
NIKEL.CO.ID, JAKARTA — Direktorat Jenderal Mineral dan Batubara (Ditjen Minerba) Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) mendorong perusahaan tambang nikel untuk mengelola sumber daya dan cadangan secara lebih terukur. Pengendalian pemanfaatan cadangan dinilai penting agar keberlanjutan pasokan bijih tetap terjaga sekaligus memberikan nilai ekonomi yang optimal bagi negara.
Direktur Pembinaan Pengusahaan Mineral (PPM) Ditjen Minerba, Cecep Mochammad Yasin, mengingatkan pelaku usaha agar tidak mengeksploitasi sumber daya dan cadangan nikel secara berlebihan atau terlalu cepat. Menurutnya, kegiatan produksi perlu berjalan seiring dengan upaya eksplorasi dan konservasi cadangan.
“Teman-teman pengusaha tetap harus fokus juga kepada kegiatan eksplorasi untuk sumber daya cadangan. Tentunya kita juga mengharapkan terkait dengan pemanfaatan sumber daya cadangan ini juga tolong dihemat-hemat gitu, Pak ya. Dalam hal ini jangan terlalu cepat juga,” ujar Cecep dalam diskusi Minerba Convex 2026 di Jakarta, Selasa (3/11/2026).
Ia juga menyoroti tekanan harga nikel yang kembali terjadi. Cecep menyebut harga komoditas tersebut bahkan bergerak mendekati level terendah pada 2025, yang berada di kisaran US$13.900 per ton. Kondisi ini menjadi salah satu pertimbangan dalam mengoptimalkan pengelolaan produksi dan cadangan nikel nasional.
“Dan impact-nya seperti saat ini harga nikel yang cukup drop, bahkan hampir mendekati ke angka harga nikel pada saat sebelum pemberlakuan pengaturan kuota produksi. Di tahun lalu 2025 angka terendah itu sekitar 13.900,” katanya.
Cecep kemudian mengaitkan pengelolaan produksi dengan upaya menjaga nilai ekonomi komoditas dan penerimaan negara. Ia menyampaikan bahwa pengalaman pada 2026 menunjukkan produksi yang relatif lebih kecil dapat diikuti penerimaan negara yang lebih besar dibandingkan tahun sebelumnya.
Menurutnya, pengelolaan nikel perlu diarahkan pada keseimbangan antara volume produksi dan harga komoditas, bukan semata-mata mengejar peningkatan jumlah produksi.
“Posisi nikel itu adalah harga tinggi, produksi sedikit tapi harga tinggi, kita sudah merasakan untuk tahun 2026 ini, meskipun produksi kita relatif kecil, pendapatan negara kita relatif lebih besar dibandingkan tahun yang lalu. Ini salah satu yang kita inginkan,” paparnya.
Ia meminta dukungan badan usaha agar upaya optimalisasi sumber daya dan cadangan dapat berjalan bersama. Pengendalian pemanfaatan cadangan, menurutnya, perlu disertai peningkatan eksplorasi sehingga kegiatan produksi saat ini tidak mengurangi kemampuan industri memperoleh bahan baku pada masa mendatang.
Selain itu, Cecep menekankan pentingnya integrasi data cadangan, kegiatan penambangan, dan kebutuhan industri pengolahan. Sinkronisasi tersebut diperlukan agar penetapan produksi dapat mempertimbangkan kebutuhan smelter sekaligus kemampuan cadangan yang tersedia.
“Untuk supaya ini bisa berjalan lancar juga, kebutuhan untuk integrasi data, khususnya data cadangan, data penambangan termasuk juga kebutuhan industri itu harus inline,” ujarnya.
Cecep menegaskan, perencanaan industri pengolahan seharusnya berangkat dari keberadaan sumber daya dan cadangan. Dengan demikian, pengembangan kapasitas smelter dapat diselaraskan dengan ketersediaan bahan baku dan keberlanjutan usaha pertambangan. Melalui pengelolaan tersebut, Direktorat Jenderal Minerba berharap pemanfaatan nikel dapat berlangsung lebih optimal dalam jangka panjang, sekaligus menjaga kontribusi sektor pertambangan terhadap penerimaan negara. (Lili Handayani)
Perkembangan cerita ini
Topik #Cadangan Bijih Nikel →
- Jaga Keberlanjutan Pasokan Bijih Nikel, ESDM Dorong Optimalisasi Sumberdaya dan Cadangan sedang Anda baca
- Ditjen Minerba Ungkap Cadangan Nikel Indonesia Diperkirakan Kurang dari 10 Tahun
- Deccan Gold Mines Limited India Telah Mengidentifikasi 4 Juta Ton Potensi Endapan Bijih Nikel
- Sekum APNI Paparkan Upaya Ketahanan Cadangan Nikel, Pemerintah Harus Lakukan Pengendalian
Agenda industri terdekat
- 4NovKonferensi & Pameran The 5th Nickel Producers, Processors & Buyers Conference4–5 November 2026 · Shangri-La Hotel, Jakarta
- 4NovKonferensi & Pameran SEMINAR APNI – HEATECH INDONESIA 20264 November 2026 · JIExpo Kemayoran, Hall A2, Conference Room 2
- 10Nov





























