Bukan Main, RI Pemilik Harta Karun Nikel Terbesar Dunia

NIKEL.CO.ID – Indonesia memiliki cita-cita untuk menjadi pemain baterai hingga kendaraan listrik kelas dunia. Bukan tanpa alasan, nyatanya sumber daya untuk membuat komponen baterai hingga kendaraan listrik tersebut ada di Indonesia. Negara ini memiliki kekayaan nikel yang luar biasa besar, bahkan menjadi pemilik cadangan nikel terbesar di dunia.

Berdasarkan data Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) 2020 dalam booklet bertajuk “Peluang Investasi Nikel Indonesia”, Indonesia disebut memiliki cadangan nikel sebesar 72 juta ton Ni (nikel). Jumlah ini merupakan 52% dari total cadangan nikel dunia yang mencapai 139.419.000 ton Ni.

Data tersebut merupakan hasil olahan data dari USGS Januari 2020 dan Badan Geologi 2019.

“Indonesia memiliki cadangan nikel terbesar di dunia, artinya Indonesia berperan penting dalam penyediaan bahan baku nikel dunia,” tulis keterangan data tersebut.

Selain Indonesia, negara mana saja yang menyimpan harta karun nikel terbesar di dunia?

Berikut daftarnya:

1. Indonesia, menguasai 52% cadangan nikel dunia.

2. Australia, menguasai 15% cadangan nikel dunia.

3. Brazil, menguasai 8% cadangan nikel dunia.

4. Rusia, menguasai 5% cadangan nikel dunia.

5. Gabungan sejumlah negara seprti Kuba, Filipina, China, Kanada, dan lainnya, menguasai 20% cadangan nikel dunia.

Produsen Nikel Terbesar Dunia

Selain pemilik harta karun nikel terbesar di dunia, Indonesia juga merupakan produsen nikel terbesar di dunia.

Pada 2019, Indonesia memproduksi 800 ribu ton Ni atau setara 30% dari produksi nikel dunia 2.668.000 ton Ni.

Mengutip data Kementerian ESDM yang mengolah data USGS 2020, berikut daftar negara dengan produksi nikel terbesar di dunia:

1. Indonesia 800.000 ton Ni atau 30% dari produksi dunia.

2. Filipina 420.000 ton Ni atau 16% dari produksi dunia.

3. Rusia 270.000 ton Ni atau 10% dari produksi dunia.

4. New Caledonia 220.000 ton Ni atau 8,2% dari produksi dunia.

5. Gabungan negara lainnya 958.000 ton Ni atau 36% dari produksi dunia.

Sumber: PPCNBC Indonesia

Read More

Ini 5 Produsen Nikel Terbesar RI, Siapa Jawaranya?

NIKEL.CO.ID – Indonesia dikaruniai ‘harta karun’ nikel yang sangat melimpah, bahkan cadangannya sampai miliaran ton dan merupakan negara dengan cadangan nikel terbesar dunia.

Besarnya ‘harta karun’ tambang RI ini, tak ayal bila RI bercita-cita menjadi pemain baterai kelas dunia. Pemerintah pun memulainya dengan menghentikan ekspor bijih nikel, dan mendorong investasi hilirisasi nikel.

Bahkan, sejumlah proyek pabrik (smelter) bahan baku baterai dengan nilai investasi mencapai US$ 6,25 miliar atau sekitar Rp 91 triliun (asumsi kurs Rp 14.500 per US$) pun tengah dikembangkan di Tanah Air.

Untuk menggarap proyek pabrik bahan baku baterai tersebut, setidaknya 32 juta ton bijih nikel per tahun dibutuhkan. Ini tentunya menjadi ajang penambang bijih nikel untuk berlomba-lomba meningkatkan produksi bijihnya.

Lantas, siapa saja yang akan diuntungkan dari proyek hilirisasi nikel ini? Siapa saja penambang bijih nikel terbesar di negara ini?

