
NIKEL.CO.ID, JAKARTA – Beredarnya kabar yang mengindikasikan produsen milik perusahaan China di Indonesia yang tengah mempertimbangkan untuk memangkas produksi nickel pig iron (NPI) sebesar 20% dan produksi bahan baku baterai mixed hydroxide precipitate (MHP) sebesar 50% mengakibatkan tekanan terhadap profitabilitas. Meski demikian, belum ada rencana resmi yang dikonfirmasi atas rencana pemangkasan produksi tersebut.

Pemerintah Indonesia tampaknya mendukung pengurangan produksi tersebut, dengan harapan bahwa penurunan pasokan dapat mendongkrak harga nikel serta bijih nikel, sekaligus membantu menjaga pendapatan dari royalti. Pemerintah juga mungkin akan meninjau kembali rencana produksi bijih nikel jika permintaan dari pihak smelter mengalami penurunan.
Di sisi lain, kebijakan Indonesia masih menunjukkan arah yang beragam. Di satu sisi, pemerintah mempertimbangkan pembatasan kapasitas smelter baru; namun di sisi lain, pemerintah berencana meningkatkan kuota bijih nikel untuk tahun 2026 menjadi sekitar 290 juta ton—naik dari kisaran 250–260 juta ton—guna menjamin pasokan bijih bagi smelter yang sudah ada.

Dikutip dari laman resmi YIEH Corp, Kamis (19/10/2026), harga nikel dipantau sempat naik dari US$14.885 menjadi US$15.935 per ton menyusul rumor pengurangan produksi pada 22 Oktober, namun kemudian melandai ke level US$15.535 per ton pada tanggal 26 Oktober. Harga NPI di China dan Indonesia juga terpantau stabil, hal ini menunjukkan bahwa pasokan belum mengalami pengetatan. Jika pengurangan produksi benar-benar diterapkan, langkah tersebut dapat memperbaiki keseimbangan pasar dan menopang harga. Akan tetapi, dengan adanya kuota bijih nikel yang lebih tinggi dan belum adanya konfirmasi resmi mengenai pemangkasan produksi, prospek pasar ke depan akan sangat bergantung pada tingkat produksi aktual di Indonesia serta permintaan dari produsen baja tahan karat (stainless steel) di China. (Momon)

























