Beranda Berita International INSG Perkirakan Pasar Nikel Global Akan Mengalami Surplus Pasokan untuk Tahun Ini...

INSG Perkirakan Pasar Nikel Global Akan Mengalami Surplus Pasokan untuk Tahun Ini dan Tahun Depan

44
0
Foto udara smelter milik PT Vale Indonesia Tbk di Sorowako, Kabupaten Luwu Timur, Sulawesi Selatan (Foto: Istimewa)

NIKEL.CO.ID, JAKARTA – International Nickel Study Group (INSG) memperkirakan pasar nikel global mengalami surplus pasokan pada tahun 2026 ini. Dikutip dari kitco.com, Rabu, (14/10/2026), pasokan nikel mengalami pembalikkan arah dari perkiraan defisit yang dibuat enam bulan lalu. Kondisi kelebihan pasokan ini diperkirakan akan terus berlanjut hingga tahun depan.

INSG menyampaikan bahwa permintaan global untuk nikel primer yang digunakan dalam industri baja tahan karat dan baterai isi ulang, diperkirakan akan mencapai sekitar 3,85 juta metrik ton pada tahun 2026, naik 7,6% dari tahun lalu. Hal ini terungkap setelah adanya dua hari pertemuan antara perwakilan pemerintah dan industri dari negara-negara anggota di Lisbon.

Dengan produksi 3,85 juta metrik ton tentunya pasar nikel akan mengalami surplus sebesar 19.000 ton, dibandingkan dengan defisit sebesar 32.000 ton pada perkiraan pada bulan April lalu, yang akan menjadi defisit pasokan tahunan pertama sejak tahun 2021. INSG sebelumnya memperkirakan permintaan sebesar 3,75 juta ton dan produksi sebesar 3,72 juta ton untuk tahun 2026.

“INSG memperkirakan sektor baja tahan karat akan terus berkembang pada paruh kedua tahun 2026 dan sepanjang tahun 2027,” kata INSG. Mereka menambahkan bahwa peran nikel di pasar baterai kendaraan listrik tumbuh lebih lambat dari yang diharapkan karena persaingan dari teknologi baterai litium besi fosfat.

Indonesia, lanjut INSG, merupakan produsen nikel terbesar di dunia, menyetujui pengurangan kuota produksi bijih nikel untuk tahun 2026 dibandingkan tahun lalu, selain itu INSG memberikan catatan bahwa permohonan untuk kuota tahun 2027 dapat diajukan hingga 15 November. INSG memperkirakan surplus nikel akan melebar menjadi 70.000 ton pada tahun 2027, dengan permintaan mencapai 4 juta ton dan produksi meningkat menjadi 4,07 juta ton. (Mon)