Tsingshan Amankan Pasokan Bijih Nikel dari Indonesia Hingga Akhir 2022

Tsingshan akan mendapat pasokan nikel dari tambang milik Silkroad Nickel di Morowali, Sulawesi Tengah.

NIKEL.CO.ID – Produsen baja dan nikel asal Tiongkok, Tsingshan, telah menandatangani kesepakatan pembelian bijih nikel selama dua tahun dari Silkroad Nickel. Komoditas itu akan berasal dari tambang bijih nikel laterit di Morowali, Sulawesi Tengah.

Silkroad akan memasok 2,7 juta metrik ton kering (dmt) bijih nikel kadar tinggi dari Maret 2021 hingga Desember 2022. Perusahaan tambang yang berbasis di Singapura itu telah bersiap untuk pengiriman perdana dalam dua minggu ke depan.

Minimum pengirimannya adalah 50 ribu metrik ton per bulan.

“Secara bertahap kami akan meningkatkan produksi mulai April 2021 dan seterusnya untuk memenuhi komitmen offtaker yang baru,” kata Direktur Eksekutif dan Kepala Eksekutif Silkroad Hong Kah Ing, dikutip dari Argus Media, Rabu (17/3/2021).

Nilai kontraknya diperkirakan mencapai US$ 90 juta atau sekitar Rp 1,3 triliun. Angka ini berdasarkan harga patokan bijih nikel yang ditetapkan pemerintah Indonesia.
Tsingshan pada awal bulan ini sepakat untuk memasok nikel matte ke pabrik peleburan kobalt, Huayou Cobalt, dan produsen energi terbarukan, CNGR. Nikel matte merupakan nikel sulfida yang diproduksi dari hasil peleburan atau smelting. Produk tersebut dapat diproses lebih lanjut menjadi bahan kimia untuk produksi baterai.

Kesepakatan itu telah merusak perkiraan pasar. Harga nikel lalu anjlok 8% pada 4 Maret 2021 di London Metal Exchange. Angkanya menjadi US$ 15.945 per ton, kerugian intraday terbesar sejak Desember 2016.

Padahal, harga patokan itu sempat mencapai level tertinggi dalam enam tahun terakhir. Pelaku pasar sebelumnya memprediksi harga akan terus naik karena lonjakan permintaan dari sektor kendaraan listrik tapi produksinya terbatas.

Bos Tesla, Elon Musk, bahkan menyebut produksi nikel menjadi perhatian utama perusahaan. Mineral ini merupakan salah satu bahan baku pembuatan baterai lithium-ion untuk menggerakkan mobil listrik.

Dengan hadirnya kesepakatan Tsingshan untuk memproduksi massal nikel matte, kenaikan harganya menjadi terbatas.

“Ini secara substansial akan meredakan kekhawatiran kekurangan bahan baterai,” kata analis Mysteel Celia Wang kepada Bloomberg.

Pasokan nikel dari Silkroad akan digunakan untuk produksi nikel matte Tsingshan. Perusahaan juga berencana membangun fasilitas energi bersih berkapasitas dua ribu megawatt di Indonesia dalam tiga hingga lima tahun ke depan untuk mendukung operasinya di Asia Tenggar.

Sedangkan Silkroad, mengutip dari Reuters, adalah perusahaan yang bergerak dalam bidang eksplorasi, penambangan, produksi, dan penjualan bijih nikel. Perusahaan memiliki izin usaha pertambangan untuk melakukan operasi penambangan bijih nikel di sekitar 1.301 hektare (ha) di wilayah konsesi Kabupaten Morowali, Sulawesi Tengah.

Proyek Tsingshan di Indonesia

Tsingshan juga sempat disebut oleh Menteri Koordinator Bidang Kemaritiman dan Investasi Luhut Binsar Pandjaitan dalam proyek pabrik pemurnian atau smelter tembaga PT Freeport Indonesia.

Kedua perusahaan bakal membangun pabrik itu di Kawasan Kawasan Industri Weda Bay, Halmahera, Maluku Utara.

“Ini tinggal finalisasi perjanjian antara Freeport dan Tsingshan,” katanya pada awal Februari 2021.

Rencananya, produsen baterai listrik terbesar dunia asal Negeri Panda, Contemporary Amperex Technologi atau CATL, juga akan ikut bergabung. Luhut memperkirakan investasi yang masuk dalam tiga tahun ke depan mencapai US$ 30 miliar atau sekitar Rp 420 triliun.