Berdasarkan data Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM), berikut daftar lima perusahaan dengan produksi bijih nikel terbesar di Indonesia saat ini:

1. PT Vale Indonesia Tbk (INCO)

PT Vale Indonesia Tbk memiliki sejumlah wilayah tambang nikel di Indonesia, antara lain:

– Blok Soroako, Kabupaten Luwu Timur (Sulawesi Selatan) dan Kabupaten Morowali (Sulawesi Tengah) dengan status operasi produksi.

– Blok Suasua, Kabupaten Kolaka Utara, Sulawesi Tenggara, dengan status operasi produksi.

– Blok Pomalaa, Kabupaten Kolaka dan Kolaka Timur, Sulawesi Tenggara, dengan status operasi produksi.

– Blok Bahodopi, Kabupaten Morowali (Sulawesi Tengah) dan Kabupaten Luwu Timur (Sulawesi Selatan), dengan status operasi produksi.

2. PT Bintang Delapan Mineral

Memiliki Izin Usaha Pertambangan (IUP) di Desa Bahomoahi, Bahomotefe, Lalampu, Lele, Dampala, Siumbatu, Bahodopi, Keurea, dan Fatufia, Kecamatan Bungku Tengah dan Bahodopi, Kabupaten Morowali, Sulawesi Tengah, dengan status operasi produksi dan luas wilayah 21.695 Ha.

3. PT Aneka Tambang Tbk (ANTM)

Memiliki sejumlah wilayah tambang, antara lain:

– Pulau Maniang, Kecamatan Wundulako, Kabupaten Kolaka, Sulawesi Tenggara.

– Kecamatan Pomalaa, Kabupaten Kolaka, Sulawesi Tenggara.

– Kecamatan Lasolo, Kabupaten Konawe Utara, Sulawesi Tenggara.

– Kecamatan Asera dan Molawe, Kabupaten Konawe, Kabupaten Konawe Utara, Sulawesi Tenggara.

– Kecamatan Maba dan Maba, Kabupaten Halmahera Timur, Maluku Utara.

4. PT Makmur Lestari Primatama

Memiliki wilayah tambang di Kecamatan Langgikima, Kabupaten Konawe Utara, Sulawesi Tenggara, dengan luas wilayah tambang 407 Ha.

5. PT Citra Silika Mallawa

Memiliki wilayah tambang di Kecamatan Lasusua, Kabupaten Kolaka Utara, Sulawesi Tenggara dengan luas wilayah 475 Ha.

Berdasarkan data dari Minerba One Data Indonesia (MODI) Kementerian ESDM yang dikutip CNBC Indonesia, hari ini, Rabu (07/07/2021), produksi Nickel Pig Iron (NPI) per hari ini mencapai 389.245,40 ton atau 43,20% dari target produksi tahun ini 901.080,00 ton.

Secara rinci, produksi Januari sebesar 68.928,02 ton, lalu naik di bulan Februari menjadi 74.801,70 ton, kembali naik di bulan Maret menjadi 77.923,55 ton. Lalu untuk bulan April turun menjari 73.371,16 ton, Mei naik jadi 80.958,03 ton, dan Juni data terakhir 12.790,99 ton.

Kemudian, produksi feronikel sebesar 760.819,92 ton atau 36,11% dari target produksi tahun ini 2.107.071,00 ton. Secara rinci, produksi bulan Januari sebesar 138.167,76 ton, kemudian naik di Februari menjadi 124.247,79 ton, dan kembali naik di Maret menjadi 141.260,31 ton. Selanjutnya di bulan April turun menjadi sebesar 135.595,81 ton, bulan Mei kembali turun menjadi 128.967,75 ton, dan bulan Juni data terakhir 91.187,25 ton.

