
NIKEL.CO.ID, JAKARTA – Pemerintah terus memperkuat kapasitas industri nasional sebagai bagian dari upaya mempercepat hilirisasi dan industrialisasi guna meningkatkan nilai tambah sumber daya alam, memperkuat swasembada energi, serta memperluas daya saing industri dalam negeri di tengah ketidakpastian ekonomi global.
“Kita lihat bahwa ketidakpastian dan ketidakprediksian dunia ini masih terus berjalan. Oleh karena itu, bagi Pertamina menjadi penting untuk mencari sumber-sumber diversifikasi energi. Terima kasih juga dengan implementasi B50 dan selesainya RDMP (Refinery Development Master Plan, red) di Balikpapan, maka ketergantungan terhadap solar menjadi hilang. Jadi, kita sudah bisa produksi sendiri,” ujar Menteri Koordinator Bidang Perekonomian, Airlangga Hartarto, dalam keterangan resmi yang dikutip redaksi, Kamis (23/7/2026).

Airlangga menjelaskan, salah satu instrumen untuk mempercepat hilirisasi adalah peningkatan penggunaan produk dalam negeri (P3DN) melalui kebijakan tingkat komponen dalam negeri (TKDN). Kebijakan tersebut diharapkan mampu memperkuat rantai pasok industri nasional sekaligus meningkatkan kemampuan manufaktur dalam negeri untuk mendukung berbagai proyek strategis.
Ia juga mengapresiasi komitmen Pertamina yang mengalokasikan belanja produk dalam negeri lebih dari Rp500 triliun. Namun, ia menilai, belanja modal sektor migas dan petrokimia masih didominasi produk permesinan, komponen elektrik, serta jasa rekayasa (engineering) dari luar negeri.

“Kita ingin agar pekerjaan ini diambil oleh engineer-engineer Indonesia. Kemudian, beberapa alat yang juga sudah kita siap, tentunya di Indonesia sudah punya wellhead, sudah punya valve, punya pressure vessel, dan chemicals project ataupun product. Sehingga, tentu ini diharapkan kemampuan dan juga multiplier effect dari project betul-betul bisa dimanfaatkan oleh industri dalam negeri,” katanya.
Karena itu, mantan Ketua Umum Partai Golkar ini mendorong sinergi antarkementerian dan lembaga untuk memperkuat kapasitas industri rekayasa nasional agar mampu mengambil porsi lebih besar dalam proyek engineering, procurement, and construction (EPC). Penguatan kemampuan industri barang modal dan jasa rekayasa diharapkan memberikan dampak berganda terhadap pertumbuhan industri, penyerapan tenaga kerja, serta penguatan ekosistem hilirisasi nasional.

Indonesia memiliki peluang besar memanfaatkan momentum pertumbuhan investasi yang didukung harga energi yang kompetitif, ketersediaan tenaga kerja, serta berkembangnya berbagai kawasan industri dan kawasan ekonomi khusus (KEK). Momentum tersebut perlu dimanfaatkan untuk memperkuat fondasi industri nasional.
“Jadi, inilah kesempatan yang hanya bisa kita panen 3 sampai 4 tahun ke depan. Sesudah itu dunia berubah lagi. Oleh karena itu, kita manfaatkan dan kita kerja keras. Dan, kuncinya adalah kemampuan dari engineering dan capital goods, barang modal di Indonesia,” pungkasnya. (Tubagus)











































