Beranda Berita Nasional Prof. Telisa Falianty: Ketidakpastian Kebijakan dan Pasokan Bijih Tekan Kelayakan Investasi Nikel

Prof. Telisa Falianty: Ketidakpastian Kebijakan dan Pasokan Bijih Tekan Kelayakan Investasi Nikel

Senior Advisor on Economic and Policy BRI Danareksa Sekuritas, Prof. Telisa Falianty. (Foto: MNI/Lili Handayani)
Oleh Momon Tarmono

NIKEL.CO.ID, JAKARTA – Kelayakan investasi proyek nikel di Indonesia tidak hanya ditentukan oleh prospek harga dan permintaan, tetapi juga dipengaruhi kondisi makroekonomi global, geopolitik, biaya modal, serta kepastian kebijakan di dalam negeri.

Senior Advisor on Economic and Policy BRI Danareksa Sekuritas, Prof. Telisa Falianty, menilai berbagai faktor tersebut perlu menjadi perhatian karena dapat menentukan tingkat keuntungan dan kelayakan investasi (feasibility) proyek nikel ke depan.

Iklan
4Th Li On Battery Europe 2026
online petromindo
ASEAN Solar Storage Summit
11 12 Nov EV Charge Live ICE BSD
OK IKLAN 12 Nov 26 2026 SMM Annual Nickel Conf Shanghai China
Asia Intl Recycled Conference

Hal itu disampaikannya kepada nikel.co.id di sela The 5th Nickel Producers, Processors and Buyers Conference yang diselenggarakan Petromindo di Shangri-La Hotel, Jakarta, Kamis (5/11/2026).

“Jadi dalam konferensi ini saya menjelaskan mengenai bagaimana investasi di nikel itu dipengaruhi oleh berbagai variable termasuk variable makro dan kebijakan. Itu akan sangat menentukan investment kita itu menguntungkan atau tidak ke depannya. Apakah investment kita visibel atau tidak,” ujarnya.

Telisa menjelaskan, dari sisi global, kondisi geopolitik, suku bunga yang tinggi, dan gangguan rantai pasok (supply chain disruption) menjadi sejumlah faktor yang dapat memengaruhi prospek investasi nikel. Hal ini karena permintaan produk nikel Indonesia juga sangat bergantung pada pasar global.

Iklan
4Th Li On Battery Europe 2026
online petromindo
ASEAN Solar Storage Summit
11 12 Nov EV Charge Live ICE BSD
OK IKLAN 12 Nov 26 2026 SMM Annual Nickel Conf Shanghai China
Asia Intl Recycled Conference

Sementara dari sisi domestik, kebijakan pemerintah dan kondisi makroekonomi turut menentukan iklim investasi. Salah satu indikator yang menjadi perhatian adalah nilai tukar rupiah yang mengalami tekanan dan depresiasi.

Menurutnya, sentimen terhadap Indonesia, termasuk pengaruh isu MSCI (Morgan Stanley Capital International) serta penurunan outlook oleh lembaga pemeringkat Fitch dan Moody’s, turut memberikan tekanan terhadap rupiah. Kondisi tersebut berpotensi memicu arus modal keluar (capital outflow) dan meningkatkan volatilitas nilai tukar.

“Sehingga harapannya komunikasi kebijakan pemerintah itu bisa diperbaiki. Karena once ada komunikasi yang kurang pas. Terus kemudian juga bagaimana Indonesia men-trade lembaga-lembaga asing itu juga kan jadi cukup berpengaruh ya. Kepada sentimen negatif terkait dengan Indonesia,” katanya.

Iklan
4Th Li On Battery Europe 2026
online petromindo
ASEAN Solar Storage Summit
11 12 Nov EV Charge Live ICE BSD
OK IKLAN 12 Nov 26 2026 SMM Annual Nickel Conf Shanghai China
Asia Intl Recycled Conference

Selain nilai tukar, suku bunga juga menjadi faktor penting. Telisa menilai kebijakan suku bunga global berpotensi bertahan tinggi lebih lama atau higher for longer seiring tekanan inflasi yang masih berlangsung, termasuk di Amerika Serikat.

Kondisi tersebut dapat meningkatkan biaya modal (cost of capital) bagi perusahaan. Apabila imbal hasil di pasar obligasi meningkat, biaya pendanaan proyek nikel juga berpotensi semakin mahal.

Dari sisi biaya produksi, depresiasi rupiah dan kenaikan harga input global turut memberikan tekanan. Telisa menyoroti harga minyak dunia yang masih tinggi di tengah ketegangan geopolitik di Timur Tengah.

“Jadi ini tentu akan mempengaruhi biaya input dari project-project nickel seperti itu,” jelasnya.

Meski demikian, Telisa melihat kondisi ekonomi domestik mulai menunjukkan perbaikan. Ia menyinggung pertumbuhan ekonomi Indonesia sebesar 5,45% yang diumumkan pemerintah, serta pertumbuhan sektor pertambangan sebesar 0,91% setelah sebelumnya mengalami kontraksi.