Ia mengatakan CATL telah menandatangani komitmen investasi sebesar US$ 10 miliar atau Rp 140 triliun. Lalu, produsen kobalt asal Tiongkok, yaitu Huayou Group, bersama Tsingshan dan Freeport akan menandatangani kontrak senilai US$ 2,8 miliar atau Rp 39,2 triliun untuk smelter.

“Ini akan melahirkan turunan pabrik pipa dan kawat tembaga, mungkin sampai US$ 10 miliar,” ucap Luhut.

Artikel ini telah tayang di Katadata.co.id dengan judul “Tsingshan Amankan Pasokan Bijih Nikel dari Indonesia Hingga Akhir 2022

Read More

Dari Morowali Menjadi Bintang Dunia

Oleh: Dahlan Iskan

INDONESIA sudah bisa mendikte harga nikel dunia –lewat Xiang Guangda dan He Xiuqin. Minggu lalu harga nikel dunia turun sampai 5 persen. Itu karena Tsingshan Holding Group –yang memiliki pabrik nikel di Morowali, Sulawesi Tengah– membuat pengumuman: akan memproduksi nikel jenis tertentu yang bisa untuk bahan baku baterai mobil listrik.

Dunia pun gempar. Indonesia hebat. Para produsen mobil listrik menjadi tenang.

Selama ini mereka khawatir. Tidak akan cukup nikel untuk baterai mobil listrik. Produksi mobil listrik sudah mencapai tipping point. Sampai Bos Tesla Elon Musk menyerukan agar negara yang punya cadangan nikel mau menambangnya besar-besaran.

Akibat kekhawatiran itu, harga nikel dunia terus naik. Sampai Mr Xiang Guangda membuat kejutan awal bulan tadi.

Bulan lalu harga nikel masih USD 14,070 per ton. Sekarang tinggal USD 11,055. Tapi itu masih lebih tinggi dibanding harga tahun 2017 yang USD 10.200.

Mr Xiang Guangda kini sudah ikut menentukan pasar nikel dunia. Lewat giga pabriknya yang di Indonesia. Tsingshan Holding sendiri kini sudah menjadi salah satu dari 500 perusahaan terbesar di dunia. Perusahaan Mr Xiang itu di nomor 361 di ranking Fortune 500. Dengan kekayaan (2018) RMB 226.5 miliar.

Mula-mula saya tidak tahu apa arti Tsingshan. Kok Mr Xiang mendirikan perusahaan dengan nama Tsingshan.

Yang saya tahu itu bukan nama Mandarin. Lalu saya cari tahu apa nama Mandarin perusahaan Mr Xiang itu. Ketemu: 青山. Dalam huruf latin mestinya ditulis Qingshan. Artinya: bukit yang tenang. Tapi ejaan itu menjadi Tsingshan, kemungkinan ikut ejaan Taiwan.

Di Tiongkok nama lengkap perusahaan itu: 青山控股集团. Artinya: Grup Holding Gunung Tenang.

Mengapa ejaan latinnya ikut Taiwan itu karena letak kampung halaman Mr Xiang memang di seberang pulau Taiwan. Yakni di Kabupaten Wenzhou, masuk provinsi Zhejiang. Atau itu ikut ejaan lama sebelum ada standardisasi ejaan baru di Tiongkok.

Mr Xiang awalnya memang pengusaha kecil di Kabupaten Wenzhou. Ia menjadi pemasok salah satu unsur kecil untuk pintu mobil. Yakni bagian yang terbuat dari stainless steel.

Kabupaten Wenzhou memang pusat industri kecil di Tiongkok –seperti Sidoarjo dulu. Pun sejak sebelum ekonomi Tiongkok dibuka, ekonomi Wenzhou sudah berkembang.

Ketika di seluruh Tiongkok sibuk dengan politik dan revolusi (1965-1975) penduduk Wenzhou tetap asyik berdagang. Mereka sampai menciptakan infrastruktur keuangan sendiri –di luar sistem bank. Itulah sistem kredit bawah tanah –di Indonesia disebut rentenir. Di Wenzhou rentenir tumbuh sangat subur. Pun sampai sekarang. Ketika sistem perbankan di Tiongkok sudah demikian majunya sistem keuangan bawah tanah itu masih subur di sana.

Saya beberapa kali ke Wenzhou. Di Tiongkok orang memberi gelar Wenzhou itu Yahudi-nya Tiongkok. Dari Kabupaten ini lahir pengusaha-pengusaha ulet dan tangguh.

Salah satunya Mr Xiang Guangda itu. Yang nekat membangun giga pabrik nikel di Morowali.

Pemilik grup holding Tsingshan itu hanya dua orang. Yang satu Mr Xiang Guangda itu. Satunya lagi: istrinya sendiri, He Xiuqin. Benar-benar khas Wenzhou.

