kemiskinan dan kemakmuran. ”Dari pengalaman kami sendiri, pendanaan sektor publik dan swasta mengalir lebih cepat ke investasi hijau,” ujarnya.

Sekalipun memiliki potensi besar memimpin pembangunan yang lebih ramah iklim, kepemimpinan Indonesia kerap dikritik. Direktur Eksekutif Nasional Wahana Lingkungan Hidup (Walhi) Nur Hidayati, misalnya, menilai pidato Presiden Joko Widodo pada Leaders Summit on Climate bulan lalu tidak menunjukkan kesadaran terhadap krisis iklim.

Indonesia memiliki potensi besar untuk memimpin arah kebijakan global agar mendukung upaya adaptasi negara-negara terdampak. (Nur Hidayati)

Menurut Nur, dalam pidato tersebut, Presiden Jokowi tidak menyampaikan komitmen penurunan emisi yang agresif dalam pertemuan para pemimpin dunia. Padahal, sebagai salah satu negara yang terdampak krisis iklim, sekaligus salah satu penyumbang emisi besar, menurut Nur, Indonesia memiliki potensi besar untuk memimpin arah kebijakan global agar mendukung upaya adaptasi negara-negara terdampak.

”Sayangnya, dalam pertemuan ini Presiden justru melakukan business as usual, yaitu penanganan perubahan iklim berbasis proyek, yang dalam pengalaman-pengalaman sebelumnya terbukti tidak berhasil dan tidak berkelanjutan. Di tengah urgensi krisis iklim, Presiden justru tampil ambigu, alih-alih mengambil langkah kepemimpinan yang berani, yang bisa menginspirasi para pemimpin dunia lainnya,” kata Nur Hidayati.

Akhiri Penggunaan Batubara

Pidato Presiden terpilih COP26 (Conference of the Parties) tentang perubahan iklim, Alok Sarma, dalam pidatonya di Glasgow, kemarin, mengatakan, COP26 tahun ini yang akan diselenggarakan di Inggris menjadi peluang terbaik dunia untuk membangun masa depan yang lebih bersih dan lebih hijau.

COP26 akan mempertemukan para negosiator iklim dari 196 negara, pelaku bisnis, organisasi, para ahli, dan pemimpin dunia di SEC di Glasgow mulai tanggal 1 hingga 12 November 2021. ”Saya yakin bahwa para pemimpin dunia akan mempergunakan kesempatan ini dengan sebaik mungkin, dan bukan sekedar menunggu nasib,” ujar Sharma

Dalam mempersiapkan pidatonya, Sharma menanyakan kepada anak perempuannya tentang pesan apa yang harus dia berikan kepada para pemimpin dunia tentang prioritas mereka. ”Responsnya sederhana, yaitu, ’tolong beri tahu kepada mereka untuk memilih planet ini’.  Dan itulah pesan yang ingin saya sampaikan kepada Anda hari ini. Pesan dari putri saya. Pesan dari generasi mendatang. Inilah momen kita. Tidak ada kesempatan kedua. Ayo kita pilih planet ini,” sebut Sharma.

Menurut Sharma, apabila kita serius untuk mencegah kenaikan suhu global tidak lebih dari 1,5 derajat celsius, kita harus mengurangi separuh emisi global pada tahun 2030. ”Oleh karena itu, Glasgow harus menjadi KTT yang mengakhiri penggunaan batubara. Kita bekerja secara langsung dengan pemerintah dan melalui organisasi internasional, untuk mengakhiri pembiayaan batubara secara global,” tuturnya.

Menurut Sharma, hari-hari penggunaan batubara sebagai sumber energi termurah sudah lewat. ”Kita harus menjadikan COP26 sebagai momen penting untuk mengakhiri penggunaan batubara, sambil mendukung pekerja dan komunitas untuk melakukan transisi,” ujarnya.

Oleh karena itu, dia meminta negara-negara anggota G-7 memimpin transisi menuju ekonomi hijau dengan meninggalkan tenaga batubara. ”Kita juga harus bekerja dengan negara-negara berkembang untuk mendukung transisi mereka ke energi bersih,” jelas Sharma.

Menurut dia, Inggris telah menjadi contoh adanya transisi ini. Pada tahun 2012, 40 persen listrik Inggris berasal dari batubara, tetapi saat ini hanya tinggal kurang dari 2 persen. Dalam waktu kurang dari 20 tahun, Inggris mengembangkan sektor angin lepas pantai terbesar di dunia. Melalui komitmen untuk mengurangi emisi karbon hingga 78 persen pada tahun 2035, Inggris akan sepenuhnya menghentikan penggunaan tenaga batubara pada tahun 2024, serta mengakhiri penjualan kendaraan bensin dan diesel baru pada tahun 2030.

Sumber: KOMPAS.ID

Read More