
NIKEL.CO.ID, JAKARTA – Hilirisasi mineral kritis harus dipercepat untuk memperkuat posisi Indonesia dalam rantai pasok global. Meningkatnya kebutuhan dunia terhadap mineral strategis untuk transisi energi dan industri digital menjadi peluang besar yang harus dimanfaatkan Indonesia.
Hal itu ditegaskan Menteri Koordinator (Menko) Bidang Perekonomian, Airlangga Hartarto, dalam pidato pembukaan acara Digital Transformation Indonesia (DTI) Conference di Jakarta Internasional Convention Centre (JICC), Senayan, Jakarta, Rabu (5/8/2026).
Airlangga mengatakan, Amerika Serikat (AS) kini memberi perhatian besar terhadap pengembangan mineral kritis. Karena itu, pemerintah menawarkan kerja sama yang berorientasi pada pengembangan industri hilir di dalam negeri, bukan sekadar ekspor bahan mentah.

“Amerika lebih mendorong ke arah mineral kritis. Mereka melihat ketergantungan terhadap hardware critical mineral yang ingin mereka kejar. Dan, itu pula yang Indonesia tawarkan. Untuk critical mineral, dipersilakan dikerjasamakan dengan Indonesia,” ungkapnya.
Ia menjelaskan, mineral kritis Indonesia, seperti nikel dan silika, memiliki peran penting dalam mendukung industri masa depan, mulai dari baterai kendaraan listrik, panel surya, hingga pusat data (data center) dan kecerdasan buatan (artificial intelligence/AI). Karenanya, hilirisasi menjadi langkah strategis agar nilai tambah dinikmati di dalam negeri.
Sebagai contoh, Menko Perekonomian itu menyebut Indonesia telah memiliki kapasitas produksi panel surya hingga sekitar 10 gigawatt yang berasal dari hilirisasi silika. Kapasitas tersebut seharusnya menjadi modal untuk memenuhi kebutuhan energi nasional. Apalagi, ekspor panel surya Indonesia ke Amerika Serikat yang sempat meningkat hingga 150% justru direspons dengan pengenaan bea masuk sebesar 150%.

“Kita ekspor ke Amerika naik 150%. Akibatnya dikenakan biaya masuk 150%. Kalau begitu, kita pakai sendiri karena kebutuhan energi kita sangat besar,” katanya.
Pengembangan industri berbasis mineral kritis, katanya melanjutkan, akan mendukung pertumbuhan sektor digital. Pusat data, komputasi kuantum (quantum computing), dan AI membutuhkan pasokan energi yang besar dan berkelanjutan.
“Quantum computing dan AI tidak bisa dibangun tanpa tanah, tanpa air, dan tanpa energi. Indonesia memiliki keunggulan itu,” ujarnya.

Selain memiliki cadangan mineral strategis, Indonesia juga perlu didukung infrastruktur digital yang terus berkembang, mulai dari jaringan serat optik bawah laut hingga konektivitas satelit. Kondisi tersebut dinilai menjadi daya tarik bagi investor yang ingin mengembangkan industri berbasis mineral kritis di Indonesia.
Mantan Ketua Umum Partai Golkar itu menilai, peluang tersebut tidak akan berlangsung selamanya. Karena itu, pemerintah mendorong percepatan hilirisasi agar Indonesia dapat menjadi pusat industri berbasis mineral kritis sekaligus pemain utama dalam ekonomi digital global.
“Ini adalah golden moment. Kita harus kejar dalam tiga sampai empat tahun ke depan. Untuk menjadi negara digital kita membutuhkan energi. Dari energi itulah lahir industri digital, kesempatan ekonomi, dan lapangan kerja,” pungkasnya. (Shiddiq)










































