
NIKEL.CO.ID, JAKARTA – Peluang pembiayaan investasi baru untuk proyek smelter nikel di Indonesia semakin terbatas seiring kapasitas pengolahan yang telah terbangun dinilai sudah beroperasi pada kapasitas penuh. Ke depan, pembiayaan perbankan diperkirakan lebih banyak diarahkan untuk memenuhi kebutuhan modal kerja dan pembiayaan kembali (refinancing) proyek yang telah berjalan.
Head of Industry & Regional Research PT Bank Mandiri, Dendi Ramdani, mengatakan aspek bankability atau kelayakan pembiayaan menjadi salah satu isu penting dalam pengembangan proyek nikel saat ini.
Menurutnya, kondisi kapasitas industri pengolahan nikel yang sudah terbangun membuat ruang pembiayaan untuk pembangunan smelter baru semakin terbatas.
“Tadi kan sebetulnya isu utamanya terkait bankability ya dari nickel project. Ya memang kalau dilihat dari situasi sekarang, ya pertama sebetulnya di Indonesia ini kapasitas yang sudah dibangun, kapasitas produksi ya untuk pengolahan nikel itu sebetulnya sudah full capacity gitu ya. Jadi kalau untuk pembiayaan investasi saya pikir sudah sulit untuk smelter nikel,” ujarnya kepada nikel.co.id di sela The 5th Nickel Producers, Processors and Buyers Conference yang diselenggarakan Petromindo di Shangri-La Hotel, Jakarta, Kamis (5/11/2026).
Dendi menjelaskan, pembiayaan untuk kegiatan pertambangan juga akan menyesuaikan kebutuhan bahan baku industri pengolahan. Sementara itu, aktivitas penambangan dalam beberapa waktu terakhir menunjukkan penurunan seiring berkurangnya alokasi Rencana Kerja dan Anggaran Biaya (RKAB).
“Jadi memang pembiayaan itu sangat terbatas untuk modal kerja saja gitu. Kalau modal kerja kan ya misalkan dia butuh untuk support operasionalnya gitu ya. Artinya ya untuk menunjang kegiatan operasional sehari-hari gitu ya,” jelasnya.
Dengan kondisi tersebut, menurut Dendi, peluang pembiayaan investasi baru semakin kecil karena pembangunan fasilitas pengolahan baru juga tidak lagi sebanyak sebelumnya. Kebutuhan pendanaan lebih berpotensi berasal dari pembiayaan operasional perusahaan.
Selain modal kerja, skema refinancing juga menjadi salah satu opsi pembiayaan bagi perusahaan nikel. Skema ini memungkinkan perbankan membiayai kembali pendanaan proyek yang sebelumnya menggunakan sumber dana lain, termasuk modal sendiri.
“Ya paling juga refinancing aja gitu ya. Refinancing artinya ya pembiayaan yang sudah ada, misalkan tadi dia pakai modal sendiri, bank refinance pembiayaan sebelumnya gitu lah. Jadi untuk menggantikan pembiayaan yang sudah ada,” ungkapnya.
Dendi menambahkan, proyek yang telah beroperasi dan memiliki arus kas (cash flow) cenderung lebih menarik bagi perbankan untuk memperoleh pembiayaan kembali. Hal tersebut karena kegiatan usaha dan kemampuan menghasilkan pendapatan sudah dapat dievaluasi.
“Tapi biasanya bank lebih suka juga sih kalau refinancing. Karena kan udah running ya, cashflow-nya udah ada,” katanya.
Apresiasi terhadap Forum Industri Nikel
Dendi juga mengapresiasi penyelenggaraan konferensi nikel Petromindo yang dinilai menjadi ruang pertemuan bagi berbagai pemangku kepentingan, mulai dari pelaku pertambangan, industri pengolahan, investor, hingga perbankan.
Menurutnya, forum semacam ini penting untuk membuka pertukaran informasi dan memperluas jejaring antarpelaku industri, terutama di tengah perubahan kondisi pasar dan kebutuhan pembiayaan sektor nikel.
“Saya pikir ini acara rutin, bagus ya. Bisa mempertemukan stakeholder di industri nikel, tambang, investor, bank. Sehingga mungkin bisa saling tukar informasi dan juga networking,” tuturnya.
Ia berharap konferensi tersebut dapat terus diselenggarakan karena forum yang mempertemukan berbagai unsur dalam ekosistem industri nikel masih relatif terbatas. “Harusnya ini bisa jalan terus. Karena saya pikir gak banyak forum seperti ini,” pungkasnya. (Lili Handayani)
Perkembangan cerita ini
Topik #Nikel →
- Pembiayaan Investasi Baru Smelter Nikel Semakin Terbatas sedang Anda baca
- Prof. Telisa Falianty: Ketidakpastian Kebijakan dan Pasokan Bijih Tekan Kelayakan Investasi Nikel
- Harga Sulfur Jadi Tantangan Utama Produksi Nikel HPAL pada 2027
- Irwandy Arif: Larangan Ekspor Produk Antara Nikel Harus Bertahap, Industri Hilir Perlu Disiapkan
- Perminas Minta Ada Regulasi Olah Slag Nikel dan Red Mud Sebagai Bahan Baku Sekunder di Industri Logam Tanah Jarang
- DSI Memastikan Ekspor Komoditas Tetap Lancar
Istilah di artikel ini
- RKAB
- Rencana Kerja dan Anggaran Biaya
Agenda industri terdekat
- 4NovKonferensi & Pameran The 5th Nickel Producers, Processors & Buyers Conference4–5 November 2026 · Shangri-La Hotel, Jakarta
- 10Nov
- 11Nov






























