Beranda Berita International Indonesia–Jerman Perkuat Kemitraan, Dorong Investasi, Pendidikan Vokasi, Hingga Transisi Energi

Indonesia–Jerman Perkuat Kemitraan, Dorong Investasi, Pendidikan Vokasi, Hingga Transisi Energi

78
0
Delegasi bisnis Jerman bersama Menko Perekonomian RI, Airlangga Hartart (Foto: Dok. Kemenko Perekonomian)

NIKEL.CO.ID, JAKARTA — Seiring dengan semakin eratnya hubungan ekonomi Indonesia dan Jerman, kedua negara terus membuka peluang pengembangan kerja sama pada berbagai sektor strategis. Investasi, energi terbarukan, semikonduktor, hingga pendidikan vokasi menjadi bagian dari agenda penguatan kemitraan ekonomi kedua negara.

Dalam konferensi pers usai pertemuan dengan Menteri Federal untuk Kerja sama Ekonomi dan Pembangunan Jerman, Reem Alabali Radovan, beserta rombongan delegasi bisnis yang bertajuk Indonesia-Germany Economic Partnership: Strengthening Partnership, Investment and Future Cooperation, di Jakarta, pada Kamis (20/08/2026), Menteri Koordinator (Menko) Bidang Perekonomian Republik Indonesia, Airlangga Hartarto, mengatakan, Jerman telah menjadi mitra Indonesia dengan lebih dari 250 perusahaan sudah berbisnis dan beroperasi di Indonesia dengan kumulatif dari 2021–2026 investasinya US$1,23 miliar.

Airlangga juga menyambutkan, rombongan delegasi bisnis Jerman untuk mendorong sejumlah pipeline project di sektor energi terbarukan (renewable energi). Penguatan rantai nilai semikonduktor juga menjadi salah satu hal yang dibahas, seiring dengan pentingnya pengembangan sektor tersebut bagi Indonesia. 

Selain itu, pendidikan vokasi menjadi bidang lain yang mendapat perhatian, mengingat Jerman memiliki kekuatan dalam pendidikan vokasi dan bidang tersebut penting bagi kedua negara.

Kedua pihak juga membahas mengenai perkembangan Indonesia-European Union Comprehensive Economic Partnership Agreement (IEU-CEPA) yang diharapkan dapat ditandatangani tahun ini. Kesepakatan tersebut menjadi salah satu bagian dari upaya memperkuat hubungan ekonomi Indonesia dengan kawasan Eropa, termasuk dalam menciptakan peluang kerja sama dan investasi yang lebih luas.

“Jerman juga merupakan mitra strategis dari Just Energy Transition Partnership (JETP) dan Jerman menjadi co-leading IPG (International Partners Group) dengan Jepang. Nilai proyek yang menjadi komitmen dalam JETP sebesar USD21,4 miliar,” katanya menjelaskan.

Selanjutnya, mantan Ketum Partai Golkar itu menginformasikan, Indonesia juga terus mendorong peningkatan proyek-proyek green energy agar dapat memperoleh akses pembiayaan, termasuk melalui Institut Kredit untuk Rekonstruksi atau Kreditanstalt für Wiederaufbau (KFW), bank pembangunan dan investasi milik negara Jerman. Upaya tersebut menjadi bagian dari pengembangan proyek energi hijau yang lebih konkret dan dapat mendukung penguatan kerja sama Indonesia–Jerman.

“Jerman mempunyai keunggulan di bidang riset terapan, precision manufacturing, standard industry, dan inilah yang kita ingin kerja samakan dalam pertemuan-pertemuan berikutnya,” pungkasnya.

Sementara itu, Menteri Reem Alabali Radovan menyampaikan komitmen Jerman untuk memperkuat kerja sama dengan Indonesia, baik di sektor ekonomi maupun pembangunan. Menurut Reem, pelaku usaha Jerman memiliki peluang untuk semakin berperan dalam pembangunan berkelanjutan di Indonesia, khususnya pada sektor energi terbarukan.

“Saya ingin memperkuat kerja sama kita di sektor ekonomi dan pembangunan. Kami telah membahas bagaimana memperkuat peran pelaku usaha Jerman dalam pembangunan berkelanjutan di Indonesia, khususnya di bidang energi terbarukan,” ujarnya.

Lebih lanjut, Juru Bicara Kementerian Koordinator Bidang Perekonomian, Haryo Limanseto, menambahkan, keterlibatan pelaku usaha menjadi salah satu kunci untuk menerjemahkan kemitraan Indonesia-Jerman ke dalam kerja sama yang lebih konkret. 

Pertemuan antara pemerintah dan delegasi bisnis kedua negara diharapkan dapat membuka ruang bagi pengembangan proyek dan investasi sekaligus memperkuat keterhubungan antara sektor publik dan swasta.

“Penguatan kemitraan Indonesia-Jerman perlu terus diarahkan pada kerja sama yang konkret dan memberikan nilai tambah bagi kedua negara. Dengan mempertemukan Pemerintah dan dunia usaha, berbagai peluang yang telah dibahas dapat ditindaklanjuti menjadi proyek dan investasi yang mendukung pengembangan ekonomi kedua negara,” imbuh Haryo. (Li Han)