Prospek Bisnis Pertambangan Nikel

Opini oleh: Aldin Ardian *)

NIKEL.CO.ID – Pemanfaatan nikel sebagai bahan baterai terus meningkat sejak satu dekade terakhir. Popularitasnya semakin meroket pada pertengahan 2020, ketika Elon Musk (CEO Tesla) semakin agresif mengembangkan bisnisnya dalam produksi EV (electric vehicle atau kendaraan listrik). Ditambah, isu perubahan iklim (climate change) agar mengurangi emisi gas karbon, kebijakan green industrial revolution dari perdana menteri Britania Raya, Boris Johnson, melarang penjualan mobil baru berbahan bakar minyak pada tahun 2030, dan wacana Joe Biden, Presiden Amerika Serikat terpilih dalam pilpres AS 2020, untuk mengakselarasi transisi dari kendaraan konvensional ke EV, menjadi sentimen positif pada industri pertambangan nikel.

Tesla, perusahaan industri otomotif dengan kapitalisasi pasar terbesar di dunia saat ini, nampaknya menaruh perhatian yang tinggi kepada Indonesia sebagai lokasi investasi pengembangan bisnisnya. Salah satu alasan kuatnya adalah tingginya kadar rata-rata nikel di Indonesia, yaitu sekitar 1,8% (kadar rata-rata nikel dunia adalah 0,2%). Musk menyatakan bahwa dia bersedia membuat kontrak jangka panjang untuk membeli nikel dari perusahaan yang mampu menambang nikel dengan kapasitas besar dan peduli terhadap efek lingkungannya. Perusahaan-perusahaan nikel di Indonesia seperti PT. Indonesia Morowali Industrial Park (IMIP), PT. Vale Indonesia, Tbk (INCO), PT. Virtue Dragon, PT. Harita Nickel, PT. Aneka Tambang, Tbk (ANTM), dan PT. Central Omega Resource, Tbk (DKFT) dapat melihat ini sebagai peluang kerjasama yang menarik. Musk di lain kesempatan juga menyatakan bahwa industri pertambangan nikel di Kanada juga menarik untuk dipertimbangkan karena regulasi pemerintah terhadap lingkungan yang sangat ketat. Contohnya, Giga Metals corporation memanfaatkan pembangkit listrik tenaga air (PLTA) untuk supplai listriknya atau Canada Nickel company dengan komitmen zero-carbon production di mana kegiatan penambangan menggunakan shovel dan truk listrik (sumber PLTA) dan penggunaan serpentine (waste rock) sebagai absorbsi gas karbon dioksida (CO2). Namun, kadar rata-rata nikel di Kanada hanya sekitar 0,3%.

Selain Tesla; NIO, Xiaopeng motors (XPeng), Li Auto, dan Kandi Technologies Group merupakan perusahaan asal Tiongkok yang juga memiliki perkembangan signifikan di bidang EV. Perlu disadari pula, perusahaan-perusahaan EV lainnya seperti Workhorse, Nikola, dan Greenpower maupun perusahaan-perusahaan otomotif berkapital besar seperti Toyota, Volkswagen, Daimler, dan General motors tentunya tidak akan tinggal diam menonton pertunjukan Tesla dan NIO menguasai pasar EV. Oleh karena itu, sangat memungkinkan hanya dari industri EV, demand nikel akan mengalami lonjakan di masa depan.

Sebenarnya selain nikel, lithium juga digunakan sebagai bahan pembuatan baterai EV. Seiring berkembangnya tren EV, lithium juga terkena imbasnya secara positif. Namun, mengutip dari nickelinstitute.org, nikel masih digunakan hingga 80% dari total komponen baterai EV, dan baterai dengan bahan nikel tersebut memiliki kapasitas penyimpanan dan densitas energi lebih tinggi. Dengan kata lain, EV dengan baterai berbahan utama nikel lebih efisien dibanding lithium. Dari aspek teknologi, nikel lebih unggul daripada lithium.

Dilihat dari aspek harga, mas depan nikel diprediksi semakin cerah dilihat dari tren peningkatan harga nikel dalam 5 tahun terakhir. Salah satu penyebabnya adalah suplai global yang berkurang karena kebijakan larangan ekspor bijih nikel oleh pemerintah Indonesia dan peraturan ketat penambangan nikel di Filipina, di mana dua negara tersebut merupakan produser nikel terbesar di dunia. Kebijakan pemerintah Indonesia tersebut diapresiasi oleh Mark Selby (CEO Canada Nickel company) dalam interviewnya dengan Crux Investor pada 11 Agustus 2020. Karena selain mendongkrak harga nikel, Selby menyebutkan bahwa kebijakan tersebut dianggap sebagai kebijakan tersukses bagi negara berkembang untuk mendatangkan investasi dalam jumlah besar. Lebih jauh lagi, melihat dari total cadangan dunia pada tahun 2019, yaitu sebesar 89 juta metrik ton dan tingkat produksi pada tahun yang sama, yaitu sebesar 2,7 juta metrik ton, data dari US Geological Survey tersebut terlihat bahwa cadangan nikel dunia akan habis dalam waktu kurang dari 33 tahun untuk nikel dibanding 220 tahun untuk lithium pada tahun perhitungan yang sama. Padahal menurut data historis, laju pertumbuhan kebutuhan atau demand nikel dari tahun 2000 hingga 2016 yaitu sebesar 3,8% per tahun. Terlebih, menurut penelitian Wood MacKenzie, hanya dari sektor EV, demand nikel dari tahun 2019 hingga 2027 akan meningkat 113%. Tidak lupa, pasar industri manufaktur baja tahan karat (stainless steel) yang saat ini menyerap 70% suplai nikel pun diproyeksikan oleh Market Study Report tetap akan berkembang 6,3% per tahun (CAGR) hingga 2027. Kelangkaan suplai nikel tentunya akan berkontribusi pada peningkatan harga nikel di masa depan. Saat artikel ini ditulis, harga nikel masih di kisaran US$16.000/ton, di mana all-time-high terjadi pada tanggal 16 Mei 2007 yaitu sebesar US54.200/ton. Artinya, masih ada ruang peningkatan yang sangat besar.

