Komisi VII Dorong Percepatan Hilirisasi Nikel

NIKEL.CO.ID – Wakil Ketua Komisi VII DPR RI Bambang Wuryanto mendorong percepatan hilirisasi nikel dalam negeri. Ia menilai PT Smelter Nikel Indonesia bisa menjadi role model bagi perusahaan sektor hilirisasi nikel kadar rendah, guna mendukung percepatan industri kendaraan listrik dalam negeri.

“Teknologinya diproduksi oleh anak bangsa sendiri, kita akan support ini karena bisa menjadi role model teknologi yang sangat sederhana dan murah,” kata Bambang Wuryanto usai memimpin peninjauan lapangan Tim Kunspek Panja Minerba Komisi VII DPR RI ke pabrik pengelolaan nikel milik PT Smelter Nikel Indonesia di Balaraja, Tangerang, Banten, Kamis (17/6/2021).

Ia mengatakan teknologi yang digunakan merupakan karya anak bangsa. Secara bisnis, teknologi Atmospheric Leaching sangat ekonomis, sehingga layak untuk dikembangkan dalam skala produksi yang lebih besar.

Dalam kunjungan tersebut, Anggota Panja Minerba juga mendalami permasalahan yang berkembang di sektor hilirisasi mineral, khususnya nikel. Termasuk kendala-kendala yang sedang dihadapi oleh PT Smelter Indonesia dalam membangun infrastruktur pengelolaan dan pemurnian saat ini.

Politisi PDI-Perjuangan ini menuturkan, kewajiban hilirisasi mineral nikel di dalam negeri mutlak dilakukan, agar mampu memberikan nilai tambah lebih dari produk bahan mentah, memperkuat struktur industri nasional, menyediakan lapangan kerja dan memberi peluang bagi tumbuhnya industri dalam negeri. Kewajiban hilirisasi juga sejalan dengan UU Nomor 4 Tahun 2009 tentang Pertambangan Minerba.

Berdasarkan data dari Dirjen Minerba Kementerian ESDM, pada Tahun 2021 terdapat beberapa smelter nikel akan selesai pembangunannya, salah satunya adalah smelter dari PT Smelter Nikel Indonesia (PT SNI) yang hingga saat ini progresnya telah mencapai 80,13 persen.

Namun dikarenakan pandemi Covid-19 yang berlangsung sejak awal Maret 2020, sedikit banyak memberi pengaruh terhadap target penyelesaian beberapa proyek pembangunan smelter di dalam negeri dikarenakan adanya investor yang melakukan penundaan investasi.

Smelter PT SNI direncanakan akan menggunakan teknologi hydro metalurgi atau smelter high pressure acid leaching (HPAL) dengan kapasitas input sebesar 2,4 juta ton pertahun dan kapasitas output sebesar 76.500 ton per tahun dalam bentuk mix hydroxide precipitate (MHP) sebagai produk akhir, yang mana komponen kandungan nikel kontennya sebesar rata-rata 35 persen yang merupakan bahan baku utama baterai listrik, baja khusus dan stainles steel.

“Kita tahu nikel kadar rendah jumlahnya banyak di dalam negeri dan merupakan bahan baku terbaik untuk memproduksi baterai lithium ion atau biasa disebut limonite. Diharapkan PT SNI mampu menyediakan bahan baku baterai guna mendorong percepatan industri kendaraan listrik dalam negeri kedepannya,” ujarnya.

Selain nikel kadar rendah, produk hasil ekstraksi teknologi Atmospheric Leaching PT SNI lainnya berupa Ferro Carbonate (FeCo3) atau produk yang digunakan dalam nutrisi/suplemen hewan guna meningkatkan kualitas pakan ternak, Kieserit adalah pupuk tanaman khususnya pada perkebunan besar baik kelapa sawit maupun perkebunan lainnya.

Selanjutnya, Gypsum yang dibutuhkan dalam industri semen, keramik, industri cat dan industri farmasi. Sementara, silica (SiO2) hasil pengelolahan dapat dimanfaatkan sebagai bata atau bahan komponen bangunan, lumpur pengeboran/mud drilling.

