Beranda Berita Nasional BRIN Dorong Keseimbangan Ekonomi dan Ekologi lewat Inovasi

BRIN Dorong Keseimbangan Ekonomi dan Ekologi lewat Inovasi

96
0
Kepala BRIN, Prof. Dr. Arif Satria (Foto: MNI/Shiddiq)

NIKEL.CO.ID, JAKARTA — Kepala Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN,) Prof. Dr. Arif Satria, menekankan pentingnya menjaga keseimbangan antara pertumbuhan ekonomi dan kelestarian lingkungan melalui penguatan riset, teknologi, dan inovasi.

Hal itu disampaikan Arif dalam acara Annual Business Meeting 2026 bertema “Beyond Boundaries, Toward Global Excellence: Advancing Sustainable Mining Services Through Innovation and Collaboration”, di J.W. Marriott Hotel, Jakarta, Senin (21/9/2026).

Menurut dia, terdapat tantangan dalam menjaga keseimbangan antara kepentingan ekonomi dan ekologi. Ia mengibaratkan rasionalitas ekonomi sebagai gas dan rasionalitas ekologi sebagai rem.

“Kalau remnya terlalu kuat, pertumbuhan tidak jalan. Tapi, kalau gasnya terlalu kencang, maka terjadi kerusakan,” katanya. 

Karena itu, diperlukan titik keseimbangan agar pertumbuhan ekonomi tetap berjalan tanpa mengorbankan keberlanjutan lingkungan. Konsep tersebut, sejalan dengan modernisasi ekologis yang menempatkan teknologi dan inovasi sebagai salah satu instrumen untuk mencapai keseimbangan tersebut.

Dia juga menyoroti pentingnya kekuatan human capital dan inovasi dalam menentukan daya saing suatu negara. Hasil uji korelasi yang dilakukannya menunjukkan adanya hubungan positif antara indeks inovasi dengan sejumlah indikator ekonomi dan daya saing.

“Artinya, memang, ketika kita mengarah posisi dalam skor inovasi indeks nomor 55 di dunia, di ukuran lain juga selevel itu,” ujarnya.

Penguatan inovasi dan sumber daya manusia, lanjutnya, menjadi penting agar Indonesia dapat meningkatkan posisi dalam persaingan global. Contohnya, kemajuan teknologi China yang salah satunya ditopang oleh keberhasilan sektor pendidikan dan proses alih teknologi yang berlangsung cepat.

Guru besar kelahiran Pekalongan, Jawa Tengah, itu menyebut jumlah paten menjadi salah satu indikator perkembangan inovasi. Berdasarkan data yang disampaikannya, pendaftaran paten pada 2024 mencapai sekitar 1,7 juta di China, dibandingkan sekitar 500 ribu di Amerika Serikat, 400 ribu di Jepang, 100 ribu di Jerman, 300 ribu di Korea Selatan, dan 15 ribu di Indonesia.

“Artinya, kalau dilihat dari kemajuan teknologi kita dengan Tiongkok ini agak tertinggal 30 tahun, tapi itu bukan membuat kita pesimis,” katanya. 

Ia menegaskan, penguatan riset dan inovasi diperlukan untuk menghasilkan solusi bagi industri, memberikan kontribusi terhadap pembangunan, sekaligus mendorong pengembangan pendidikan berbasis teknologi. (Shiddiq)