
NIKEL.CO.ID, JAKARTA – Pekan ini hanya high-grade nickel matte (HGNM) (FOB) yang naik. Itu pun cuma US$11/metrik ton (mt), dari US$15.058/mt pekan sebelumnya menjadi US$15.069/mt. Produk lainnya mulai melempem.
Hal itu terlihat pada Indonesia Nickel Price Index (INPI) yang dirilis Asosiasi Penambang Nikel Indonesia (APNI) bersama Shanghai Metals Market (SMM) pada 13 Juli 2026. Sementara itu, nickel pig iron (NPI) juga melanjutkan turun meski tipis juga. Di sisi lain, mixed hydroxide precipitate (MHP) masih mengalami koreksi tipis, sedangkan harga bijih nikel kadar 1,6% CIF bertahan stabil dan bijih nikel 1,2% CIF sedikit melemah.
Perbandingan Harga INPI 6 Juli 2026 dan 13 Juli 2026
| PRODUK | 6 JULI 2026 | 13 JULI 2026 | KETERANGAN |
| Bijih Nikel 1,2% (CIF) | US$30/mt | US$29,5/mt | Turun US$0,5/mt |
| Bijih Nikel 1,6% (CIF) | US$69,6/mt | US$69,6/mt | Stabil |
| NPI (FOB) | US$146,8/mt | US$146/mt | Turun US$0,8/mt |
| HGNM (FOB) | US$15.058/mt | US$15.069/mt | Naik US$11/mt |
| MHP (FOB) | US$14.932/mt | US$14.772/mt | Turun US$160/mt |
Berdasarkan data INPI terbaru, harga bijih nikel kadar 1,2% CIF turun tipis menjadi rata-rata US$29,5/metrik ton (mt) dari sebelumnya US$30/mt. Penurunan tersebut menunjukkan permintaan terhadap bijih kadar rendah masih cenderung terbatas di tengah kondisi pasokan yang relatif memadai.

Bagaimana dengan bijih nikel kadar 1,6% CIF? Harganya tetap di level US$69,6/mt, menandakan keseimbangan antara pasokan dan kebutuhan bahan baku smelter domestik masih terjaga. Stabilnya harga ini juga mencerminkan aktivitas pembelian yang belum mengalami perubahan signifikan dalam sepekan terakhir.
Di segmen produk antara, NPI tercatat berada di US$146/mt, turun sekitar US$0,8/mt dibandingkan pekan sebelumnya yang mencapai US$146,8/mt. Koreksi ini mengindikasikan pasar feronikel masih menghadapi tekanan dari permintaan baja nirkarat yang belum sepenuhnya pulih, meskipun penurunannya relatif terbatas.
Berbeda dengan NPI, HGNM justru mencatat penguatan menjadi US$15.069/mt, naik US$11/mt dibandingkan rilis sebelumnya. Kenaikan ini mencerminkan mulai membaiknya permintaan terhadap bahan baku prekursor baterai kendaraan listrik, meski pergerakannya masih tergolong moderat.
Di sisi lain, harga MHP masih terkoreksi menjadi US$14.772/mt dari US$14.932/mt pada pekan sebelumnya, atau turun sekitar US$160/mt. Pelemahan tersebut menunjukkan pasar bahan baku baterai masih berada dalam fase penyesuaian seiring fluktuasi harga nikel global dan dinamika permintaan industri kendaraan listrik.
Secara keseluruhan, rilis INPI 13 Juli 2026 memperlihatkan pasar nikel Indonesia masih bergerak variatif. Stabilnya harga bijih nikel kadar tinggi menjadi penopang pasar bahan baku, sementara penguatan nickel matte memberikan sinyal positif bagi segmen hilir. Namun, koreksi pada MHP dan NPI menunjukkan rantai pasok nikel masih dipengaruhi kondisi pasar global yang belum sepenuhnya pulih.

Laporan Data Nikel APNI
Data dalam Laporan Data Nikel Juli 2026 yang disusun APNI juga memperlihatkan bahwa pelemahan harga tersebut sejalan dengan perkembangan pasar nikel global sepanjang triwulan kedua 2026. Di London Metal Exchange (LME), harga rata-rata (cash settlement) sempat meningkat dari US$18.005,75/mt pada April menjadi US$18.805,75/mt pada Mei, sebelum kembali turun menjadi US$17.663,86/mt pada Juni. Pergerakan tersebut menunjukkan bahwa kenaikan harga pada Mei tidak mampu bertahan akibat masih kuatnya tekanan dari surplus pasokan global.
Dari sisi aktivitas perdagangan, volume transaksi kontrak futures di LME juga bergerak fluktuatif. Total volume perdagangan turun dari sekitar 1,78 juta lot pada April menjadi 1,58 juta lot pada Mei, kemudian meningkat menjadi 2,08 juta lot pada Juni. Pola ini mencerminkan meningkatnya aktivitas pelaku pasar dalam merespons perubahan sentimen terhadap prospek permintaan dan pasokan nikel dunia.
Di pasar fisik, data SMM menunjukkan bahwa hampir seluruh harga bijih nikel mengalami koreksi selama periode April–Juni 2026. Harga bijih nikel laterit Indonesia kadar 1,3% turun dari US$32,94/wmt pada Mei menjadi US$31,98/wmt pada Juni, sedangkan kadar 1,6% melemah dari US$77,70/wmt menjadi US$76,06/wmt. Penurunan juga terjadi pada bijih nikel asal Filipina untuk seluruh kadar, dengan koreksi bulanan berkisar 2,1% hingga 5,4%, mengindikasikan melemahnya permintaan bahan baku di kawasan Asia.

Meski demikian, produk olahan nikel menunjukkan kondisi yang relatif lebih stabil. Harga NPI berkadar 8%–10% meningkat tipis dari US$143/mt pada Mei menjadi US$144/mt pada Juni, sementara NPI berkadar lebih tinggi serta Indonesia high-grade NPI bertahan atau hanya mengalami kenaikan marginal. Kondisi ini menunjukkan bahwa sektor pengolahan masih memperoleh dukungan dari permintaan industri baja nirkarat, meskipun pasar bahan baku bijih nikel menghadapi tekanan.
Di sisi fundamental permintaan, konsumsi bijih nikel China sepanjang semester pertama 2026 tercatat relatif stabil dengan total sekitar 21,79 juta ton (10K tons), sedangkan konsumsi Indonesia mencapai sekitar 141,34 juta ton (10K tons). Di saat yang sama, impor bijih nikel China meningkat dari 366,45 (10K tons) pada April menjadi 595,86 (10K tons) pada Mei. Peningkatan impor tersebut menunjukkan kebutuhan bahan baku smelter China masih cukup tinggi, meskipun harga bijih nikel terus mengalami koreksi akibat pasokan global yang tetap melimpah.
Secara keseluruhan, data APNI mengindikasikan bahwa pelemahan harga bijih nikel yang tercermin dalam rilis INPI 6 Juli 2026 bukan hanya dipengaruhi dinamika domestik, tetapi juga merupakan bagian dari tren global. Kombinasi antara surplus pasokan, penyesuaian harga bahan baku, serta fluktuasi aktivitas perdagangan di LME masih menjadi faktor utama yang membentuk pergerakan harga nikel pada pertengahan 2026. (Li Han)











