Sumber: RELEASE DPR RI

Read More

Anggota Komisi VII DPR RI Desak Pemerintah Periksa Kualifikasi TKA Yang Bekerja di Pertambangan Nikel

NIKEL.CO.ID – Anggota Komisi VII DPR RI Mulyanto mendesak pemerintah, dalam hal ini  Dirjen Minerba Kementerian ESDM melakukan pemeriksaan terhadap tenaga kerja asing (TKA) yang banyak bekerja di pertambangan nikel.

“Ini perlu dilakukan untuk memastikan dan menindaklanjuti laporan dari masyarakat bahwa banyak TKA yang bekerja di pertambangan nikel ditengarai tidak memiliki kualifikasi yang memadai,” kata Mulyanto, Rabu (16/6/2021).

Menurut Mulyanto, laporan aspirasi ini penting untuk ditindaklanjuti agar tidak menimbulkan keresahan di tengah masyarakat. Pemerintah jangan sungkan mengambil tindakan tegas, karena perbuatan ini jelas merugikan negara dari aspek ketenagakerjaan maupun pajak.

“Pemerintah harus memastikan bahwa tenaga kerja asing pada industri smelter nikel memenuhi kualifikasi yang dipersyaratkan, baik dari segi keahlian maupun dokumen keimigrasian yang dibawa,” kata Mulyanto yang juga menyuarakan itu saat Rapat Panitia Kerja (Panja) Minerba Komisi VII DPR RI dengan Dirjen Minerba Kementerian ESDM, Dirjen ILMATE, Kementerian Perindustrian dan Deputi Investasi dan Pertambangan Menkomarinves, Selasa (15/6/2021).

Dia juga merasa heran jika jika TKA yang datang pada industri smelter ini berkualifikasi pekerja kasar dan dengan visa kunjungan. Kalau ini benar, sudah pasti merugikan Indonesia. Agar tidak jadi isu liar, dia meminta pemerintah untuk  memastikannya.

Mulyanto mengusulkan kepada Ketua Komisi VII DPR RI agar isu kualifikasi TKA ini dijadikan fokus pembahasan saat kunjungan spesifik (kunsfik) Komisi VII ke industri smelter dalam waktu dekat ini.

Selain soal TKA tersebut, Mulyanto juga mendesak pemerintah untuk terus mengevaluasi pelaksanaan program hilirisasi nikel ini. Jangan sampai nilai tambah dan efek pengganda (multiflyer effect) yang konkret dari program ini jauh dari apa yang dijanjikan pemerintah.

“Hal ini dapat mengecewakan masyarakat, apalagi setelah adanya pelarangan ekspor bijih nikel dan soal harga jual bijih nikel (HPM) pada industri smelter, yang sempat bermasalah. Hilirisasi nikel ini adalah program yang bagus, agar kita tidak mengekspor bahan mentah, tetapi bahan jadi dengan nilai tambah tinggi.  Dengan demikian, penerimaan negara akan meningkat,” katanya.

Selain itu dengan pengoperasian industri smelter ini akan menyerap banyak tenaga kerja lokal. Serta manfaat sosial-ekonomi lainnya.  Namun, kalau prakteknya yang terjadi, bahwa produk yang dihasilkan hanyalah nikel setengah jadi dengan nilai tambah rendah serta maraknya TKA berkualifikasi kasar. Tentu ini tidak sesuai dengan harapan.

Untuk diketahui sebanyak 80% yang dihasilkan industri smelter nasional adalah bahan setengah jadi feronikel yang berkadar rendah (NPI). Hanya 20% hasilnya berupa stainless steel (SS). Karena itu nilai tambah industri smelter ini hanya mencapai 3-4 kali dari bahan mentahnya. Tidak sebesar 19 kali sebagaimana yang dijanjikan Pemerintah bila yang dihasilkan adalah bahan jadi hasil fabrikasi siap pakai.

