
NIKEL.CO.ID, JAKARTA – Produksi gabungan nickel pig iron (NPI), nickel matte, dan mixed hydroxide precipitate(MHP) Indonesia belum menunjukkan pertumbuhan hingga Agustus 2026. Meski total produksi relatif stagnant, terjadi perubahan komposisi produksi akibat pergeseran tingkat keuntungan antara NPI dan matte sepanjang tahun ini.
Principal, Nickel Market Analysis & Forecast CRU Group, Nikhil Shah, mengungkapkan bahwa data produksi Januari hingga Agustus menunjukkan belum adanya pertumbuhan pasokan nikel Indonesia jika ketiga produk tersebut dihitung secara gabungan.
“Jika melihat data hingga Agustus, produksi gabungan MHP, NPI, dan matte Indonesia memang belum menunjukkan pertumbuhan,” ujar Nikhil dalam paparannya pada The 5th Nickel Producers, Processors and Buyers Conference yang diselenggarakan Petromindo di Shangri-La Hotel, Jakarta, Rabu (4/11/2026).
Menurut Nikhil, meskipun total produksi belum bertumbuh, perubahan terjadi pada komposisi produk yang dihasilkan. Pergeseran tersebut dipengaruhi perbedaan tingkat keuntungan produksi serta kondisi permintaan terhadap masing-masing produk nikel.
Pada paruh pertama 2026, produksi NPI mengalami penurunan, sementara produksi matte meningkat. Kondisi itu mencerminkan tingkat keuntungan produksi matte yang lebih baik dibandingkan NPI pada periode tersebut.
Selain faktor margin, peningkatan produksi matte juga berkaitan dengan kondisi industri pengolahan HPAL. Kenaikan harga sulfur menambah tekanan biaya operasional fasilitas HPAL, sementara permintaan nikel sulfat dari sektor baterai cukup kuat. Situasi tersebut turut mendorong permintaan terhadap matte.
Namun, kondisi pasar berubah pada paruh kedua tahun ini. Nikhil menjelaskan bahwa produksi NPI kembali menjadi lebih menguntungkan dibandingkan matte. Perubahan tersebut mendorong sejumlah fasilitas pengolahan dengan teknologi Rotary Kiln Electric Furnace (RKEF) mengalihkan sebagian lini produksinya dari matte menjadi NPI.
“Pada paruh kedua tahun ini, dinamika pasar berubah. Produksi NPI menjadi lebih menguntungkan dibandingkan produksi matte. Akibatnya, sejumlah lini produksi RKEF beralih dari memproduksi matte menjadi NPI pada paruh kedua tahun ini,” jelasnya.
Perubahan tersebut menunjukkan bahwa keputusan produksi di industri nikel tidak hanya dipengaruhi kapasitas terpasang, tetapi juga perkembangan margin dan kondisi pasar untuk masing-masing produk.
Sementara itu, prospek produksi MHP masih menghadapi tantangan. CRU memperkirakan produksi MHP Indonesia pada 2026 akan lebih rendah dibandingkan tahun sebelumnya, seiring pemangkasan produksi yang telah dilakukan sejumlah produsen.
Di sisi lain, pertumbuhan kapasitas HPAL yang signifikan membuka pertanyaan mengenai potensi peningkatan produksi MHP pada 2027. Menurut Nikhil, besarnya tambahan kapasitas tersebut belum secara otomatis menunjukkan seberapa besar produksi aktual yang akan terealisasi.
Perkembangan produksi NPI, matte, dan MHP menjadi salah satu indikator penting dalam melihat pasokan nikel Indonesia. Terlebih, Indonesia memiliki kontribusi sekitar dua pertiga terhadap produksi tambang nikel global. Dengan demikian, perubahan tingkat keuntungan antarproduk serta perkembangan operasional fasilitas pengolahan akan turut menentukan arah pasokan nikel Indonesia dalam periode berikutnya. (Lili Handayani)
Perkembangan cerita ini
Topik #Nikel Matte →
- Produksi NPI, Matte, dan MHP Indonesia hingga Agustus Masih Stagnant sedang Anda baca
- FINI Proyeksikan Produksi Nikel Indonesia Tahun 2026 Turun Jadi 2,2 Juta Ton
- Menguatnya Wacana Pengurangan Produksi Nikel RI, Harga Naik 3,05%
- Ekspor Nikel Tumbuh 15,69 Persen, Target PNBP Tahun ini Rp165 Triliun
Istilah di artikel ini
- NPI
- Nickel Pig Iron
- MHP
- Mixed Hydroxide Precipitate
- HPAL
- High Pressure Acid Leaching
- RKEF
- Rotary Kiln Electric Furnace
Agenda industri terdekat
- 4NovKonferensi & Pameran The 5th Nickel Producers, Processors & Buyers Conference4–5 November 2026 · Shangri-La Hotel, Jakarta
- 10Nov
- 11Nov






