Dari aspek daur-ulang (recycling), nikel memiliki tingkat efisiensi tinggi. Hingga 68% barang konsumsi (consumer products) berbahan nikel telah didaur-ulang. Salah satu penyebabnya karena nikel merupakan logam non-ferrous, sehingga tahan karat dan dapat digunakan berulang-ulang tanpa mengurangi kualitasnya. Meskipun industri daur-ulang ini dapat menjadi kompetitor industri pertambangan nikel, namun dalam jangka pendek hingga menengah (short- hingga mid-term) justru mampu menjadi katalis positif konsumsi nikel dunia karena memberi pandangan ramah-lingkungan. Oleh karena itu, industri pertambangan akan masih menjadi leader, khususnya untuk memenuhi kebutuhan nikel yang masih dalam tahap bertumbuh.

Dari penjelasan di atas, empat poin dapat ditarik sebagai kesimpulan. Pertama, bahwa peluang usaha pertambangan nikel cukup menjanjikan dilihat dari agresivitas industri EV, teknologi baterai EV berbahan dasar nikel, dan harga komoditas nikel. Kedua, Indonesia memiliki peluang besar mendapatkan investasi pengembangan Tesla (atau bahkan perusahaan EV lainnya) dari segi kualitas nikel, namun perlu diperhatikan bahwa Musk menginginkan rantai-pasok (supply-chain) Tesla didapat dari sumber yang beretika, khususnya secara lingkungan (sumber energi, emisi gas karbon, dan air). ketiga, yaitu dari sisi suplai atau produksi-cadangan. Untuk memenuhi permintaan nikel yang terus meningkat, target produksi penambangan nikel pun harus ditingkatkan. Konsekuensinya, untuk mempertahankan suplai nikel dalam jangka menegah, peningkatan sumber daya menjadi cadangan melalui studi kelayakan sudah menjadi keharusan yang mendesak, atau kegiatan eksplorasi untuk meningkatan sumber daya dapat menjadi strategi selanjutnya. Terakhir, alih-alih sebagai kompetitor yang menghambat, industri daur-ulang nikel dapat menjadi pemicu konsumsi nikel yang lebih tinggi.

Selama tahun 2020, saham perusahaan pertambangan nikel ANTM, INCO, dan DKFT telah meningkat 138%, 48%, dan 23%, secara berurutan. Sedangkan di bursa Kanada (TSX dan TSXV) dengan kurun waktu yang sama untuk Giga metals corporation (GIGA) meningkat sekitar 55%, Talon Metals corp. (TLO) sebesar 220%, dan Canada Nickel company (CNC) sebesar 116%.

*) Aldin Ardian adalah Dosen Teknik Pertambangan UPN “Veteran” Yogyakarta.

Sumber: duniatambang.co.id

Read More

Mission Possible Raja Baterai Listrik

NIKEL.CO.ID – Dengan menguasai 25% cadangan nikel dunia, Indonesia berambisi menjadi produsen baterai lithium-ion terbesar di dunia. Hilirisasi bahan bakunya, yaitu nikel, terus digenjot. Begitu pula investasi untuk pembangunan pabriknya.

Deskripsi:

32% Kebutuhan Nikel Baterai Mobil Listrik Pada Tahun 2019-2030

Jenis Baterai Listrik
1. Lithium-ion (Li-ion)
Unsur logam litium dan kobalt sebagai elektroda

2. Nickel Metal Hydride (NiMH)
NiMH memanfaatkan nikel

Cadangan Biji Nikel Dunia 2019

  • Madagaskar = 1,8%
  • Kolombia = 0,5%
  • Indonesia = 23,7%
  • Australia = 21,5%
  • Brazil = 12,4%
  • Rusia = 8,8%
  • Kuba = 5,4%
  • Filipina = 4,2%
  • Afrika Selatan = 3,2%
  • Tiongkok = 3%
  • Kanada = 2%
  • Guatemala = 1,8%
  • Negara Lain = 7,3%

Jenis Nickel
1. Nickel Laterite (Kadar Rendah)
Indonesia, Kuba, Filipina, dan Kaledoneia Baru

2. Nickel Sulphides (Kadar Tinggi)
Amerika Utara, Australia, China, Rusia, dan Greenland

Lima Smelter Teknologi High Pressure Acid Leaching (HPAL) produksi bahan baku komponen baterai ditargetkan bertoperasi pada 2023. Saat ini Smelter HPAL baru ada 2 di dunia, Coral Bay, Filipina dan Moa Bay, Kuba.

Baterai lithium merupakan kunci pengembangan energi terbarukan secara masif, terutama pembangkit listrik tenaga surya.