Nikel setengah jadi inilah yang diekspor ke perusahaan induk untuk diolah menjadi barang jadi. Tidak heran kalau beberapa pihak menduga bahwa praktek program hilirisasi ini lebih menguntungakn pihak asing karena mereka mendapatkan jaminan pasokan konsentrat nikel dengan harga murah dan memperoleh nilai tambah tinggi dari proses fabrikasi nikel setengah jadi menjadi barang jadi.  Sementara masyarakat dilarang mengekspor nikel mental yang harganya tinggi di luar.

Sumber: harianhaluan.com

Read More

Smelter Nikel PT IWIP di Maluku Utara Terbakar, 15 Orang Luka Berat

NIKEL.CO.ID – Kebakaran hebat terjadi di kawasan smelter industri pengolahan nikel, PT Indonesia Weda Bay Industri Park (IWIP) di Kabupaten Halmahera Tengah (Halteng), Maluku Utara, pada Selasa (15/6/2021).  Sebanyak 15 karyawan diketahui mengalami luka bakar serius dan lima diantaranya harus diterbangkan ke Jakarta untuk pengobatan.

Kepala Bidang Humas Polda Maluku Utara, Kombes Pol Adip Rojikan ketika dikonfirmasi di Mapolda mengatakan, saat ini Polres Halteng masih melakukan penyelidikan penyebab dari kebakaran. Polisi telah melakukan olah TKP.

“Pihak kepolisian khususnya Polres Halteng hingga saat ini sudah di TKP untuk melaksanakan olah TKP dan melakukan langkah penyelidikan selanjutnya. Diketahui ada 15 korban yang pada akhirnya dilakukan perawatan pada para korban,” kata Adip, Rabu (16/6/2021).

Kebakaran diduga disebabkan terjadi karena percikan api sebuah tungku dari dalam smelter, sehingga api cepat membakar bangunan. Beberapa pekerja yang terjebak yang sempat direkam video amatir karyawan.

Saat ini identitas dari para korban belum diketahui 10 diantaranya sedang dalam penanganan medis di Rumah Sakit Umum Daerah (RSUD) Weda, Ibu Kota Kabupaten Halteng. Hingga saat ini pihak perusahaan belum memberikan penjelasan terkait kejadian yang menyebabkan belasan karyawan luka-luka.

Sumber: Inews Maluku

Read More

Tahap Awal, Antam Listriki Smelter Haltim Secara Mandiri

NIKEL.CO.ID – PT Aneka Tambang (ANTM) akan menyelesaikan pabrik pemurnian (smelter) nikel di wilayah Halmahera Timur, Provinsi Maluku Utara, pada tahun ini. Rencananya pada tahap awal, smelter akan dilistriki secara mandiri oleh Antam.

SVP Corporate Secretary Antam Yulan Kustiyan menjelaskan, saat ini progres pembangunan pabrik pemurnian nikel, Pabrik Feronikel Haltim Line-1 sudah mencapai 98,18 persen. Smelter ini nantinya akan berkapasitas 13.500 ton nikel dalam feronikel (TNi).

“Terkait dengan progres ketersediaan pembangkit listrik untuk Pabrik Feronikel Haltim, sampai saat ini prosesnya sedang berjalan,” ujar Yulan kepada Republika, Ahad (13/6).

Terkait pasokan listrik, Antam membagi dua rencana untuk proyek ini. Pertama, untuk tahap awal, Antam sendiri yang akan membangun pembangkit sementara berupa PLTD yang akan memasok kebutuhan listrik pabrik. Pilihan ini diambil agar pembangkit bisa lebih cepat beroperasi dulu.

Kedua, nantinya untuk keberlangsungan jangka panjang Antam akan menggaet PLN untuk pembangunan pembangkit listriknya.

Antam memastikan tata kelola dan pelaksanaan pemenuhan pembangkit listrik Pabrik Feronikel Haltim ditempuh melalui mekanisme dan metode yang diharapkan paling cepat sesuai dengan memperhatikan praktik GCG.