Ketika masih menjadi pengusaha kecil –pemasok bagian pintu mobil– Mr Xiang bisa menjaga kepercayaan. Ketika industri mobil di Tiongkok meroket Mr Xiang seperti menunggang air pasang. Kebutuhan bagian pintu mobil meningkat.

Mr Xiang lantas membangun pabrik stainless steel kecil-kecilan –di Wenzhou. Di sinilah Mr Xiang belajar banyak membuat industri stainless steel yang efisien. Orang di Tiongkok terheran-heran: kok bisa ada pabrik stainless steel yang bisa jual produk sangat murah. Maka muncul guyon di sana: “Kenapa heran? Kan ia orang Wenzhou?”

Berkat Mr Xiang rakyat biasa pun bisa membeli stainless steel untuk pagar rumah.

Ilmu teknik industri ala Wenzhou itulah yang membuat dirinya yakin: bisa mengalahkan pesaing di seluruh dunia. Termasuk pesaing dari Tiongkok sendiri.

Salah satu kuncinya: pabriknya harus di dekat bahan baku. Itulah logika yang membawa Mr Xiang ke pelosok Morowali –siapa sih pengusaha kita yang mau ke sana?

Maka tanggal 2 Oktober 2013, terjadi penandatanganan di Shanghai. Antara perusahaan Mr Xiang dengan grup Bintang Delapan dari Indonesia. Presiden SBY menyaksikannya. Demikian juga Presiden XI Jinping.

Di situlah diputuskan untuk membangun Indonesia Morowali Industrial Park (IMIP). Luasnya: 47.000 hektare. Penuh dengan nikel di bawahnya.

Di masa Presiden Jokowi Tsingshan akhirnya membangun mega pabrik itu. Luasnya 2.000 hektare. Lengkap sekali. Termasuk pelabuhan raksasanya.

Yang membuatnya terkenal adalah: Mr Xiang menerapkan perhitungan biaya rendah sejak dari perencanaan. Itulah untungnya membangun pabrik dari nol. Tidak ada tambal-sulam. Termasuk perencanaan furnish-nya.

Inovasi terbesar dan terbaru yang dilakukan Mr Xiang di Morowali adalah: penggunaan rotary kiln furnace. Untuk memproses nikel yang masih bercampur tanah. Bahan baku itu dimasukkan smelter, lalu dihubungkan dengan furnace untuk stainless steel secara tersambung melalui continuous hot flow.

Dengan gaya Mr Xiang ini, biaya produksi stainless steel dari Morowali bahkan lebih rendah dari biaya di Tiongkok –yang sudah terkenal murah itu.

Saya pun semula mengira Mr Xiang hanya fokus di stainless steel. Ternyata belum lama ini ia mengeluarkan pernyataan resmi. Mengumumkannya di London pula. Bahwa Tsingshan juga akan memproduksi nikel untuk bahan baku baterai.

Berarti saya harus meralat tulisan saya di Disway bulan lalu. Bahwa mesin-mesin smelter yang di Morowali tidak akan bisa untuk memproduksi bahan baku baterai. Ternyata bisa. Dengan upaya tertentu. Tsingshan memang harus investasi lagi untuk membuat bahan baku baterai itu.

Dan memang Tsingshan akan investasi sampai total USD 15 miliar. Itu sama dengan Rp 200 triliun.

Mana tahan.

Di zaman Presiden Jokowi semua itu terwujud. Morowali pun berubah total. Dari ”siapa yang sudi ke sana” menjadi ”bintang dunia”. Sampai ada yang membandingkannya di medsos: apa yang diperbuat Amerika di Papua selama 50 tahun, sudah kalah dengan yang dilakukan Mr Xiang di Morowali dalam lima tahun.

Berlebihan? (Dahlan Iskan)

Sumber: DISWAY

Read More

Defisit Daya, Morowali Akan Dilakukan Pemadam Listrik Bergilir Mulai Senin (15/03/2021)

NIKEL.CO.ID – Kabupaten Morowali, Sulawesi Tengah (Sulteng) mengalami defisit daya pada sistem kelistrikannya. Sehingga, daerah penghasil tambang di Sulteng itu mengalami akan gelap gulita selama sepekan karena terjadi pemadaman listrik bergilir, terhitung mulai Senin (15/3/2021) hingga Minggu (21/3/2021).

Rencana pemadaman listrik tersebut disampaikan melalui surat imbuan Nomor 20/PMD/BKU/III/2021 dari Manajemen ULP Bungku, Minggu (14/3). Empat kecamatan yang akan mengalami pemadaman bergilir, yakni Bungku Tengah, Bahodopi, Bungku Barat dan Bungku Selatan.