Potensi Bahan Baku Baterai Listrik 

  • 11.887 Juta Ton
  • 4.346 Juta Ton (cadangan)
  • 930 Juta Ton (Total cadangan biji nikel kadar tinggi)
  • 3,6 Juta Ton (Cadangan biji nikel kadar rendah)

Larangan Ekspor 
1. Mulai 1 Januari 2020 Indonesia larang ekspor biji nikel
2. Membebaskan pajak dan bea masuk impor pembangunan smelter berkonten lokal sebesar 30%

Produksi Biji Nikel 

  • 2018 = 22,14 Juta Ton
  • 2019 = 0,95 Juta Ton
  • 2020 = 15,85 Juta Ton

Didominasi nickel pig iron (NPI) dan feronikel (FeNi)
30 SMELTER NIKEL BEROPERASI 2024 

Progeres :

  • 13 Smelter = 90%
  • 9 Smelter = 30-90%
  • 8 Smelter =

Sumber: RRI.co.id

Read More

DPR Minta Pemerintah Batasi Ekspor Nikel Setengah Jadi

NIKEL.CO.ID – Melihat nikel akan berpotensi menjadi komoditas unggulan, anggota Komisi VII DPR RI, Mulyanto, minta Pemerintah fokus menyiapkan aturan tata kelola mineral ini dari hulu hingga hilir secara maksimal.

Mulyanto memperkirakan seiring berkembangnya industri produksi baterai, nikel akan menjadi primadona dan sumber pertumbuhan ekonomi ke depan. Karena itu Pemerintah perlu memaksimalkan nilai ekonomis bahan tambang ini agar bisa meningkatkan pertumbuhan nasional yang sekarang terpuruk.

“Pemerintah perlu membatasi ekspor produk nikel setengah jadi. Karena produk setengah jadi ini nilai tambahnya tidak seberapa,” kata Mulyanto dalam Rapat Dengar Pendapat Komisi VII DPR RI dengan BPPT, LIPI, BIG, Badan Geologi dan Balitbang Kementerian ESDM, (1/11/2020).

Mulyanto menambahkan saat ini industri baterai listrik untuk keperluan industri otomotif ramah lingkungan sedang naik daun. Nikel sebagai bahan utama produksi baterai listrik tentu menjadi kebutuhan utama penunjang industri yang akan terus berkembang tersebut. Untuk itu sebagai negara dengan cadangan nikel terbesar Indonesia harus dapat mengambil manfaat yang sebesar-besarnya dari kondisi ini.

“Disinilah peran penting lembaga riset dan inovasi kita serta Kementerian ESDM untuk memikirkan jalan, bukan sekedar hilirisasi “setengah hati”, dengan menghasilkan produk setengah jadi dengan nilai tambah sedikit, namun mengembangkan hilirisasi penuh memproduk barang jadi dengan nilai tambah tinggi, produk teknologi berbasis nikel,” tegas Mulyanto.

“Ke depan kita harus melarang ekspor bahan baku setengah jadi bila industri baterai dan industri hilir berbasis nikel tumbuh di negeri ini,” imbuh Wakil Ketua Fraksi PKS DPR RI, Bidang Industri dan Pembangunan ini.

Seperti diketahui, Indonesia merupakan negara dengan cadangan bijih nikel terbesar di dunia. Sekitar 32,7% cadangan nikel dunia ada di Tanah Air. Australia berada di urutan kedua setelah Indonesia, yang memiliki 21,5% cadangan nikel dunia. Brazil menyusul dengan cadangan bijih nikel 12,4%. Kemudian Rusia, Kuba, Filipina, dan Afrika Selatan.Demi menjaga ketahanan cadangan mineral ini, pemerintah mengeluarkan kebijakan larangan ekspor bijih nikel dengan kadar 1,7%. Kebijakan ini mulai diberlakukan per Januari 2019.

Indonesia menduduki peringkat pertama sebagai produsen nikel terbesar dunia. Pada tahun lalu, produksi nikel dunia mencapai 2,6 juta ton, sementara produksi nikel Indonesia mencapai sebesar 800 ribu ton. Sementara di posisi kedua dan ketiga ditempati oleh Filipina dan Rusia dengan produksi masing-masing 420 ribu ton dan 270 ribu ton.

Sumber: arahkata.com

Read More

Pemerintah Tetapkan Pembangunan Smelter Nikel PT. CNI Sebagai Proyek Strategis Nasional

NIKEL.CO.ID –  Pemerintah Indonesia melalui Kementerian Koordinator Maritim dan Investasi (Kemenkomarves) terus mengakselerasi hilirisasi nikel melalui percepatan Proyek Strategis Nasional (PSN) yang dicanangkan oleh Presiden Joko Widodo.

Langkah ini sebagai wujud komitmen pemerintah untuk memperkuat daya saing industri nasional di tingkat dunia dan meningkatkan nilai tambah komoditi nikel.

Salah satu yang menjadi fokus pemerintah saat ini adalah mempercepat proyek strategis nasional melalui pembangunan smelter nikel di Sulawesi.

Pasalnya, Sulawesi menjadi episentrum nikel di Indonesia. Berdasarkan pemetaan Badan Geologi pada Juli 2020, Indonesia memiliki sumber daya bijih nikel sebesar 11.887 juta ton (tereka 5.094 juta ton, terunjuk 5.094 juta ton, terukur 2.626 ton, hipotetik 228 juta ton) dan cadangan bijih sebesar 4.346 juta ton (terbukti 3.360 juta ton dan terikira 986 juta ton). Sedangkan untuk total sumber daya logam mencapai 174 juta ton dan 68 juta ton cadangan logam.

Area Sulawesi Tenggara, Sulawesi Tengah, dan Maluku Utara punya potensi yang terbesar di Indonesia sampai dengan saat ini.

Asisten Deputi Bidang Koordinasi Investasi dan Pertambangan, Kemenkomarves Tubagus Nugraha mengungkapkan, untuk mempercepat realisasi PSN, pemerintah akan memberikan berbagai fasilitas perizinan baik yang dikeluarkan oleh Pemerintah Pusat maupun Pemerintah Daerah yang memiliki kewenangan sesuai dengan ketentuan peraturan perundang-undangan.