Menurutnya, perkembangan tersebut dapat menjadi indikasi awal pemulihan aktivitas pertambangan. Peningkatan penerimaan negara bukan pajak (PNBP) dan aktivitas usaha juga menjadi sinyal yang perlu dicermati dalam melihat perkembangan sektor tersebut.

“Jadi sebetulnya overall sih nikel ini masih berpotensi. Apalagi Indonesia mau mengembangkan ekosistem baterai berbasis nikel. Yang kedepannya demand terhadap nikel ini akan makin baik,” ujarnya.

Namun, ia menilai persoalan yang perlu segera diperhatikan adalah keamanan pasokan (security of supply) bijih nikel untuk kebutuhan smelter dalam negeri.

Telisa menyoroti keterbatasan pasokan bijih domestik yang berkaitan dengan pelaksanaan Rencana Kerja dan Anggaran Biaya (RKAB). Kondisi tersebut mendorong Indonesia mulai mengimpor bijih nikel dari negara lain, termasuk Filipina.

Ia mengingatkan agar Indonesia tidak sampai beralih dari negara pengekspor menjadi pengimpor nikel akibat ketidakpastian pasokan bahan baku. Karena itu, kebijakan perizinan dan pengaturan RKAB perlu mempertimbangkan keseimbangan antara pengawasan dan keberlangsungan produksi.

“Jadi RKAB itu juga kalau misalkan pemerintah bisa lebih wise untuk lebih tidak terlalu menghambat RKAB. In the name of karena takut ada korupsi, ada penyalahgunaan dan lain sebagainya. Makanya ada perizinan yang dibekukan dan sebagainya,” ungkapnya.

Menurut Telisa, kepastian bahan baku menjadi salah satu unsur penting dalam menjaga kelayakan proyek nikel. Smelter membutuhkan pasokan bijih yang terjamin agar kegiatan produksi dapat berjalan sesuai kapasitas dan rencana bisnis.

“Jadi feasibility of nickel project juga yaitu ketersediaan bahan baku itu harus dipastikan dengan perizinan yang favorable,” tegasnya.

Ia menambahkan, Indonesia masih membutuhkan investasi di sektor nikel untuk mengembangkan ekosistem industri, termasuk baterai berbasis nikel. Namun, peluang tersebut perlu didukung kebijakan yang kondusif dan kondisi makroekonomi yang stabil agar proyek-proyek yang dibangun tetap layak secara bisnis.

Apresiasi terhadap Konferensi Nikel Petromindo

Selain menyampaikan pandangan mengenai investasi, Telisa juga mengapresiasi konsistensi Petromindo dalam menyelenggarakan konferensi nikel setiap tahun. Menurutnya, forum tersebut penting sebagai ruang pertemuan dan jejaring bagi para pemangku kepentingan industri.

“Ini kan konsisten jarang ya konferensi bisa tiap tahun gitu. Ini kan bisa terjaga terus-menerus. Nah itu kan otomatis hal yang bagus dan harapannya di sini menjadi ajang untuk networking juga,” tuturnya.

Ia berharap konferensi tersebut terus dilaksanakan dengan melibatkan lebih banyak pemangku kepentingan dari berbagai daerah. Telisa juga mengusulkan agar penyelenggaraan acara sesekali dilakukan di kota lain sehingga dapat memberikan dampak ekonomi bagi daerah. “Jadi harapannya nickel conference ini terus dijaga dan ada berita-berita bagus juga di dalam nickel conference ini yang bisa nanti membuat ekosistem nikel ini makin bagus dan kemudian bisnis nickel di Indonesia juga makin cerah, makin bisa menyerap lapangan kerja,” pungkasnya. (Lili Handayani)

Artikel ini berguna?

Perkembangan cerita ini

Liputan Khusus RKAB (Rencana Kerja dan Anggaran Biaya) →

  1. Prof. Telisa Falianty: Ketidakpastian Kebijakan dan Pasokan Bijih Tekan Kelayakan Investasi Nikel sedang Anda baca
  2. CRU: RKAB Indonesia Jadi Penentu Keseimbangan Pasar Nikel 2027
  3. FINI Apresiasi Perkembangan Minerba Convex 2026
  4. Ditjen Minerba Pastikan Evaluasi RKAB Disesuaikan Dengan Kemampuan Perusahaan
  5. Bahlil: RKAB Untuk Mencegah Kelebihan Pasokan Yang Berpotensi Menekan Harga Nikel di Pasar Global
  6. APNI Minta Penetapan RKAB Perhitungkan Pasokan dan Permintaan Nikel Global

Istilah di artikel ini

PNBP
Penerimaan Negara Bukan Pajak
RKAB
Rencana Kerja dan Anggaran Biaya
Kamus istilah lengkap →

Agenda industri terdekat

Semua agenda →