


NIKEL.CO.ID, MOROWALI — PT Hengjaya Mineralindo menjadi salah satu lokasi pembelajaran lapangan dalam program Duta Minerba Goes to Site 2026. Kegiatan ini mempertemukan mahasiswa dengan kondisi nyata industri pertambangan mineral, khususnya dalam melihat secara langsung penerapan praktik pertambangan nikel yang baik dan berkelanjutan.
Program yang berlangsung pada 30 September hingga 2 Oktober 2026 tersebut memberikan kesempatan kepada peserta untuk mengenal lebih dekat aktivitas pertambangan bijih nikel laterit di Hengjaya Mineralindo, termasuk keterkaitannya dengan fasilitas pengolahan serta ekosistem hilirisasi mineral di Morowali.
Melalui kunjungan lapangan ini, mahasiswa tidak hanya diperkenalkan pada aspek teknis operasi pertambangan. Mereka juga mendapatkan pemahaman mengenai good mining practices(GMP), keselamatan pertambangan, pengelolaan lingkungan, reklamasi, Program Pengembangan dan Pemberdayaan Masyarakat (PPM), serta tanggung jawab sosial perusahaan atau corporate social respponsibility (CSR).
Kepala Teknik Tambang Hengjaya Mineralindo, Dwin Deswantoro, mengatakan, keterlibatan perusahaan dalam kegiatan tersebut merupakan bagian dari dukungan terhadap peningkatan kapasitas generasi muda sekaligus upaya memperluas pemahaman publik tentang industri pertambangan.
“Kami menyambut baik kehadiran para peserta Duta Minerba Goes to Site 2026 di Hengjaya Mineralindo. Melalui kegiatan ini, peserta diharapkan tidak hanya memperoleh gambaran mengenai kegiatan pertambangan nikel, tetapi juga memahami pentingnya keselamatan pertambangan, pengelolaan lingkungan, pemberdayaan masyarakat, dan tata kelola pertambangan yang bertanggung jawab,” ungkap Dwin melalui keterangan pers yang diterima Media Nikel Indonesia (www.nikel.co.id), Jumat (2/10/2026).

Melihat Langsung
Rangkaian kunjungan diawali dengan orientasi dan safety induction bagi seluruh peserta sebelum memasuki wilayah operasional perusahaan. Setelah itu, mahasiswa mengikuti sejumlah agenda pembelajaran yang dirancang untuk memberikan gambaran menyeluruh mengenai kegiatan pertambangan dan hilirisasi nikel.
Peserta berkesempatan mengamati aktivitas operasional tambang serta mempelajari karakteristik penambangan bijih nikel laterit. Pembelajaran juga mencakup pengenalan teknologi pengolahan nikel yang menggunakan metode rotary kiln electric-furnace(RKEF) dan high pressure acid leaching (HPAL).
Selain itu, mahasiswa diperkenalkan pada hubungan antara kegiatan penambangan dengan agenda hilirisasi mineral nasional. Aspek penerapan GMP dalam kegiatan pertambangan, pengelolaan lingkungan, reklamasi, hingga pelaksanaan PPM dan CSR turut menjadi bagian dari materi yang dipelajari.
Dengan pola pembelajaran tersebut, peserta diharapkan dapat melihat bahwa aktivitas pertambangan tidak berdiri sendiri, melainkan menjadi bagian dari rantai industri mineral yang lebih luas.

Dorong Kolaborasi Pemerintah, Industri, dan Kampus
Duta Minerba Goes to Site 2026 juga membawa misi untuk memperkuat kerja sama antarpemangku kepentingan. Pemerintah, perusahaan pertambangan, perguruan tinggi, mahasiswa, dan masyarakat memiliki peran masing-masing dalam membangun pemahaman mengenai pengelolaan sektor minerba.
Dalam program ini, perusahaan memberikan ruang bagi peserta untuk belajar melalui pengalaman langsung di lapangan. Dukungan tersebut mencakup akses kunjungan, informasi dan data yang dapat dibagikan, narasumber, serta penjelasan mengenai peran pertambangan dalam hilirisasi, PPM, reklamasi, konservasi, dan pengembangan kegiatan mineral nasional.
Di sisi lain, mahasiswa tidak hanya ditempatkan sebagai penerima materi. Hasil pengamatan selama berada di lapangan diharapkan dapat diolah menjadi bahan analisis dan materi edukasi publik yang objektif serta berdasarkan pengalaman faktual.
Nuansa Mahardika dari Humas Minerba mengatakan, program tersebut menjadi salah satu sarana untuk memperkenalkan praktik pertambangan secara lebih nyata kepada generasi muda.
“Melalui Duta Minerba Goes to Site 2026, kami ingin menghadirkan pengalaman belajar yang autentik bagi mahasiswa agar dapat memahami secara langsung praktik pertambangan yang baik, bertanggung jawab, dan berkelanjutan. Harapan kami, para peserta tidak hanya menjadi penerima pengetahuan, tetapi juga menjadi agen edukasi yang mampu menyampaikan informasi mengenai sektor minerba secara objektif, berbasis data, dan relevan bagi masyarakat luas,” ungkap Nuansa Mahardika.

Agen Edukasi Minerba
Kehadiran peserta di lokasi tambang diharapkan dapat memberikan perspektif yang lebih lengkap mengenai industri pertambangan. Pengalaman melihat aktivitas operasional secara langsung menjadi kesempatan bagi mahasiswa untuk membandingkan pengetahuan akademik dengan penerapannya di lapangan.
Hengjaya Mineralindo menilai pembelajaran langsung tersebut penting agar pemahaman terhadap sektor pertambangan tidak hanya terbentuk dari teori, tetapi juga melalui pengamatan terhadap proses produksi, aspek keselamatan, pengelolaan lingkungan, hubungan dengan masyarakat, hingga kontribusi terhadap hilirisasi.
Dwin menambahkan, pengalaman yang diperoleh peserta diharapkan dapat menjadi bekal ketika mereka menyampaikan informasi mengenai industri pertambangan kepada masyarakat.
“Kami berharap pengalaman lapangan ini dapat menjadi bekal bagi peserta untuk menyampaikan informasi mengenai sektor pertambangan secara objektif, kritis, dan berbasis fakta, sehingga menjadi laboratorium nyata untuk menyatukan teori dengan praktik, sehingga menjadi inspirasi untuk selalu berinovasi demi pertambangan Indonesia yang berkelanjutan,” ujarnya.
Melalui kegiatan tersebut, Hengjaya Mineralindo berharap Duta Minerba Goes to Site 2026 dapat memperluas wawasan mahasiswa mengenai pertambangan nikel sekaligus memperkuat pemahaman tentang pentingnya keberlanjutan dalam setiap tahapan kegiatan pertambangan. Program ini juga menjadi ruang bagi generasi muda untuk mengenal lebih dekat bagaimana kegiatan pertambangan, pengelolaan lingkungan, pemberdayaan masyarakat, keselamatan kerja, dan hilirisasi dapat berjalan dalam satu ekosistem industri mineral. (Li Han)








