Tubagus menjelaskan, Proyek Strategis Nasional bertujuan untuk meningkatkan daya saing ekonomi Indonesia, meningkatkan daya saing sektor industri dan jasa sebagai bagian dari peningkatan nilai SDA dan penyediaan lapangan kerja, memperbaiki defisit transaksi berjalan Indonesia.

Tujuan lainnya adalah menurunkan impor dan defisit neraca perdagangan Indonesia serta peningkatan ekspor ke luar negeri melalui industrialisasi, Penanaman Modal dalam Negeri dan Foreign Direct Investment (FDI), mengkoordinasikan untuk mengundang, mengajak, mempromosikan, dan membantu proses investasi di Indonesia, penyediaan KI prioritas luar Jawa.

Untuk mempercepat hilirisasi nikel melalui Proyek Strategis Nasional, Kemenkomarves meninjau langsung kesiapan sejumlah smelter di Sulawesi yang masuk dalam usulan PSN diantaranya; Indonesia Morowali Industrial Park (IMIP) Morowali, Virtue Dragon Nickel Industry (VDNI) di Konawe dan PT Ceria Nugraha Indotama (CNI) di Kabupaten Kolaka, Sulawesi Tenggara.

Tubagus mengapresiasi keseriusan PT. CNI dalam membangun smelter untuk memperkuat hilirisasi nikel.

“Sebagai Penanaman Modal Dalam Negeri (PMDN), Indonesia harus bangga dengan langkah PT. CNI yang sangat strategis ini. Kami akan mendukung agar PSN ini berhasil,” ujarnya dalam pertemuan Debottlenecking Pembangunan Smelter PT Ceria Nugraha Indotama, di Kolaka, Sultra, Kamis (18/11/2020).

Menurut Tubagus, Kabupaten Kolaka menjadi salah satu lumbung  Nikel Indonesia. Oleh karena itu, dengan menjadikan smelter PT. CNI sebagai PSN, hilirisasi nikel akan menghasilkan nilai tambah dan mendorong percepatan ekonomi daerah dan nasional.

“Dan yang paling penting menciptakan lapangan kerja. Kami perkirakan, jika smelter PT. CNI beroperasi akan melebihi 4000 tenaga kerja yang terserap,” imbuhnya.

“Hal utama yang harus dipercepat adalah izin Hak Guna Bangunan (HGB), dukungan energi listrik dan rencana pembangunan smelter,” imbuhnya.

Sementara itu, Deputi Direktur PT. CNI Djen Rizal menjelaskan bahwa sebagai PMDN, PT. CNI berkomitmen penuh dalam program hilirisasi nikel dan cobalt untuk mendukung industri mobil listrik.

Menurut Djen Rizal, saat ini PT. CNI sedang membangun pabrik pengolahan bijih Nikel Saprolit dengan teknologi RKEF yang terdiri dari total 4 line masing-masing 72 MVA, Rectangular Furnace melalui 3 fase pembangunan (setara 8 line 36 MVA Circular Furnace). Phase 1: 1 line 72 MVA, Phase 2: 1 line72 MVA, Phase 3: 2 line 72 MVA. Total umpan pabrik 5,600,000 ton per tahun 1.59 persen Ni. Pembangunan dilakukan oleh konsorsiumBUMN China ENFI dan BUMN Indonesia PT. Pembangunan Perumahan (PP) dimana masing-masing merupakan BUMN yang terkemuka dalam bidangnya.

Untuk produksi, rencana 252,000 ton per tahun Ferronickel (FeNi) 22 persen Ni. Total tenaga listrik diperlukan sebesar 350 MW dari PLN. Umur pabrikdari suplai bijih tambang PT. CNI sendiri diperkirakan mencukupi lebih dari 20 tahun operasi (berdasarkan estimasi sumber daya dan cadangan saat ini dari suplai bijih nikel yang di tambang sendiri di WIUP CNI)

PT. CNI juga akan membangun pabrik pengolahan bijih Limonit dengan teknologi HPAL yang akan mengolah 6.800,000 ton bijih pertahun dengan rencana produksi lebih dari 103,000 ton MHP per tahun (40,050 ton Nikel dan 4,118 ton Cobalt).

“Kapasitas listrik yangdibutuhkan sebesar 350 MW dengan umur pabrik diperkirakan dapat mencapai lebih dari 20 tahun operasi,” jelasnya.

Untuk mendukung pasokan energi listrik, PT. PLN mensuplai pasokanlistrik melalui kontrak jual beli listrik SPJBTL sebesar 350 MW.

Sementara itu, PLN UIP Sulselrabar, Iqbal memastikan dukungan energi listrik untuk operasional smelter PT. CNI sudah tersedia secara berkelanjutan dan dipastikan tidak ada kendala apapun.

“PLN mendukung penuh smelter PT. CNI agar segera beroperasi. Kami telah membangun gardu induk untuk menyuplai kebutuhan listrik smelter PT. CNI,” jelas Iqbal.

Selain itu, dengan terkoneksinya listrik se-Sulawesi, pasokan listrik untuk smelter PT. CNI ke depan akan tetap terjamin.

“Dengan interkoneksi ini, daya listrik kita sudah surplus 800 mw. Kami pastikan kebutuhan listrik smelter PT. CNI tidak akan menghadapi kendala apapun,” jelasnya.

Sementara itu, Pemerintah Daerah Kabupaten Kolaka juga mendukung penuh smelter PT. CNI sebagai Proyek Strategis Nasional.

Asisten II Pemkab Kolaka, Mustajab menegaskan akan mempermudah dan mempercepat proses perizinan termasuk dalam penyelesaian permohonan HGB.

“Sejak awal, kami mendukung penuh smelter PT. CNI jadi PSN. Kami akan berupaya mensupport dan mempercepat proses perizinan agar investasi ini cepat berjalan,” imbuhnya.