Sementara itu, produksi nickel matte sampai saat ini mencapai 38.008,86 ton atau 48,73% dari target 78.000 ton. Secara rinci, produksi pada bulan Januari 6.088,82 ton, kemudian turun di bulan Februari menjadi 5.304,95 ton. Pada bulan Maret naik menjadi 7.703,24 ton, turun di bulan April menjadi 6.826,61 ton, Mei naik lagi jadi 7.657,30 ton, dan Juni data terakhir mencapai 4.427,95 ton.

Sumber: CNBC Indonesia

Read More

Harga Nikel-Tembaga Membubung, Pengusaha Tak Genjot Produksi

NIKEL.CO.ID – Harga sejumlah komoditas tambang sedang membubung tinggi atau mengalami tren super siklus, mulai dari batu bara, emas, nikel, hingga tembaga. Meski harga sedang naik tinggi, namun ternyata tak lantas membuat pengusaha bakal menaikkan produksinya.

Hal tersebut disampaikan oleh Pelaksana Tugas (Plt) Direktur Eksekutif Asosiasi Pertambangan Indonesia (Indonesia Mining Association/IMA) Djoko Widajatno Soewanto.

Menurutnya, sangat sulit menaikkan produksi dalam waktu dekat karena beberapa alasan.

Pertama, pengusaha pertambangan bekerja atas dasar Rencana Kerja dan Anggaran Biaya (RKAB) di mana RKAB harus mendapatkan persetujuan dari pemerintah.

“Kedua, operasi produksi direncanakan atas dasar cadangan yang tersedia,” ungkapnya kepada CNBC Indonesia, Rabu (19/05/2021).

Kemudian, faktor ketiga adalah mengubah teknik penambangan berarti mengubah rencana kerja jangka pendek dan jangka panjang. Setiap perubahan, imbuhnya, harus terlebih dahulu mengajukan uji kelayakan (Feasibility Study/ FS) dan Analisis Mengenai Dampak Lingkungan (AMDAL). Menurutnya, butuh waktu lama untuk bisa mendapatkan persetujuan perubahan tersebut.

“Pada umumnya, akan sangat sukar menambah jumlah peralatan tambang, karena dari proses pemesanannya sampai alat tiba, harga sudah berubah lagi,” ujarnya.

Dan faktor terakhir menurutnya yaitu faktor keekonomian dan teknis harus menjamin tingkat keselamatan yang tinggi dan juga memenuhi persyaratan lingkungan.

Seperti diketahui, harga sejumlah komoditas mineral kini sedang membubung tinggi. Nikel misalnya, Harga nikel sejak akhir tahun lalu hingga kini terus menanjak naik di atas US$ 16.000 per ton. Di awal 2021 harga nikel di London Metal Exchange sebesar US$ 17.344 per ton, lalu terus menanjak hingga akhirnya menembus rekor tertinggi pada 22 Februari 2021 yang mencapai US$ 19.689 per ton.

Meski setelahnya turun kembali, namun rata-rata masih berkisar US$ 16.000-an per ton dan pada Mei ini menunjukkan adanya perbaikan kembali. Pada perdagangan kemarin, Selasa (18/05/2021), harga nikel menyentuh US$ 18.142 per ton, meningkat dari sehari sebelumnya, Senin (17/05/2021) yang sebesar US$ 17.723 per ton.

Begitu juga dengan tembaga, Di awal Mei 2021, tepatnya tanggal 6 Mei 2021, harga tembaga di London Metal Exchange (LME) tembus di level US$ 10.025 per metrik ton (MT).

Tak berhenti di situ, harga tembaga terus saja naik, bahkan pada tanggal 10 Mei pekan lalu sempat menyentuh US$ 10.724,5 per MT, meski pada 14 Mei harus turun ke level US$ 10.212 per MT. Pada perdagangan kemarin, Selasa (18/05/2021), harga tembaga kembali naik menjadi US$ 10.465 per ton.

