
NIKEL.CO.ID, JAKARTA – Ketua Umum Forum Industri Nikel Indonesia (FINI), Arif Perdana Kusumah, memproyeksikan produksi olahan nikel Indonesia pada 2026 mengalami penurunan menjadi 2,2 juta hingga 2,4 juta ton, dibandingkan produksi 2025 yang mencapai sekitar 2,5 juta ton. Penurunan tersebut dipengaruhi oleh kebijakan pemerintah dan penyesuaian operasional yang dilakukan pelaku usaha.
“Penyebabnya memang dua ya. Satu adalah dari sisi kebijakan sebenarnya, dan satu lagi pelaku usaha itu melakukan rekalibrasi terhadap operasinya. Sehingga ada beberapa hal yang tadi saya jelaskan. Pertama adalah ada beberapa penurunan dari utilisasi ya, terutama NPI. Kemudian di awal-awal tahun itu banyak tungku-tungku dari NPI itu dialihkan untuk memproduksi nickel-matte. Itu satu,” ujar Arif kepada Media Nikel Indonesia, nikel.co.id saat ditemui dalam acara “5th Nickel Producers, Processors & Buyers Conferens” di Jakarta, Rabu (4/11/2026)
Ia menjelaskan, penyesuaian tersebut terlihat dari penurunan utilisasi sejumlah fasilitas produksi Nickel Pig Iron (NPI). Selain itu, beberapa tungku yang sebelumnya digunakan untuk memproduksi NPI dialihkan untuk menghasilkan nickel matte. Perubahan tersebut menjadi salah satu faktor yang memengaruhi volume produksi nikel nasional pada tahun ini.
Ia mengungkapkan adanya perubahan strategi alokasi energi listrik di sejumlah kawasan industri besar. Sebagian fasilitas produksi nikel dihentikan, sementara alokasi listriknya dialihkan untuk mendukung kegiatan industri aluminium.
“Jadi kalau sekarang di beberapa kawasan industri itu, bukan hanya nikel saja, tapi juga ada aluminium. Listriknya ada di situ,” katanya.
Selain penyesuaian operasional, kenaikan biaya produksi turut memberikan tekanan terhadap industri pengolahan nikel. Kondisi tersebut terutama terjadi pada fasilitas pengolahan menggunakan teknologi High Pressure Acid Leach (HPAL), yang menghadapi peningkatan biaya bahan pendukung produksi, khususnya sulfur dan asam sulfat (sulfuric acid).
Menurutnya, tingginya biaya operasional membuat perusahaan harus menyesuaikan tingkat produksinya untuk menekan potensi kerugian. Fenomena El Niño memberikan dampak cukup signifikan terhadap kegiatan produksi nikel sepanjang 2026.
“Sehingga mereka mau tidak mau juga melakukan penurunan produksi. Karena apa? Karena yang untuk menekan kerugian, itu yang menyebabkan penurunan. Dan terakhir adalah fenomena dari el nino ini memang berdampak cukup signifikan. Makanya itu yang menyebabkan terjadinya penurunan pada tahun ini,” jelas Arif.
Di tengah penyesuaian produksi dalam negeri, perkembangan industri nikel global juga berpotensi memengaruhi tingkat produksi Indonesia. Ia menyinggung pertemuan sejumlah pemain utama industri nikel di China yang berencana melakukan pengurangan produksi. Apabila komitmen tersebut terealisasi, dampaknya terhadap penurunan produksi diperkirakan cukup besar.
“Mungkin perkiraan saya tadi dari 2,5 juta tahun 2025, 2026 itu ya antara 2,2 sampai 2,4 juta kurang lebih. Jadi penurunannya kurang lebih seperti ini. Nah, ya tentunya itu pengaruhnya terhadap konsumsi bijih nikel ya pasti akan berkurang juga,” ungkapnya.
Penurunan produksi tersebut diperkirakan turut memengaruhi kebutuhan bijih nikel sebagai bahan baku fasilitas pengolahan di dalam negeri. Ketika volume produksi smelter berkurang, konsumsi bijih nikel untuk memenuhi kebutuhan operasionalnya juga mengalami penurunan.
Arif mengatakan besaran penurunan konsumsi bijih nikel belum dapat dipastikan karena komitmen pengurangan produksi dari para pemain utama industri nikel di China masih perlu dilihat realisasinya. Meski demikian, perubahan tingkat produksi yang cukup signifikan diperkirakan akan berdampak terhadap kebutuhan bahan baku nikel. “Pasti berkurang dong, karena produksinya turun ya pasti berkurang. Berapa kurangnya ya kita lihat, karena komitmennya kan belum ketemu ya. Tapi perkiraan kami dengan perubahan produksi yang cukup signifikan, cukup banyak, itu pasti akan menurunkan konsumsi,” pungkasnya. (Tubagus)
Perkembangan cerita ini
Topik #Nikel Matte →
- FINI Proyeksikan Produksi Nikel Indonesia Tahun 2026 Turun Jadi 2,2 Juta Ton sedang Anda baca
- Menguatnya Wacana Pengurangan Produksi Nikel RI, Harga Naik 3,05%
- Ekspor Nikel Tumbuh 15,69 Persen, Target PNBP Tahun ini Rp165 Triliun
Istilah di artikel ini
Kamus istilah lengkap →Agenda industri terdekat
- 4NovKonferensi & Pameran The 5th Nickel Producers, Processors & Buyers Conference4–5 November 2026 · Shangri-La Hotel, Jakarta
- 10Nov
- 11Nov






























