Beranda Berita Nasional BPS: Pertambangan Melambat 2025, Impor Bijih Nikel Meningkat

BPS: Pertambangan Melambat 2025, Impor Bijih Nikel Meningkat

Ketua BPS, Amalia Adininggar Widyasanti (Foto: Dok Humas BPS)
Oleh Lili Handayani

NIKEL.CO.ID, JAKARTA — Industri pertambangan Indonesia mengalami perlambatan sepanjang 2025, menjadi satu-satunya sektor yang pertumbuhannya melambat dibanding tahun sebelumnya, menurut data terbaru Badan Pusat Statistik (BPS).

BPS mencatat pertumbuhan industri pertambangan turun 0,66% secara tahunan dibanding 2024, dengan kuartal IV-2025 mencatat penurunan lebih dalam sebesar 1,31%.

Iklan
4Th Li On Battery Europe 2026
online petromindo
ASEAN Solar Storage Summit
11 12 Nov EV Charge Live ICE BSD
OK IKLAN 12 Nov 26 2026 SMM Annual Nickel Conf Shanghai China
Asia Intl Recycled Conference

“Pertumbuhan ekonomi sepanjang 2025 tumbuh 5,11%, seluruh lapangan usaha tumbuh positif kecuali lapangan usaha pertambangan,” kata Ketua BPS, Amalia Adininggar Widyasanti, dalam konferensi pers di Jakarta, Kamis (5/2/2026).

Meskipun melambat, sektor pertambangan tetap menjadi salah satu kontributor utama terhadap pertumbuhan ekonomi nasional, bersama industri pengolahan, perdagangan, dan konstruksi.

Industri pengolahan mencatat pertumbuhan 5,3% sepanjang 2025, perdagangan 5,49%, dan pertanian 5,33%. Sementara itu, sub-sektor industri logam dasar mencatat pertumbuhan 15,71%, sejalan dengan tingginya permintaan ekspor besi, baja, dan logam mulia.

Iklan
4Th Li On Battery Europe 2026
online petromindo
ASEAN Solar Storage Summit
11 12 Nov EV Charge Live ICE BSD
OK IKLAN 12 Nov 26 2026 SMM Annual Nickel Conf Shanghai China
Asia Intl Recycled Conference

Selain itu, BPS mencatat tren impor bijih nikel dari Filipina terus meningkat dan menjadi sorotan, meski Indonesia sejak 2020 memberlakukan larangan ekspor bijih nikel untuk memperkuat hilirisasi industri dalam negeri. Berdasarkan data BPS, volume impor bijih nikel (HS 26040000) mencapai 15,33 juta ton sepanjang 2025, dengan nilai transaksi US$725,17 juta.

Sebagian besar impor masuk ke kawasan industri smelter, terutama di Weda, Maluku Utara, dan Morowali, Sulawesi Tengah. Weda menjadi penyerap terbesar, yakni 12,04 juta ton atau sekitar 78,5% dari total impor bijih nikel nasional dari Filipina, sementara Morowali menerima 2,42 juta ton.

Lonjakan impor bijih nikel dari Filipina terjadi dalam tiga tahun terakhir. Tahun 2023 menjadi awal impor dengan volume 374.453 ton senilai US$16 juta. Pada 2024, volume meningkat menjadi 10,18 juta ton dengan nilai US$445,09 juta, lalu melonjak sekitar 5 juta ton pada 2025.

Iklan
4Th Li On Battery Europe 2026
online petromindo
ASEAN Solar Storage Summit
11 12 Nov EV Charge Live ICE BSD
OK IKLAN 12 Nov 26 2026 SMM Annual Nickel Conf Shanghai China
Asia Intl Recycled Conference

Data ini menunjukkan bahwa meski sektor pertambangan mengalami perlambatan, dinamika perdagangan komoditas seperti bijih nikel tetap signifikan, menjadi sorotan bagi pengelolaan industri hilir dan strategi pertumbuhan nasional ke depan. (Lili Handayani)

Artikel ini berguna?

Perkembangan cerita ini

Liputan Khusus Hilirisasi & Smelter Nikel →

  1. Wisnu Salman: Smelter Harus Serap Bijih Nikel Kadar Rendah
  2. Kemarau Yang Berkepanjangan di Indonesia Berakibat Industri Kendaraan Listrik China Terganggu
  3. Bahlil: Hilirisasi Tidak Boleh Hanya Fokus pada Peningkatan Nilai Tambah
  4. Minerba Convex 2026 Dorong Hilirisasi dan Pemberdayaan Masyarakat Lingkar Tambang
  5. HPM Tak Diikuti Smelter, APNI Soroti Tekanan Terhadap Penambang Nikel
  6. BPS: Pertambangan Melambat 2025, Impor Bijih Nikel Meningkat sedang Anda baca

Agenda industri terdekat

Semua agenda →