Dalam jangka panjang harga tembaga digadang-gadang masih akan terus menunjukkan tren positif. Harganya berpotensi menyentuh US$ 20.000 per MT di 2025. Proyeksi ini berdasarkan analisis Bank of America (BofA), seperti dilansir dari CNBC International.

Begitu pun dengan emas, di mana pada perdagangan kemarin, Selasa (18/05/2021), harga emas di LME menyentuh US$ 1.867,5 per troy ons.

Momen kenaikan harga semestinya bisa dimanfaatkan perusahaan untuk berinvestasi di proyek hilirisasi, seperti smelter untuk komoditas mineral, sejalan dengan program hilirisasi pemerintah. Namun nyatanya, hal ini tak langsung dilakukan pengusaha, kenapa?

Saat ditanya apakah ini waktu yang tepat untuk berinvestasi di sisi hilir di tengah kenaikan harga, Djoko mengatakan, ini tidak bisa serta merta dilakukan. Dia beralasan, adanya pendemi Covid-19 sejak 2020 lalu, banyak pengeluaran terkait dengan protokol kesehatan di lapangan.

“Belum dapat diprediksi, sehubungan dengan pandemic Covid-19 banyak pengeluaran untuk protokol kesehatan operasi di lapangan untuk tahun 2020, rata-rata ekstra berkisar 40 million, ini kesempatan untuk menutupi pengeluaran tersebut,” paparnya.

Memang, naiknya harga komoditas tambang menjadi kesempatan bagi RI untuk mendapatkan cuan besar-besaran di sektor tambang. Bagaimana tidak, ratusan juta ton batu bara, jutaan logam nikel, ratusan ribu ton katoda tembaga dan puluhan ton emas ditargetkan diproduksi setiap tahunnya. Bahkan, kebanyakan komoditas tambang tersebut masih diekspor.

Tahun ini Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) menargetkan penerimaan negara dari sektor pertambangan mineral dan batu bara mencapai Rp 39,01 triliun, naik tipis dari realisasi penerimaan negara pada 2020 yang sebesar Rp 34,65 triliun.

Dengan terus membubungnya harga hampir di semua komoditas tambang, baik batu bara, emas, nikel, dan tembaga membuat realisasi penerimaan negara hingga awal Mei ini tercatat sudah mencapai separuh dari target, tepatnya Rp 19,15 triliun atau 48,97% dari target satu tahun ini.

Namun, untuk jangka panjang, keuntungan yang diperoleh dari kenaikan harga saat ini lebih baik jika dioptimalkan untuk berinvestasi hilirisasi, sehingga ketika harga komoditas semakin membubung, nilai tambah dari produk tambang yang dijual juga semakin berlipat-lipat dan tentunya akan memiliki efek berganda bagi perekonomian sekitar tambang dan nasional.

Sumber: CNBC Indonesia

Read More

Tiga Smelter Nikel Beroperasi, Produksi Feronikel 2021 Melonjak

NIKEL.CO.ID – Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) menargetkan produksi feronikel dari smelter di dalam negeri pada 2021 ini melonjak 45% menjadi 2,1 juta ton dari 1,45 juta ton pada 2020.

Hal tersebut tercantum dalam data Minerba One Data Indonesia (MODI) Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral.

Lonjakan tersebut sejalan dengan target beroperasinya tiga smelter nikel baru pada tahun ini.

Hal tersebut sempat diungkapkan Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Arifin Tasrif.

“Total realisasi fasilitas pemurnian mineral sampai dengan 2020 sebanyak 19 smelter dan 2021 sebanyak 23 smelter,” ungkapnya saat konferensi pers ‘Capaian Kinerja Sektor ESDM Tahun 2020 Dan Rencana Kerja Tahun 2021’, Kamis (07/01/2021).

Sedangkan untuk produksi Nickel Pig Iron (NPI) pada 2021 ditargetkan hanya naik 4,7% mencapai 901 ribu ton, dibandingkan realisasi produksi 2020 yang sebesar 860.484 ton.

