Beranda Berita Nasional Ekspor Nikel Indonesia Tumbuh 17,2% Capai US$25,9 Miliar

Ekspor Nikel Indonesia Tumbuh 17,2% Capai US$25,9 Miliar

Dok. MNI/Shiddiq, foto: Dirjen Minerba Kementerian ESDM Tri Winarno, Kantor Kementerian ESDM Jakarta, Jumat (16/10/2026)

NIKEL.CO.ID, JAKARTA – Nilai ekspor nikel Indonesia mencapai US$25,9 miliar sepanjang Januari–Agustus 2026, meningkat 17,2% dibandingkan periode yang sama tahun lalu. Pertumbuhan tersebut terjadi di tengah penurunan volume ekspor sebesar 3,8% menjadi 1.571 kiloton.

Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) melalui akun Instagram resmi Direktorat Jenderal Mineral dan Batu Bara (Ditjen Minerba), @ditjenminerba, sebagaimana dikutip Senin (19/10/2026), menyebutkan bahwa peningkatan nilai ekspor sejumlah komoditas minerba sejalan dengan penguatan hilirisasi di dalam negeri.

“Data ini menunjukkan bahwa peningkatan nilai ekspor tidak hanya ditentukan oleh volume, tetapi juga oleh nilai tambah produk yang dihasilkan melalui proses pengolahan di dalam negeri,” tulis Ditjen Minerba dalam unggahannya.

Berdasarkan data tersebut, kenaikan nilai ekspor nikel yang mencapai 17,2% terjadi ketika volume pengirimannya justru turun 3,8%. Sementara itu, nilai per unit volume nikel meningkat 21,9%. Kondisi ini menunjukkan bahwa pertumbuhan nilai ekspor tidak selalu diikuti oleh peningkatan volume pengiriman.

Selain nikel, sejumlah komoditas minerba lainnya juga mencatatkan pertumbuhan nilai ekspor. Nilai ekspor batu bara meningkat 7,8% menjadi US$20,8 miliar, meskipun volumenya turun 7% menjadi 307.051 kiloton. Nilai per unit volumenya tercatat naik 15,9%.

Adapun nilai ekspor bauksit melonjak 43,5% menjadi US$3,8 miliar, seiring dengan peningkatan volume ekspor sebesar 25,5%. Sementara itu, nilai ekspor katode tembaga tumbuh 47,2% menjadi US$2,2 miliar.

Ditjen Minerba menjelaskan bahwa pengendalian pasokan turut berperan dalam menjaga keseimbangan pasar komoditas. Kondisi tersebut dapat memengaruhi pergerakan harga dan nilai ekspor, termasuk ketika volume pengiriman mengalami penurunan.

Dalam konteks nikel, penguatan hilirisasi menjadi salah satu upaya pemerintah untuk meningkatkan nilai tambah sumber daya mineral melalui pengolahan di dalam negeri. Kebijakan ini juga diarahkan untuk memperkuat daya saing produk nasional dan meningkatkan manfaat ekonomi dari pemanfaatan sumber daya alam Indonesia. Capaian ekspor nikel sebesar US$25,9 miliar tersebut menegaskan pentingnya melihat kinerja ekspor tidak hanya dari sisi volume, tetapi juga dari nilai produk yang diperdagangkan. Meski demikian, peningkatan nilai ekspor perlu dianalisis bersama data harga, jenis produk nikel yang diekspor, serta kontribusi masing-masing produk untuk memperoleh gambaran yang lebih utuh mengenai kinerja sektor nikel nasional. (Shiddiq)