Beranda Korporasi Harita Nickel Manfaatkan Terak Nikel untuk Reklamasi Lahan Pascatambang

Harita Nickel Manfaatkan Terak Nikel untuk Reklamasi Lahan Pascatambang

86
0
Harita Nickel memanfaatkan slag nikel dari RKEF untuk soil ameliorant di lahan reklamasi pascatambang (Foto: Dok. Harita Nickel)

NIKEL.CO.ID, JAKARTA — Harita Nickel mengembangkan pemanfaatan terak (slag) nikel dari proses teknologi peleburan rotary kiln electric furnace (RKEF) menjadi soil ameliorant atau bahan pembenah tanah untuk mendukung reklamasi lahan pascatambang di Pulau Obi, Halmahera Selatan, Maluku Utara.

Pemanfaatan tersebut mengandalkan karakteristik terak nikel yang mengandung silika dan magnesium serta memiliki struktur berpori. Material tersebut dimanfaatkan sebagai bagian dari media tanam untuk mendukung perbaikan kondisi lahan di area reklamasi.

Pengembangan inovasi itu telah melalui studi lapangan di salah satu lubang tambang  (mine pit) di Pulau Obi pada 2024. Pengujian dilakukan dengan membandingkan media tanam yang menggunakan campuran slag nikel dan media tanam tanpa campuran slag, sekaligus memantau pertumbuhan tanaman.

Direktur HSE Harita Nickel, Tonny H. Gultom, mengatakan, pengembangan pemanfaatan slag merupakan bagian dari upaya perusahaan memperbaiki pengelolaan lingkungan dan material sisa.

“Evaluasi terhadap praktik yang telah dijalankan menjadi dasar kami untuk terus melakukan perbaikan di area yang masih perlu ditingkatkan,” ujar Tonny, dalam keterangan resminya, di Jakarta, dikutip Jumat (25/9/2026).

Hasil pengujian tersebut kemudian menjadi bagian dari pengembangan pemanfaatan terak nikel dalam prinsip ekonomi sirkular. Pemanfaatannya juga diperkuat dengan SNI 9420:2025 yang menjadi pedoman pemanfaatan slag nikel sebagai pembenah tanah dalam kegiatan reklamasi tambang nikel.

Sementara itu, Kepala Pusat Studi Reklamasi Tambang Institut Pertanian Bogor (IPB), Irdika Mansur, menilai, pemanfaatan terka nikel dapat memberikan nilai tambah terhadap material sisa dari industri nikel.

“Inovasi slag nikel yang dikembangkan Harita Nickel perlu terus dikembangkan dan dipelajari lebih lanjut karena manfaatnya mampu memberi nilai tambah. Hadirnya inovasi seperti ini mampu mendukung kegiatan reklamasi secara lebih sistematis karena dapat dimanfaatkan untuk memperbaiki kondisi media tanam di lahan pascatambang,” kata Irdika menjelaskan.

Pemanfaatan terak nikel menjadi bagian dari pendekatan reklamasi Harita Nickel di Pulau Obi. Hingga saat ini, perusahaan telah melakukan reklamasi di 272 hektare lahan pascatambang dengan memanfaatkan sejumlah vegetasi lokal, antara lain jabon merah, cemara, kayu putih, gofasa, dan gosale.

Selain itu, akademisi Fakultas Teknik Pertambangan Universitas Khairun, Almun Madi, menambahkan, pengelolaan material sisa perlu ditempatkan sebagai bagian dari keseluruhan siklus pengelolaan pertambangan.

“Pengelolaan material sisa harus menjadi bagian dari siklus pengelolaan tambang, termasuk bagaimana material tersebut dapat dikurangi, dikelola, atau dimanfaatkan kembali secara aman dan berbasis kajian,” tutur Almun.

Pengembangan terak nikel menjadi produk bernilai tambah, tuturnya lebih lanjut, dapat terus diperkuat melalui kolaborasi antara industri dan perguruan tinggi, terutama untuk menghasilkan inovasi berbasis riset yang sesuai dengan kebutuhan reklamasi.

Atas pengembangan inovasi tersebut, Harita Nickel meraih Tailings Innovation Award dalam Mining Magazine Awards 2026. Penghargaan tersebut menjadi salah satu bentuk pengakuan eksternal terhadap inovasi pemanfaatan material sisa yang dikembangkan perusahaan. (Shiddiq)