Di sisi lain, produksi nickel matte justru diperkirakan turun 15% menjadi 78.000 ton pada 2021, dari 91.704 ton pada 2020. Perkiraan penurunan produksi nickel matte pada tahun ini juga sejalan dengan penurunan produksi dari PT Vale Indonesia Tbk (INCO). Vale merupakan salah satu produsen nickel matte terbesar di Indonesia.

Sepanjang 2020, Vale mencatatkan peningkatan produksi nikel dalam matte menjadi 72.237 ton, naik 2% dibandingkan 2019 yang sebesar 71.025 ton. Sementara pada 2021 ini perusahaan memperkirakan produksi nickel matte turun karena adanya perbaikan tungku (furnace) smelter mulai Mei-November 2021 mendatang.

Hal tersebut diungkapkan Direktur Keuangan Vale Bernardus Irmanto beberapa waktu lalu.

Pemerintah kini terus mendorong hilirisasi sektor tambang, termasuk nikel. Hal ini terlihat dari gencarnya pemerintah mendekati sejumlah perusahaan baterai lithium hingga mobil listrik untuk membangun industri baterai hingga mobil listrik terintegrasi dari hulu hingga hilir di Tanah Air.

Sejumlah perusahaan asing dan lokal bahkan kini dikabarkan sedang melakukan uji tuntas (due diligent) untuk mengakuisisi pertambangan nikel di Indonesia. Selain itu, semakin meningkatnya harga nikel juga mendorong penambang yang ada saat ini meningkatkan produksinya.

Hal tersebut diungkapkan Sekretaris Jenderal Asosiasi Penambang Nikel Indonesia (APNI) Meidy Katrin Lengkey.

“Untuk proses akuisisi, memang ada beberapa perusahaan tambang yang banyak diminati oleh perusahaan asing dan lokal untuk diakuisisi sebagian sahamnya, tapi setahu kami saat ini sedang dalam proses due diligent,” ungkapnya kepada CNBC Indonesia, Jumat (26/02/2021).

Meidy mengatakan, semakin banyaknya calon investor yang berminat mengakuisisi tambang nikel ini juga dipicu oleh semakin tingginya harga nikel.

“Apalagi harga sekarang untuk HPM (Harga Patokan Mineral) naik terus,” ujarnya.

Berdasarkan data MODI per Jumat (26/02/2021), pada Januari 2021 produksi NPI pada mencapai 68.370 ton, feronikel 116.055 ton, dan nickel matte 6.088 ton.

Komoditas nikel menjadi salah satu yang ‘kebal’ terhadap dampak pandemi Covid-19, terlihat dari capaian produksi 2020 yang melebihi target.

Sumber: CNBC Indonesia

Read More

APNI Proyeksikan Produksi Nikel Tahun 2021 Akan Naik, Ini Alasannya

NIKEL.CO.ID – Ekonomi yang berangsur pulih seiring dengan penanganan pandemi covid-19 ditaksir bakal meningkatkan produksi dan penjualan produk mineral Indonesia pada tahun 2021, termasuk untuk komoditas bijih nikel.

Sekretaris Jenderal Asosiasi Penambang Nikel Indonesia (APNI) Meidy Katrin Lengkey optimistis pemulihan covid-19 seiring dengan vaksinasi bakal meningkatkan kinerja produksi dan penjualan nikel tahun ini.

Adapun pada tahun 2020 lalu, realisasi penjualan bijih nikel ke smelter dari perusahaan anggota APNI tercatat sebesar 40 juta metric ton, atau sekitar 40% dari total Rencana Kerja dan Anggaran Biaya (RKAB) tahun lalu.

Meidy mengungkapkan, aktivitas produksi pertambangan bijih nikel mulai normal, apalagi diiringi dengan kenaikan harga mineral nikel dalam beberapa waktu belakangan ini.

