Beranda Berita International ICMCE 2026: Industri Nikel Diminta Perkuat ESG untuk Jaga Akses Pasar Global

ICMCE 2026: Industri Nikel Diminta Perkuat ESG untuk Jaga Akses Pasar Global

93
0
Ki-ka: Enzo Brooklyn, Luca Maiotti, Aldo Namora, Jerome Baudelet, Patrick Lim, dan Meidy Katrin Lengkey (Foto: MNI/Tubagus)

NIKEL.CO.ID, JAKARTA — Pelaku industri nikel Indonesia didorong memperkuat penerapan standar lingkungan, sosial, dan tata kelola (environment, social, governance/ESG) serta uji tuntas (due diligence) rantai pasok guna mempertahankan akses ke pasar global yang semakin ketat menerapkan regulasi keberlanjutan mineral kritis.

Pesan tersebut mengemuka dalam panel diskusi “Upstream Opportunities & Challenges for Nickel Mine Owners” pada hari kedua Indonesia Critical Minerals Conference & Expo (ICMCE) 2026, di Hotel Pullman Central Park, Jakarta Barat, Kamis (4/6/2026).

Diskusi yang dimoderatori Senior Nickel Ore Analyst of Shanghai Metals Market (SMM), Enzo Brooklyn, itu menghadirkan Luca Maiotti (Policy Analyst of Organization for Economic Cooperation and Development/OECD), Aldo Namora (Presiden Direktur PT Ceria Metalindo Prima), Jerome Baudelet (CEO Eramet Indonesia), dan Patrick Lim (Country Head HyperStrong Indonesia).

Dalam acara yang diselenggarakan Asosiasi Penambang Nikel Indonesia (APNI) bekerja sama dengan Shanghai Metals Market (SMM) itu Luca Maiotti mengatakan, perusahaan tambang perlu memahami dan menerapkan pedoman due diligence OECD sebagai fondasi untuk memenuhi tuntutan pasar internasional.

“Saya rasa yang pertama adalah memperkenalkan diri dengan guidance tersebut. Pada dasarnya ini adalah kerangka manajemen risiko yang terdiri dari lima langkah, mulai dari membangun sistem manajemen, mengidentifikasi risiko, memprioritaskan risiko, memitigasi risiko, hingga melakukan pelaporan,” kata Luca.

Menurut dia, implementasi ESG tidak cukup ditempatkan hanya pada unit corporate social responsibility (CSR) atau komunikasi perusahaan, tetapi harus menjadi bagian dari aktivitas bisnis dan operasional sehari-hari.

“Saya mendengar banyak perusahaan menempatkan ESG di berbagai tempat berbeda, seperti CSR, komunikasi, atau operasional. Namun idenya adalah menjadikannya bagian dari operasi dan bisnis perusahaan,” ujarnya.

Ia juga menyoroti pentingnya ketertelusuran sumber mineral serta keberadaan mekanisme pengaduan yang efektif sebagai bagian dari praktik tata kelola yang bertanggung jawab.

Dalam kesempatan yang sama, Presiden Direktur PT Ceria Metalindo Prima, Aldo Namora, menjelaskan, aspek ESG telah menjadi fondasi dalam pengembangan proyek pengolahan dan pemurnian nikel yang dijalankan perusahaan.

Menurut Aldo, Ceria berupaya mengoptimalkan pemanfaatan sumber daya mineral melalui pengembangan teknologi pirometalurgi dan hidrometalurgi guna meningkatkan konservasi mineral sekaligus menciptakan nilai tambah.

Di bidang lingkungan, perusahaan memilih sumber energi yang lebih bersih meskipun membutuhkan biaya yang lebih besar dibandingkan pembangkit konvensional.

“Saat memutuskan membeli tenaga listrik, kami memilih sumber energi yang lebih bersih. Memang lebih mahal dibandingkan pembangkit konvensional, tetapi untuk keberlanjutan jangka panjang kami bekerja sama dengan PLN dan memanfaatkan sertifikat energi terbarukan,” ujarnya.

Selain itu, perusahaannya juga menerapkan efisiensi energi serta penggunaan kembali air proses untuk menekan dampak lingkungan dan meningkatkan efisiensi operasional.

Sementara itu, Jerome Baudelet menilai, pesatnya pertumbuhan industri nikel Indonesia telah mengubah peta persaingan global. Menurutnya, Indonesia kini menyumbang sekitar 65% produksi nikel dunia.

“Selama beberapa tahun terakhir karena perkembangan yang sangat cepat di Indonesia, banyak produsen di luar Indonesia terpaksa ditutup. Itu memicu banyak reaksi terhadap Indonesia,” kata Jerome.

Kendatipun begitu, ia menegaskan, mayoritas perusahaan tambang besar yang beroperasi di Indonesia saat ini memiliki komitmen untuk menjalankan praktik pertambangan sesuai standar internasional.

“Saya pikir sebagian besar perusahaan tambang besar yang beroperasi di negara ini memiliki target yang sama, yaitu beroperasi dengan standar terbaik dan menghormati lingkungan,” ujarnya.

Ia menambahkan, peningkatan standar keberlanjutan menjadi syarat utama bagi produsen nikel yang ingin mempertahankan akses ke pasar Eropa.

“Mereka sangat sadar bahwa jika ingin mempertahankan pasar Eropa, Anda harus memiliki standar tersebut. Tidak ada kompromi,” tegasnya.

Adapun Country Head HyperStrong Indonesia, Patrick Lim, menyoroti pentingnya sistem penyimpanan energi baterai atau battery energy storage system (BESS) dalam mendukung dekarbonisasi sektor industri dan pertambangan.

Menurut Patrick, teknologi penyimpanan energi tidak hanya mendukung integrasi energi terbarukan, tetapi juga meningkatkan stabilitas dan keandalan sistem kelistrikan industri yang memiliki kebutuhan energi besar.

Ia mengatakan, pemilihan teknologi baterai harus mempertimbangkan aspek keselamatan, efisiensi biaya, serta keterbatasan lahan yang tersedia di kawasan industri.

Diskusi tersebut menegaskan bahwa penerapan ESG, penguatan tata kelola rantai pasok, penggunaan energi yang lebih bersih, serta pemanfaatan teknologi penyimpanan energi menjadi faktor penting dalam menjaga daya saing industri nikel Indonesia di tengah meningkatnya tuntutan pasar global terhadap mineral kritis yang diproduksi secara bertanggung jawab. (Shiddiq)