Untuk jangka pendek, rencananya pada Juli nanti pembangkit sementara akan mulai beroperasi sehingga bisa mendukung operasional smelter feronikel tersebut. Sampai dengan saat ini, dengan ketersediaan listrik yang ada, Antam telah menyelesaikan uji coba tanpa beban (no load test). Antam tengah melakukan proses pengadaan pembangkit listrik untuk memenuhi operasi Pabrik Feronikel Haltim yang berkapasitas 13.500 TNi.

Sumber: REPUBLIKA

Read More

PLN Berkomitmen Penuhi Kebutuhan Listrik Untuk Smelter Nikel

NIKEL.CO.ID – PT PLN (Persero) memastikan bakal memenuhi seluruh kebutuhan listrik bagi industri pengolahan dan pemurnian mineral (smelter) di Sulawesi. Komitmen PLN tersebut kembali disampaikan dalam acara ‘Customer Smelter dan Stakeholder Gathering’ yang digelar di Hotel Claro, Kendari, Sulawesi Tenggara, Selasa (8/6/2021).

Hadir dalam acara tersebut, Sekretaris Daerah Pemerintah Provinsi Sulawesi Tenggara (Sultra), Nur Endang Abbas, Direktur Niaga dan Manajemen Pelanggan PLN, Bob Saril, Direktur Bisnis Regional Sulawesi, Maluku, Papua dan Nusa Tenggara PLN, Syamsul Huda, para pelaku industri smelter di Sulawesi dan pemerintah daerah setempat lainnya.

Diketahui, potensi nikel di Sulawesi Tenggara dan Sulawesi Tengah sangat besar. Sesuai kebijakan pemerintah, potensi tersebut harus diolah melalui industri hilir supaya dapat memberikan nilai tambah bagi perekonomian Indonesia.

Direktur Niaga dan Manajemen Pelanggan PLN, Bob Saril, menyatakan bahwa industri smelter merupakan hilirisasi nikel yang membutuhkan energi listrik yang besar dan PLN siap memenuhinya. Hingga saat ini, terdapat 61 potensi pelanggan proyek fasilitas pengolahan dan pemurnian mineral (smelter) di Sulawesi yang kebutuhan listriknya mencapai 7.184 megavolt ampere (MVA).

“PLN sebagai perusahaan yang diberikan amanah di bidang kelistrikan di Indonesia, memiliki kewajiban untuk memenuhi kebutuhan listrik dan memberikan pelayanan terbaik untuk seluruh pelanggan, termasuk pelanggan industri smelter,” tegas Bob.

Bob berharap pihaknya dapat melayani dan menyediakan pasokan listrik yang andal (reliability), berkualitas (quality) dan harga yang kompetitif (price) bagi perusahaan smelter, serta memberikan produk dan layanan innovative seperti total solusi listriqu dan Renewable Energy Certificate (REC).

“Kerja sama antara PLN dan industri smelter diharapkan bisa menciptakan lapangan kerja dan mendorong roda perekonomian nasional, khususnya di Sulawesi,” ungkapnya.

Sekretaris Daerah Pemprov Sultra Nur Endang Abbas, mengapresiasi komitmen PLN dalam kemenuhi kebutuhan listrik bagi industri smelter di Sulawesi.

“Kami menyambut baik sekaligus mengapresiasi komitmen luar biasa dari PLN dalam memastikan kebutuhan listrik bagi industri smelter di Sulawesi,” ujar Endang.

Selain itu, Endang juga berharap dengan pasokan listrik memadai di Sulawesi Tenggara, nantinya bisa memberikan dampak serta kesejahteraan bagi masyarakat di Sulawesi Tenggara.

Siap Bangun Infrastruktur Listrik

Direktur Bisnis Regional Sulawesi Maluku, Papua dan Nusa Tenggara PLN, Syamsul Huda, menjelaskan bahwa sistem kelistrikan Sulawesi memiliki pasokan listrik yang memadai dan ramah lingkungan.

“Sistem kelistrikan di Sulawesi saat ini mempunyai daya mampu sebesar 2.365 MW, dengan cadangan daya 602 MW. Komposisi pasokan daya tersebut 20,34 persen dipasok dari pembangkit energi terbarukan,” terang Huda.