Untuk mempersiapkan calon tenaga kerja, Pemda setempat juga telah mendirikan Politeknik yang juga didukung oleh PT. CNI termasuk perusahaan tambang lainnya.

Kepala BPN Kolaka Isman Tama menegaskan, saat ini sementara berjalan proses pemeriksaan berkas kelengkapan HGB. Begitu semua kelengkapan berkas yang diserahkan pihak PT CNI terpenuhi, selanjutnya akan diserahkan kepada Kanwil, sebab hal tersubut adalah kewenangan Kementerian ATR/BPN.

“Kami mendukung penuh pembangunan smelter PT Ceria. Begitu semua kelengkapan berkas untuk penerbitan izin HGB terpenuhi semua, langsung kami serahkan ke Kanwil. Kalau bisa cepat, untuk apa diperlama,” jelasnya.

Sementara itu, ‎Husaini Direktur Pengaturan dan Penetapan Hak Tanah dan Ruang, Direktorat Jenderal Hubungan Hukum Keagrariaan Kementerian ATR/BPN, juga mendukung usulan smelter PT. CNI sebagai Proyek Startegis Nasional.

Ia mengungkapkan, salah satu yang menjadi perhatian utama oleh pihaknya terkait izin HGB. Pasalnya, izin ini penting untuk memastikan investasi tidak terhambat.

“Izin HGB ini menjadi perhatian kita. Kami akan memastikan perizinan ini prosesnya lebih cepat,” imbuhnya.

Sebagai referensi, berdasarkan Lampiran Surat Menteri Koordinator Bidang Perekonomian kepada Presiden Republik Indonesia nomor IPW/110/M.EKON /05/2020 tanggal 14 Mei 2020 hal Laporan Hasil Review Usulan Proyek Strategis Nasional (PSN) serta Usulan

Revisi Perpres 56/2018, Proyek Smelter PT Ceria Nugraha Indotama telah masukdalam Daftar Usulan PSN Sektor Smelter.

Status PSN tersebut akan ditetapkan melalui Revisi Peraturan Presiden Nomor 56 Tahun 2018 yang saat ini masih sedang berproses dan Draft Perpresnya sudah berada di meja Presiden.

Sumber: JPPN

Read More

CATL Akan Jadikan Indonesia Sebagai Pusat Pengembangan dan Produksi Baterai Lithium

NIKEL.CO.ID – Produsen baterai kendaraan listrik asal China, Contemporary Amperex Technology Limited (CATL) tengah menyiapkan pembangunan pabrik sebesar 5,1 miliar dollar Amerika Serikat atau Rp 7,2 triliun di Indonesia.

Komitmen tersebut menyusul ketertarikan pabrikan terhadap perkembangan hilirisasi industri nikel di Tanah Air untuk mempersiapkan era elektrifikasi beberapa waktu lalu.

Melansir Paultan, Kepala Badan Koordinasi Penanaman Modal (BKPM), Bahlil Lahadahlia menyebut CATL sudah tanda tangan dan sepakat kerja sama dengan PT Inalum dengan target pembangunan pabrik pada tahun depan.

“Kami menandatangani perjanjian ketika kami berada di China baru-baru ini. Peletakan batu pertama, dimulai pada 2021,” ujarnya, Jumat (20/11/2020).
CATL yang merupakan perusahaan baterai lithium terbesar di dunia akan menjadikan Indonesia sebagai pusat pengembangan dan produksi baterai lithium ketiganya, setelah Tiongkok dan Jerman.

Di Indonesia CATL berencana mengembangkan pertambangan nikel, pabrik pengolahan nikel, pabrik material baterai litium sampai dengan pabrik mobil listrik.

Pabrikan juga akan mengajak mitra-mitra yang terkait untuk menginvestasi dan membangun perindustrian terkait juga di Indonesia. CATL sendiri sekarang bermitra dengan Tesla, Daimler, Hyundai, Honda, Toyota, Volkswagen, dan beberapa nama besar lainnya.

“Kalau minggu ini tidak ada perubahan, LG Chem dari Korea juga akan tandatangan,” ujar keterangan tertulis dari Kementerian Koordinator Bidang Kemaritiman dan Investasi pada kesempatan terpisah.

Selain CATL, mitra dalam proyek ini adalah perusahaan baterai China GEM, pembuat baja tahan karat Tsingshan, perusahaan perdagangan Jepang Henwa, dan perusahaan kompleks industri lokal Indonesia Morowali Industrial Park.

Artikel ini telah tayang di Kompas.com dengan judul “Produsen Baterai Kendaraan Asal China Akan Bangun Pabrik di Indonesia

Read More

Dalam Enam Bulan Harga Nikel Naik 33,09 Persen, Vale: Hati-hati

NIKEL.CO.IDKenaikan harga nikel global dalam beberapa bulan terakhir yang tengah dinikmati emiten pertambangan nikel bisa berubah menjadi sentimen negatif pemberat kinerja jika tidak disikapi dengan kehati-hatian.

Direktur Keuangan PT Vale Indonesia Tbk. Bernardus Irmanto mengatakan bahwa posisi harga nikel global saat ini semakin mengurungkan niat produsen untuk mengerem atau menurunkan produksinya, padahal permintaan masih melaju cukup lambat seiring dengan pandemi Covid-19.

Berdasarkan data Bloomberg, pada penutupan perdagangan Selasa (17/11/2020) harga nikel di bursa London parkir di level US$15.926 per ton, menguat 0,29. Sepanjang enam bulan perdagangan terakhir harga nikel telah menguat 33,09 persen, sedangkan secara year to date harga naik 12 persen.

