
NIKEL.CO.ID, JAKARTA – Penerapan Carbon Border Adjustment Mechanism (CBAM) Uni Eropa menjadi salah satu tantangan yang perlu diantisipasi produsen nikel Indonesia untuk mempertahankan daya saing produk di pasar internasional.
Perusahaan perlu memperhatikan jejak karbon, ketertelusuran (traceability), dan transparansi proses produksi agar dapat memenuhi persyaratan pasar global.
Head of Sustainability Nickel Industries Limited, Muchtazar mengatakan, CBAM menjadi ketentuan yang harus diperhatikan perusahaan Indonesia, terutama produsen yang mengekspor produk nikelnya secara langsung ke pasar Eropa.
“CBAM itu akan menjadi peraturan yang perlu dipenuhi kalau perusahaan Indonesia mengekspor nikelnya ke Eropa, terutama yang langsung,” kata Muchtazar kepada nikel.co.id, dalam sesi From ESG and Market Access Panel, pada acara The 5th Nickel Producers, Processors and Buyers Conference yang diselenggarakan Petromindo di Shangri-La Hotel, Jakarta, Kamis (5/11/2026).
Menurutnya, penerapan ketentuan tersebut membuat produsen perlu mengetahui dan mengukur jejak karbon dari nikel yang dihasilkan. Langkah ini diperlukan agar produk nikel Indonesia tetap kompetitif ketika memasuki pasar Eropa.
Pasalnya, emisi karbon yang terlalu tinggi dapat menimbulkan kewajiban pembayaran pajak atau penalti. Kondisi tersebut berpotensi menambah beban biaya produksi dan memengaruhi profitabilitas serta daya saing produk nikel Indonesia.
“Implikasinya adalah kita harus bisa mengetahui jejak karbon dari nikel yang diproduksi supaya produk-produk nikel Indonesia yang diekspor ke Eropa juga bisa tetap kompetitif dari segi harga.
Karena kalau karbonnya terlalu tinggi, nanti kita harus membayar tax atau penalty dan bisa merugikan produksi nikel Indonesia dari sisi profitabilitas atau kompetitivitas,” jelasnya.
Selain jejak karbon, Muchtazar menekankan pentingnya ketertelusuran dan transparansi dalam rantai pasok nikel.
Menurutnya, produsen tidak harus langsung memenuhi seluruh standar ESG secara sempurna. Perusahaan dapat memulai dari kondisi yang dimiliki saat ini, kemudian menyusun tahapan perbaikan untuk memenuhi standar yang berlaku, baik di tingkat nasional maupun global.
“Produsen sendiri tidak harus sempurna. Mereka bisa memulai dari mana, kemudian membentuk jalan untuk memenuhi standar ESG dari pemerintah nasional ataupun secara global,” ujarnya.
Muchtazar juga menjelaskan bahwa sebagai perusahaan Australia, Nickel Industries, memiliki kewajiban pelaporan terkait isu perubahan iklim serta anti-modern slavery atau perbudakan modern yang berkaitan dengan hak asasi manusia dan ketenagakerjaan.
Menurutnya, kedua aspek tersebut menjadi perhatian penting bagi perusahaan dan dilaporkan secara rutin setiap tahun. Perusahaan juga terus melakukan perbaikan dalam pemenuhan kewajiban tersebut.
Poin lain yang disoroti adalah peluang terbentuknya green premium atau premi harga bagi produk nikel yang diproduksi dengan standar keberlanjutan lebih tinggi.
Muchtazar menilai, nikel dengan jejak karbon rendah, ketertelusuran yang baik, atau sertifikasi tertentu idealnya memperoleh harga lebih tinggi dibandingkan produk nikel konvensional.
“Untuk nikel yang diproduksi dengan jejak karbon yang rendah, ataupun dengan traceability yang baik atau sertifikasi tertentu, idealnya bisa mendapatkan harga yang lebih tinggi dibandingkan produk nikel biasa atau konvensional,” tuturnya.
Menurutnya, gagasan tersebut dapat menjadi masukan bagi Bursa Mineral Indonesia maupun pemerintah dalam merumuskan kebijakan terkait harga dan tarif nikel. Skema tersebut juga dapat mempertimbangkan perkembangan persyaratan dan mekanisme pasar global.
Dengan demikian, produsen yang telah mengeluarkan biaya tambahan untuk menerapkan praktik produksi yang lebih bertanggung jawab berpeluang memperoleh pengakuan nilai melalui mekanisme harga.
Apresiasi terhadap Konferensi Petromindo
Selain menyampaikan pandangan mengenai ESG dan akses pasar, Muchtazar juga mengapresiasi konsistensi Petromindo dalam menyelenggarakan konferensi yang membahas perkembangan industri nikel.
Menurutnya, forum tersebut tetap mampu menghadirkan pembahasan dan narasumber berkualitas di tengah berbagai tantangan serta kondisi pasar nikel yang sedang dihadapi industri nasional.
“Saya pikir Petromindo secara konsisten membawa isu nikel ke dalam konferensi yang diadakan atau dikelolanya, dengan berbagai tantangan dan situasi pasar yang ada,” katanya.
Ia menilai, keberlangsungan konferensi tersebut penting karena memberikan kesempatan kepada pelaku industri untuk memperoleh informasi dan wawasan baru.
Muchtazar juga mengapresiasi kehadiran para pimpinan perusahaan dalam forum tersebut. Pertemuan antarpelaku industri dinilai dapat memperluas jaringan sekaligus membuka peluang kerja sama pada masa mendatang. “Selalu ada insight baru yang dipelajari dan dibagikan. Buat saya, ini merupakan sebuah kesempatan yang menarik karena kegiatan ini juga dihadiri oleh pimpinan-pimpinan perusahaan yang bisa memperkuat jaringan maupun kerja sama ke depannya,” pungkasnya. (Lili Handayani)
Perkembangan cerita ini
Topik #Industri Nikel →
- Carbon Border Adjustment Mechanism dan Green Premium Jadi Perhatian Produsen Nikel Indonesia sedang Anda baca
- Produksi NPI, Matte, dan MHP Indonesia hingga Agustus Masih Stagnant
- FINI Proyeksikan Produksi Nikel Indonesia Tahun 2026 Turun Jadi 2,2 Juta Ton
- Magdalena Veronika Apresiasi Forum Industri Nikel, Perkuat Kolaborasi Rantai Pasok
- Sebagai Pemasok 67% Nikel Dunia, Indonesia Belum Jadi Price Maker
- Jaga Daya Saing Industri Nikel, IWIP Perkuat Penerapan ESG
Agenda industri terdekat
- 4NovKonferensi & Pameran The 5th Nickel Producers, Processors & Buyers Conference4–5 November 2026 · Shangri-La Hotel, Jakarta
- 10Nov
- 11Nov






























