
NIKEL.CO.ID, JAKARTA — Masa depan industri nikel global akan ditentukan oleh kualitas praktik keberlanjutan, bukan semata-mata peningkatan volume produksi. PT Vale Indonesia Tbk. menilai pasar dunia kini membutuhkan nikel yang dapat ditelusuri asal-usulnya, rendah karbon, dan diproduksi secara berkelanjutan.
Hal tersebut disampaikan Executive Advisor for Nickel Downstreaming PT Vale Indonesia, Vinicius Mendes Ferreira, dalam sesi Nickel & Cobalt Forum bertema “Meet the Future of ESG: Standards, Challenges and Opportunities in Mining and Processing” pada ajang Indonesia Critical Minerals Conference & Expo (ICMCE) 2026 yang diselenggarakan Asosiasi Penambang Nikel Indonesia (APNI) bersama Shanghai Metals Market (SMM) di Pullman Central Park, Jakarta, Jumat (6/6/2026).
Menanggapi pertanyaan moderator Benjamin Katz mengenai strategi perusahaan dalam menghadapi kompleksitas rantai pasok dan tuntutan environment, social, and governance (ESG) yang semakin tinggi, Vinicius menjelaskan bahwa PT Vale membangun strategi bisnisnya di atas tiga pilar utama yang tidak dapat ditawar, yakni energi, pengelolaan sumber daya alam/lingkungan, dan teknologi.
Menurut dia, transisi menuju energi hijau menjadi syarat utama dalam pengembangan bisnis hilirisasi perusahaan. Operasi PT Vale di Sorowako selama ini didukung oleh pembangkit listrik tenaga air (PLTA) dan sumber energi terbarukan lainnya.
“Seiring dengan pengembangan hilirisasi yang sedang kami lakukan, prinsip yang tidak dapat ditawar adalah beralih menuju energi hijau untuk seluruh proses produksi. Kami hanya dapat melangkah maju dengan menggunakan energi hijau,” ungkapnya.
Selain energi, sambungnya, perusahaan juga menempatkan pengelolaan lingkungan sebagai prioritas utama. PT Vale saat ini mengelola konsesi seluas sekitar 118.000 hektare, sekitar 80% berada di kawasan hutan. Kondisi tersebut menuntut PT Vale untuk menjalankan praktik pertambangan yang bertanggung jawab, termasuk melalui program reklamasi pascatambang secara intensif.
“Sekitar 70% area yang telah selesai ditambang sudah direklamasi kembali dan dikembalikan kepada alam dengan konsep yang sama seperti ketika kami menerimanya dari alam,” ujarnya.

Pilar ketiga adalah pengembangan teknologi. Vinicius menilai kemajuan teknologi pengolahan nikel berlangsung sangat cepat dan menjadi faktor penting dalam menjawab tuntutan ESG yang semakin ketat. Salah satu fokus pengembangan teknologi PT Vale saat ini adalah pengelolaan tailing. Menurutnya, tailing masih menjadi salah satu isu lingkungan terbesar dalam industri nikel, khususnya di negara tropis seperti Indonesia yang memiliki tantangan geoteknik dan lingkungan yang kompleks.
Untuk itu, PT Vale tengah melakukan uji coba peleburan tailing di salah satu proyeknya di Pomalaa. Jika berhasil, tailing tidak hanya dapat dikelola dengan lebih baik, tetapi juga menghasilkan produk yang memiliki nilai ekonomi.
“Ketika tailing dilebur, material tersebut akan menghasilkan besi kasar (pig iron) serta terak (slag) yang masih dapat dimanfaatkan. Dengan demikian, limbah yang sebelumnya dianggap sebagai masalah berpotensi diubah menjadi material yang memiliki nilai ekonomi,” jelasnya.
Eksekutif senior yang berpengalaman lebih dari 30 tahun dalam industri metal dan pertambangan ini menambahkan, proses tersebut juga memungkinkan pemulihan sulfur yang terkandung dalam tailing untuk digunakan kembali dalam proses high pressure acid leach (HPAL). Langkah itu dinilai mampu menekan biaya operasional sekaligus mengurangi dampak lingkungan.
Selain itu, PT Vale juga melihat potensi penggunaan teknologi cyclone furnace untuk membantu menurunkan batas kadar ekonomis bijih (cut-off grade), sehingga pemanfaatan sumber daya mineral dapat dilakukan secara lebih optimal.
Dalam paparannya, ia menegaskan, industri nikel global saat ini tengah mengalami perubahan paradigma. Pasar tidak lagi hanya mencari pasokan dalam jumlah besar, tetapi juga memperhatikan aspek keberlanjutan dari produk yang dihasilkan.
“Dunia saat ini tidak membutuhkan lebih banyak volume nikel. Yang dibutuhkan dunia adalah nikel yang tepat, yang dapat ditelusuri asal-usulnya, memiliki jejak karbon rendah, dan diproduksi secara berkelanjutan,” katanya.
Meski perkembangan teknologi batera seperti LFP dan NCM/NMC masih menjadi perdebatan, PT Vale tetap optimistis terhadap prospek jangka panjang nikel. Permintaan diperkirakan akan tetap tumbuh untuk berbagai sektor yang membutuhkan energi berkepadatan tinggi, seperti drone, kecerdasan buatan (AI), robotika, dan industri penerbangan.
“ESG bukan lagi sebuah pilihan. ESG adalah sebuah keharusan,” katanya tegas. (Li Han)





































