
JAKARTA, NIKEL.CO.ID — Kebutuhan nikel untuk mendukung transisi energi global terus menempatkan Indonesia pada posisi strategis dalam industri mineral dunia. Namun, di balik peran nikel sebagai bahan baku baterai kendaraan listrik, terdapat tantangan besar untuk memastikan kegiatan pertambangan berjalan secara bertanggung jawab, dengan tetap memperhatikan kelestarian lingkungan, keselamatan kerja, dan keberlanjutan.

Inspektur Tambang pada Direktorat Jenderal Mineral dan Batubara (Ditjen Minerba) Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM), Yosafat R. Leonard, menegaskan bahwa tantangan industri pertambangan saat ini bukan sekadar meningkatkan produksi, melainkan memastikan proses produksi dilakukan dengan cara yang bertanggung jawab.
“Yang menjadi pertanyaan tentu bukanlah seberapa banyak yang bisa kita produksi, seberapa banyak yang bisa kita ambil, tetapi pertanyaannya bagaimana kita memproduksinya,” ujar Yosafat saat memaparkan materi bertajuk Mining for the Future mengenai implementasi Green Mining dalam kegiatan pertambangan, dikutip Jumat (23/10/2026).

Menurutnya, transisi menuju energi yang lebih ramah lingkungan tidak dapat dilepaskan dari kegiatan pertambangan. Berbagai teknologi energi bersih, mulai dari kendaraan listrik hingga panel surya, membutuhkan bahan baku mineral yang diperoleh melalui proses ekstraksi.
“Karena kita tidak mungkin bisa bertransisi tanpa ada bahan-bahan tersebut, tetapi bagaimana agar penambangannya bisa berjalan beriringan dengan cara yang bertanggung jawab, dengan cara yang berkelanjutan, itu yang menjadi topik utama kita,” katanya.

Yosafat menjelaskan, mineral seperti nikel, tembaga, kobalt, litium, grafit, dan unsur tanah jarang (rare earth elements) memiliki peran penting dalam pengembangan teknologi rendah emisi. Kebutuhan terhadap komoditas tersebut diperkirakan terus meningkat seiring dengan perkembangan teknologi energi bersih.
Karena itu, peningkatan produksi mineral perlu diimbangi dengan penerapan metode ekstraksi, pengolahan, dan pemurnian yang bertanggung jawab.
Yosafat juga mengingatkan bahwa besarnya peran mineral dalam transisi energi tidak boleh membuat pelaku industri mengabaikan dampak lingkungan dari kegiatan pertambangan.
Menurutnya, kegiatan pertambangan memiliki sejumlah risiko, mulai dari perubahan bentang lahan, deforestasi, penurunan kualitas air, hingga gangguan terhadap ekosistem.
Ia juga menyoroti pentingnya melihat dampak produksi mineral secara menyeluruh.

Penggunaan kendaraan listrik dan teknologi energi bersih memang menjadi bagian dari upaya mengurangi emisi, tetapi proses produksi bahan bakunya tetap perlu diperhatikan.
“Kita juga mungkin sering bangga bahwa nikel itu adalah energi, baterai itu adalah energi masa depan. Namun, kalau kita mau lebih seimbang, kita bisa melihat bahwa sebenarnya kita hanya memindahkan emisinya saja dari kota ke lokasi penambangan, ke lokasi pabriknya. Kita harus melihatnya juga secara holistik,” ungkapnya.
Pernyataan tersebut menegaskan bahwa manfaat nikel bagi transisi energi perlu disertai upaya untuk mengendalikan dampak lingkungan sepanjang proses produksinya.
Dengan demikian, pengembangan industri nikel tidak hanya berorientasi pada pemenuhan kebutuhan pasar, tetapi juga memperhatikan aspek keberlanjutan.

Good Mining Practice Menjadi Fondasi
Untuk menjawab tantangan tersebut, Yosafat menekankan pentingnya penerapan Good Mining Practice (GMP) atau kaidah teknik pertambangan yang baik. Penerapannya mencakup perencanaan tambang, pelaksanaan operasional, rehabilitasi lahan, serta pemantauan dan perbaikan secara berkelanjutan.
Dalam tahap perencanaan, perusahaan perlu memiliki desain tambang dan rencana operasional yang jelas, termasuk perencanaan penutupan tambang. Pada tahap operasional, pengendalian risiko harus dilakukan untuk melindungi keselamatan pekerja, lingkungan, sumber daya, dan masyarakat.
Sementara itu, kegiatan reklamasi dan pemulihan lahan perlu menjadi bagian dari pengelolaan tambang, bukan sekadar pekerjaan yang dilakukan setelah seluruh kegiatan produksi berakhir.
“GMP atau Good Mining Practice itu tidak sekadar hanya masalah kepatuhan terhadap regulasi, tetapi juga merupakan budaya yang ada di dalam implementasi perusahaan,” tegas Yosafat.

Ia menambahkan, penerapan GMP secara konsisten memungkinkan kegiatan produksi dan pemulihan lingkungan berjalan beriringan. Perusahaan tetap dapat mengoptimalkan pemanfaatan sumber daya mineral, tetapi pada saat yang sama harus mengelola risiko dan memenuhi tanggung jawab terhadap lingkungan. “Kalau GMP dijalankan dengan saksama, dengan konsisten, kita bisa melihat bahwa kegiatan tambang dan pemulihan bisa berjalan beriringan,” jelasnya. (Lili Handayani)






















