
NIKEL.CO.ID, JAKARTA – Harita Nickel memperkuat implementasi Peta Jalan Dekarbonisasi (Decarbonization Roadmap) melalui penerapan Energy Management System (EnMS) berbasis ISO 50001 guna memastikan pengelolaan energi yang lebih efisien, terukur, dan berdampak pada penurunan emisi karbon.
Sebagai perusahaan dengan kebutuhan energi tinggi yang menopang aktivitas penambangan, pengolahan, hingga pembangkitan listrik di Pulau Obi, Halmahera Selatan, Harita Nickel mencatat konsumsi energi sebesar 113,19 juta gigajoule (GJ) sepanjang 2025. Dari jumlah tersebut, 38,94 juta GJ berasal dari inisiatif energi berkelanjutan (sustainable energy initiative/SEI), yang terdiri dari 64,7% energi baru dan 35,3% energi terbarukan.
Penerapan EnMS menjadi salah satu strategi utama perusahaan untuk mencapai target penurunan emisi gas rumah kaca (GRK) sebesar 30% pada 2032 melalui peningkatan efisiensi energi, optimalisasi bauran energi, dan perluasan penggunaan sumber energi non-fosil.

“Pelaksanaan dilakukan secara bertahap, dimulai dengan peningkatan kesadaran melalui sesi pelatihan, dilanjutkan dengan identifikasi kesiapan untuk menetapkan baseline dan target, serta persiapan perbaikan berkelanjutan untuk bidang operasional,” ujar ESG Transformation Manager of Harita Nickel, Zahedi Zakaria, Rabu (24/6/2026).
Langkah awal implementasi dilakukan pada 2025 melalui level 1 energy audit di area pertambangan, smelter, dan refinery sebagai fondasi untuk analisis penggunaan energi yang lebih mendalam. Cakupan EnMS dimulai dari area operasi penambangan pada 2025 dan akan diperluas ke smelter serta pembangkit listrik pada 2026.
Komitmen tersebut diperkuat melalui pelaksanaan Program Pelatihan EnMS Awareness and Gap Assessment pada Mei–Juni 2026 yang melibatkan berbagai fungsi operasional, mulai dari produksi, pembangkit listrik, maintenance, HSE hingga HR.

“Dalam sesi pelatihan, para peserta diperkenalkan pada dasar-dasar manajemen sistem, regulasi terkait, serta persyaratan ISO 50001:2018. Selain memberikan pengetahuan teknis, pelatihan ini juga memperkuat pemahaman lintas fungsi terkait bagaimana pengelolaan energi dapat diintegrasikan ke dalam aktivitas operasional sehari-hari,” tambah Zahedi.
Melalui EnMS, perusahaan dapat mengidentifikasi area dengan konsumsi energi tinggi, menemukan inefisiensi yang sebelumnya belum terukur, sekaligus memetakan peluang optimalisasi energi. Pendekatan ini melengkapi berbagai inisiatif keberlanjutan yang telah berjalan, termasuk pemanfaatan biodiesel, pengembangan solar photovoltaic (PV), pemanfaatan panas sisa proses pabrik asam, penggunaan kendaraan listrik, serta gasifikasi batu bara.

Upaya tersebut berkontribusi pada pencapaian pengurangan dan penghindaran emisi sebesar 3,15 juta ton CO₂e sepanjang 2025. Ke depan, hasil implementasi EnMS akan menjadi dasar penyusunan target kinerja energi, pengembangan rencana aksi efisiensi, serta integrasi indikator energi ke dalam evaluasi operasional perusahaan.
Dengan pengelolaan energi yang semakin disiplin dan berbasis data, Harita Nickel menempatkan EnMS sebagai instrumen penting untuk memastikan Peta Jalan Dekarbonisasi berjalan efektif sekaligus mendukung operasi yang lebih efisien dan rendah karbon. (Shiddiq)









































