Beranda Berita International Chris Schlekat: Industri Nikel Indonesia harus Kelola Risiko Tailing dan Ekosistem Sensitif...

Chris Schlekat: Industri Nikel Indonesia harus Kelola Risiko Tailing dan Ekosistem Sensitif Berbasis Sains

109
0
Direktur Eksekutif Nipera, Chris Schlekat (Foto: MNI/Tubagus)
Gambar ini memiliki atribut alt yang kosong; nama berkasnya adalah IKLAN-OK-International-Critical-Minerals-Summit-Indonesia-2026-1024x341.jpg

NIKEL.CO.ID, JAKARTA – Di tengah meningkatnya tuntutan environment, social, and governance (ESG) global terhadap industri mineral kritis, aspek lingkungan dinilai menjadi salah satu tantangan terbesar yang harus dihadapi industri nikel Indonesia.

Namun, menurut Direktur Eksekutif Nipera (Nickel Institute), Chris Schlekat, pengelolaan risiko lingkungan tidak cukup hanya berfokus pada emisi karbon, melainkan juga harus mencakup dampak lokal terhadap manusia, ekosistem, dan pengelolaan limbah tambang (tailing).

Pandangan tersebut disampaikan Schlekat dalam sesi panel Nickel & Cobalt Forum bertajuk “Meet the Future of ESG: Standards, Challenges and Opportunities in Mining and Processing” pada rangkaian Indonesia Critical Minerals Conference & Expo (ICMCE) 2026 yang diselenggarakan oleh Asosiasi Penambang Nikel Indonesia (APNI) dan Shanghai Metals Market (SMM), di Ballroom Utama Hotel Pullman Central Park, Jakarta, Jumat (5/6/2026).

Menanggapi pertanyaan moderator Benjamin Katz dari Organization for Economic Co-operation and Development (OECD) mengenai arah yang perlu ditempuh industri nikel Indonesia untuk mengatasi risiko ESG yang paling signifikan, ia menegaskan bahwa langkah pertama harus dimulai dari pemahaman terhadap karakteristik dasar nikel itu sendiri. Menurut dia, nikel merupakan material yang secara ilmiah dikategorikan sebagai zat toksik sehingga memerlukan pendekatan pengelolaan risiko yang berbasis sains.

“Dari perspektif industri, upaya mengatasi risiko lingkungan di Indonesia harus dimulai dengan memahami material itu sendiri, yaitu nikel,” ujarnya.

Nikel, katanya menambahkan, dapat memberikan dampak terhadap manusia maupun ekosistem apabila tidak dikelola dengan baik. Karena itu, penerapan penilaian risiko lingkungan menjadi instrumen penting dalam praktik ESG industri pertambangan modern. Pendekatan tersebut memungkinkan perusahaan memahami lokasi terjadinya paparan, ekosistem yang berpotensi terdampak, serta skala risiko yang harus dikelola.

Dalam paparannya, ia menekankan, industri nikel tidak bisa hanya melihat isu lingkungan dari perspektif global seperti emisi karbon dan perubahan iklim. Ada dua lapisan risiko yang harus dipertimbangkan secara bersamaan. Pertama adalah risiko global yang berkaitan dengan emisi gas rumah kaca dan jejak karbon produksi nikel. Kedua adalah risiko lokal yang mencakup dampak terhadap pekerja, masyarakat sekitar kawasan industri, serta ekosistem tempat operasi berlangsung.

“Produksi yang bertanggung jawab harus mempertimbangkan kedua perspektif tersebut secara bersamaan,” katanya mengingatkan.

Selama beberapa dekade, sambungnya, anggota Nickel Institute telah berinvestasi dalam berbagai penelitian ilmiah untuk memahami dampak lingkungan dari produksi nikel. Hasil penelitian tersebut kini menjadi dasar penyusunan standar keselamatan kerja, standar lingkungan, serta metodologi penilaian risiko yang digunakan di berbagai negara.