BACA JUGA: PLN Sukses Percepat Digitalisasi Pembangkit

Sesuai dengan Rencana Usaha Penyediaan Tenaga Listrik (RUPTL) 2021–2030, lanjut Huda, PLN akan menambah kapasitas pembangkit sebesar 3.698 MW, di mana 58 persen merupakan EBT. Selain itu, untuk meyalurkan daya listrik tersebut PLN juga akan membangun 7.052 kilo meter sirkuit (kms) Saluran Udata Tegangan Tinggi (SUTT) dengan 4.702 MVA Gardu Induk yang tersebar di seluruh Sulawesi.

Salah seorang pelaku industri smelter, Direktur PT Huady Nickel Alloy Indonesia, Jos Stefan Hidecky, mengucapkan terima kasih atas layanan serta pasokan listrik yang diberikan PLN.

“Respons PLN dalam melayani kami sangat baik, hal tersebut dibuktikan dengan kemudahan pelayanan serta kebutuhan mengenai kelistrikan bagi smelter kami selama dua tahun berjalan aman dan andal tanpa padam sedikit pun,” tutur Jos.

Sumber: bantenraya.com

Read More

Tahun 2021 Ini, Ada Penambahan Tiga Smelter Nikel

NIKEL.CO.ID – Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) menargetkan tahun ini akan ada penambahan empat fasilitas pengolahan dan pemurnian mineral (smelter) yang mulai beroperasi, terdiri dari tiga smelter nikel dan satu smelter timah.

Direktur Jenderal Mineral dan Batu Bara Kementerian ESDM Ridwan Djamaluddin mengatakan, saat ini telah terdapat 23 smelter yang telah beroperasi.

Adapun empat smelter baru yang ditargetkan mulai beroperasi tahun ini antara lain:

1. Smelter Feronikel PT Aneka Tambang Tbk (ANTM) di Halmahera Timur, Maluku Utara

Dia mengatakan, progresnya saat ini sudah mencapai 97,7%. Proyek smelter ini menurutnya terkendala pasokan listrik, sehingga belum bisa beroperasi. Saat ini pihak Antam dikabarkan telah melelang pengadaan listrik.

Diharapkan, imbuhnya, dalam waktu dekat pada Juli 2021, instalasi listrik di smelter tersebut akan rampung.

“Dan mudah-mudahan dalam waktu dekat, Juli, akan selesai instalasi listrik di lokasi tersebut,” ucapnya.

2. Smelter Nikel PT Smelter Nikel Indonesia

Dia mengatakan, saat ini sudah terbangun 100% dan sudah berhasil melakukan uji coba produksi. Namun, kegiatan ini terhenti sementara karena menunggu tambahan dana untuk operasional.

3. Smelter Nikel PT Cahaya Modern Metal Industri di Banten

Dia mengatakan, proyek ini sudah terbangun sebesar 100%, dan sudah mulai produksi.

“Sudah terbangun 100% dan mulai kegiatan produksi dan sudah dikunjungi Komisi VII,” ujarnya.

4. Smelter Prima Citra di Kalimantan Tengah

Dia mengatakan, proyek smelter ini telah terbangun 99,87%. Tapi saat ini masih menunggu tenaga ahli dari China.

“Saat ini tunggu tenaga ahli dari Tiongkok untuk memulai proses smelter, akan datang Juni 2021 ini,” lanjutnya.

Sebelumnya, Menteri ESDM Arifin Tasrif memaparkan smelter baru yang beroperasi pada 2020 hanya sebanyak dua smelter yakni smelter nikel. Dengan demikian, total smelter nikel yang beroperasi hingga 2020 mencapai 13 smelter.

Sementara smelter untuk komoditas lainnya yakni tembaga tetap tidak berubah dari tahun sebelumnya hanya dua smelter, bauksit dua smelter, besi satu smelter, dan mangan satu smelter. Dengan demikian, pada 2020 terdapat 19 smelter yang telah beroperasi.

Sementara pada 2021, ditargetkan tambahan empat smelter baru sehingga total smelter yang beroperasi akan mencapai 23 smelter. Dari total target 23 smelter beroperasi, di antaranya 16 smelter nikel, dua smelter tembaga, dua smelter bauksit, satu smelter besi, satu smelter mangan, dan satu smelter timbal dan seng.