“Para pelaku industri harus memperhatikan kesimbangan permintaan dan pasokan ke depan, supaya prospek over supply bisa diminimalkan,” ujar Irmanto kepada Bisnis, Rabu (18/11/2020).

Adapun, ketika pasar mengalami over supply maka kemungkinan besar harga nikel akan kembali melemah dan berujung dapat membebani kinerja emiten nikel. Padahal, hingga kuartal III/2020 kinerja emiten pertambangan nikel berhasil moncer didukung oleh kenaikan harga itu.

Emiten berkode saham INCO itu contohnya, membukukan pertumbuhan fantastis laba periode berjalan yang dapat diatribusikan kepada entitas induk sebesar 47.800 persen menjadi US$76,64 juta hingga kuartal III/2020, dibandingkan dengan periode yang sama 2019 sebesar US$160.000.

Sementara itu, emiten pertambangan nikel lainnya, PT Aneka Tambang Tbk. (ANTM), juga membukukan pertumbuhan laba tahun berjalan yang dapat diatribusikan kepada entitas induk sebesar 30,2 persen menjadi Rp835,78 miliar hingga kuartal III/2020 dibandingkan dengan periode yang sama 2019 Rp641,5 miliar.

Di sisi lain, harga nikel yang terlalu tinggi akan semakin mempersulit penetrasi kendaraan mobil listrik secara global mengingat komoditas itu merupakan bahan baku baterai kendaraan listrik.

Adapun, perusahaan mobil listrik global Tesla hingga saat ini masih memiliki kendala dalam memproduksi baterai listrik dengan biaya murah. Upaya yang dilakukan Tesla untuk menekan biaya baterai listrik saat ini adalah menaikkan porsi nikel dan menurunkan porsi kobalt dalam baterai.

Namun, menurut beberapa analis harga nikel saat ini juga masih cukup tinggi untuk bisa memproduksi baterai berbiaya murah.

“Jadi kalau biaya baterai bisa ditekan serta teknologi baterai sudah makin matang, maka ‘inflection point; yang diharapkan supaya customer bisa beralih ke mobil listrik bisa terjadi,” papar Irmanto.

Dia pun menjelaskan ketika inflection point itu terjadi dapat mendorong pasar nikel dunia akan bertambah besar dan Indonesia bisa benar-benar memainkan peran strategis karena memiliki cadangan limonite yang sangat besar.

Sumber: bisnis.com

Read More

Uni Eropa Hentikan Penyelidikan AntiSubsidi HRSS Indonesia

NIKEL.CO.ID – Pemerintah Uni Eropa resmi menghentikan penyelidikan antisubsidi terhadap hot rolled stainless steel (HRSS) Indonesia yang ditetapkan pada 6 November 2020 dan diumumkan secara resmi di situs web Pemerintah Uni Eropa pada 9 November 2020, sehingga produk HRSS Indonesia lolos dari ancaman tindakan antisubsidi Uni Eropa.

“Indonesia menyambut baik keputusan Uni Eropa untuk membatalkan penyelidikan karena dari awal kami meyakini bahwa produk Indonesia selalu bersaing secara adil di pasar Eropa,” kata Menteri Perdagangan Agus Suparmanto lewat keterangan resmi di Jakarta, Selasa.

Keputusan tersebut dibuat setelah Asosiasi Industri Baja Uni Eropa (EUROFER) mencabut permohonannya pada 18 September 2020. Pembatalan penyelidikan ini, lanjut Mendag Agus, membuka peluang untuk terus mendorong ekspor HRSS ke Uni Eropa.

“Kami akan mendorong industri Indonesia untuk memanfaatkan pembatalan ini dengan cara meningkatkan kinerja ekspor produk HRSS ke Uni Eropa serta secara proaktif menjaga akses ekspornya,” kata Mendag Agus.

HRSS merupakan produk baja yang dihasilkan dari penggilingan baja nirkarat dalam keadaan panas. Ekspor produk HRSS Indonesia ke Uni Eropa dimulai pada 2018 dengan nilai 99,3 juta dolar AS. Pada 2019, nilai ekspornya meningkat menjadi 100,5 juta dolar AS.

Pada Oktober 2019, Pemerintah Uni Eropa secara resmi memulai penyelidikan antisubsidi terhadap produk HRSS asal Indonesia berdasarkan permohonan EUROFER.

Uni Eropa menuduh Pemerintah Indonesia memberikan insentif atau bantuan finansial bagi produsen melalui serangkaian kebijakan larangan atau pembatasan ekspor bahan baku mineral, yaitu bijih nikel, batu bara, dan scrap logam, sehingga menekan harga bahan baku tersebut di Indonesia.

Uni Eropa juga menduga adanya dukungan Pemerintah Indonesia dan Pemerintah Republik Rakyat Tiongkok (RRT) terhadap pembangunan kawasan industri di Morowali serta industri mineral dan logam di lokasi tersebut melalui kerja sama ekonomi bilateral Indonesia-RRT. Menanggapi hal itu, Direktur Jenderal Perdagangan Luar Negeri Kemendag Didi Sumedi menegaskan, Kemendag pun telah membantah tuduhan Uni Eropa tersebut.

“Kami menilai semua tuduhan Uni Eropa tidak berdasar sejak awal penyelidikan. Kemendag didukung kementerian dan lembaga terkait melakukan pembelaan terhadap kebijakan yang diklaim Uni Eropa sebagai subsidi,” terang Didi.

Uni Eropa menganggap kebijakan RI melarang ekspor bijih nikel kadar 1,7 persen ke atas menguntungkan industri stainless steel Indonesia yang mempergunakannya sebagai bahan baku.

Didi menyatakan ketentuan tersebut tidak secara khusus diarahkan untuk menguntungkan industri stainless steel.

