Beranda Berita Nasional Harga Sulfur Jadi Tantangan Utama Produksi Nikel HPAL pada 2027

Harga Sulfur Jadi Tantangan Utama Produksi Nikel HPAL pada 2027

Ilustrasi smelter nikel High-Pressure Acid Leaching (HPAL). (Freepik.com)
Ilustrasi smelter nikel High-Pressure Acid Leaching (HPAL). (Freepik.com)
Oleh Momon Tarmono

NIKEL.CO.ID, JAKARTA – Lonjakan harga sulfur menjadi salah satu tantangan baru bagi industri pengolahan nikel melalui teknologi High Pressure Acid Leach (HPAL) di Indonesia. Kenaikan harga bahan baku tersebut meningkatkan biaya operasional fasilitas HPAL, terutama karena kenaikan harga kobalt tidak lagi mampu mengimbangi peningkatan biaya sulfur.

Principal, Nickel Market Analysis & Forecast CRU Group, Nikhil Shah, mengatakan sulfur merupakan salah satu bahan baku utama dalam operasional HPAL. Ketergantungan Indonesia terhadap pasokan dari luar negeri membuat perkembangan harga dan ketersediaan sulfur berpengaruh terhadap keekonomian produksi nikel, khususnya Mixed Hydroxide Precipitate (MHP).

Iklan
4Th Li On Battery Europe 2026
online petromindo
ASEAN Solar Storage Summit
11 12 Nov EV Charge Live ICE BSD
OK IKLAN 12 Nov 26 2026 SMM Annual Nickel Conf Shanghai China
Asia Intl Recycled Conference

Dalam paparannya saat pembukaan The 5th Nickel Producers, Processors and Buyers Conference yang diselenggarakan Petromindo di Shangri-La Hotel, Jakarta, Rabu (4/11/2026), Nikhil mengungkapkan bahwa lebih dari 75% impor sulfur Indonesia pada tahun lalu berasal dari kawasan Timur Tengah.

Menurutnya, konflik di kawasan tersebut turut mengganggu pasokan sulfur dan memicu lonjakan harga. Dampaknya cukup signifikan bagi industri HPAL karena kebutuhan sulfur dalam proses produksi tergolong besar.

“Biasanya, dibutuhkan sekitar 8–10 ton sulfur untuk menghasilkan satu ton nikel dalam bentuk MHP,” ujar Nikhil.

Iklan
4Th Li On Battery Europe 2026
online petromindo
ASEAN Solar Storage Summit
11 12 Nov EV Charge Live ICE BSD
OK IKLAN 12 Nov 26 2026 SMM Annual Nickel Conf Shanghai China
Asia Intl Recycled Conference

Ia menjelaskan, sebelum terjadi lonjakan harga terbaru, peningkatan harga sulfur sebenarnya sudah berlangsung sejak awal tahun. Namun, pada periode Februari hingga Maret 2026, kenaikan tersebut masih dapat diimbangi oleh peningkatan harga kobalt.

Kobalt merupakan produk sampingan penting dari proses pengolahan HPAL. Kenaikan harganya ketika itu membantu mengimbangi tambahan biaya yang timbul akibat meningkatnya harga sulfur.

Namun, kondisi tersebut berubah dalam perkembangan harga berikutnya. Nikhil menyebut kenaikan harga kobalt tidak sebesar kenaikan sulfur sehingga tekanan biaya langsung dirasakan oleh fasilitas HPAL.

Iklan
4Th Li On Battery Europe 2026
online petromindo
ASEAN Solar Storage Summit
11 12 Nov EV Charge Live ICE BSD
OK IKLAN 12 Nov 26 2026 SMM Annual Nickel Conf Shanghai China
Asia Intl Recycled Conference

“Namun, dalam kenaikan terbaru, harga kobalt tidak meningkat sebesar kenaikan sulfur. Akibatnya, lonjakan harga sulfur langsung meningkatkan biaya operasional HPAL,” jelasnya.

CRU turut menghitung perubahan biaya produksi fasilitas HPAL berdasarkan pergerakan harga sulfur spot. Dalam perhitungan tersebut, harga sulfur spot sempat mencapai US$1.200 per ton lebih dari sebulan sebelum paparan disampaikan.

Meskipun harga sulfur kemudian mulai turun dari level tertingginya, dampaknya terhadap biaya produksi masih menjadi perhatian. CRU mencatat, harga impas atau break-even price fasilitas HPAL sempat berada di atas US$18.000 per ton.

Setelah harga sulfur mengalami penurunan, estimasi harga impas tersebut bergerak mendekati US$17.000 per ton. Perubahan ini menunjukkan besarnya pengaruh harga sulfur terhadap struktur biaya produksi nikel melalui teknologi HPAL.

Selain kenaikan harga sulfur, faktor lain yang turut menekan keekonomian produksi adalah penurunan nilai pembayaran kobalt atau cobalt payable. Nikhil mengatakan CRU melihat penurunan cukup besar pada komponen tersebut selama sekitar satu bulan terakhir.

Kombinasi kenaikan biaya sulfur dan penurunan cobalt payable membuat tekanan terhadap biaya operasional HPAL semakin besar. Kondisi ini juga menjadi salah satu faktor yang perlu dicermati dalam melihat perkembangan produksi MHP Indonesia.

Nikhil menyebut terdapat laporan mengenai kemungkinan pemangkasan pasokan dari sejumlah fasilitas HPAL. Namun, ia menegaskan bahwa beberapa produsen memang telah melakukan pemangkasan produksi sejak awal tahun dan dampaknya terhadap keseimbangan pasar masih belum sepenuhnya jelas.

Dalam proyeksi pasar ke depan, CRU menempatkan harga sulfur sebagai salah satu variabel penting yang perlu diperhatikan oleh pelaku industri nikel pada 2027.

“Menurut saya, harga sulfur akan menjadi salah satu faktor utama yang perlu diperhatikan dalam menentukan kondisi pasar pada 2027,” ungkap Nikhil. Menurutnya, perkembangan harga sulfur akan berpengaruh terhadap biaya produksi produsen MHP, sementara pertumbuhan kapasitas HPAL juga menjadi faktor yang menentukan arah pasokan nikel Indonesia pada tahun mendatang. (Lili Handayani)

Artikel ini berguna?

Perkembangan cerita ini

Topik #MHP →

  1. Produksi NPI, Matte, dan MHP Indonesia hingga Agustus Masih Stagnant
  2. Harga Sulfur Jadi Tantangan Utama Produksi Nikel HPAL pada 2027 sedang Anda baca
  3. Penyesuaian Pasokan Industri Nikel Indonesia Dapat Mendorong Kenaikan Harga
  4. Menguatnya Wacana Pengurangan Produksi Nikel RI, Harga Naik 3,05%
  5. INPI 19 Oktober 2026: Harga Bijih Stabil, NPI, HGNM, dan MHP Serentak Turun
  6. TGEM Memulai Operasi Komersial dengan Keberhasilan Pengiriman MHP Berteknologi STAL

Istilah di artikel ini

HPAL
High Pressure Acid Leaching
MHP
Mixed Hydroxide Precipitate
Kamus istilah lengkap →

Agenda industri terdekat

Semua agenda →