Beranda Berita Nasional Mendag Budi Santoso: Ekspor Indonesia Tumbuh 4,74%, TEI 2026 Bidik Transaksi US$17,5...

Mendag Budi Santoso: Ekspor Indonesia Tumbuh 4,74%, TEI 2026 Bidik Transaksi US$17,5 Miliar

73
0
Menteri Perdagangan, Budi Santoso saat memberikan kata sambutan pada pembukaan TEI ke-41 2026. (Foto: Lili Handayani/MNI)

NIKEL.CO.ID, TANGERANG — Menteri Perdagangan (Mendag) Budi Santoso menyampaikan bahwa kinerja ekspor Indonesia mencatatkan pertumbuhan sebesar 4,74% pada periode Januari–Agustus 2026, dengan nilai mencapai US$193,64 miliar.

“Di tengah situasi dan perdagangan global yang penuh tantangan saat ini dan di bawah arahan Bapak Presiden serta dukungan seluruh stakeholder, kinerja ekspor Indonesia pada periode Januari hingga Agustus 2026 naik 4,74 persen,” ujar Budi.

Melalui penyelenggaraan Trade Expo Indonesia (TEI) ke-41, pemerintah menargetkan transaksi perdagangan sebesar US$17,5 miliar.

Dalam sambutannya pada pembukaan TEI ke-41 di Indonesia Convention Exhibition (ICE) BSD, Tangerang, Rabu (14/10/2026), Budi menjelaskan bahwa nilai ekspor tersebut meningkat dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya sebesar US$184,89 miliar. Sementara itu, surplus neraca perdagangan Indonesia hingga Agustus 2026 mencapai US$7,25 miliar.

Menurutnya, capaian tersebut menjadi salah satu indikator positif perdagangan Indonesia ditengah dinamika ekonomi global. Pemerintah terus mengupayakan berbagai langkah untuk mempertahankan pertumbuhan ekonomi sekaligus memperluas peluang perdagangan internasional.

Kementerian Perdagangan menetapkan tiga fokus utama, yaitu pengamanan pasar dalam negeri, perluasan pasar ekspor, serta program Dari Lokal untuk Global.

“Pemerintah dalam hal ini Kementerian Perdagangan memiliki tiga fokus program utama, yaitu pengamanan pasar dalam negeri, perluasan pasar ekspor, dan Dari Lokal untuk Global,” katanya.

Program pengamanan pasar domestik diarahkan untuk meningkatkan daya saing produk nasional agar mampu memenuhi kebutuhan pasar dalam negeri. Adapun perluasan pasar ekspor dilakukan melalui pembukaan akses ke negara-negara baru, termasuk melalui perjanjian perdagangan internasional.

Budi mengungkapkan, hingga saat ini sebanyak 25 perjanjian perdagangan telah diimplementasikan, sedangkan 13 perjanjian lainnya masih dalam proses perundingan.

Selain memperkuat perdagangan internasional, pemerintah mendorong pelaku usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM) agar mampu memasuki pasar ekspor melalui program Dari Lokal untuk Global.

Salah satu langkah yang dilakukan adalah memfasilitasi pertemuan bisnis atau business matching antara pelaku usaha Indonesia dan calon pembeli dari luar negeri. Kegiatan tersebut didukung oleh 46 kantor Indonesia Trade Promotion Center (ITPC) dan atase perdagangan yang tersebar di 33 negara.

“Kami secara konsisten terus berupaya untuk mendorong agar UMKM bisa ekspor, salah satunya melalui business matching antara pelaku usaha dengan calon buyer di luar negeri,” ungkap Budi.

Pemerintah juga memfasilitasi pengembangan potensi ekspor dari desa. Produk-produk unggulan daerah didorong agar memiliki akses lebih luas ke pasar internasional, sekaligus memperkuat kemitraan antara UMKM dan pasar domestik.

Pengembangan eksportir baru turut dilakukan melalui program Kampus Preneur yang memberikan pembelajaran kewirausahaan kepada mahasiswa, termasuk pengetahuan mengenai kegiatan ekspor.

“Hingga saat ini, kami sudah menjalin kerja sama dengan 25 perguruan tinggi di seluruh Indonesia,” jelasnya.

TEI ke-41 akan berlangsung pada 14–18 Oktober 2026. Pameran perdagangan internasional yang pertama kali digelar pada 1985 tersebut menjadi salah satu upaya pemerintah untuk mempertemukan pelaku usaha Indonesia dengan calon mitra dagang dari berbagai negara.

Dalam penyelenggaraan tahun ini, Kementerian Perdagangan menargetkan transaksi sebesar US$17,5 miliar dengan partisipasi 1.873 eksibitor dan 30.000 pengunjung.

Budi menyampaikan bahwa jumlah calon pembeli yang telah mendaftar mencapai 16.885 orang. Dari jumlah tersebut, sebanyak 8.092 buyer berasal dari luar negeri yang mewakili 134 negara.

“Hingga saat ini telah terdaftar sebanyak 16.885 buyer, di mana 8.092 merupakan buyer luar negeri yang berasal dari 134 negara,” tuturnya.

Selain itu, pada hari pembukaan TEI 2026 dijadwalkan penandatanganan 168 nota kesepahaman (memorandum of understanding/MoU) antara eksportir Indonesia dan buyer dari 22 negara. Total nilai kesepakatan tersebut mencapai US$13,2 miliar.

“Pada hari ini (kemarin, Red), sore nanti akan dilakukan penandatanganan sebanyak 168 MoU antara eksportir dengan buyer dari 22 negara, dengan nilai total US$13,2 miliar,” kata Budi.

Menurutnya, kesepakatan tersebut merupakan hasil penjajakan yang dilakukan perwakilan perdagangan Indonesia di luar negeri dengan calon mitra potensial sejak tahap persiapan pameran.

Produk yang ditampilkan dalam TEI 2026 mencakup makanan dan minuman, produk pertanian, manufaktur, fesyen, kerajinan, furnitur, dekorasi rumah, hingga kawasan industri yang ditawarkan untuk menarik minat investor.

Melalui penyelenggaraan TEI 2026, pemerintah berharap semakin banyak produk Indonesia memperoleh akses ke pasar internasional, sekaligus memperluas jaringan bisnis antara eksportir nasional dan pembeli global.

Perluasan akses pasar, peningkatan daya saing produk lokal, dan penguatan partisipasi UMKM menjadi bagian dari strategi pemerintah untuk mendorong pertumbuhan ekspor serta memperbesar kontribusi perdagangan terhadap perekonomian nasional. (Lili)