Gambar ini memiliki atribut alt yang kosong; nama berkasnya adalah IKLAN-online-DTI-1024x341.jpg

Indonesia Hadapi Tantangan Ekosistem Sensitif

Salah satu temuan yang menurut dia paling menonjol setelah mengunjungi kawasan industri nikel Indonesia adalah lokasi pengembangan industri yang berada di wilayah dengan tingkat sensitivitas lingkungan yang tinggi. Ia mengaku baru saja mengunjungi Indonesia Weda Bay Industrial Park (IWIP) dan melihat langsung skala pembangunan industri nikel yang berkembang pesat. Di situ, ia melihat pengembangannya di kawasan yang berdekatan dengan hutan hujan tropis dan ekosistem laut yang memiliki terumbu karang.

“Kunjungan itu memperlihatkan kepada saya besarnya skala pembangunan yang sedang berlangsung di Indonesia, sekaligus pentingnya memastikan tersedianya data ilmiah yang relevan dengan kondisi lokal,” ujarnya.

Salah satu tantangan terbesar dalam penerapan standar ESG adalah memastikan bahwa data dan kerangka kerja yang digunakan benar-benar sesuai dengan kondisi lingkungan Indonesia, bukan sekadar mengadopsi standar dari negara lain. Untuk mendukung hal tersebut, Nickel Institute telah menjalankan program penelitian khusus Indonesia sejak 2014 guna menghasilkan data ilmiah yang dapat digunakan untuk melindungi ekosistem darat maupun laut. Penelitian tersebut menghasilkan lebih dari 20 publikasi ilmiah dan kini digunakan secara internasional sebagai dasar penetapan ambang batas perlindungan nikel di perairan tawar maupun laut.

Di antara berbagai isu ESG yang dibahas, ia secara khusus menyoroti pengelolaan tailing sebagai salah satu tantangan terbesar yang harus mendapat perhatian serius dari industri nikel Indonesia. Limbah sisa proses pengolahan mineral ini memiliki konsekuensi lingkungan yang tidak hanya muncul dalam jangka pendek tetapi juga dapat berlangsung hingga puluhan tahun.

“Tailing menciptakan risiko jangka pendek dan jangka panjang. Karena itu, tailing harus dikarakterisasi secara menyeluruh dan dikelola dengan perspektif jangka panjang,” tegasnya.

Selain pengelolaan risiko lingkungan, ia juga menilai regulator memiliki peran penting dalam menciptakan persaingan yang adil di tengah kompetisi global untuk memperoleh pasokan mineral kritis. Berbagai negara saat ini berlomba menarik investasi dan memperkuat posisi dalam rantai pasok mineral strategis.

Dalam kondisi tersebut, penerapan standar ESG harus dilakukan secara konsisten agar tidak menciptakan ketimpangan antarwilayah. Ia menekankan, prinsip utama yang harus dipegang regulator adalah menjadikan transparansi sebagai kebijakan yang berbasis sains.

“Ekspektasi terkait transparansi harus didasarkan pada ilmu pengetahuan dan diterapkan secara konsisten di berbagai yurisdiksi,” katanya.

Pesan tersebut sekaligus menjadi pengingat bahwa masa depan ESG di industri nikel tidak hanya ditentukan oleh banyaknya standar atau sertifikasi yang dimiliki perusahaan, tetapi juga oleh kualitas data ilmiah yang digunakan untuk mengelola risiko lingkungan secara nyata.

Bagi Indonesia yang kini menjadi produsen nikel terbesar dunia, pendekatan berbasis sains terhadap isu-isu seperti toksisitas nikel, perlindungan ekosistem sensitif, serta pengelolaan tailing berpotensi menjadi faktor penentu daya saing industri di pasar global yang semakin menuntut standar ESG yang ketat. (Li Han)

Gambar ini memiliki atribut alt yang kosong; nama berkasnya adalah IKLAN-OK-Indomachinary-11-13-Agustus-1024x341.jpg