Beranda Asosiasi Pertambangan APNI: ICOMEX Disiapkan Jadi Acuan Harga Nikel Indonesia Mulai 2027

APNI: ICOMEX Disiapkan Jadi Acuan Harga Nikel Indonesia Mulai 2027

Delegasi Institute of Market Economy - Development Research Center (IME-DRC) bersama Sekretaris Jenderal APNI, Meidy Katrin Lengkey saat berkunjung ke Kantor DPP APNI (doc. MNI/uyun)

NIKEL.CO.ID, JAKARTA — Asosiasi Penambang Nikel Indonesia (APNI) menilai pembentukan Indonesia Commodity Exchange (ICOMEX) atau Bursa Mineral Komoditas Strategis (BMKS) menjadi langkah penting untuk membangun acuan harga nikel yang lebih mencerminkan kondisi industri dalam negeri.

Sekretaris Umum APNI, Meidy Katrin Lengkey mengatakan, ICOMEX ditargetkan mulai beroperasi pada 4 Januari 2027. Namun, hingga 26 Oktober 2026, mekanisme perdagangan dan produk nikel yang akan diperdagangkan masih dalam tahap persiapan.

“Tujuan utama adalah kita sendiri yang akan menetapkan harga kita,” ujar Meidy saat menerima kunjungan delegasi Institute of Market Economy (IME)–Development Research Centre (DRC) dari Tiongkok di kantor APNI, Jakarta, Senin (26/10/2026).

Menurut Meidy, selama ini harga acuan nikel Indonesia masih berkaitan dengan London Metal Exchange (LME), sedangkan transaksi produk turunan seperti nickel pig iron (NPI) dan ferronickel banyak mengacu pada pasar Tiongkok. Perbedaan karakteristik produk tersebut menjadi salah satu alasan Indonesia perlu mengembangkan acuan harga sendiri.

Penentuan Produk Nikel Masih Dibahas

ICOMEX direncanakan memulai perdagangan dengan komoditas timah sebelum dilanjutkan ke nikel. Untuk nikel, sejumlah produk yang masih dipertimbangkan meliputi bijih nikel, NPI, ferronickel, dan mixed hydroxide precipitate (MHP).

“Jadi, nanti akan ditetapkan, mungkin bulan depan sudah ditetapkan produk nikel yang mana duluan, yang akan diperdagangkan di bursa Indonesia. Di ICOMEX ini sendiri,” kata Meidy.

Ia menambahkan, pengembangan bursa juga mencakup kesiapan mekanisme perdagangan, infrastruktur, standar produk, dan transparansi transaksi. Dengan demikian, target operasional pada Januari 2027 perlu dibedakan dari kepastian dimulainya perdagangan produk nikel.

APNI berharap ICOMEX dapat membangun acuan harga yang transparan dan sesuai dengan karakteristik produk domestik, sekaligus mempertimbangkan kebutuhan pasar internasional. Langkah ini dinilai penting mengingat Indonesia menyumbang sekitar 67% produksi tambang nikel dunia berdasarkan data yang dipaparkan APNI. (Lili Handayani)