Sampai dengan 2024 mendatang, pemerintah menargetkan sebanyak 53 smelter beroperasi. Artinya, dibutuhkan 34 smelter baru selama empat tahun mendatang.

Sementara kebutuhan investasi untuk membangun 53 smelter sampai dengan 2024 tersebut yakni mencapai US$ 21,59 miliar. Dengan rincian investasi untuk smelter nikel sebesar US$ 8 miliar, bauksit sebesar US$ 8,64 miliar, besi sebesar US$ 193,9 juta, tembaga US$ 4,69 miliar, mangan sebesar US$ 23,9 juta, serta timbal dan seng sebesar US$ 28,8 juta.

Sumber: CNBC Indonesia

Read More

Kabupaten Banggai Ingin Investor Bangun Smelter Nikel

NIKEL.CO.ID –  Kabupaten Banggai, Sulawesi Tengah (Sulteng), salah satu daerah yang diincar investor di sektor pertambangan nikel, tercatat saat ini telah terdapat 20 izin usaha pertambangan di daerah ini. Hal itu membuat masyarakat dan pemerintah daerah setempat mendorong pembangunan smelter nikel seperti di Kabupaten Morowali Utara.

Bupati Banggai Herwin Yatim menyatakan, pihaknya tengah mengubah tata ruang daerah agar smelter bisa dibangun.

“Saya mendesain tata ruang, Bualemo, Balantak Utara untuk menjadi kawasan industri. Sementara ini,” kata Herwin, kepada media ini, Senin (17/5/2021).

Dengan perubahan tata ruang, Herwin berharap investor dapat menanamkan modal untuk membangun smelter.

“Paling banyak nikel, ya sudah itu di wilayah kepala burung,” ujarnya.

Listrik yang menjadi kendala utama di Kecamatan Balantak, Balantak Selatan, Balantak Utara, dan Bualemo, menurut Herwin, telah diselesaikan pemerintah daerah dan PLN sejak 2 tahun lalu.

“Sudah ada gardu-gardu sebagaimana perencanaan mereka. Itu bagian dari mendukung kegiatan jangka panjang,” katanya.

Herwin meyakini industri tanpa sokongan energi listrik, investasi tak akan berjalan mulus. Pelaku usaha tak ingin mengeluarkan modal besar hanya untuk menopang bisnisnya.

“Industri akan ter-backup dengan listrik yang cukup, jika tidak nonsense,” katanya.

Ia memaparkan saat ke Beijing, China, bersama Gubernur Sulawesi Tengah Longki Djanggola, telah terdapat investor yang ingin membangun smelter di Kabupaten Banggai.

“Mereka mau investasi besar untuk membangun smelter. Bahkan sampai 80 tungku mereka mau bangun di Banggai, di Morowali itu hanya 80 tungku,” ujarnya.

Sumber: KUMPARAN.COM

Read More

Ada Larangan Ekspor Bijih Nikel, Konsumsi Listrik Sulawesi Bisa Naik 3 Kali Lipat

NIKEL.CO.ID – PT PLN (Persero) menikmati dampak positif dari kebijakan larangan ekspor bijih nikel yang diteken pemerintah pada tahun lalu.

Hal itu membuat konsumsi listrik di Sulawesi yang merupakan daerah penghasil nikel jadi meningkat.

Direktur Bisnis PLN Regional Sulawesi, Maluku, Papua & Nusa Tenggara Syamsul Huda menjelaskan, akibat kebijakan itu, setiap perusahaan tambang membangun smelter untuk mengolah bijih nikel.

Pengoperasian smelter tersebut meningkatkan konsumsi listrik.

“Menariknya di Sulawesi ini yang dapatkan berkah dari kebijakan pemerintah bahwa tidak boleh ekspor nikel sebelum diolah di sini. Artinya pengolahan di sini membutuhkan smelter dan jadi potensi pasar yang besar bagi Sulawesi,” ujar Huda dalam konferensi pers virtual, Selasa (11/5/2021).