“Ketentuan tersebut secara jelas dimaksudkan untuk mewujudkan pengelolaan sumber daya mineral Indonesia yang berkelanjutan mengingat sifat bahan bakunya yang tidak dapat diperbaharui, dan untuk mendorong pertumbuhan investasi industri yang bernilai tambah di Indonesia,” ujar Didi.

Sumber: ANTARA

.

 

Read More

Pada 2024, Permintaan Bijih Nikel RI Akan Melonjak Tiga Kali

NIKEL.CO.ID – Pemerintah Indonesia terus menggencarkan hilirisasi mineral dan batu bara agar memperoleh keuntungan lebih banyak dibandingkan hanya menggali dan menjual tambang mentah. Salah satu komoditas mineral yang pesat kemajuan industri hilirnya yaitu nikel.

Sebanyak 30 fasilitas pengolahan dan pemurnian (smelter) nikel baru kini sedang dibangun. Bahkan, tak hanya smelter bijih nikel, namun pabrik turunan lainnya seperti stainless steel hingga komponen baterai juga tengah dibangun.

Hal tersebut tentunya membutuhkan lebih banyak bijih nikel yang harus diproduksi. Ini pun telah masuk dalam rencana strategis pemerintah.

Berdasarkan Peraturan Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral No.16 tahun 2020 tentang Rencana Strategis Kementerian ESDM tahun 2020-2024, produksi bijih nikel diperkirakan naik hampir tiga kali lipat menjadi 71,40 juta ton pada 2024 dari tahun ini sekitar 19,31 juta ton.

Permen ESDM ini ditetapkan Menteri ESDM Arifin Tasrif pada 18 September 2020 dan berlaku sejak diundangkan pada 25 September 2020.

Peningkatan produksi bijih nikel mulai terlihat pada 2021 menjadi 30,10 juta ton, lalu naik lagi menjadi 59,94 juta ton pada 2020, dan 71,74 juta ton pada 2023.

Sejalan dengan peningkatan produksi bijih nikel, bijih yang diolah di dalam negeri pun mengalami peningkatan. Bijih yang diolah di dalam negeri ditargetkan naik menjadi 52,14 juta ton pada 2024 dari 12,77 juta ton pada 2020 ini.

Ini artinya, meski pun belum sepenuhnya bijih nikel yang diproduksi itu diolah di smelter dalam negeri, namun terjadi peningkatan rasio bijih nikel yang diolah di smelter di dalam negeri menjadi 73% pada 2024 dari 2020 sekitar 66%.

Berdasarkan data dari Permen ESDM tersebut, bijih yang diolah di dalam negeri ditargetkan naik menjadi 21,32 juta ton pada 2021, lalu 43,58 juta ton pada 2022, dan 52,61 juta ton pada 2023.

Angka-angka tersebut merupakan indikator dalam rangka mengukur optimalnya ketersediaan mineral untuk memenuhi kebutuhan industri pengolahan dan industri turunan lainnya.

“Rasio jumlah mineral untuk diproses dalam negeri terhadap produksi untuk mengukur seberapa besar mineral yang dapat diolah di dalam negeri dalam rangka peningkatan nilai tambah dibandingkan dengan total produksi dari jenis mineral tersebut,” kata Peraturan Menteri ESDM tersebut.

Adapun utilisasi smelter nikel olahan seperti feronikel dan Nickel Pig Iron (NPI) pada 2024 ditargetkan naik menjadi 75% dari tahun ini 70%, dan nickel matte menjadi 95% dari tahun ini 90%.

Sebelumnya, Staf Khusus Menteri ESDM Bidang Tata Kelola Mineral dan Batubara Irwandy Arif mengatakan dari 48 smelter yang tengah dibangun saat ini dan ditargetkan beroperasi pada 2024 mendatang, sebanyak 30 smelter merupakan smelter nikel.

Dari 30 smelter nikel yang tengah dibangun, 13 smelter kemajuannya lebih dari 90%, lalu sembilan smelter capaiannya 30%-90%, dan delapan smelter kemajuannya kurang dari 30%.

Selain nikel, ada delapan smelter bauksit, di mana dua smelter capaiannya lebih dari 90%, dua smelter 30%-90%, dan empat smelter kurang dari 30%. Lalu, ada empat smelter tembaga yang tengah dibangun, di mana dua smelter progress-nya lebih dari 90% dan dua lagi kurang dari 30%.

Terakhir, smelter besi, mangan, timbal dan seng, dari enam smelter yang tengah dibangun, ada tiga smelter yang capaiannya lebih dari 90% dan tiga lainnya antara 30%-90%.

Menurutnya, pembangunan smelter tersebut tertunda karena adanya pandemi Covid-19 yang membatasi mobilitas pekerja.

Namun, tak hanya smelter nikel, lima smelter dengan teknologi high pressure acid leaching (HPAL) yang merupakan bahan baku komponen baterai juga ditargetkan bisa beroperasi pada 2023. Hal tersebut disampaikan Direktur Pembinaan dan Pengusahaan Mineral Kementerian ESDM Yunus Saefulhak pada akhir Oktober lalu.

Bila bahan baku komponen baterai ini telah tersedia di Tanah Air, maka rencana Indonesia untuk membangun pabrik baterai lithium bukan lah hal mustahil.

Sumber: CNBC Indonesia

Read More

Penjelasan Kemenperin Tentang Rencana Tesla Buat Pabrik di Indonesia

NIKEL.CO.ID – Kementerian Perindustrian (Kemenperin) tak menampik bahwa perusahaan mobil listrik asal Amerika Serikat. Tesla, tertarik untuk membangun pabrik baterai di Indonesia.