Dalam surat imbauan tersebut dijelaskan alasan terjadinya pemadaman listrik kembali yakni, terjadinya gangguan pada salah satu unit PLTU Desa Bahoruru, Kecamatan Bungku Tengah dan menurunnya daya mampu di PLTM Sakita (debit air PLTM masih kecil). Sehingga menyebabkan terjadinya defisit daya pada sistem kelistrikan ULP Bungku, maka akan terjadi penghentian pasokan listrik bergilir. Penghentian pasokan listrik bergilir tersebut dilakukan setiap pukul 17.00-22.00 WITA.

Namun, imbauan yang beredar pada grup-grup WhatsApp (WA) tersebut ditanggapi miring oleh warga. Secara keseluruhan mereka sangat menyayangkan pemadaman tersebut, sebab dari tahun ke tahun selalu sama saja alasannya.

“Perasaan ini musim hujan. Mana mungkin debit air berkurang,” kata Nani (35), salah seorang warga Bungku Tengah, Minggu (14/3/2021).

“Itu yang di Bahoruru tidak ada perbaikan kah? Dari tahun ke tahun tidak ada perubahan,” tambahnya.

Sumber: kumparan.com

Read More

Hasil Rakor Tim Pemantauan Orang Asing di Morowali Terungkap Banyak Pekerja Kasar Didatangkan Dari Tiongkok

NIKEL.CO.ID – Tim Pemantauan Orang Asing (Timpora) melakukan rapat koordinasi (rakor), di rumah makan puncak, Desa Ipi, Kabupaten Morowali, Senin (01/03/2021).

Pertemuan itu membicarakan pengawasan tenaga kerja asing (TKA) yang terindikasi marak di daerah Morowali.

Dalam rapat itu terungkap, masih ada ‘buruh kasar’ masih didatangkan dari Tiongkok. Mereka tidak memiliki keterampilan, namun tetap dipekerjakan di perusahaan. Sehingga tenaga kerja lokal tersingkirkan.

Rapat itu dihadiri Ketua DPRD Kabupaten Morowali, Kuswandi, Kepala Kantor Imigrasi Kelas II non TPI Banggai Wijaya, Kapolres Morowali diwakili Kompol Amri, Komdan Kodim 13 11/Morowali, kepala Kesatuan Bangsa dan Politik Daerah (Kesbangpol) Morowali Abdul Wahid Hasan, Kepala Kejaksaan Negeri, Dinas Tenaga Kerja dan Transmigrasi, Badan Intelejen Negera (BIN), Badan Intelejen Strategis (BAIS) dan Kabag Hukum Kabupaten Morowali.

Ketua DPRD Kabupaten Morowali, Kuswandi, mengatakan, sejauh ini proses pengawasan masih lemah terkait pengawasan dokumen.

Kuswandi meminta, TKA yang datang bekerja di Morowali, bukan sekadar bekerja, namun ada pertukaran ilmu disalurkan ke warga lokal.

Kuswandi juga menyebut, hal yang merugikan daerah, masih ada tenaga kerja asing, yang tidak memiliki keterampilan, namun tetap dipekerjakan.

“Ini juga perlu kita periksa visa mereka. Apakah mereka datang bekerja atau berwisata,” tegas Kuswandi.

Kuswandi menyebut, lemahnya pengawasan orang asing, khususnya TKA asal Tiongkok di Morowali mendapat sorotan dari masyarakat, bahkan dari kalangan bawah.

Pasalnya ada indikasi terjadi penyalahgunaan Visa, bahkan ditemukan ada TKA yang tidak memilik skill, namun tetap dipekerjakan dalam perusahaan tambang nikel.

“Ini sudah jelas melanggar aturan keimigrasian dan merugikan negara hingga tenaga lokal. Akhirnya kedatangan TKA, maka tersingkirlah tenaga lokal akibat TKA,” tandasnya.

Kepala Kantor Imigrasi Kelas II non TPI Banggai Wijaya, mengatakan, pihaknya rutin melakukan pengawasan terhadap orang asing yang masuk di Morowali.

Sementara itu, kepala Kesbangpol Morowali, Wahid Hasan, mengungkapkan pertemuan tersebut sudah lama akan dilaksanakan, hanya saja terhalang oleh Covid19.

“Kedepan kami akan membentuk tim bersama dalam peningkatan pengawan TKA, kedatangan TKA di Bandara Morowali,” ujar Wahid Hasan.

Sumber: tekape.co

Read More