Beranda Nikel APNI Soroti Penurunan Target Produksi Nikel 2026, Tekankan Pentingnya Kepastian Kebijakan

APNI Soroti Penurunan Target Produksi Nikel 2026, Tekankan Pentingnya Kepastian Kebijakan

Oleh Shiddiq

NIKEL.CO.ID, JAKARTA — Rencana Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) menurunkan target produksi bijih nikel pada 2026 ke kisaran 250–260 juta ton mendapat perhatian dari pelaku industri. Asosiasi Penambang Nikel Indonesia (APNI) menilai kebijakan tersebut perlu dilihat secara proporsional dan berbasis data.

Sekretaris Umum APNI, Meidy Katrin Lengkey, mengungkapkan, target tersebut tidak jauh berbeda dari realisasi produksi aktual.

Iklan
ASEAN Solar Storage Summit
11 12 Nov EV Charge Live ICE BSD
OK IKLAN 12 Nov 26 2026 SMM Annual Nickel Conf Shanghai China
Asia Intl Recycled Conference

“Perlu diluruskan bahwa realisasi produksi bijih nikel tahun 2025 hanya sekitar 270 juta ton, meskipun RKAB 2025 ditetapkan sekitar 379 juta ton,” ujar Meidy kepada Media Nikel Indonesia (www.nikel.co.id), di Jakarta, Rabu (21/1/2026) pagi.

Sekretaris Umum APNI, Meidy Katrin Lengkey (Foto: Dok APNI)

Sementara itu, berdasarkan data APNI, kebutuhan bijih nikel domestik pada 2026, khususnya untuk industri RKEF dan HPAL, diperkirakan mencapai sekitar 415 juta ton.

Ia menilai, pengendalian produksi berpotensi memberikan dampak positif, mulai dari menjaga keberlanjutan cadangan bijih nikel nasional hingga memperbaiki harga nikel global.

Iklan
ASEAN Solar Storage Summit
11 12 Nov EV Charge Live ICE BSD
OK IKLAN 12 Nov 26 2026 SMM Annual Nickel Conf Shanghai China
Asia Intl Recycled Conference

“Indonesia saat ini menguasai sekitar 67% produksi nikel dunia. Pengendalian produksi yang rasional dapat membantu menyeimbangkan pasar,” jelasnya.

Selain itu, kebijakan ini dinilai dapat mendorong industri untuk lebih fokus pada tata kelola, prinsip ESG, dan optimalisasi hilirisasi, bukan sekadar mengejar volume produksi.

Terkait dampak terhadap investasi, APNI menegaskan, penyesuaian target produksi tidak otomatis mengganggu rencana usaha, selama kebijakan dijalankan secara terukur dan konsisten.

Iklan
ASEAN Solar Storage Summit
11 12 Nov EV Charge Live ICE BSD
OK IKLAN 12 Nov 26 2026 SMM Annual Nickel Conf Shanghai China
Asia Intl Recycled Conference

“Bagi pelaku usaha, yang paling dibutuhkan bukan volume tinggi, melainkan kepastian kebijakan jangka menengah dan panjang, terutama terkait RKAB, rezim fiskal, serta arah hilirisasi,” ujarnya.

Menurutnya, stabilitas regulasi jauh lebih penting dibanding ekspansi agresif yang berisiko memicu over-supply, volatilitas harga, dan tekanan lingkungan.

APNI berharap kebijakan pengendalian produksi ke depan disampaikan lebih awal dan berbasis roadmap multi-tahun, disertai kepastian RKAB yang tepat waktu. Selain itu, kebijakan tersebut perlu terintegrasi dengan pengaturan harga, royalti, serta pengawasan ekspor.

“Pengendalian produksi bukan untuk melemahkan industri. Ini justru penting untuk menjaga keberlanjutan sumber daya, stabilitas harga, dan kepastian investasi jangka panjang,” pungkasnya. (Shiddiq)

Artikel ini berguna?

Perkembangan cerita ini

Liputan Khusus RKAB (Rencana Kerja dan Anggaran Biaya) →

  1. Prof. Telisa Falianty: Ketidakpastian Kebijakan dan Pasokan Bijih Tekan Kelayakan Investasi Nikel
  2. CRU: RKAB Indonesia Jadi Penentu Keseimbangan Pasar Nikel 2027
  3. FINI Apresiasi Perkembangan Minerba Convex 2026
  4. Ditjen Minerba Pastikan Evaluasi RKAB Disesuaikan Dengan Kemampuan Perusahaan
  5. Bahlil: RKAB Untuk Mencegah Kelebihan Pasokan Yang Berpotensi Menekan Harga Nikel di Pasar Global
  6. APNI Soroti Penurunan Target Produksi Nikel 2026, Tekankan Pentingnya Kepastian Kebijakan sedang Anda baca

Istilah di artikel ini

RKAB
Rencana Kerja dan Anggaran Biaya
RKEF
Rotary Kiln Electric Furnace
HPAL
High Pressure Acid Leaching
Kamus istilah lengkap →

Agenda industri terdekat

Semua agenda →