Huda menjelaskan, normalnya beban listrik di Sulawesi rata-rata hanya 2.000 Megawatt (MW).

Namun, dengan adanya larangan ekspor bijih nikel, beban puncaknya bisa naik tiga kali lipat dari normal.

“Ada potensi pasar smelter, jadi sekitar 6.100 MW. Nah ini kan tiga kali lipat dari beban puncak yang eksisting di Sulawesi,” imbuh dia.

Huda mengatakan, konsumsi listrik pada industri smelter ini masih bisa digenjot lagi.

Oleh sebab itu, PLN terus melakukan pendekatan kepada para pelaku bisnis.

Menurut dia, kondisi infrastruktur menjadi salah satu kendala untuk membangun kelistrikan di wilayah smelter.

Namun, PLN tetap perlu sigap agar tak kehilangan pasar akibat pengusaha malah membuat pembangkit listrik untuk smelter mereka.

“PLN perlu menangkap potensi pasar yang sedemikian besar. Kalau tidak, mereka akan bangun pembangkit sendiri dan PLN jadi enggak bisa menanfaatkan infrasstruktur yang sudah dibangun melalui program 35.000 MW,” jelas dia.

“Oleh karena itu, kami lagi pendekatan agar potensi pasar yang ada bisa menggunakan listrik yang disiapkan negara, dalam hal ini PLN,” tutup Huda.

Artikel ini telah tayang di Kompas.com dengan judul “Ada Larangan Ekspor Bijih Nikel, Konsumsi Listrik Sulawesi Bisa Naik 3 Kali Lipat “.

Read More

BPPT: STAL Mampu Olah Nikel dengan Kandungan Lebih Baik

Teknologi STAL pun diklaim memiliki memiliki kelebihan dari sisi peralatan dan operasional yang lebih sederhana daripada High Pressure Acid Leaching (HPAL).

NIKEL.CO.ID –  Dalam audit teknologi proses Step temperature Acid Leach (STAL) yang dilakukan oleh Badan Pengkajian dan Penerapan Teknologi (BPPT) disebutkan bahwa teknologi pengolahan tersebut mampu menghasilkan nikel dengan kandungan yang baik.

Direktur Pusat Teknologi Pengembangan Sumberdaya Mineral (PTPSM) BPPT Rudi Nugroho mengatakan pihaknya telah merampungkan audit teknologi proses STAL (Step Temperature Acid Leach) pada pilot plant pengolahan laterit nikel milik PT Hydrotech Metal Indonesia (HMI) pada Kamis (6/5/2021) di Bogor, Jawa Barat.

Hasil audit teknologi STAL menunjukkan bahwa pada tahap proses pelindian atau ekstraksi zat, teknologi ini dapat menghasilkan recovery nikel mulai 89 persen hingga 91 persen, dan kobalt sebesar 90 persen hingga 94 persen.

Sementara itu, pilot plant STAL juga telah mampu menghasilkan MHP (Mixed Hydroxide Precipitate) dengan kandungan Ni hingga lebih dari 35 persen, dimana produk MHP ini dapat digunakan sebagai bahan baku untuk pembuatan baterai kendaraan listrik.

Rudi Nugroho mengatakan bahwa recovery nikel dengan teknologi STAL dapat mencapai 89 persen sampai dengan 91 persen. Menurutnya hasil itu jauh lebih bagus dibandingkan dengan AL (Atmosphere Leaching) yang hanya 50 persen hingga 70 persen, dan berbeda tipis dengan HPAL (High Pressure Acid Leaching) yang sekitar 95 persen hingga 96 persen.

Namun, Rudi menilai dengan kualitas yang tipis bedanya ini, teknologi STAL memiliki kelebihan dari sisi peralatan dan operasional yang lebih sederhana daripada HPAL.

“Butuh skill khusus untuk mengoperasikan HPAL. Peralatannya lebih kompleks, seperti tangki-tangki yang digunakan harus bisa dioperasikan dengan tekanan tertentu yang sesuai dengan standar High Pressure Acid Leaching,” kata Rudi dalam keterangan, Senin (10/5/2021).