Hal ini sejalan dengan upaya Pemerintah Indonesia yang tengah mendorong pembangunan dan pemanfaatan hilirisasi industri nikel di dalam negeri agar menjadi sumber baterai bagi kendaraan listrik.

Pasalnya,Indonesia memiliki hampir seperempat cadangan bijih nikel dunia yang sekaligus menjadikannya sebagai sumber terbesar. Adapun bijih nikel, merupakan bahan utama untuk produksi baterai kendaraan ramah lingkungan tersebut.

“Mereka (Tesla) akan melebarkan sayap dengan cara mendekatkan ke sumber bahan baku kendaraan listrik, sementara kita tengah mencoba bangun pabrik baterai listrik sehingga ketemu,” kata Direktur Jenderal Industri Logam Mesin Alat Transportasi dan Elektronika (ILMATE) Kemenperin Taufiek Bawazier dalam webinar, Kamis (12/11/2020).

“Tesla berminat, nanti kita harap bisa masuk di kawasan industri Batang, Jawa Tengah,” lanjutnya.

Tidak hanya itu, Taufiek juga menyebut ada produsen mobil lain yang menunjukkan minat sama untuk berinvestasi di Indonesia. Hanya saja belum bisa dipastikan sepenuhnya.

“Selain itu, ada juga VW dan sebagainya, semoga saja, sehingga masyarakat punya pilihan lebih banyak untuk kendaraan listrik. Hyundai sendiri telah menunjukkan komitmennya dengan membangun pabrik,” ucap dia.

“Intinya produsen mobil listrik tertarik untuk masuk sehingga masyarakat punya pilihan lebih banyak. Dari pemerintah, kami sedang siapkan policy-nya,” kata Taufiek lagi.

Akan tetapi, pihak Gabungan Industri Kendaraan Bermotor Indonesia (Gaikindo) mengaku belum diajak bicara mengenai rencana-rencana tadi.

“Saya baru tahu tadi diungkapkan oleh pak Taufiek. Harapannya, dengan masuk Tesla industri otomotif nasional khususnya kendaraan listrik semakin ramai,” ujar Sekretaris Umum Gaikindo Kukuh Kumara.

Sebelumnya, Elon Musk selaku pendiri Tesla sempat memuji Indonesia sebagai negara penghasil nikel, bahan baku pembuatan baterai kendaraan listrik, yang besar.

Sebab, tantangan terbesar untuk produksi kendaraan bermotor berbasis listrik ke depan ialah ketersediaan nikel. Sementara negara pemasoknya amat terbatas, yakni Australia dan Kanada (selain Indonesia).

Artikel ini telah tayang di Kompas.com dengan judul “Kemenperin Buka Suara Tentang Rencana Tesla Buat Pabrik di Indonesia

Read More

IMIP Dominasi Pengolahan Nikel di Indonesia

NIKEL.CO.ID – Indonesia Morowali Industrial Park (IMIP) bisa memberikan pengaruh yang cukup besar dalam pengolahan nikel di Indonesia dalam waktu 4 tahun . IMIP terbukti mampu mengungguli PT Vale Indonesia (INCO) dan juga PT Aneka Tambang (ANTM) yang sebelumnya mendominasi produksi nikel olahan di Tanah Air.

Ada sejumlah faktor hingga akhirnya IMIP begitu unggul dari Vale Indonesia maupun Aneka Tambang yang lebih dulu menjalankan industri pengolahan nikel. Sejumlah pakar menilai, baik Vale Indonesia dan Aneka Tambang sebenarnya sudah lama berencana mengembangkan kapasitas produksi pengolahan nikel mereka. Namun sayangnya, langkah yang diambil kedua perusahaan itu, dianggap terlalu lambat.

Vale Indonesia dan Aneka Tambang kurang gesit dalam menjalankan rencana yang sudah ditargetkan. Hal ini tidak bisa dipungkiri karena adanya sejumlah hambatan dan tantangan yang dihadapi kedua perusahaan tersebut. Faktor utamanya yakni karena masalah proses perizinan birokrasi dan langkah eksekusi yang kerap mundur karena beragam alasan.

“Vale dan Antam sudah lama berencana mengembangkan pengolahan nikel, namun keputusan akhir selalu mundur dengan beragam alasan. Kedua perusahaan butuh waktu lama dan proses persetujuan yang panjang untuk mengeluarkan keputusan dengan jalur birokrasi,” kata Arif S. Tiammar, praktisi tambang dan smelter nikel.

Hal yang berbeda justru dialami oleh IMIP yang mendapatkan lebih banyak dukungan, salah satunya dari perusahaan asal Cina yakni Tsingshan Group. Mereka pun juga cukup tanggap dalam mengeluarkan keputusan serta melaksanakannya.

“Setelah melakukan kajian mendalam dan evaluasi final, keputusan diambil oleh pemegang saham terbesar dengan kuasa penuh yakni Tsingshan Group,” tambah Arif.

Lalu tipikal proses pengembangan produk nikel antara IMIP dengan Vale Indonesia dan Aneka Tambang juga memiliki perbedaan yang signifikan. Vale Indonesia dan Aneka Tambang dalam menjalankan bisnisnya berawal dari pemain tambang dan menjadi penghasil produk. Sementara Tsingshan Group yang memegang saham terbesar di IMIP berangkat dari bisnis usaha stainless steel.

Terakhir faktor utama yang paling mempengaruhi tentunya dukungan dana. Pasalnya, dalam proses pengembangan smelter, membutuhkan biaya yang sangat besar. IMIP mendapatkan dukungan dana dengan skema pinjaman sangat murah. Hal ini tidak dialami oleh Vale Indonesia dan Aneka Tambang.

Sumber: duniatambang.co.id

Read More