Beranda Nikel Industri Nikel Jadi Pengguna Terbesar Captive Power Berbasis Batu Bara

Industri Nikel Jadi Pengguna Terbesar Captive Power Berbasis Batu Bara

103
0
Industri pengolahan mineral meningkatkan kebutuhan energi secara signifikan (ilustasi) (Foto: Dok. Vale)

NIKEL.CO.ID, JAKARTA — Pembangkit listrik mandiri (captive power) berbasis batu bara masih menjadi sumber utama energi bagi industri pengolahan nikel atau smelter di Indonesia. Kondisi ini terutama dipengaruhi oleh lokasi sebagian besar smelter yang berada di wilayah terpencil dengan akses terbatas terhadap jaringan listrik nasional.

Pada akhir 2025, captive power yang digunakan untuk kegiatan pengolahan nikel diperkirakan mencapai lebih dari 81 terawatt-hour (TWh). Lebih dari 94% pasokan listrik tersebut berasal dari pembangkit berbahan bakar batu bara.

“Sebagian besar fasilitas smelter berada di Sulawesi dan Maluku Utara, wilayah yang memiliki akses terbatas terhadap jaringan listrik nasional,” tulis Ember Energy dalam riset berjudul “Indonesia’s Captive Coal Giant: Better Data to Shape Industrial Competitiveness”, dikutip Senin (28/9/2026).

Keterbatasan jaringan tersebut membuat pelaku industri mengandalkan pembangkit listrik mandiri untuk memenuhi kebutuhan energi yang besar dan berlangsung secara terus-menerus. Secara keseluruhan, industri di Indonesia diperkirakan menggunakan lebih dari 161 TWh listrik dari pembangkit mandiri pada 2025. Jumlah tersebut sekitar 1,7 kali penjualan listrik PLN kepada konsumen industri pada tahun yang sama.

Sekretariat Just Energy Transition Partnership (JETP) memperkirakan, dari 25,9 gigawatt (GW) pembangkit mandiri yang telah dibangun hingga 2024, sekitar 75% menggunakan batu bara. Sementara itu, pengolahan nikel menjadi salah satu industri dengan penggunaan captive power paling intensif. Kapasitas pembangkit captive untuk industri nikel diperkirakan mencapai sekitar 14 GW, dengan sekitar 95% di antaranya berbasis batu bara.

“Analisis menunjukkan hampir 60% pembangkitan batu bara captive, atau sekitar 81,3 TWh, digunakan untuk kegiatan pengolahan nikel pada 2025,” simpul analisis tersebut.

Penggunaan pembangkit mandiri berbasis batu bara tidak lepas dari pesatnya perkembangan industri pengolahan nikel domestik setelah pemerintah melarang ekspor bijih nikel mentah pada 2020.

Pada 2024, produksi nikel Indonesia mencapai lebih dari 2,3 juta metrik ton atau lebih dari 62% produksi nikel global. Perkembangan tersebut memperkuat posisi Indonesia dalam rantai pasok baja tahan karat sekaligus mendukung pertumbuhan industri kendaraan listrik.

Namun, ekspansi industri pengolahan mineral juga meningkatkan kebutuhan energi secara signifikan. Industri seperti nikel, aluminium, dan baja membutuhkan pasokan listrik dalam jumlah besar dan berkelanjutan.

“Untuk industri yang membutuhkan energi besar seperti nikel, aluminium, dan baja, pusat-pusat peleburan umumnya berada di daerah terpencil dengan akses terbatas ke jaringan listrik nasional,” demikian disebutkan dalam analisis.

Sebagian besar fasilitas smelter nikel berada di Sulawesi dan Maluku Utara, jauh dari jaringan utama sistem kelistrikan nasional seperti interkoneksi Jawa-Madura-Bali, Sumatra, dan Kalimantan.

Selain itu, tingginya penggunaan batu bara captive menjadi tantangan bagi agenda transisi energi Indonesia. Pengembangan industri pengolahan mineral perlu berjalan bersamaan dengan upaya menekan emisi dari sektor energi. (Fi Yun)