Beranda Berita Nasional Pemerintah Dorong Kerja Sama Indonesia-Swedia untuk Percepat Dekarbonisasi Pertambangan

Pemerintah Dorong Kerja Sama Indonesia-Swedia untuk Percepat Dekarbonisasi Pertambangan

65
0
Direktur Pembinaan Pengusahaan Mineral Ditjen Minerba KESDM, Cecep Mochammad Yasin (Foto: MNI/Fi Yun)

NIKEL.CO.ID, JAKARTA — Pemerintah Indonesia mendorong penguatan kerja sama dengan Swedia untuk mengubah ambisi dekarbonisasi sektor pertambangan menjadi aksi nyata di tingkat operasional.

Direktur Pembinaan Pengusahaan Mineral Direktorat Jenderal Mineral dan Batu Bara (Ditjen Minerba), Kementerian ESDM, Cecep Mochammad Yasin, mengatakan, dekarbonisasi kini menjadi salah satu agenda penting dalam industri pertambangan global. Industri dituntut mengurangi emisi gas rumah kaca, tetapi tetap harus mampu menyediakan mineral yang dibutuhkan untuk pertumbuhan ekonomi, industrialisasi, dan transisi energi.

“Indonesia diberkahi sumber daya mineral yang melimpah, termasuk nikel, tembaga, bauksit, timah, dan mineral lainnya yang semakin penting bagi transisi energi global. Sektor pertambangan Indonesia memiliki peran strategis dalam mendukung pertumbuhan ekonomi, penciptaan lapangan kerja, pengembangan industri hilir, serta memperkuat posisi Indonesia dalam rantai nilai mineral global,” kata Cecep, di Jakarta, Selasa (8/9/2026).

Oleh karena itu, menurut ia, tantangannya bukan sekadar mengejar dekarbonisasi. Tantangan nyata kita adalah bagaimana mengubah ambisi tersebut menjadi tindakan yang praktis, terukur, dan dapat dicapai hingga ke tingkat operasional.

Indonesia dan Swedia, ia melanjutkan, telah membangun kemitraan yang kuat dan konstruktif di sektor mineral. Kerja sama tersebut didasarkan pada komitmen bersama untuk mendorong pembangunan berkelanjutan, kerja sama teknologi, investasi, dan penciptaan nilai.

“Program Sweden-Indonesia Sustainability Partnership (SISP) merupakan salah satu contoh nyata dari kerja sama tersebut. Program ini pada awalnya dirancang bersama oleh Business Sweden dan Ditjen Minerba sebagai wadah untuk memperkuat kerja sama di sektor mineral dan batu bara,” jelasnya.

Namun, seiring perkembangannya, cakupan kerja sama SISP diperluas hingga sektor energi. Dalam pengembangan program tersebut, Ditjen Minerba dan Business Sweden juga bekerja sama mengidentifikasi serta merumuskan sejumlah pilar utama kerja sama melalui seminar dan lokakarya yang melibatkan pemerintah, pelaku industri, dan dunia usaha.

Kegiatan tersebut dilakukan untuk mengidentifikasi kebutuhan, tantangan, dan peluang di sektor mineral dan batubara Indonesia, sekaligus melihat ruang kontribusi keahlian, teknologi, inovasi, dan investasi dari Swedia.

“Saya percaya bahwa pendekatan kolaboratif ini merupakan salah satu kekuatan utama dari kemitraan kita. Alih-alih hanya membangun kerja sama pada tingkat kebijakan, kami berupaya memastikan agar kerja sama ini bersifat demand-driven, praktis, dan responsif terhadap kebutuhan pemerintah maupun industri,” pungkasnya.

Kerja sama antara Indonesia dan Swedia dinilai dapat memberikan peningkatan yang signifikan lantaran Swedia memiliki pengalaman luas dalam mengembangkan solusi inovatif dan rendah karbon untuk industri pertambangan termasuk dalam bidang elektrifikasi, efisiensi energi, digitalisasi, otomatisasi, hingga pengembangan operasi pertambangan yang lebih berkelanjutan.

Maka dari itu, ia menilai penerapan teknologi tersebut memiliki potensi yang besari lantaran Indonesia memiliki lingkungan industri pertambangan yang strategis. Selain itu, kerja sama antara pemerintah, industri, penyedia teknologi, lembaga penelitian, dan calon investor juga menjadi penting untuk memastikan teknologi dan solusi yang dikembangkan sesuai dengan kebutuhan masing-masing operasi pertambangan. (Fi Yun)