“Tentu memacu para pengusaha pertambangan nikel untuk meningkatkan kapasitas produksi atau memaksimalkan kapasitas kuota RKAB yang ada,” terang Meidy, Senin (15/2/2021).

Saat ini, Harga Patokan Mineral (HPM) bijih nikel bulan Februari 2021 untuk kadar 1,8% dengan Moisture Content (MC) 30% ditetapkan dengan harga Free on Board (FoB) US$ 41,74 per metrik ton. Meidy memproyeksikan harga bijih nikel akan terus meningkat seiring dengan harga mineral nikel yang juga terus menanjak.

Mengenai target volume produksi dan penjualan bijih nikel tahun ini, Meidy belum membeberkan secara rinci. Yang pasti, capaian produksi dan penjualan akan menyesuaikan kapasitas input dari smelter.

Dihubungi terpisah, praktisi tambang dan smelter Arif S. Tiammar perkembangan ekonomi dan pasar saat ini memberi prospek positif bagi permintaan komoditas mineral dan logam. Terlebih, gairah produksi dan penjualan produk tambang juga bisa terangkat oleh momentum supercycle atas beberapa komoditas andalan Indonesia.

Pada siklus kali ini, harga beberapa komoditas ada dalam tren peningkatan seiring dengan naiknya kebutuhan beberapa industri yang sangat tergantung dengan pasokan mineral dan logam.

“Dengan demikian, prognosis awal atas produksi dan penjualan mineral dan logam Indonesia pada 2021 optimistis akan naik dan lebih baik dibandingkan tahun lalu,” ungkap Arif.

Terkait realisasi produksi tahun lalu, Direktur Pembinaan dan Pengusahaan Mineral Kementerian ESDM Sugeng Mujiyanto mengungkapkan realisasi produksi bijih nikel pada tahun lalu tercatat sebanyak 48 juta ton.

Dia menegaskan, sesuai aturan, ekspor bijih nikel pada tahun lalu sudah ditutup, sehingga seluruh penjualan diserap oleh pasar domestik.

“Semua produksi bijih nikel sejak 2020 diharuskan dijual di dalam negeri, tidak boleh di ekspor. Untuk 2021 (produksi dan penjualan) diharapkan dapat meningkat,” tegas Sugeng.

Meidy bilang, pemulihan ekonomi dan tren harga nikel saat ini menjadi sentimen yang sangat baik bagi penambang. Namun, bukan berarti implementasi tata niaga nikel domestik berjalan tanpa catatan. Pasalnya dalam pelaksanaannya masih banyak perusahaan smelter, traders dan perusahaan pertambangan yang belum mematuhi tata niaga domestik berdasarkan HPM.

Meidy pun mengungkapkan sejumlah catatan untuk perbaikan tata niaga nikel. Pertama, terkait harga FoB dan harga Cost, Insurance and Freight (CIF). Meidy bilang, saat ini harga yang berlaku adalah harga CIF, bukan FoB. Hal ini mengakibatkan penambang harus menanggung biaya angkut atau memberi subsidi.

Kontrak CIF yang berlaku adalah HPM ditambah US$ 2 per metric ton (MT).

“Artinya biaya pengiriman tongkang yang dibayarkan oleh perusahaan smelter hanya US$ 2 per MT, sementara biaya tongkang dari seluruh tambang menuju smelter berkisar antara US$ 4-US$ 12 per MT,” terang Meidy.

Atas kondisi tersebut, APNI meminta agar pemerintah dapat menyeragamkan biaya pengiriman tongkang menjadi US$ 6 per MT. Dengan begitu perusahaan tambang dengan lokasi yang jauh tidak terlalu berat menanggung biaya subsidi.

Kedua, harga pinalty yang tidak sesuai dengan HPM. Meidy membeberkan, perusahaan smelter hanya menerima bijih nikel dengan kadar di atas 1,8%, dengan kontrak pinalty jika terjadi penurunan kadar.