Sumber: bisnis.com

Read More

Antam Siap Kembangkan Bisnis Pemurnian Nikel

NIKEL.CO.ID –  PT Aneka Tambang Tbk (Antam), anggota Anggota BUMN Holding Pertambangan MIND ID, menandatangani Perjanjian Pendahuluan (Heads of Agreement) Pengembangan Bisnis Pemurnian Nikel bersama Alchemist Metal Industry Pte, Ltd. & PT Gunbuster Nickel Industry pada 6 Mei 2021.

Penandatanganan perjanjian disaksikan oleh Menteri BUMN Erick Thohir dan Menteri Investasi/Kepala Badan Koordinasi Penanaman Modal (BKPM) Bahlil Lahadalia, dan Direktur Jenderal Mineral dan Batubara Ridwan Jamaluddin.

Perjanjian ini menandai inisiasi ekosistem bisnis pemurnian nikel baru bagi perusahaan di Konawe Utara dan Morowali Utara, Sulawesi Tenggara.

Selain itu, hal ini juga menjadi tonggak sejarah baru Grup MIND ID dalam memaksimalkan nilai tambah sumber daya nikel.

“Dalam mewujudkan transformasi ekonomi Indonesia, orientasi hilirisasi menjadi aspek yang penting karena mampu mendatangkan investasi. Kerjasama ini merupakan hal positif bagi Antam sebagai perusahaan yang berpengalaman di bidang pertambangan untuk meningkatkan nilai tambah komoditas nikel” ujar Menteri Investasi/Kepala Badan Koordinasi Penanaman Modal (BKPM) Bahlil Lahadalia dalam keterangan resmi.

Senada, Wakil Menteri BUMN I Pahala Nugraha Mansury mengungkapkan langkah ini sejalan dengan arahan pemerintah agar perusahaan terus melakukan hilirisasi untuk mewujudkan transformasi ekonomi Indonesia ke depan.

“Kerja sama antara Antam dan mitra merupakan kolaborasi win-win, sehingga penanaman modal yang masuk ke Indonesia menjadi kontributor pendorong transformasi ekonomi. Dalam empat tahun mendatang, BUMN industri tambang diharapkan menjadi salah satu anchor untuk mendatangkan investasi ke Indonesia,” ujar Pahala.

Grup CEO MIND ID Orias Petrus Moedak mengugkapkan Antam memiliki portofolio nikel yang solid dan berpengalaman lebih dari lima dekade dalam mengelola mineral nikel dari hulu ke hilir. Sementara, mitra yang bekerjasama dalam perjanjian ini memiliki teknologi pemrosesan dan pemurnian yang diperlukan sekaligus menyerap produk olahan nikel yang dihasilkan.

“Ekosistem ini merupakan peluang bisnis baru bagi Antam mulai dari pengembangan proyek penambangan bijih nikel hingga proyek smelter yang menghasilkan feronikel atau nickel pig iron” jelasnya.

Kerja sama dengan mitra strategis ini memungkinkan Antam untuk mendapatkan manfaat yang optimal karena para pihak akan berperan sesuai porsi kepemilikan saham baik di bisnis hulu (penambangan) dan di bisnis hilir (smelter).

Di hulu, perusahaan akan bekerjasama dengan mitra untuk melakukan operasi penambangan. Hasil produksi bijih nikel akan di jual ke smelter sesuai dengan harga patokan mineral. Di hilir, Antam akan memiliki saham pada proyek smelter ketika pabrik beroperasi secara komersial.

Sebagai informasi, proyek pengembangan dan pengoperasian smelter terdiri dari tiga lines dengan masing-masing 45 MVA smelter nikel dan kapasitas pembangkit listrik 135 MW.

Ke depan, holding pertambangan pelat merah akan terus berfokus pada ekspansi pengolahan mineral ke hilir, perluasan basis cadangan dan sumber daya, dan menjalin kemitraan untuk mengembangkan produksi mineral olahan baru dari cadangan yang ada.

Sumber: CNN Indonesia

Read More