APNI pun meminta pemerintah untuk dapat mengatur kontrak pinalty agar sesuai dengan HPM.

“Sehingga jika terjadi penurunan kadar Ni, harga pinalty adalah sesuai dengan HPM,” terang Meidy.

Ketiga, terkait surveyor wasit (umpire). Pasalnya perusahaan smelter masih ada yang tidak memberlakukan umpire apabila terjadi penurunan kadar. Padahal hal ini sudah diatur dalam Peraturan Menteri ESDM No.11 Tahun 2020.

Alhasil, pada saat terjadi kasus perbedaan selisih (deviasi) kadar, tidak ada pihak yang dapat memberikan keputusan.

“Hal ini menyebabkan penambang berada dalam posisi yang sangat lemah atau kalah dikarenakan tidak dapat memperoleh hasil verifikasi akhir,” sambung Meidy.

Keempat, lambatnya hasil analisis laboratorium. Saat ini terdapat lima surveyor untuk menganalisa bijih nikel. Namun, pihak perusahaan smelter lebih banyak menggunakan Anindya Wiraputra Konsult dan Carsurin.

Akibatnya, terjadi penumpukan analisa oleh pihak surveyor Anindya Wiraputra Konsult dan Carsurin yang terlalu lama mengeluarkan hasil Certificate of Analysis (CoA). Hal ini berdampak kepada proses bisnis yaitu keterlambatan pembayaran.

APNI pun meminta agar dilakukan pembagian uji kadar analisa merata kepada lima surveyor terdaftar.

“Sehingga terjadi keadilan untuk surveyor lain dan hasil analisa bisa lebih cepat didapat,” pungkas Meidy.

Sumber: KONTAN

Read More

Tahun 2020, Antam Catat Rekor Produksi Feronikel Tertinggi Sepanjang Sejarah

NIKEL.CO.ID – PT Aneka Tambang Tbk (ANTM) telah melaporkan realisasi penjualan dan produksi selama 2020. Beberapa komoditas mengalami peningkatan produksi dan beberapa komoditas lainnya mengalami penurunan produksi dari tahun lalu.

Secara produksi nasional, komoditas mineral menjadi salah satu yang tahan banting terhadap dampak pandemi covid-19. Direktur Pembinaan dan Pengusahaan Mineral Direktorat Jenderal Mineral dan Batubara (Minerba) Kementerian ESDM Yunus Saefulhak mengungkapkan realisasi produksi katoda tembaga hingga November 2020 mencapai 91% dari target, emas 85% dari target, timah 70% dari target, feronikel 101% dari target, nickel pig iron (NPI) 127% dari target, dan nickel matter 108%.

Dilihat dari sisi produksi, ANTM mencatatkan volume unaudited feronikel sebesar 25.970 ton nikel dalam feronikel (TNi) sepanjang 2020. Hal ini menjadi prestasi ANTM dalam mencatatkan rekor produksi tertinggi sepanjang sejarah.

Sementara dari sisi penjualan, ANTM berhasil menjual 26.163 TNi feronikel selama 2020, menurun tipis 0,18% dari tahun 2019 yang sebesar 26.212 TNi.

Menurut pihak ANTM, feronikel sepenuhnya diserap oleh pasar ekspor terutama di Asia Timur dan Asia Selatan.

Sementara volume produksi bijih nikel unaudited yang digunakan sebagai bahan baku feronikel ANTM dan pelanggan domestik selama 2020 tercatat 4,76 juta wmt. Volume produksi ini menurun 45,2% dari tahun sebelumnya yaitu 8,69 juta wmt.

Selain produksi, penjualan bijih nikel sepanjang 2020 juga ikut terseret turun sebesar 3,29 juta wmt atau turun 56,39% dari realisasi tahun 2019 yang mencapai 7,55 juta wmt.

Sumber: duniatambang.co.id

Read More